Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 112. Stay


__ADS_3

“Paman Thomas, ayah Jeanno sedang sakit. Sudah satu minggu terakhir ini kondisi kesehatannya menurun, mengharuskan paman untuk dirawat secara intens di rumah sakit. Karena hal itulah yang membuat Jeanno terpaksa terjun ke bisnis keluarga lebih cepat. Mengabaikan fakta bahwa ia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir”




Nayara memilin ujung sweaternya dengan pandangan menatap lurus ke cangkir teh yang asapnya masih mengepul. Jadi yang dimaksud Mark.. ia akan sulit hanya sekedar bertemu dengan Jeanno?*



“Berapa lama?” Satu alis Mark terangkat kala mendengar pertanyaan Nayara. Membuat gadis itu mengulangi pertanyaannya lagi jauh lebih jelas. “Berapa lama dia akan seperti ini?”*



“Entahlah, Na. Tidak ada yang bisa memastikan. Sekalipun kondisi paman Thomas sudah membaik, besar kemungkinan Jeanno akan tetap diminta untuk meneruskan aktivitasnya sekarang. Hitung-hitung.. mengenalkan apa yang akan ia hadapi dimasa depan”




Bibir gadis itu melengkung kebawah, perih hatinya kala ia dihadapkan fakta bahwa nantinya akan jarang ada waktu untuk bertemu dengan Jeanno.*



“Aku diminta Jeanno untuk menemuimu, menjelaskan apa yang terjadi supaya kau tau bahwa Jeanno baik-baik saja”*



“Kenapa dia tidak menghubungiku secara langsung?”*



Butuh jeda waktu bagi Mark sebelum menjawab pertanyaan Nayara. “Dia sibuk sekali Nayara. Bahkan untuk makan saja harus ia lakukan di depan komputer. Dia berjanji akan menemuimu apabila waktunya senggang”*



Nayara mengangguk dan tersenyum tipis. “Aku mengerti, terimakasih, Kak. Sampaikan pada Jeanno juga untuk menjaga kesehatannya. Jangan terlalu sering minum kopi dan makanlah tepat waktu”*



Bohong.*



Bohong ketika Nayara mencoba tegar di hadapan Mark. Kenyataannya ia berusaha keras untuk tidak menangis. Nayara tidak baik-baik saja ketika sang kekasih yang seharusnya bisa mengabarinya langsung via ponsel, justru memilih orang lain sebagai perantara keduanya. Sesulit itukah mencuri lima menit dari waktu sibuknya untuk menelpon? Karena demi Tuhan Nayara sangat merindukan Jeanno. Hanya sekedar mendengar suaranyapun tidak apa, itu sudah mengobati rindunya.*

__ADS_1



“Nayara..”*



“Kumohon, tetaplah berada disisi Jeanno apapun keadaannya”*



**


Jeanno pulang disambut dengan pemandangan sang putri tengah mewarnai di ruang tengah bersama Judith. Saking asyiknya sampai Aera tidak menyadari kehadiran papanya yang baru pulang bekerja.


“Wah asyik sekali ya sampai tidak lihat Papa pulang?”


Suara berat yang tiba-tiba menyapa pendengaran, membuat dua perempuan berbeda generasi itu menoleh. Membawa reaksi berbeda, satunya tersenyum manis, sementara lainnya berlari menghambur ke pelukan sang ayah.


“Papa pulang lebih cepat dari biasanya”


Jeanno terkekeh. Benar, ia pulang jam 18.00. Jauh lebih cepat dari biasanya. Jangan ditanya kenapa, karena pertemuannya dengan Sharin cukup membuat moodnya memburuk sehingga ia harus menghentikan pekerjaannya sebelum fokusnya berantakan dan pada akhirnya mengganggu hasil kerjanya. Menganggap bertemu keluarganya akan memperbaiki suasana hati, Jeanno memerintahkan Nora untuk menyudahi pekerjaannya dan melanjutkan esok hari.


“Aera tidak suka papa pulang cepat? Ya sudah kalau begitu besok papa pulang malam saja” ujarnya, dengan memasang tampang berpura-pura sedih.


“Tidak Papa. Aera senaaaang sekali kalau Papa pulang cepat. Papa jadi bisa menemani Aera belajar hehe”


Aera mengangguk semangat, membuat rambutnya yang dikuncir dua ikut bergerak kedepan belakang. “Sana Papa mandi supaya tidak bau”


Jeanno tertawa, kesempatan mencubit pipi gembul putrinya hilang karena Aera sudah lebih dulu berlari kembali ke tempatnya semula. Ketika ia hendak menaiki anak tangga, Jeanno bertukar pandang dengan Judith yang masih tersenyum padanya.


Cantik.


Begitulah kata hati dari Jeanno Alexander.


**


“Kenapa melihatku begitu?”


Judith sedikit terkejut karena kegiatannya menatapi Jeanno tertangkap basah. Terimakasih pada kepercayaan diri yang ia punya, membuatnya mampu menjawab tanpa tergagap.


“Ada masalah apa di kantor?”


