Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 153. Page 01


__ADS_3

Alana Bake House telah resmi dibuka. Senyuman kebahagiaan tak kunjung surut dari wajah manis Judith, atau Aleta. Ya, atas pertimbangan yang panjang, Judith mulai menerima kembali identitas aslinya termasuk nama lahirnya, walau ia tetap akan mempertahankan namanya yang sekarang. Judith belajar banyak bahwa kelapangan hati mampu meringankan beban hati dan pikirannya. Ia belajar ikhlas, belajar memaafkan dan tak melulu menyalahkan takdir.


Alana. Ketika ia mendengar cerita sekaligus banyak bukti yang ditunjukkan Mark, Judith tak kuasa menahan isaknya. Bahwa ia terlahir tak sendiri didunia ini, bahwa ada kakak kembar yang ternyata begitu dekat, namun juga jauh darinya. Perasaannya bercampur antara bahagia, sedih, rasa bersalah serta penyesalan. Begitu menyesali mengapa ia tak mencari tahu lebih dalam mengenai hidupnya yang bak rollercoster. Seandainya ia tidak egois untuk kabur diusia muda, seandainya ia memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengajak bicara Bik Jum, asisten rumah tangga ibunya dulu, mungkin ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Alana atau Nayara.


Judith sempat mengunjungi makam Nayara sebelum ia meninggalkan kota. Bersimpuh dan memohon maaf sebesar-besarnya karena tak menyadari kehadiran Nayara dikala mendiang masih hidup. Awalnya, Judith ingin memutus total komunikasi dengan orang-orang yang memberikan kesan padanya, termasuk Aera. Namun teringat akan Nayara dan betapa sayangnya si kecil padanya, Judith memilih untuk tetap menjalin komunikasi dengan Aera. Dengan satu catatan, ia hanya menelpon ketika Aera berada di rumah Mark, dan melalui ponsel Maria atau Hannah, tidak yang lain.


Menebus penyesalannya, Judith memilih nama Alana untuk disandingkan sebagai nama toko kuenya. Ia ingin Alana menjadi alasannya untuk tetap melanjutkan hidup. Ia harus membuat Alana bangga diatas sana, melihat adiknya berhasil lolos dari dunia malam. Melihatnya mulai menata hidup dari awal, walau dengan merangkak perlahan.


“Permisi”


Sebuah suara bersamaan dengan bunyinya lonceng dari pintu yang terbuka, sontak merebut atensi Judith untuk melihat kearah sumber suara. Seorang pria tinggi dengan senyuman ramah berdiri disana.


“Oh, selamat pagi, selamat datang di Alana Bake House. Ada yang bisa saya bantu?”


Pria tersebut melangkah masuk. “Sejujurnya sejak kemarin aku menunggu toko ini buka. Karena ibuku sangat menyukai pastry. Apa kau pemiliknya?”


Judith mengangguk semangat. “Ya, saya pemiliknya. Maaf jika anda menunggu lama, saya bekerja sendiri jadi mungkin masih banyak kekurangan dibanyak hal. Tapi saya berjanji membantu anda semampu saya”


Sang pria menggeleng, dengan gestur tangan melambai-lambai. “Tidak perlu terlalu formal. Kurasa kita juga akan sering bertemu”


“Oh, benarkah?”


Disambut anggukan, pria itu menunjuk coffe shop tepat diseberang toko Judith. “Aku mengelola Coffe Shop itu. Namaku Owen. Kau?”


Pria itu mengulurkan tangannya, dibiarkan menggantung selama beberapa saat. Sadar jika lawan bicaranya tak ada niatan untuk menyambut salam tangannya, Owen menarik kembali, memindahkannya ke tengkuk untuk mencairkan kecanggungan.


“Saya... J—“ Judith berdehem. “Anda bisa memanggil saya Aleta”


Owen kembali tersenyum, menyadari betapa manis paras perempuan pemilik toko kue itu. Sepertinya ia memiliki penyemangat baru untuk datang bekerja setiap paginya.


“Oke, Aleta. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik”

__ADS_1


Sepeninggal Owen, Judith kembali pada rutinitasnya. Kebetulan ada beberapa pengunjung, dalam waktu singkat, perempuan itu sudah tenggelam dalam kesibukan melayani pembeli. Sementara dari sisi Owen…


“Kau menghilang lalu kembali dengan cengiran bodoh di wajahmu. Kau kenapa, bos?”


Bukannya tersinggung dikatai ‘bodoh’ oleh salah satu karyawannya, Owen justru terkekeh, membuat sang karyawan sekaligus sahabat kentalnya bergidik. “Jangan-jangan kau ketempelan”


“Bukan” Owen menggeleng. “Sepertinya aku baru saja menemukan calon menantu idaman ibuku”


Sang kawan mengira Owen sedang berhalunasi bertemu bidadari akibat desakan ibunya untuk segera menyudahi masa lajangnya. “Oke, sepertinya kau sedang berimajinasi. Tapi ingat daratan ya, bos. Aku tidak mau kau gila”


“Aku tidak bergurau, Ian. Kau harus melihatnya, dia cantik dan manis sekali. Aku memiliki firasat baik untuk yang satu ini. Doakan aku, ya!”


Mengacuhkan ucapan Owen, Ian begitu nama sang pemuda, memilih untuk kembali bekerja. Sejujurnya ini kali pertama Owen bertingkah seperti itu. Bukan tidak laku, kenyataannya banyak wanita yang mengantri untuk dipinang Owen yang bertampang lumayan ganteng. Tapi Owen lebih memilih untuk fokus pada Coffe Shopnya yang tengah berkembang.


