Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 136. The Cut That Alwayas Bleeds


__ADS_3

“Aku dengar kau mendapatkan tip dari klien? Dimana kau sembunyikan uang itu? kau mau memakannya sendiri? Dasar perempuan rakus”




“Jaga bicaramu, Johan! Aku menyimpan apa yang menjadi hakku sendiri. Dan bukankah julukan ‘rakus’ seharusnya ditujukkan untukmu? Kau sudah mendapatkan bagian dari klienku, tapi kau dengan tidak tahu malu masih meminta tip yang mereka berikan secara pribadi untukku”*



“Perempuan tidak tahu diuntung! Jika bukan karena aku, kau tidak akan bisa mendapatkan klien. Siapa yang mau dilayani oleh perempuan yang pernah melahirkan? Sementara masih banyak pelacur yang muda dan segar. Kau seharusnya berterimakasih”*



“Aku masih mendapatkan klien karena permainanku yang memuaskan, bukan karena kemampuan bicaramu didepan mereka. Katakan padaku, apa kau pernah mendapatkan komplain karena pelayananku? Tidak kan? Dan perlu kau ingat aku pernah melahirkan tidak lain karena kau dan kelamin tololmu!”*



“Kau masih menyalahkanku? Yang padahal aku sudah menyuruhmu untuk membuang mereka. Tapi kau yang berlagak seperti malaikat memutuskan untuk menyimpan mereka? Lalu sekarang setelah mereka lahir, kau tetap mengabaikannya. Kau tidak punya sifat keibuan sejak awal, Rani. Jika kau membuang mereka dari dulu, kita tidak akan seperti ini”*



“Aku memutuskan menyimpan mereka karena kupikir mereka bisa kita jual!”*



Aleta Maharani Johan yang masih berusia enam tahun, hanya bisa tengkurap di bawah tempat tidur sembari menutupi kedua telinga dengan telapak tangan. Umur sedini itu belum mengerti apa arti pertengkaran kedua orangtuanya, yang Aleta tahu, dua orang dewasa yang dianggap Ayah dan Ibunya hampir setiap hari saling berteriak satu sama lain, melempar tatapan kebencian dan jari yang saling menunjuk. Aleta takut, Aleta ingin menangis. Tapi ia ingat ibunya pernah membentaknya karena ia menangis. Gadis kecil itu terkadang bingung, berdasarkan tayangan di televisi, ia melihat gadis kecil yang disayang oleh kedua orangtuanya. Disuapi, dibelai rambutnya, digendong, diajak jalan-jalan. Tapi yang ia dapatkan di rumahnya tak pernah sekalipun seperti itu. Jangankan diajak jalan-jalan, diberikan senyuman saja tidak pernah. Aleta menghabiskan kesehariannya ditemani wanita paruh baya yang biasa ia panggil bik Jum. Bik Jum yang bersama Aleta dari pagi hingga malam pukul sembilan. Selepas itu, Aleta berada di rumah bersama ayah dan ibunya.*



Nyatanya, gadis cilik itu jauh lebih merasa nyaman ketika ada bik Jum bersamanya.*


*


Judith terbangun. Matanya kembali terpejam karena cahaya lampu langsung menyapanya, beberapa kali ia membuka mata dan mengedip kembali, berusaha menyesuaikan. Butuh beberapa sekon baginya untuk menyadari bahwa ia terbaring di ruangan serba putih, yang sudah pasti bukan kamarnya. Kanan kirinya kosong, tak ada siapapun.


__ADS_1


Kembali Judith terpejam. Kepalanya pening akibat mimpi masa kecil yang menghampirinya. Sudah lama Judith tidak memimpikan kenangan buruk itu. Ketika ia versi kecil yang lemah dan ketakutan. Atau lebih tepatnya Aleta yang lemah dan takut. Tidak, Judith menggeleng. Ia tidak ingin menjadi Aleta lagi. Aleta sudah mati sejak enam tahun yang lalu. Yang ada padanya sekarang adalah sosok Judith. Ananta Judith.


“Tolong bawakan beberapa baju Judith. Ini acces cardnya. Jangan lupa kau juga harus makan, sayang”


Sayup-sayup terdengar suara perempuan yang tak jauh dari ranjang Judith. Ia mengenali suara itu, suara Hannah sahabatnya.


“Kau juga harus makan dan istirahat yang cukup. Aku pergi dulu ya?”




“Hati-hati”*



Terdengar suara pintu tertutup, detik berikutnya ia melihat Hannah yang berjalan ke ranjangnya. Wanita itu terkejut melihat Judith yang sudah terbuka matanya.


“Astaga, kau sudah sadar!”


“Katakan, apa yang kau rasakan? Kau haus? Lapar? Pusing tidak? atau ada yang sakit? katakan, sayang”


“Dua hari satu malam. Terakhir kami menemukanmu pingsan” Hannah menarik kursi disamping ranjang Judith untuk diduduki. Disisirnya rambut sahabatnya dengan telaten.


