
Nathan masih berada di dalam mobilnya setelah mengantar sang anak sekolah, ia jadi teringat sikapnya kemarin malam, sepertinya sangat keterlaluan pada Alayya, ia menyadari seharusnya mereka bisa membicarakannya secara baik-baik tanpa mengikuti emosi dan rasa cemburunya.
Nathan kembali menghidupkan ponsel yang sejak semalam ia matikan dayanya. notifikasi yang di kirimkan untuknya baru masuk semua, Nathan mengerutkan kening, bahkan mertuanya sampai menelpon berkali - kali, perasaannya sudah tidak enak, ia menghubungi nomor sang istri tapi nihil, berkali-kali Nathan mencoba menghubungi Alayya tapi hasilnya sama, ia akhirnya menekan nomor ali, butuh waktu lima menit panggilan nya di respon.
"assalamualaikum, ayah kenapa, maaf... Nathan baru buka ponsel"
"kerumah sakit sekarang, istrimu sedang di rawat" langsung Saja ali berucap tanpa basa basi dulu, tidak ada bentakan, tapi ucapan Ali begitu tegas, Nathan bisa merasakan aura Berbeda dari sang mertua
"Alayya masuk rumah sakit, yah?"
"rumah sakit pelita jaya"
Tiitt !!! dengan perasaan yang kalang kabut Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menemui sang istri, terakhirnya kali mereka bertemu Alayya masih sehat, tapi kenapa sekarang Alayya berada di rumah sakit, perasaan takut dan bayang- bayang kematian Alesha terputar kembali di kepala, Nathan tidak ingin kehilangan wanita yang ia sayangi untuk kedua kalinya.
"Alayya, kamu kenapa Al" monolog Nathan
sesampainya di rumah sakit, Nathan bergegas menuju ruangan sang istri, Ali sendiri yang memberitahu ruangan Alayya pada Nathan.
"Alya" Alayya yang sedang makan di suapi Farah sontak mendongak, nafasnya memburu seketika, mangkuk bubur di pegangan Farah ia rebut, mereka yang ada di sana terperanjat kaget saat mangkuk itu sudah melayang di hadapan Nathan, untung saja mangkuk itu melesat, jika tidak, sudah di pasti Nathan celaka karena nya, karena kuatnya tarikan yang Alayya lakukan, bahkan membuat infus di tangan Alayya terlepas, ceceran darah kini mengalir keluar dari tangan kirinya, sorot mata kebencian tergambar jelas di wajah Alayya.
"Al, tenang nak" Farah dan Ali yang tidak mengerti, mencoba menenangkan sang putri, mereka panik karena darah yang keluar dari punggung tangan sang putri
"KELUAR BANGSAT, GUE NGGAK MAU LIAT MUKA LO, KELUAR, LO PEMBUNUH NATHAN, LO BUNUH ANAK LO SENDIRI, KELUAR"
"KELUAR GUE BILANG, KELUAAARR"
pyaar!!!
gelas yang ada di atas Nakas ikut melayang, saat Alayya melihat nathan melangkah ingin mendekat
"KELUAR BANGSAT, KELUAAARR, JANGAN COBA - COBA LO MANJU SELANGKAH LAGI"
"Al, ma--maaf, a--aku..."
"KELUAR,GUE MAU PISAH SAMA LO, GUE NGGAK MAU MELANJUTKAN PERNIKAHAN KETERPAKSAAN INI, GUE MAU CERAIII, TALAK GUE SEKARANG, TALAK GUE NATHAN " teriakan Alayya tidak terkendali, Urat syaraf di leher ikut menegang, rasa sakit akan sikap kasar yang membuat nya kehilangan anak kembali menyiksa perasaan, lelehan bening yang baru saja reda kini mengalir lagi
__ADS_1
Nathan menggeleng panik.
"sayang, dengerin aku dulu, tenang ya"
"KELUAR, GUE NGGAK MAU LIHAT MUKA LO, KELUUUAAAR, AYAHHH USIR DIA DARI SINI, AL NGGAK MAU LAGI LIHAT MUKANYA AYAH, Al mohon ayaaah" suara Alayya mulai memelan disertai isakan, kini pipinya yang baru saja kering kembali basah karena ai mata.
"Nathan keluar kamu"
"ayah...saya mohon ijinkan saya bicara dengan Alya dulu" Ali menarik paksa pergelangan tangan menantunya, azha yang baru aja datang kebingungan dengan kekacauan yang yang terjadi di ruangan Alayya, belum lagi Wanita itu yang sudah menangis di pelukan Farah.
"Ibuuu, Al benci Nathan, al benci laki - laki brengsek itu, Al benci dia, Nathan pembunuh Bu, nathan bunuh anaknya sendiri, Nathan hancurkan kebahagiaan alayya, Nathan nggak pernah sayang sama Al Bu. nathan nggak pernah bisa lupain Alesha, Nathan nggak pernah mau terlepas dari bayang-bayang masa lalunya ibuuu, Nathan... Nat..."
