
"sayang, dimana sepatu ku". teriak mas bram.
"di dressing room mas. cari aja di dekat lemari tas aku". jawab ku juga dengan teriak.
pagi ini suasana rumah terlihat sangar ribet dan berantakan. mas bram yang seharusnya libur di hari weekend tapi tiba-tiba dapat panggilan harus segera ke kantor.
sedangkan aku yang yang juga sibuk membereskan alisya yang akan pergi weekend bersama teman-temannya.
"bunda, alisya gak mau pakai baju ini, yang lain aja". ucap alisya.
"yang mana sayang? di luar cuacanya panas, kamu harus pakai baju lengan panjang".
"tapi gak mau yang ini bunda".
"ya uda tunggu sebentar bunda carikan yang lain". aku membongkar isi lemari baju alisya.
di sisi lain, mas bram yang terus berteriak mencari sepatunya.
"sayang, dimana? gak ketemu".
"ya Tuhan, ampun banget aku pagi ini". aku berlari ke kamarku.
"apa sih mas, rumah ini sudah seperti hutan semua orang berteriak".
aku pergi ke dressroom untuk mencari sepatu mas bram.
"ini kan sepatunya mas, dekat lemari".aku memberikan sepatunya pada mas bram.
"hehehe terima kasih sayang, maaf udah buat heboh pagi-pagi". mas bram mengecup keningku.
"gak sarapan dulu mas". aku merapikan dasinya.
"gak sayang, udah gak sempat lagi. aku berangkat ya sayang".
"hati-hati ya sayang, jangan ngebut-ngebut". ucapku.
"iyaa sayang". mas bram berlari turun tangga.
"bunda.. bunda". alisya meneriaki ku.
"ya ampun alisya, aku sampai lupa. iyaa sayang". jawab ku.
aku melihat alisya kesusahan memakai baju sendiri ,sampai-sampai kepalanya tertutupi oleh baju.
"maaf sayang, sini bunda bantui".
cepat-cepat aku membereskan alisya dan mengantarkannya ke depan rumah.terlihat sebuah bus datang untuk menjemput alisya.
"sayang, busnya sudah datang".
"selamat pagi ibu dan alisya". ucap pemandu tur.
di komplek perumahan ada sebuah event untuk anak-anak yang tinggal di sekitar komplek. setiap sebulan sekali mereka akan pergi berekreasi ke suatu tempat.
"pagi juga mbak. saya titip alisya ya, mohon di jaga dengan baik". ucapku.
"iya bu, pasti akan kami jaga dengan baik". jawabnya.
"hati-hati ya sayang" aku mencium alisya sebelum dia pergi.
"dadah bunda". alisya melambaikan tangannya.
"dadah sayang". aku melambaikan tangan ke alisya sampai busnya benar-benar pergi.
setelah mengantarkan alisya, aku kembali masuk ke dalam rumah untuk melakukan tugas selanjutnya.
"sekarang waktunya aku kembali ke realita". aku melihat sekeliling rumah yang seperti kapal pecah.
setiap sudut rumah penuh dengan barang-barang yang berantakan, saat aku berjalan ke dapur, begitu banyak piring kotor di wastafel.
sekarang aku merasakan susahnya mengurus rumah sendirian tanpa ada bantuan bi nina.
"seperti ini ternyata setiap hari yang di lakukan bi nina". ucapku.
"oke karin, sekarang waktunya untuk berperang".aku menggulung lengan bajuku dan memulai membereskan piring-piring kotor.
perlahan aku membersihkan rumah seorang diri. sebagai ibu rumah tangga, hal seperti ini merupakan hal yang biasa. tapi tidak bagiku, karena awal aku masuk ke rumah ini, segala sesuatunya telah di kerjakan oleh bi nina sehingga aku sedikit kewalahan saat membersihkannya.