“Ah itu..” mata Judith terpejam, teringat kondisi terakhir sebelum semuanya gelap. “Hannah…”


“Ya?”


“Aku hamil”


Gerakan tangan yang tengah menyisir itu terhenti. Dipandangnya Judith yang sudah membuka mata dan memandang kosong kearah atap. Namun ada buliran airmata yang mengalir disana, jatuh membasahi telinganya.


“Ya, aku tau”


“Aku hamil. Rasanya senang sekali mengetahui fakta bahwa ada kehidupan lain yang tumbuh bersamaku. Aku belum pernah bertemu dengan’nya’, belum pernah menyentuh’nya’. Tapi aku sudah mencintai’nya’, mencintai calon anakku. Dulu kupikir hamil adalah hal yang merepotkan. Berat badan naik, pinggang sakit, tidur susah, belum lagi harus menjaga badan usai melahirkan. Kalau tahu kehamilan sangat membahagiakan, sejak dari dulu saja aku hamil, ya?”


Meskipun Judith mengucapkannya dengan gurau dan tawa, namun semesta tahu hati perempuan itu tengah teriris-iris.

__ADS_1


“Tapi Hannah, menurutmu dia malu tidak ya punya ibu sepertiku?” Judith mengumpulkan tenaganya untuk sekedar memindahkan tangan keatas perut, mengusapnya pelan sekali. Berusaha merasakan ‘kehidupan’ disana yang sebenarnya sudah tak ada.


“Untuk apa malu?”


“Karena aku.. seorang pelacur. Jeanno sendiri yang bilang, pelacur sudah sewajarnya diperlakukan seperti pelacur. Kalau anakku lahir, dia pasti malu. Aku takut nanti dia diledek teman-temannya karena memiliki ibu sepertiku. Atau aku pilih homescholling saja?”


Hannah ingin sekali memotong ucapan Judith yang mulai melantur. Akan tetapi ia belum bisa merangkai kalimat akan bagaimana menjelaskan kepada karibnya bahwa ‘anak’ itu sudah tiada.


“Aku pernah berada diposisi itu, sakit sekali rasanya. Aku pergi ke sekolah untuk belajar, sekaligus mencari teman. Tapi mereka justru menjauhiku, dan meneriakiku ‘Aleta anak haram’, ‘Ibunya Aleta pelacur’. Hampir setiap hari aku pulang sambil menangis. Tapi bodohnya, aku tetap berangkat sekolah”


“Aku tidak mau anakku merasakan apa yang pernah kurasakan”


“Hannah?”


Hanya Hannah sendiri yang tahu sekeras apa usahanya untuk menahan tangis. “Ya?”


“Kalau anakku nanti menanyakan ayahnya, menurutmu aku harus jawab apa?”


“Tidak mungkin kan aku jawab ‘Ayahmu membenci ibu karena ibu sudah membohonginya’. Atau aku bilang saja ayahnya sudah meninggal?”


“Judith…”


Judith kembali tersenyum, seiring dengan bertambah deras airmatanya. “Aku egois ya? memutuskan untuk melanjutkan kehamilan ini ketika tahu bahwa nantinya semua tidak akan mudah. Tidak apa-apa jika hanya aku yang menderita. Tapi anakku? Aku tidak ingin dia menderita, Hannah. Aku ingin dia selalu bahagia. Tanpa tahu ayahnya sangat benci dengan ibunya. Tanpa tahu bahwa ayahnya tak pernah mencintai ibunya. Aku ingin membesarkan anakku dengan baik dan penuh kasih, tanpa membuatnya membenci ayahnya. Aku ingin dia tahu bahwa kehadirannya adalah hadiah terbesar yang Tuhan berikan untukku”


“Judith, dengarkan aku” kali ini Hannah sedikit meninggikan suaranya. Yang sukses merebut atensi Judith, membuat perempuan itu menghentikan ucapan-ucapannya.


“Kenapa kau menangis, Hannah?”


Hannah meraih tangan Judith yang bebas. Digenggamnya erat sekali. “Maafkan aku, sayang”


Wajah Judith memucat, teringat kembali akan sakit perut yang hebat terakhir kali di apartemen. Perempuan itu menggeleng keras. “Kau.. bohong, kan?”


Airmata Hannah semakin mengalir deras. Disadarinya jemari yang tengah ia genggam menegang dan mulai dingin, Hannah mengeratkan pegangannya. “Maafkan aku, Judith. Maafkan aku”


Sore menjelang malam, ruangan berbalut warna putih itu menjadi saksi bisu bagaimana perihnya tangis dua sahabat yang menyayat hati. Sang calon ibu yang harus menanggalkan impiannya membesarkan buah hati, membuat segala bayangan indah di masa depan runtuh tak berbentuk. Lalu wanita lainnya yang turut terluka karena merasa tidak bisa menyelamatkan sahabatnya.


Untuk kedua kalinya, Judith merasa hancur.

__ADS_1


**


__ADS_2