
“Pipimu kenapa?”
‘Sial’ Judith mengumpat tertahan. Menyadari bahwa sapuan make up tidak mampu menutupi pipinya yang sedikit membengkak ditambah ujung bibirnya yang lebam. Tidak Judith sangka tangan kecil kurus milik Sharin mampu membuat bibirnya sobek hanya dengan satu tamparan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang sakit gigi”
Alis Jeanno bertaut. “Sejak kapan?”
“Sejak semalam, baru tadi pagi bengkak seperti ini”
Aera berhenti memotong daging di piring, mengamati Judith. “Tadi pagi pipi mama tidak bengkak”
Judith lupa bahwa Aera bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Seperti kalimat yang pernah ia dengar, satu kebohongan akan membawa kebohongan yang lain.
“Bengkak kok, Aera tidak lihat saja”
“Masih tahan tidak? kalau sakit sekali kita ke rumah sakit sekarang”
Judith menilik jam, belum terlalu malam. Baru menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh malam. “Tidak usah. Aku sudah minum obat, kok”
“Kalau besok masih bengkak, kau harus ke rumah sakit. Aku memaksa”
Wanita itu hanya mengangguk, tak ingin mendebat. Lagipula rahangnya ngilu jika dibuat bicara. Jadilah suasana makan mereka berlatar suara dentingan alat makan. Kemudian Jeanno menyuruh Judith dan Aera untuk naik ke kamar, sementara ia yang mencuci peralatan makan.
“Biar aku saja, tuan”
Jeanno menoleh, ia telah membilas beberapa peralatan makan. Tersisa sedikit. “Tidak usah, tanggung. Biar kukerjakan. Sana kau naik saja menemani Aera”
“Aera sedang mengerjakan PR. Aku memberinya waktu sebelum nanti aku kembali untuk mengecek Prnya”
Jeanno membalikkan tubuhnya, melanjutkan tugas mencuci piring yang sempat tertunda. “Kau bukan pembohong yang baik. Kau tau itu?”
“Maksud tuan?”
“Pipimu. Katakan padaku kalau penyebabnya bukan sakit gigi”
Judith terdiam sejenak. “Benar kok, sakit gigi”
“Sakit gigi tidak akan memberikan luka lebam seperti itu. Kau berkata seolah-olah aku tidak pernah sakit gigi” bilasan terakhir selesai. Jeanno melepaskan sarung tangan karet dan mengeringkan tangannya. Kemudian berbalik. Ia sedikit bergeser, dan bersandar di meja dapur.
“Mendekatlah”
Judith melihat uluran tangan Jeanno, refleks dirinya melangkah mendekat hingga berjarak 30 senti dari tempat Jeanno berada. Dengan lembut ditangkupnya wajah ayu itu, yang membuat pemiliknya berjengit kaget. “Maaf. Sakit sekali ya?”
“Hanya sedikit ngilu”
Jeanno menaruh anakan rambut Judith dibelakang telinganya, dengan maksud supaya ia bisa melihat jelas pipi perempuan itu. “Bisa sebengkak ini. Dan.. bibirmu juga sobek. Apa yang terjadi sebenarnya, Judith? Dan jangan berani-beraninya kau bilang kalau kau terpeleset di kamar mandi”
Skakmat. Padahal Judith akan menggunakan alasan terpeleset untuk menggantikan alasan sakit gigi yang gagal.
“Janji tuan tidak marah jika aku jujur?”
Jeanno mengangkat bahu. “Tergantung. Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan mengusahakan untuk tidak marah”
“Biasanya jika sudah seperti itu akhirannya pasti tuan akan marah”
__ADS_1
Pria itu terkekeh, membuat mata tajamnya melengkung membentuk bulan sabit yang menurut Judith sangat menggemaskan. “Kau sangat memahamiku, hm?”
Jeanno meraih tangan Judith, mengecupnya beberapa kali. “Baiklah, aku janji tidak akan marah. Katakan..”
“Eum.. tadi ketika aku sedang menunggu Aera pulang, aku bertemu dengan.. Sharin”
Airmuka Jeanno berubah. Mata bulan sabit itu menguap entah kemana. Membuat Judith bergidik ngeri akan perubahan ekspresi yang drastis. “Lalu?”
