
Jeanno kembali ke kamar rawat usai jam makan siang, mendapati Aera tengah terlelap pulas dan Judith yang bersandar di sofa setengah tertidur. Pria itu buru-buru menyanggah kepala Judith untuk menghindarinya terbentur.
“Oh, maaf, tuan” Judith tersadar ketika sebuah tangan membalut dahinya. Dengan canggung ia bangkit, dikala tangan Jeanno yang lain meraih jemarinya untuk mencegahnya pergi.
“Makan dulu. Kau belum makan siang, kan? Ini… kubawakan dari kantin”
Aroma menggiurkan dari makanan yang dibawa Jeanno mau tak mau menggugah selera makan Judith. Ia memang belum sempat mencari makan karena si kecil yang enggan ditinggal.
“Terimakasih, maaf merepotkan tuan”
Jeanno mengangguk, dengan berat hati melepaskan tautan yang terjalin. Membiarkan Judith kembali duduk disampingnya. “Malam ini.. kau beristirahat saja dulu. Tubuhmu pasti lelah karena tertidur dalam posisi duduk semalaman. Biar aku yang menjaga Aera”
“Tidak usah, tuan. Aku tidak lelah kok. Lagipula nanti malam aku sudah berjanji untuk membacakan dongeng untuknya”
Judith menoleh. “Tuan saja yang pulang dan beristirahat, kantung mata tuan sudah menghitam. Jika tuan tidak keberatan, mungkin aku akan tinggal… sampai Aera sembuh total”
Kata ‘tinggal’ yang tak pernah membuat Jeanno senang hati selain yang diucapkan Judith barusan. Sampai Aera sembuh total.. bukan berarti Jeanno menginginkan buah hatinya tetap sakit, tapi setidaknya ia masih menyimpan satu dua hari melihat perempuan manis itu.
Kata Tyona, ia harus mulai mengenali perasaannya. Jika memang mencintai, harus diperjuangkan. Jika memang tidak mencintai, maka lepaskanlah. Jeanno merapalkannya dalam hati, mulai meneguhkan hati untuk ‘mengenali’ apa yang dirasa.
Tapi sebelum itu, kata maaf belum sempat terlontar.
“Judith..”
Suapan di mulutnya terhenti. “Ya?” responnya. Jeanno memalingkan wajah, menatap ubin rumah sakit yang entah mengapa terlihat jauh lebih menarik. Kata maaf yang sudah ada diujung lidah, menjadi berat dan sulit sekali lolos.
“Ada apa, tuan?”
Judith menunggu, setiap sekonnya untuk menunggu apa yang mengganjal. Tak pernah sekalipun ia melihat Jeanno kehilangan kata. Jeanno yang selalu terlihat tegas dan sempurna, kali ini menghindari tatapannya dan perasaannya saja atau pria itu terlihat… gugup?
“Tuan baik-baik saja?”
Baru saja mulutnya hendak mengucap, sebuah panggilan masuk dari ponsel Judith datang. Terlihat sekilas nama ‘Owen’ pada layar benda pipih itu. Judith undur diri, memilih mengangkat telpon di balkon. Jeanno tak begitu mendengar apa yang diobrolkan, namun ia bisa melihat senyum ringan Judith disana. Yang jauh berbeda ketika perempuan itu bersamanya.
__ADS_1
Lagipula siapa Owen? Apa pria itu berasal dari kehidupan baru Judith? Untuk apa dia menghubungi Judith? Ada hubungan apa antara Judith dengan si Owen-Owen itu?
Judith kembali dari obrolannya dengan Owen sekitar sepuluh menit kemudian, melihat tak ada penampakan Jeanno di sofa. Pria itu menghilang entah kemana. Judith mengangkat bahunya, memutuskan untuk mandi sejenak sebelum kembali menjaga Aera.
**
Judith menutup buku dongeng yang selesai ia bacakan. Mengerutkan dahi ketika Aera masih memandangnya penuh tanya.
“Kenapa, sayang?”
Masih terdiam, Aera hanya menggeleng.
“Aera mau mama bacakan dongeng lain?” Lagi, hanya gelengan kepala yang Judith dapatkan.
