Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
jahil


__ADS_3

sepulang dari umroh, rumah tangga keduanya semakin terlihat harmonis, meskipun sampai sekarang Alayya belum juga dipercaya untuk mengandung.


tidak papa toh mereka juga sudah memiliki putri kecil, yang sekarang sudah sangat pandai berbicara meskipun agak sedikit terlambat bisa berjalan.


Nathan selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk mengajak istri dan anaknya jalan - jalan, baginya bisa melihat tawa riang orang yang ia kasihi menjadi pengobat lelah saat bekerja.


untuk azha, pria itu akan menikah sebentar lagi, satu Minggu yang lalu azha memberi kabar pada Alayya Jika ia akan segera menikah, pernikahan karena perjodohan saja, sampai sekarang pun Azha masih belum bisa menyingkir kan nama sang sahabat di hatinya, tapi ia terpaksa menerima perjodohan atas desakan dari kedua orangtuanya, ia akan menikah dengan putri partner bisnisnya.


"sayang, aku hari ini pulang telat" Nathan berucap dengan tangan yang sibuk menyimpul kan dasi di leher, ada rapat pagi ini di rumah sakit.


Alayya menggeser kursi kecil di depan Nathan, kursi kecil itu Nathan yang belikan agar Alayya mudah menyimpulkan dasinya, karena memang Alayya lebih pendek dari Nathan.


"sini aku bantu" dengan telaten Alayya menyimpulkan dasi berwarna navi di leher sang suami, melihat wajah serius sang istri membuat jiwa jahil Nathan membara, ia cium pipi Alayya hingga sang empu mendengus, merasa terganggu pekerjaannya.


sekali lagi Nathan mencium


"Nathan..." tegur Alayya.


tapi Nathan tidak peduli, ia kembali mendaratkan ciuman nya dan kali ini di bibir ranum sang istri


Alayya memberikan tatapan begitu tajam, tapi justru terlihat menggemaskan di mata nathan, pria itu tersenyum jahil, meletakkan tangan nya di pinggang ramping Alayya, ia tarik tubuh sang istri Hingga menempel sempurna dengan tubuh nya.


"cantik"


Alayya memutar matanya Jengah, ia berusaha meloloskan diri dari pelukan Nathan, tapi tidak segampang itu.


"aku mau mandiin Raisa, lepas Nat"


nathan menggeleng, ia kembali ingin mendaratkan ciuman nya, tapi kali ini ia kalah sigap, Karena Alayya lebih dulu menjauhkan wajahnya.


"nggak kena, Wee" ledek Alayya, melihat kelengahan Nathan, Alayya manfaatkan untuk kabur dari pria itu, tapi lagi-lagi Nathan berhasil membuat Alayya terkurung, tidak ingin di kerjai lagi, Alayya berusaha menghindar.


"iya kenapa, nak" Alayya berbohong untuk memancing perhatian Nathan, melihat Nathan menoleh ia sigap berlari dari arah samping, tapi nyatanya Nathan lebih cerdik, ia tau itu hanya pancingan istrinya saja, di posisi Alayya yang begitu dekat ia dengan mudah memeluk Alayya, mungkin karena kehilangan keseimbangan membuat keduanya hilang kendali, mereka terhempas jatuh ke atas kasur dengan posisi nathan di bawah.


keduanya saling pandang, Alayya jadi salah tingkah di tatap Nathan sedekat itu, padahal mereka bahkan sudah melakukan hal lebih dari sekedar tatap-tatapan.


Baru juga Nathan ingin kembali menempelkan bibirnya, tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sang putri


"huaaaaaaa, ibuuuu" Alayya bangkit dari atas tubuh Nathan menghampiri Raisa, ia gendong anaknya untuk di tenangkan, Alayya memberikan tatapan tajam pada Nathan sebelum keluar dari kamar.


"lucu banget sih, Al " gumam Nathan tidak bisa berhenti tersenyum.

__ADS_1


"hus, udah ya jangan nangis lagi sayang,nanti batuk lagi Lo"


"huaaaa, aaaaaa" teriakan Raisa semakin keras.