“Aku mengkonfrontasinya. Ya mau bagaimana lagi, habisnya aku kesal melihat dia tidak pantang menyerah untuk mendapatkan tuan. Jadi aku mengucapkan kata-kata yang sedikit kasar. Lalu dia emosi dan.. yah, dia menamparku”
“Hanya itu yang dia lakukan, kan? Jangan sampai aku dengar dia melakukan kekerasan lain seperti menjam—“
“Tidak, tuan. Dia hanya menamparku sekali lalu pergi sambil menggerutu. Kejadiannya terlalu cepat sampai aku tidak sempat menghalau tangannya. Kupikir hanya merah, tapi lama-lama rahangku ngilu dan begitu aku melihat kaca ternyata bengkak sedikit dan bibirku sobek”
Rahang Jeanno mengeras. “Aku terlalu lembut untuknya. Besok kita ke kantor polisi”
“Apa?”
“Ini sudah kekerasan, Judith. Dia bisa dipidana karena telah melakukan hal kurang menyenangkan”
Judith menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tidak perlu, tuan. Jika kita lapor polisi, dia akan semakin terkonfrontasi dan akan semakin berbahaya. Sudah cukup, jangan terbawa emosi. Tuan kan sudah janji untuk tidak emosi”
“Bagaimana aku tidak emosi melihatmu terluka karena seseorang di masa laluku?”
Ada nada yang berbeda dari kalimat Jeanno yang terakhir. Suaranya melemah dan lirih, tidak setegas sebelumnya. Ada sebersit kesedihan yang bisa Judith tangkap dari matanya.
“Maafkan aku, Judith. Maafkan aku karena menyeretmu terlalu jauh”
Judith tersenyum, membawa wajahnya untuk beradu kening dengan kening Jeanno. “Aku sudah menyetujui perjanjian kita. Itu artinya aku harus siap dengan segala resiko yang datang. Termasuk seperti ini. Tamparannya memang menyakitkan, tapi aku tidak pernah menyesal telah menjalani pilihanku sebagai pengganti Nayara”
Jeanno merubah posisinya dengan mengangkat pinggang Judith untuk didudukkan ke meja dapur sementara dirinya meraih kotak obat dan ice pack dari freezer.
“Aw..”
“Maaf” Jeanno meringis ketika tubuh ramping itu terjingkat kala ia menempelkan ice pack tanpa aba-aba.
“Bengkaknya mungkin akan hilang besok pagi”
“Apa separah itu? Aku heran sekali, bagaimana tangan ramping dengan jemari lentik seperti itu mampu membuat luka seperti ini? Ck, wanita iblis”
Jeanno terkekeh. “Apa yang kau ucapkan sehingga membuatnya semarah itu?”
“Eum… tidak banyak. Hanya memintanya untuk berhenti mengejar suami orang lain. Lalu aku juga mengatakan.. harga dirinya rendah dan dia murahan”
“Wow” Jeanno nampak takjub. Dibukanya tutup salep yang masih baru. “Aku jadi ingin melihat wajahnya ketika kau mengatakan hal itu. Dia memiliki ego yang sangat tinggi, jadi Sharin tidak akan menerima orang lain berkata demikian. Kau hebat, Judith”
“Tapi tidak apa-apa kan aku berkata demikian? Bagaimana jika dia tersinggung lalu aku dilaporkan ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan?”
Lagi, Jeanno terkekeh. Mengembalikan netra sabit kesukaan Judith. “Tidak akan. Jika dia lapor polisi ya kita balas lapor. Kau punya bukti, sementara dia tidak”
Jeanno mengangkat dagu lawannya untuk mengoleskan salep ke ujung bibir Judith yang lecet. Gadis itu sontak mundur ketika salep dingin menyentuh permukaan kulitnya.
“Simpan salepnya. Oleskan lagi ketika kau bangun tidur besok” Jeanno menutup salepnya dan meletakkan disamping Judith persis.
Keduanya masih berada di posisi yang sama. Si wanita yang tinggi kepalanya sejajar dengan sang lawan karena ia terduduk di meja dapur, sementara sang tuan muda yang berdiri diantara dua kaki si cantik. Jeanno memindahkan tangannya di pinggang Judith, memijitnya pelan.
__ADS_1
Judith menikmatinya, dibuktikan dengan tangannya yang ia pindahkan juga untuk mengalung di leher Jeanno. “Tuan tidak lupa dengan dare tuan kan?”
“Dare yang mana?”