" Nathan nggak cinta sama Al, Nathan cuman cinta sama Alesha, al cuman di anggap pengasuh untuk Raisa nggak lebih, ibuuu"
"nathan... Nat..." Sesak di dada membuat Alayya kesulitan berucap.
penglihatan wanita itu mulai samar, dinding di pandangan berubah samar, perlahan kesadarannya menghilang sempurna.
"Al, Alayya" panik Farah karena tidak ada lagi mendengar isakan dari sang anak, ia lepas pelukan dan mendapati sang anak sudah jatuh pingsan
azha bergegas keluar mencari perawat atau siapapun yang ada di sana.
"jangan pernah berani temui anak saya, kamu penyebab rasa sakitnya, Nathan"
pintu ruang rawat Alayya tertutup meninggalkan nathan dengan keadaan kacau juga perasaan yang semakin kawatir, pria itu mondar mandir di depan pintu rawat sang istri, Nathan menghampiri dokter juga perawat yang keluar dari ruangan Alayya.
"ii--istri saya"
"dokter tenang aja, istri bapak Hanya kelelahan"
Nathan tidak peduli dengan amarah Ali, ia buka pintu kamar sang istri, ia ingin mendekap istrinya, ia ingin menggenggam tangan nya.
mendengar pintu kamar yang kembali terbuka, amarah Ali kembali memuncak melihat sosok menantunya,
"KELUAAR"
__ADS_1
"ayah saya mohon, ijinkan saya ketemu Alya"
"KALUAAR, zha, usir pria brengsek ini dari ruangan Alya" azha Hanya mengangguk patuh dan menyeret dengan paksa tubuh Nathan dari sana.
"zha, gue mohon, jangan usir gue"
"Lo brengsek Nat, gue nggak nyangka Lo bisa Setega ini sama Alayya, dia setulus itu sama Lo, tapi Lo tega nyakitin dia, gue nggak tau apa yang terjadi sama kalian sampai Alayya nyebut Lo membunuh anaknya, tapi satu yang Lo harus ingat Nat, gue nggak aka pernah biarin siapapun nyakitin orang yang gue sayang, gue nggak akan tinggal diam, ngerti Lo Nathan"
BUGH!!! wajah Nathan kembali mendapat bogeman dari Azha, pria itu tidak bergeming atau berniat membalas pukulan azha, ia sadar, ia pantas mendapatkan semua itu, azha meninggalkan Nathan masuk ke dalam ruangan rawat Alayya, sedangkan di luar, Nathan meraung seperti orang kesetanan, ia berkali-kali memukul dinding sebagai pelampiasan amarahnya, amarah yang ia tujukan untuk dirinya sendiri, amarah akan sikap bodohnya, amarah yang membuat nya kehilangan janin yang bahkan tidak ia ketahui kehadiran nya.
"ARGGGHHHH"
"dok, tenang" beberapa perawat yang kebetulan lewat mencoba menenangkan, mereka tidak mengerti ada apa dengan dokter yang terkenal dengan wibawanya, Nathan menepis tangan mereka dari pundak nya, ia duduk di kursi tunggu di ruang rawat Alayya,
Nathan teringat kembali dengan teriakan sang istri, teriakan minta tolong tapi Nathan memilih abai.
"argghhh, Alayya maaf" lirih nathan.
"aku sudah bunuh anak ku sendiri, aku pembunuh, PEMBUNUH"
Di dalam ruangan Alayya sudah sadar dari pingsannya,
"yah, Bu, Al mau pulang ke Bandung, al nggak mau di sini, al mau pulang "
"iya nak, kita tunggu kondisi kamu membaik dulu ya, baru kita pulang ke Bandung
" Alayya menggeleng
"Al mau pulang hari ini juga, al mohon yah, Al ga mau di sini, Al mau pisah sama Nathan, al nggak mau lihat mukanya lagi, Al mohon "Farah dan Ali saling pandang
"iya nak, ayah akan urus kepulangan kamu, sekarang kamu istirahat dulu, nanti ayah bangunkan lagi"
Nathan tidak sedikitpun meninggalkan ruangan Alayya, ia terus berharap bisa masuk menemui istrinya, sampai Nathan lupa menjemput Raisa di sekolah.
"iya mis, saya ke sana sekarang "
__ADS_1
Nathan berdecak, ia terpaksa harus menjemput anaknya dulu, terlalu berat rasanya meninggalkan ruang rawat di depannya.
"aku jemput raisa dulu ya, sayang. aku janji bakal langsung nemuin kamu lagi" ucap Nathan lirih, seakan ada Alayya di depannya.