Dahi Jeanno mengerut. “Tidak ada”


“Aku menyadari ada yang berbeda dari ekspresi tuan ketika tuan pulang tadi. Pasti ada momen mengejutkan, ya? sampai tuan merasa harus pulang lebih awal dan bertemu Aera supaya suasana hati tuan membaik”

__ADS_1


Jeanno berdehem, menyadari perkiraan Judith tak meleset sedikitpun. Bagaimana bisa perempuan ini begitu peka bahkan ketika ia tak berkata apapun?


“Aku… bertemu dengan Sharin”


Senyuman di wajah ayu itu pupus. Sharin, tentu saja Judith mengingat nama itu. Tidak hanya nama, bahkan bagaimana sosok cantik itu masih melekat pada ingatannya.


“Kami terpaksa bertemu untuk membicarakan kerjasama perusahaanku dan perusahaan suaminya. Aku ingin menolak, tapi tentu saja tidak bisa. Kelangsungan kerjasama ini tidak bisa sesederhana itu dihentikan hanya karena masalah pribadi kami di masa lalu”


“Sekalipun kesalahan yang dia lakukan fatal?”


Jeanno menghela nafas dalam, kemudian mengangguk dengan berat hati.


“Bukankah itu sama saja memberinya celah untuk mendekati tuan lagi?” tanpa sadar Judith meninggikan suara dalam menyuarakan opininya. Jangan salahkan dirinya, karena bagaimanapun bayangan akan sosok Sharin yang kembali gencar mendekati Jeanno membayangi benaknya. Menjadi momok mengerikan. Bisa saja Jeanno mengatakan ia tak tertarik, tapi melihat secantik apa Sharin Widjaja, belum lagi sifat tidak pantang menyerahnya, bisa saja Jeanno berubah pikiran. Bukankah hati manusia adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi?


“Sekalipun ada, tidak akan kubiarkan dia melewati batas. Lagipula dia memiliki suami”


“Entahlah, tuan. Menurutku menerima kerjasama ini saja sudah salah. Bagaimana bisa tuan mau bekerja sama dengan seseorang yang hampir membuat tuan kehilangan Nayara?”


Judith benar. Diluar profesionalitas yang dimiliki, apa yang Sharin lakukan dimasa lalu memang tak termaafkan. Mencoba ‘menjual’ Nayara, membuatnya nyaris kehilangan Nayara selamanya. Seharusnya Jeanno lebih teliti ketika memilah milih siapa yang akan menjadi partner kerjanya. Mengingat akal licik Sharin, tidak menutup kemungkinan ia akan melakukan hal-hal picik lain dimasa yang akan datang. Jeanno percaya manusia bisa berubah, tapi tidak dengan Sharin.


“Mama..”


Percakapan dua orang dewasa itu terhenti ketika Aera dengan mata mengantuk memanggil Judith dari ujung tangga. Sekedar mengingatkan bahwa sang mama tadi turun ke dapur untuk membuat susu, namun tak kunjung kembali karena terlibat percakapan dengan ayahnya.


“Iya sayang, maafkan mama. Ayo kita tidur”


Tanpa mengucap kata apapun, Judith dengan segelas susu hangat di tangannya, melangkah menyambut Aera dan menggandengnya bersama ke kamar si kecil. Meninggalkan Jeanno yang suasana hatinya masih belum membaik.


**


Dahi Judith menyernyit ketika ia merasakan lengan kekar melingkari perutnya. Ia yang hampir menggapai alam mimpi, sontak kembali tersadar kala menyadari Jeanno tengah berbaring membelakanginya seperti biasa. Hanya bedanya sekarang mereka masih berada di kamar Aera. Sementara si kecil sudah terlelap setengah jam yang lalu.


“Tuan..?”


“Hm?”


Judith menoleh ke belakang, menyadari betapa dekatnya jarak antara wajah mereka. Saking dekatnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung tinggi milik pria itu. Untuk sesaat, pasokan udara seakan menipis. Judith mematung, tenggelam pada sepasang netra milik sang tuan muda. Menguncinya dalam, tak membiarkannya memalingkan pandangan. Tapi tak apa, karena Judithpun enggan untuk berpaling.


“Biarkan seperti ini. Entah kenapa aku merasa lebih tenang jika tidur memelukmu..”


Judith bersumpah sederet kalimat itu jauh lebih indah dibanding kalimat manapun yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dan akan ia simpan dengan baik dimemorinya, yang akan ia putar dan membuatnya tersenyum seperti orang gila.


Wanita itu lantas membalikkan posisi tidurnya hingga berhadapan dengan Jeanno. Entah mengambil keberanian dari mana, tangan Judith terulur, mengusap lembut pipi Jeanno.


“Tuan pasti akan baik-baik saja. Aera pasti akan baik-baik saja. Kalian pasti akan baik-baik saja”

__ADS_1


Jeanno memejamkan matanya. Pikirannya mulai rileks. Pun ketika kantuk mulai menghampiri, Jeanno meraih tangan Judith. Menggenggam dan menaruhnya diatas dadanya. Begitu, keduanya sama-sama terpejam untuk menggapai lelap bersama dengan perasaan campur aduk yang sulit diterka.


**


__ADS_2