"kenapa nak, kenapa sayang, cup cup cup"


cukup lama untuk Alayya menenangkan putrinya, sekarang hanya terdengar isakan nya saja, juga tarikan ingus dari Raisa


"sudah tenang, Hem"


"anak ayah Kenapa, ini" Nathan datang mengusap bagian belakang sang anak


"gara-gara kamu nih, anaknya jadi nangis sesenggukan "


"loh ko aku sih, sayang "


"iyaa, coba aja kamu nggak jahil... tadi, aku kan bisa lebih cepat nemuin dia "


"iya deh, aku salah "


"kita makan ya, nak, ibu sudah buatkan bubur kesukaan Raisa " di dalam gendongannya, alayya bisa merasakan anggukan dari putri kecil mendiang saudara kembar nya.


....


setelah selesai dengan urusan Rumah, mengurus Nathan, dan sekarang Alayya akan mengantar Raisa ke play group.


"cintanya ibu, saat nya kita berangkat sekolah"


Alayya berjongkok merapikan rambut putri kecilnya.


jemari mungil Raisa ia tuntun hingga keluar rumah.


"Siyapa yang mau sekolah?" Alayya mengayun-ayunkan tangan kecil Raisa


"Caca" jawab Raisa antusias


"Siyapa kesayangan ibu?"


"cacaaa"


Alayya tersenyum sumringah mendengar teriakan Caca yang begitu semangat

__ADS_1


"Siyapa anak ibu yang cantik "


"cacaaaa"


"masyaallah, pintarnya anak ibu" Alayya mendudukkan Raisa di mobil, ia pasangkan juga


sabuk pengamannya.


butuh waktu kurang lebih untuk sampai di sekolah Raisa, dan di sinilah mereka sekarang.


....


selesai mengantar Raisa, Alayya pulang ke rumah, tapi sebelum pulang ia mampir dulu ke apotik untuk membeli taspack, Alayya sudah telat datang bulan satu Minggu, sebenarnya ia tidak ingin berharap banyak takut hasilnya mengecewakan lagi, tapi tetap saja rasa penasarannya membuat Alayya kembali membeli alat kecil itu, beberapa hari ini Alayya juga terus merasa lesu, nafsu makannya juga menurun, semoga kali ini ia mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan .


"makasih mbak" ucap Alayya sopan pada pemilik apotik.


sesampainya di rumah, Alayya tidak ingin langsung menggunakan alat kecil itu, ia persiapkan mental sebelum menggunakannya, takut hasilnya tidak sesuai harapan.


kepalanya berdenyut lagi, sebenarnya Alayya sudah merasakan sakit itu sejak tadi pagi, tapi ia tutupi takut Nathan kawatir, perutnya seperti di aduk di dalam sana, Alayya bergerak berlari untuk memuntahkan isi perutnya, kakinya melemas, peluh di kening membasahi wajah.


dengan tertatih Alayya berjalan menuju dapur, ia ambil segelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit di kerongkongan.


Alayya duduk di kursi makan, ia pijat kepala yang berdenyut hebat.


"ya Allah , sakit banget kepala ku" keluh Alayya, wanita itu tidak Berubah sedikit pun, ia tetap sama, tidak ingin mengeluh mengenai sakitnya pada siapapun, sebisa mungkin ia tahan sendiri meskipun itu dengan suaminya sendiri.


merasa lebih baik barulah Alayya kembali ke kamar, ia menidurkan diri di atas ranjang, tenaganya terkuras habis saat memuntahkan isi perutnya tadi.


....


di tempat lain Nathan sedikit kesal dengan Alayya, pasalnya wanita itu tidak datang menjemput anaknya, jika pekerjaannya tidak menumpuk mungkin tidak masalah bagi Nathan, tapi sekarang ia benar-benar harus segera menyelesaikan semua laporan yang masuk, sudah setengah jam lalu sebenarnya guru dari Raisa menelpon karena Alayya tak kunjung datang menjemput, Nathan masih berpikir mungkin Alayya akan segera datang, tapi kembali guru itu menelpon untuk menjemput Raisa karena Alayya yang tak kunjung datang.


"ayaaah" Raisa kecil berteriak di gendongan gurunya.


"makasih ya, Miss" ucap Nathan sopan.


"kita pulang ya nak"


....


Alayya terperanjat setelah sadar jika ia belum menjemput anaknya.

__ADS_1


__ADS_2