"bi nina kok kuat ya kerja sendirian seperti ini". mataku menatap sekeliling rumah yang begitu besar dan luas.
kadang aku berpikir, kenapa banyak majikan yang meremehkan pekerjaan asisten rumah tangga. padahal kadang belum tentu mereka bisa mengerjakannya.
sekarang aku harus lebih mengerti tentang pekerjaan setiap orang, di balik mereka mendapatkan uang, mereka juga berhak untuk di hargai.
"karena mas bram dan alisya pulang sore, kayaknya aku gak perlu masak deh. lebih baik aku istirahat aja".
aku berjalan menuju ruang keluarga dan merebahkan tubuhku di atas sofa.
"ahh badanku seperti di pukul orang sekampung, pegal-pegal semua".
seharian membereskan rumah, membuat tangan dan kakiku sakit. sesekali aku memijat kakiku sendiri.
"yang kuat ya sayang di dalam perut bunda". aku mengelus-elus perutku.
saat beristirahat, tiba-tiba handphone ku berdering.
"mas bram? ada apa ya?".
"hallo mas". jawab ku.
"sayang, coba lihatkan di kamar kita apa ada berkas ku yang tertinggal".
"sebentar mas, aku lihat dulu".
segera aku Berlari ke lantai atas untuk melihat berkas mas bram. jelas saja, saat aku masuk ke kamar, aku melihat berkas mas bram tertinggal di atas kasur.
__ADS_1
"gimana sayang?".
"iya mas, ada di atas kasur".
"syukurlah. sayang, bisa tolongkan suruh pak Ahmad untuk antar ke kantor ku".
"iya mas".
"terima kasih sayang". segera mas bram menutup telponnya.
"itulah akibat kalau buru-buru. hal pentingpun bisa ketinggalan". gumamku.
saat aku turun ke lantai bawah untuk mencari pak Ahmad, aku baru teringat kalau pak Ahmad juga libur.
"pak Ahmad kan juga libur, gimana ini? aku baru ingat".
aku langsung menelpon mas bram untuk memberitahukannya bahwa pak ahmad tidak ada, tapi mas bram gak mengangkat telpon ku.
"apa ku kirim saja pakai kurir ya? tapi ini berkas penting. aku takut berkasnya gak nyampek".
tanpa berpikir panjang, dengan cepat aku mengambil tas dan langsung mencari taxi untuk pergi ke kantor mas bram.
"taxi". panggil ku.
"pak, tolong ke jalan xxxx ya, dan tolong cepetan ya pak". aku memburu-buru sopir taxi itu.
"baik non". jawab sopir taxi.
jarak antara rumah dan kantor mas bram memakan waktu 30 menit. karena terburu-buru,menurut ku itu waktu yang sangat lama.
"pak, bisa lebih cepat sedikit".
"iya non".
di dalam taxi aku merasa gelisah, aku takut mas bram menunggu lama, karena dia harus segera rapat penting.
"akhirnya sampai juga. ini pak uangnya dan terima kasih pak". ucapku pada sopir taxi itu.
saat di lobi kantor mas bram, aku di hadang oleh security yang menjaga pintu masuk.
"maaf bu, ada kepentingan apa?". ucap security yang terus menatap ku.
"saya ingin mengantar berkas ini untuk mas bram". jawabku.
"apa sudah membuat janji sebelumnya".
"janji? tidak, saya tidak membuat janji. saya membawa sesuatu yang penting, biarkan saya masuk".
"tidak bisa bu, perusahaan ini tidak bisa di masuki oleh sembarang orang".
"sembarang orang? pak saya ini.... ". tiba-tiba security itu mendorong ku keluar.
"ahh. pak tolong pelan-pelan, saya lagi hamil". ucapku.
"maaf bu, tapi anda tidak bisa masuk". lagi-lagi security itu bersikeras tidak mengizinkan ku masuk.
"tetap tidak bisa bu, tolong ikuti aturan perusahaan ini". bentak security itu.
karena suara security sangat keras saat membentakku, sehingga membuat perhatian orang-orang yang berada di kantor.
semua orang mulai mendekat dan mengerumuni untuk melihat apa yang terjadi. mereka mulai bertanya-tanya dan berbisik satu sama lain, seakan-akan menganggapku wanita aneh yang memaksa masuk.
