
“Papa, bolehkah Aera menginap disini?”
Sejatinya, seorang Jeanno Alexander selalu memiliki kelemahan akan mata kelinci yang tengah memandangnya penuh harapan. Penolakan yang tak mungkin ia lantangkan jika tak ingin melihat kelinci kecilnya murung. Lagipula di rumah itu ada orang-orang yang dikenalnya. Seharusnya ia tidak perlu merasa khawatir, kan?
“Tidak, Aera”
Bibir si kecil melengkung kebawah dan bergetar. Menampakkan genangan airmata yang bersamaan dengan luruhnya binar semangat disana. Sosok lain yang berada diantara pasangan ayah dan anak itu, agaknya terlihat canggung. Maka iapun berjongkok, menyamakan dirinya dengan Aera sembari tangan mengusap wajahnya lembut.
“Tidak apa-apa, sayang. Aera kan hari ini sudah main kesini. Besok masih ada hari lagi. Jangan menangis, ya?”
Bocah cilik itu mengangguk, yang bertentangan dengan semakin deras airmata yang luruh. Isak mengikuti setelahnya, membuat hidung mungilnya memerah bak tomat. Aera memeluk leher Judith, menenggelamkan wajahnya disana seolah itu ada tempat ternyaman baginya.
“Aera, ayo pulang”
“Aera…sayang mama”
Begitu yang Judith tangkap, dibalasnya dengan lirih berupa kalimat yang sama. Bukan dusta belaka, karena pada nyatanya, enam bulan bersama telah menumbuhkan rasa sayang kepada anak kecil yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kasih sayang seperti ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adiknya? Entahlah.
Kecupan terakhir di pipi menjadi salam perpisahan terakhir sebelum Aera menyambut gandengan tangan sang ayah. Judith, selaku ‘pengganti’ tuan rumah, dengan sopan mengantarkan mereka ke pintu. Hanya untuk terpaku akan kalimat yang Jeanno ucapkan samar, nyaris tak ditangkap oleh telinganya.
“Tiga hari. Waktumu tinggal tiga hari lagi, jika kau gagal, maka bersiaplah mendekam di penjara”
**
Ruangan itu sempit, nyaris setengah dari ukuran kamar lamanya di apartemen. Untuk warna catnya sendiri tidak bisa diterka. Terlalu gelap untuk disebut sebagai warna putih, namun terlalu usang untuk warna kuning. Beberapa, ah salah, sebagian besar catnya bahkan sudah terkelupas. Berhiaskan coretan asal hasil ‘karya’ dari para narapidana yang pernah menghabiskan kelamnya malam di ruangan itu.
Ranjang tingkat yang besinya sudah berkarat. Dilapisi tikar tipis yang serasa tertidur diatas tumpukan batu. Ranjang tingkat yang menyuarakan decitan mengganggu apabila sang empunya bergeser barang sedikit. Untuk lantai, hah.. jangan terlalu banyak berharap. Lantai yang penuh debu dan adanya sisa kerak nasi di beberapa titik. Menjijikkan, namun tak ada yang peduli. Mereka yang menghuni ruangan itu, antara sibuk menyesali perbuatan mereka, atau malah pasrah menghabiskan sisa umur di balik dinginnya jeruji besi.*
Ruang yang sudah sempit, mendadak bertambah kecil dimensinya. Lampu dengan watt tak seberapa itu padam sejenak, kemudian hidup kembali. Begitu seterusnya beberapa kali. Hingga mati, gelap sepenuhnya.*
Ketika ia membuka mata, dirinya sudah tak lagi berada di ruang tahanan. Melainkan berada di gedung tak terpakai. Matanya tak menangkap siapapun selain dirinya sendiri, namun telinganya mendengar adanya perpaduan suara sorakan mengiringi deru kendaraan bermotor. Penasaran, ia langkahkan kakinya mendekati sumber suara, oh rupanya ada balapan motor di bawah sana.*
Ia hanya memalingkan wajah sejenak dari jalanan, lalu secara ajaib keramaian itu mendadak sunyi, semua orang hilang begitu saja. Ia menggelengkan kepala, meyakinkan bahwa yang ia lihat adalah nyata dan bukan halusinasi.