Ian tidak tahu siapa gadis yang dimaksud Owen, tapi siapapun itu, ia berharap sahabatnya mendapatkan labuhan hati yang terakhir.


**


“Ya, toko sudah buka dan lumayan ramai. Sebagian besar kue yang berada di display sudah laku. Aku bahagiaaa sekali, Hannah. Rasanya puas sekali. Aku sampai berpikir mengapa tidak dari dulu saja aku usaha seperti ini. Walaupun rasanya lelah sekali karena aku bekerja sendiri, tapi melihat para pembeli datang silih berganti, rasanya letihku hilang. Pokoknya aku bahagia!”


“Justru karena kau sedang hamil makanya tidak baik untuk bepergian jauh. Baik sekarang maupun nanti, kau harus menjaga kesehatanmu dan baby, Hannah”


“Tapi ini sudah hampir empat bulan, sayang. Apa kau tidak merindukanku?”


Judith tertawa kecil. “Kita video call setiap hari. Kau tidak benar-benar kehilanganku, sayang”


“Apa Aera disana?”


Hannah menggeleng. “Papanya pulang cepat jadi dia langsung menjemput Aera dari sekolah. Mark bilang dia ingin memperbaiki kualitas waktunya dengan Aera yang belakangan ini memburuk. Ya salah siapa bekerja terus”


Judith sedikit menahan geli mendengar Hannah yang sampai sekarang masih menyimpan kesal pada Jeanno sampai tidak sudi menyebut namanya. Pernah Judith menasehati untuk belajar memaafkan Jeanno, tapi berakhir Hannah marah dan menuduhnya membela pria itu. Jadilah Judith memilih untuk diam dan tidak mengungkit perkara Jeanno, terutama di hadapan Hannah.

__ADS_1


Lagipula untuk apa? Tujuannya pindah jauh kemari salah satunya adalah untuk melupakan Jeanno, kan?


“Aera sehat kan?”


Lawan bicaranya meraih susu yang baru saja diantarkan oleh asisten rumah tangga, meminumnya perlahan. “Ya, Aera sehat. Dia sedang fokus belajar untuk ujian kenaikan kelas yang tinggal berapa bulan lagi. Kau harus menyemangatinya, Judith. Dia pasti akan lebih semangat”


“Tentu. Beritahu aku kalau Aera sedang ada disana”


“Eh sudah dulu ya, aku ada pembeli. Bye, sayang. Nanti kutelpon lagi”


Sambungan video call diputus secara sepihak sebelum Hannah sempat membalas. Judith kembali menyapa pengunjung dengan ramah, yang ternyata tak lain adalah Owen.


“Belum tutup, kan?”


Judith tersenyum seraya menggeleng. Jam baru menunjukkan pukul setengah delapan malam. Rencananya ia akan menutup tokonya sekitar satu jam lagi. “Belum. Ada yang bisa aku bantu?”


“Eum.. aku berencana membeli untuk dibawa pulang. Seperti yang kukatakan tadi pagi kalau ibuku sangat menyukai pastry. Apa kau.. ada rekomendasi?”


Judith melangkahkan kaki dari balik meja kasir, dengan penuh antusias, ia mengambil beberapa kotak pastry yang masuk ke daftar ‘best-menu’ menurutnya.


“Ibumu lebih suka asin atau manis? Kalau asin, saya rekomendasikan yang beef kornet. Rasanya gurih apalagi kalau dimakan bersama saus. Tapi kalau yang manis, aku pilihkan yang berisi kacang merah. Manisnya pas dan tidak membosankan. Tapi kalau ibumu tidak begitu suka kacang-kacangan, aku membuat rasa umum seperti coklat, keju, juga selai buah-buahan. Katakan saja, nanti akan aku buatkan spesial sesuai keinginan Bibi”


Rasanya Owen tidak begitu mendengarkan penjelasan panjang lebar Judith mengenai pastry buatannya. Ia yakin sang ibu akan memakan rasa apa saja selama pastry yang ia bawa cocok di lidahnya. Dibanding ocehan penuh antusias Aleta memasarkan dagangannya, Owen justru lebih fokus pada mimik dan gestur Aleta yang menurutnya lucu dan manis.


“Owen? Maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan dalam melakukan promosi. Maaf jika membuatmu tidak nyaman”


Buru-buru menggeleng, Owen menyanggah. “Tidak sama sekali. Kau sudah melakukan hal terbaik hari ini. Buktinya sebagian kuenya terjual, kan? Malah ada beberapa yang memakannya di Coffe Shopku. Mereka juga sempat memuji kuemu enak. Jadi kurasa kau berhasil hari ini”


Rasanya sudah lama sekali Judith tidak mendengar ada orang asing yang memujinya diluar penampilan maupun tubuhnya. Ia memandang lurus kearah pria yang baru satu hari dikenalnya. Ada aura hangat dan ramah, nyaris mengingatkannya kepada Mark. Hanya saja Owen terkesan jauh lebih mudah ‘didekati’. Sedikit merasa bersalah karena tadi pagi ia tidak membalas jabatan tangan Owen.


“Terimakasih untuk kata-katamu barusan, Owen. Itu sangat berarti untukku”

__ADS_1


Owen tidak percaya pada cinta pandangan pertama. Namun kali ini, sepertinya semesta ingin memberinya karma. Karena baru kali pertama, ia merasa jatuh pada pesona gadis yang baru sehari dikenalnya.


**


__ADS_2