"tolong pak, ini berkas sangat penting buat pak bram". ucapku.
"dan aku adalah istrinya pak bram". sambungku agar mereka percaya.
ini pertama kalinya aku datang ke perusahaan mas bram, wajar saja jika mereka tidak mengenaliku sebagai istrinya mas bram.
saat kami menikah, hanya sahabat dan keluarga dekat mas bram saja yang hadir. jadi tidak ada seorang pun di perusahaan ini yang tahu.
"ad apa ini?". ada dua orang security lain yang datang.
"siap pak, ini ada seorang wanita yang memaksa ingin masuk dan menjumpai pak bram". jawab security yang membentakku tadi.
"kenapa kalian diam saja, jika ada yang mengganggu ketertiban atau keamanan perusahaan segera usir". ucap seorang security yang baru datang .
"siap pak".
security-security itu langsung memegang kedua tanganku untuk mengusirku. aku berusaha untuk memberontak tapi tidak memiliki tenaga yang cukup.
"pak, aku adalah istrinya pak bram. saya tidak bohong". teriakku.
tidak ada satupun dari mereka yang mendengarkan ucapanku.saat mereka menyeretku tanpa sengaja kakiku terpelintir dan aku jatuh di lantai.
"agghh....". aku menjerit kesakitan.
"tolong jangan kasar,aku sedang hamil". air mataku terus menetes.
dari sekian banyak orang yang melihatku tak ada satupun dari mereka yang berniat menolongku.
sampai akhirnya aku mendengar suara seorang pria yang berteriak dari jauh dengan lantang.
"yaaaa....apa yang kalian lakukan.apa sudah bosan kalian untuk bekerja".
semua orang menoleh ke arah suara itu dan sekejab semua terdiam.
"apa yang kalian lakukan di sini". ucap pria itu.
pria itu menerobos kerumunan orang untuk melihat apa yang terjadi.
"maaf pak,ini ada seorang wanita yang memaksa masuk untuk bertemu pak bram". jawab salah satu security.
pria itu menunduk untuk melihat wajahku,saat dia melihatku wajahnya terlihat terkejut dan langsung berdiri.
"yaa...kalian semua gila ya.cari mati kalian,siap aja kalian semua di pecat". ucap pria itu sambil menunjuk-nunjuk ke semua orang.
__ADS_1
"karin,kamu baik-baik aja".
aku mengangkat kepalaku dan menatap wajah pria itu.
"Ryo".
Ryo adalah sahabat mas bram, dia juga menjabat sebagai direktur HRD di perusahaan mas bra.aku mengenalnya saat dia datang ke pesta pernikahan ku.
"kalian tau, wanita ini adalah istrinya Bramantyo, CEO sekaligus pemilik perusahaan ini".
semua orang sepertinya terkejut mendengar penjelasam Ryo tentang siapa aku.
"karin ada apa? apa yang terjadi". tanya Ryo.
"jangan perdulikan aku, tolong berikan berkas ini pada mas bram. dia bilang ini sangat penting untuk rapat". aku menyodorkan berkas itu pada Ryo.
"iyaa benar, dia lagi nunggu berkas ini". jawab Ryo.
"buruan Ryo, mas bram sudah lama nunggu".
"tapi kamu... ". Ryo sedikit mengkhawatirkan aku.
"aku tidak apa-apa, buruan pergi".
"baiklah. tolong bantu karin dan bawa dia ke ruang peristirahatan". ryo berlari dengan cepat untuk menemui mas bram.
setelah itu, ada beberapa karyawan perempuan yang membantu ku dan membawaku keruang istirahat.
"silakan istirahat di sini bu". ucap karyawan yang membantuku.
"terima kasih".
"apa perlu saya panggilakan dokter bu".