Kemudian dari arah belakangnya, terdengar derap langkah beberapa pasang kaki. Diiringi dengan tawa jahat yang menciutkan nyali.*
“Kenapa cantik? Kau mau kabur?”*
“Pilihanmu memang tidak pernah salah, Ethan. Dia cantik sekali”*
__ADS_1
Ia menoleh, hanya untuk berhadapan dengan tiga lelaki yang tengah menatapinya mesum. Pria ditengah, yang berdiri paling depan di dekatnya, menyeringai nampak begitu mengerikan.*
“Aku sangat beruntung bisa bertemu kembali denganmu, Naya”*
Naya? Ia menggeleng. Namanya bukan Naya. Namanya adalah Judith! Ia ingin berteriak, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari lolongannya. Seakan ia bisu, memancing tawa para lelaki bajingan itu dengan kejamnya.*
“Aku heran bagaimana Arjuna bisa kenal dengan perempuan sepertimu. Kalau saja aku tahu dari dulu”*
Tawa para pria itu semakin kencang memekakkan telinga. Membuat Judith menutup telinganya rapat-rapat. Ia tak memiliki pilihan lain karena dirinya sekarang berada di lantai atas yang tak memungkinkan baginya untuk kabur.*
Ketika ia sibuk menutupi telinga, dua pria lain telah meninggalkan ruangan, tepat setelah pria bernama Ethan itu mengucapkan kalimat yang entah bagaimana bisa didengar olehnya.*
“Akulah yang pertama kali menikmatinya. Kalian bisa kembali lagi, itupun jika ada yang tersisa”*
Postur tubuh Ethan, entah mengapa berubah menjadi lebih besar dan menakutkan. Tangannya terulur, menggerayangi tubuhnya yang terpojok di ujung ruangan.*
‘Kumohon, jangan!’*
“Hari ini, tubuhmu menjadi milikku, Nayara”*
Judith terbangun kaku. Merasakan baju tidurnya basah akan keringat disekujur tubuhnya. Dadanya sesak dan nafasnya tersengal. Ruangan yang ia tempati sekarang adalah kamar tamu yang cukup luas, namun mengapa rasanya ia kesulitan meraih oksigen untuk dihirup? Judith memukuli dadanya, menimbulkan isakan samar sebagai respon akan ketakutannya yang kembali menggentayangi. Tubuhnya gemetar bukan main, wanita itu lantas membawa kedua tangannya menutupi telinga. Sekalipun mimpi itu telah usai, namun indera pendengarannya seakan masih mampu menangkap dengan jelas tawa mengejek pria yang memperkosanya.
Pria asing bersama Ethan yang menculiknya ketika ia bersiap untuk melakukan pekerjaannya sebagai waitress di Victoire.
Pria yang terus menyebutnya dengan nama lain yang bukan namanya. Judith ingat bagaimana kelamnya malam itu, rasanya ia ingin mati saja. Kali pertama ia kehilangan kegadisannya oleh pria yang bahkan tak dikenalnya. Malam dimana menjadi cikal bakalnya ia memutuskan untuk menjadi penari erotis. Dimana ia mendeklarasikan kepada dunia bahwa perempuan hanyalah objek seksual bagi pria. Tak ada cinta, tak ada kasih. Hanya nafsu belaka.
Tak tahan dengan sesaknya, Judith memilih ke kamar mandi, gemetar di tangannya tak kunjung berhenti. Ia bercermin. Pantulan yang ia lihat adalah seorang wanita yang sangat hancur dan berantakan.
“Kau hancur, Aleta. Kau adalah sampah, tidak akan ada harganya. Kau tidak lebih dari pemuas nafsu para pria”
Suara dengan nada penuh ejek dan cemoohan itu terus memutari kepalanya. Membuat Judith menarik rambutnya keras-keras, berharap dengan demikian ‘mereka’ diam.
__ADS_1
“Menjadi nyonya Alexander? Ibunda Aera? kau tau, mimpimu terlalu tinggi. Sadarilah tempatmu yang sebenarnya, Aleta”
“Sadarlah bahwa kau hanyalah anak pelacur”
“Kau hanya tamatan SMP”*
“Kau diperkosa”*
“Harga dirimu telah hilang sebagai penerus ibumu”*
“Bahkan Jeanno tidak sudi untuk melirikmu”*
“HENTIKAN!!”
Usai berteriak, pandangan Judith menggelap. Ia terjatuh pingsan di lantai kamar mandi.
**
Ketika matanya terbuka, hal yang pertama menyapa pandangannya adalah cahaya lampu. Membuat Judith secara refleks memejam kembali. Kepalanya pening, rasanya seakan telah dihantam beban ribuan kilo. Dirinya tak tahu sekarang berada dimana, mungkin rumah sakit? yang ia tangkap dari matanya yang hanya beberapa sekon, ia terbaring sendirian tanpa siapapun.
Pintu terbuka, Judith memilih untuk memejam. Berpura masih terlelap. Dari langkah kakinya ia bisa memastikan ada lebih dari satu orang yang masuk. Seseorang tengah merapikan selimutnya, kemudian tangan lain menyentuh kepalanya lembut.
“Seharusnya dia sudah sadar, Mark. Kenapa dia bisa pingsan se-lama ini?”
Ah, rupanya ia pingsan. Judith memutar kembali ingatan terakhirnya, ketika ia bergelut dengan suara yang berada di dalam kepalanya sendiri. Berakhir dengan pandangannya yang gelap. Kemudian tak ingat apapun lagi.
“Kata dokter tidak ada yang serius. Kita tunggu saja sampai dia sadar, semoga tidak terjadi apa-apa pada Judith”
“Aku sudah lama tidak melihatnya seperti ini”
Tanpa perlu membuka mata, Judith bisa langsung mengenali siapa manusia-manusia yang tengah berada di dekatnya. Mark dan Hannah.
“Seperti ini? Maksudmu apa, sayang?”
Hannah terdiam beberapa saat, bisa Judith terka yang sahabatnya lakukan sekarang adalah memandangnya lamat-lamat.
“Dulu, Judith seperti ini. Berteriak histeris tanpa sebab, kemudian berakhir pingsan”
“Kenapa? Apa alasannya?”
Bisa Judith rasakan detak jantungnya memburu beriringan dengan genggaman tangan Hannah pada jemarinya. Ia tak ingin traumanya diketahui banyak orang, tapi rasanya ia sudah lelah dengan topeng tegarnya selama ini. Mark telah banyak menolongnya, mungkin tak apa jika ia berbagi luka sedikit.
“Judith… pernah diperkosa”
__ADS_1
**