
“Jeanno sudah gila!”
Hannah yang baru saja menyimpan obat-obatan kembali ke kotak p3k usai mengobati luka Mark, hanya bisa mengusap pundak suaminya lembut supaya emosi Mark surut. Mengenai konflik antara dua bersaudara itu, Hannah tidak banyak bicara. Karena menurutnya ia hanya orang luar dan bukanlah lakon utama.
“Aku paham dia mencintai Nayara. Tapi bisakah dia menerima kenyataan bahwa Nayara sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu? Rasanya aku ingin mendorong kepalanya ke dinding supaya dia tersadar untuk mengubur masa lalunya dan memulai lembaran baru”
“Demi Tuhan, apakah dia tidak kasihan melihat Aera yang harus kehilangan sosok ‘mama’ untuk yang kedua kalinya? Jika Jeanno membalasku sampai seperti ini, aku yakin dia telah, atau akan melakukan hal yang lebih parah kepada Judith. Astaga… aku bahkan tidak bisa membayangkan”
Usai dari kantor Jeanno, Mark memang pergi ke rumah adik sepupunya berniat untuk menemui Judith. Namun justru yang ia temui adalah asisten rumah tangga, mengatakan bahwa Judith, atau yang ia tahu sebagai Nayara sudah tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Kemudian Mark pergi ke apartemen lama perempuan itu, yang nampaknya juga kosong karena tak ada jawaban usai ia memencet bel puluhan kali.
Hannah juga tak kalah panik. Jangan tanyakan seberapa sering ia mencoba menghubungi ponsel Judith yang masih mengarah kepada voicemail. Mantan penari malam itu juga telah menelpon beberapa rekan kerja mereka dulu, yang barangkali bisa ia mintai bantuan perihal keberadaan Judith. Namun tak ada satupun dari mereka yang tahu.
“Apa Judith punya tempat favorit yang biasa ia sambangi kalau sedang sedih?”
Hannah menggeleng. Judith yang ia kenal selama ini adalah sosok yang sangat tegar dan ceria. Ia memang memiliki trauma, namun tak pernah dibaginya secara terang-terangan.
“Dulu ketika dia sedang sedih, dia akan datang ke kamarku atau kamar Renatta. Lalu terlelap memeluk kami tanpa berkata apapun. Aku tidak tau tempat spesialnya selain ini”
“Aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu padanya. Dan semua ini salahku”
Hannah memberikan usapan lembut pada lengan Mark. “Niatmu baik hanya untuk melindunginya. Sekarang jangan salahkan dirimu lagi, sayang. Kita fokus untuk mencari Judith saja, ya?”
Mark menoleh, memandang wajah ayu itu sebagai pelarian untuk menenangkan emosi. Dan nyatanya selalu berhasil. Gemuruh di dadanya berangsur hilang, pikirannya pun mulai kembali jernih. Ditariknya sang istri kedalam dekapan.
“Terimakasih sayang. Jika tidak ada kau, aku pasti sudah membunuh Jeanno”
**
Tidak, Judith tidak kabur.
Ia hanya butuh waktu untuk berpikir. Pada surat gugatan itu menuntut Judith untuk mengembalikan tiga miliar dalam jangka waktu 14 hari. Yang mana hal itu mau tak mau menambah beban pikiran sang ibu hamil. Judith hanya memiliki 2 miliar. Total dari tabungannya selama menari dulu, 500 juta dari cek Jeanno diawal perjanjian, dan sisanya uang bulanan yang selama ini ia terima sebagai ibu pengganti.
__ADS_1
“Masih kurang satu miliar lagi. Harus mencari kemana?”
Pertanyaan yang entah keberapa kalinya diucapkan di benak. Aset yang Judith miliki hanya berupa tabungan, tas bermerk yang sudah tak terawat karena ia pindah ke rumah Jeanno selama berbulan-bulan, dan.. apartemen ini.
Jika harus dihadapkan pada pilihan untuk menjual aset, apartemen jauh lebih bernilai besar dibanding tas bermerk yang sudah kusam. Tapi bagaimanapun apartemen ini hasil jerih payah dari tak hanya dirinya, tapi juga ada uang Hannah dan Renatta. Memang pada dokumen kepemilikan tercatat atas nama Judith. Tapi ia tak cukup tega jika harus menjual unit ini. Terlebih tanpa persetujuan dua kawannya, dan demi kepentingannya.
Pada surat itu, tertulis jika Judith tidak mampu mengembalikannya, maka ia akan diancam dijebloskan ke penjara. Judith tidak begitu paham mengenai hukum, namun mengingat bagaimana seorang Jeanno yang mampu menggoyahkan bisnis sebesar Victoire, sudah pasti bukan hal sulit bagi pria itu untuk menghancurkannya.