Lawannya berdecak sebal. “Mengenai Nora. Jangan bilang tuan tidak melaksanakannya”
“Ah itu..” Jeanno terkekeh, mengembalikan sabit yang menjadi kesukaan Judith, entah sejak kapan. “Tidak kok. Aku bahkan sudah memesankan tiket liburan selama tiga hari. Lengkap dengan hotel, makanan, dan uang saku. Ckck.. Jeanno Alexander memang berhati mulia”
Senyum Judith mengembang, ada kebanggan ketika Jeanno telah melaksanakan tantangan darinya. “Lalu bagaimana reaksinya?”
“Kalau itu.. kebetulan aku belum memberitahu Nora hehe”
Senyum Judith pupus, berganti ekspresi datar. Dicubitnya perut Jeanno pelan. “Tuan ini bagaimana, tidak niat sekali membahagiakan sekretaris sendiri”
Masih dengan tawa kecil, Jeanno merespon. “Aku tidak mau mengganggu konsentrasinya, Judith. Dia sedang semangat-semangatnya mengerjakan laporan. Nanti setelah selesai barulah aku beritahu. Tapi…”
“Tapi?”
Jeanno menurunkan tangannya, kini sudah bertengger di paha Judith. Memberikan usapan maju dan mundur secara intens. “Itu artinya aku akan kehilangan sekretarisku selama tiga hari. Tentu itu akan menyulitkanku”
“Aku bisa menjadi sekretaris pengganti. Walaupun aku hanya lulusan SMP, tapi tuan tidak boleh meremehkan otakku. Aku saja bisa membimbing Aera mengerjakan PR”
Alis Jeanno bertaut. “Eum.. pekerjaan rumah anak sekolah dasar..?”
“Ck, tuan jangan meremehkanku. Begini-begini aku pernah membantu klienku mengerjakan laporan?”
“Huh? Bagaimana bisa?”
“Jadi suatu malam ada seorang pria culun yang memintaku untuk menghabiskan malam. Kami memang sempat bercumbu sebentar, sampai ponselnya bunyi dan itu dari bosnya yang ternyata mengubah dateline pekerjaannya menjadi besok pagi tepat jam 6. Kami hanya punya waktu kurang lebih 4 jam untuk menyelesaikan pekerjaan yang mustahil itu. Dia bahkan menangis tuan, dan mengatakan bahwa dia tidak siap untuk dipecat karena masih memiliki 4 adik yang masih sekolah. Jadilah aku menawarkan diri untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan. Dan sampai matahari terbit, bukannya bercinta, kami justru bergelut pada kertas dan komputer”
Tawa Jeanno meledak, terdengar renyah namun tidak berlebihan. “Kau sungguh multitalenta. Menjadi penari bisa, ibu bisa, sekretaris bisa”
“Judith memang hebat\~”
“Tunggu, bukankah tarifmu dulu sangat mahal? Bagaimana bisa pria itu membawamu pulang?”
Pandangan Judith mengawang sejenak, berusaha mengingat. “Oh itu, kebetulan malam itu penghasilanku 3x lipat lebih banyak dari sebelumnya. Dan pria culun itu terlihat bukan pria nakal, jadi kuputuskan untuk sedikit memberinya diskon”
“Sungguh murah hati”
Judith tersenyum. “Jadi.. apakah aku diterima menjadi sekretaris magang?”
“Jika kau jadi sekretarisku…” Jeanno memajukan wajahnya, mencuri kecupan di sisi bibir Judith yang tidak terluka. “Fokusku akan berantakan”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena..” Jeanno berpindah mengecupi pipi Judith hingga si empunya terkikik geli. “Karena?”
“Karena aku bingung, mau menyelesaikan pekerjaanku dulu, atau bercinta dengan sekretarisku” kalimat seduktif itu ditutup dengan tiupan menggoda ke telinga si gadis. Membuat remangnya berdiri dan wajahnya merona.
“Aku tidak menyangka… tuan memiliki fantasi yang begitu liar, bercinta di kantor, huh?”
Belum puas hanya sekedar tiupan, Jeanno menyesap telinga itu hingga pemiliknya melenguh. “Karena kau. Karena kau Judith..”
Kedua insan itu bisa saja berbuat jauh jika bukan karena Aera yang berteriak dari ujung tangga, mengatakan bahwa PR-nya telah selesai. Yang tengah bercumbu refleks menjauhkan tubuh, meminimkan gairah yang semula bergejolak untuk menghampiri si kecil yang sudah menunggu.
__ADS_1
**