"ohh tidak usah, saya baik-baik saja. terima kasih atas bantuannya".
"baik bu, kalau ada apa-apa panggil saja kami. saya permisi dulu".
akhirnya aku bisa bernafas lega, tadi nafasku terasa seakan berhenti dan sesak.
aku memegang kaki kanan ku yang terasa sakit dan sedikit nyeri. sesekali aku goyangkan kaku untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"apa kaki ku terkilir?". aku mencoba menggerakkan kakiku.
sekitar 30 menit aku beristirahat, tiba-tiba mas bram datang dengan wajah gelisah dan khawatir.
"karin, kamu gak apa-apa ". mas bram langsung memelukku.
"aku baik-baik aja mas".
"apa yang sudah mereka lakukan padamu, katakan sayang". mas bram memeriksa seluruh tubuhku untuk memastikan kalau aku tidak terluka.
"mereka tidak melakukan apa-apa mas, mereka hanya salah paham saja". jawabku.
"jangan bohong sayang, Ryo sudah menceritakan semuanya padaku".
"beneran sayang, sekarang lihat aku baik-baik. apa ada luka pada tubuh ku, gak kan ".
mas bram menatapku dan memelukku lagi
"syukurlah sayang, aku benar-benar khawatir. anak kita, anak kita bagaimana? ".
"baik-baik aja mas, dia begitu kuat di dalam perutku". aku mengarahkan tangan mas bram ke perutku.
"maafkan aku sayang, semua salahku karena tidak memperkenalkan kamu dengan seluruh karyawan-karyawan ku". mas bram menundukkan kepalanya.
"bukan salah kamu mas".
"aku janji sayang, aku akan pecat mereka semua yang telah nyakitin kamu".
"mas, gak ada yang nyakitin aku. mereka hanya tidak tahu saja mas. kalau mereka mas pecat, kemana mereka akan cari makan untuk keluarganya mas. lagian aku baik-baik aja kok, tidak ada yang luka serius". jawabku.
aku paham bahwa mas bram merasa kesal dan emosi mendengar apa yang terjadi padaku. tapi itu semua murni hanya kesalah pahaman saja, jika mereka tau, mereka tidak akan melakukan itu padaku.
"sudahlah mas, jangan di bahas lagi. aku sudah memaafkan mereka semua". aku menggenggam kedua tangan mas bram.
"kamu itu wanita yang terlalu baik tau gak. segala sesuatu kamu pikirkan sebelum bertindak dan selalu dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain".
"aku hanya mencoba menjadi manusia yang baik aja mas". senyumku pada mas bram.
"o iya,kenapa kamu yang antar berkas itu? kemana pak ahmad?".
"aku tadi lupa kasih tau kamu kalau pak ahmad lagi libur. karena kamu sangat butuh berkas itu,jadi aku sendiri yang mengantarkannya".aku menjelaskannya pada mas bram.
" terus, kenapa tidak menelpon ku?".
aku menarik nafas dalam-dalam
"mas, coba lihat handphone kamu, sudah berapa juta kali aku menghubungi kamu".
"handphone? keamana ya handphone ku?". mas bram meraba-raba kantong baju dan celannya.
"ah iyaa, ketinggalan di ruangan ku".
"kayak gitu masih tanya kenapa mas?". aku melototin mas bram.
"hehehe maaf sayang. ya sudah, sekarang ku antar kamu pulang ya". ucap mas bram.
"gak usah mas, aku bisa pulang sendiri". .
"gak, biar aku yang antar".
"terus gimana dengan rapatnya". tanyaku
"sudah selesai sayang, sebentar lagi mereka semua juga pulang". jawab mas bram.
__ADS_1
pada akhirnya, kami pulang kerumah bersama. tidak masalah aku mengalami banyak masalah, setidaknya aku bisa membantu mas bram sukses dalam rapat penting nya.
aku bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian dan perhatian seperti mas bram. tangan, kaki dan hatiku menjadi kuat saat bersamanya.