Ditengah khidmadnya berpikir, perutnya serasa dipelintir. Wanita itu mengaduh, sakit sekali rasanya. Kakinya melemas, membuat tubuhnya jatuh ke lantai.
“Arghh!”
Buliran keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Rasanya sakit sekali, paling sakit dari yang pernah Judith rasakan. Sampai-sampai detik itu Judith telah pasrah jika ini adalah saat terakhirnya. Hingga kemudian ia melihat kearah ponselnya, diraihnya dengan susah payah untuk mendial nomor milik Hannah yang telah diabaikan selama beberapa hari.
“Judith?! Kau dimana? Astaga, aku khawatir sekali. Aku sudah menelponmu berkali-kali tapi tidak diangkat. Aku sudah pulang, kau dimana? Biar aku menjemputmu sayang”
Judith tersenyum, setidaknya pesakitannya yang seperti ini, masih ada orang yang peduli padanya.
“Kau dimana sayang? cepat katakan padaku! Biar aku dan Mark yang menjemputmu”
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, saking tak kuatnya membuat Judith tak mampu lagi untuk berdiam dalam posisi duduk. Tubuhnya telah terbaring, bersamaan dengan airmata yang tak kuasa ia tahan.
“Apa..rt..emen”
Judith tidak tahu apa yang Hannah katakan selanjutnya, karena pandanganya memburam dan gelap seketika.
Apapun yang akan terjadi, baik buruknya, akan Judith terima dengan lapang dada. Anggap saja ia sedang mendapatkan karma atas segala keburukan yang pernah ia lakukan dulu. Anggapkah sekarang ia tengah menuai akibat dari pekerjaan kotor yang menjadi sumber penghasilannya dulu.
‘Nayara, maafkan aku. Maafkan aku yang telah lancang bermimpi menggantikanmu. Aku, Aleta.. sekali lagi memohon maaf’
__ADS_1
‘Aera, maafkan mama yang tidak bisa menemani Aera. Maafkan mama yang sudah merebut posisi mama Nayara. Maafkan mama yang jauh dari kata ibu yang baik. Satu hal yang perlu Aera tahu, sayang mama tidak pernah palsu. Mama sayang Aera selayaknya seorang ibu menyayangi putrinya..’*
‘Tuan Jeanno, aku tidak memiliki pembelaan apapun atas kesalahanku. Maafkan aku karena sudah membangkitkan luka lama itu kembali, maafkan aku yang harus terlahir dari keluarga kotor yang berimbas pada mendiang Nayara. Maafkan aku yang tidak bisa memilih akan terlahir dari keluarga yang mana…’*
‘Bayiku, maafkan mama yang tidak becus menjagamu. Jika surga adalah tempat terbaik untukmu, mama merelakanmu pergi, nak. Dibanding kau harus terlahir dari rahim ibu seperti mama. Pergilah, nak. Lahirlah di rahim wanita yang memiliki latarbelakang jelas. Bukan perempuan kotor seperti mama..”*
**
Butuh waktu nyaris satu jam bagi Mark untuk menerobos kemacetan ibu kota. Disampingnya, Hannah sudah berkali-kali mengusap airmata akibat kekhawatiran yang mendalam tentang kondisi Judith. Sudah jelas sekali ada hal yang tidak beres, dinilai dari nada suara Judith ditelpon. Mark sendiri merasa bersalah, karena tidak berjuang lebih keras untuk membuat Judith membukakan pintu kala ia bertandang ke apartemen perempuan itu. Dengan mudahnya ia berbalik, mengira unit tersebut kosong yang padahal, Judith sengaja tidak membukakan pintu atas upayanya menyendiri.
Begitu tiba di depan unit, Hannah merogoh kartu akses yang masih ia miliki. Tanpa menunggu waktu lama dilangkahkan kakinya masuk, berharap ia menemukan Judith dalam keadaan sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Namun harapannya pupus, karena yang ia temukan justru tubuh lemas sahabatnya yang terbaring di lantai, disamping ponsel yang masih menyala.
Beruntung Mark memiliki refleks yang bagus, sehingga ia bisa menangkap tubuh istrinya yang limbung setelah melihat kondisi Judith.
Perempuan itu tak hanya tak sadarkan diri dalam kondisi fisik yang memprihatinkan, namun juga ada aliran darah kental diantara pahanya.
“Mark..”
Mark ingin sekali menenangkan Hannah yang gemetaran, namun sekarang bukan waktu yang tepat. Hal yang harus ia lakukan dengan cepat adalah membawa Judith ke rumah sakit. Memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.
Semoga.
__ADS_1
**