“Aera mau apa, sayang? katakan pada mama..”
“Aera ingin tidur bersama mama disini” tangan mungilnya menepuk sisian kasur. Sejak pagi tadi ketika membuka mata dan mendapati Judith ada didepan matanya, Aera menjadi enggan untuk terlelap. Ia takut ketika terbangun nanti Judith sudah menghilang.
Judith menyanggupi, beruntung kamar rawat VVIP yang menyediakan kasur lumayan besar meskipun untuk pasien anak. Ia bawa tubuhnya untuk berbaring disamping Aera, yang langsung bergelung didalam dekapannya. Menyamankan posisi, memastikan bahwa tubuh itu nyata untuk ia sentuh, bukan sekedar mimpi belaka akibat menahan kerinduan akan sosok ibu.
Judith menundukkan pandangannya, bertemu dengan manik mata yang memancarkan ketakutan serta harapan. Ia bawa jemarinya mengusap wajah cantik Aera. Rasa bersalah tentu ada, harus menjadi andil dalam kesedihan Aera. Menyedihkan, ketika bocah yang bahkan belum genap 10 tahun itu harus menjadi korban dalam peliknya drama orang dewasa yang mengakui menyayanginya. Tapi jika Judith tetap tinggal, maka ia akan melihat Jeanno. Dan itu berarti akan ada pesakitan-pesakitan dimasa datang yang entah kapan berujung.
Judith menyayangi Aera, sungguh. Tidak ada kebohongan sedikitpun akan rasa sayang itu. Tapi ia juga harus mengambil langkah tegas dalam ‘menyelamatkan’ dirinya sendiri.
Yaitu menjauh dari Jeanno.
“Mama? Kenapa diam saja?”
“Mama besok tetap disini. Jadi Aera sekarang tidur, ya?” Jeanno muncul dari balik pintu kamar mandi, baru selesai membersihkan diri. Ia berjalan mendekati ranjang, mengulurkan tangan untuk menaikkan selimut yang semula hanya sebatas betis Judith.
“Benar, kan, Judith?”
Judith mengangguk kaku. Memang niatnya tetap disini sampai Aera sembuh total. “Iya, besok mama masih disini”
__ADS_1
“Yeay..”
Bersorak kegirangan, gadis cilik itu semakin membenamkan wajahnya diceruk leher Judith. Sampai tak berselang lama nafasnya berubah teratur, menandakan Aera mulai terlelap. Meninggalkan dua orang dewasa yang masih terjaga.
Judith mengalihkan pandangan, wajahnya serasa memanas menyadari bahwa sedari tadi tatapan Jeanno tak pernah lepas darinya. Keheningan yang tidak nyaman itu pada akhirnya pecah oleh denting notifikasi dari ponsel Judith. Tangannya terulur kearah nakas, sedikit kesulitan untuk meraih ponsel diatas sana. Beruntung Jeanno dengan peka membantu mengulurkan. Walau sekilas melihat siapa pengirim pesan.
Owen.
Masih menjaga kontak matanya kearah Judith, Jeanno melihat bagaimana perempuan itu mengetik balasan dari pesan Owen yang entah berisi apa. Setelah itu Judith asik sendiri, seakan melupakan eksistensi Jeanno yang masih berdiri ditepian ranjang. Pria itu menghembuskan nafas samar, memutuskan untuk pergi ke balkon.
Hanya perasaannya saja atau ia merasa ruang rawat Aera menjadi pengap dan panas?
**
Putri Jeanno Alexander sakit.
Arman meletakkan ponselnya usai membaca informasi dari kenalannya yang bekerja di perusahaan Jeanno. Informasi yang sebetulnya tak ada hubungannya dengan Jeanno maupun Judith. Tidak, Arman tidak berpikiran untuk ‘membalas dendam’ melalui anak kecil, ia tak sejahat itu.
Hanya saja ia penasaran akan satu hal. Pemikiran yang muncul sejak dua malam yang mengganggu fokusnya. Ia ingat, Judith dulu memiliki bekas luka didaun telinganya. Satu tanda yang baru disadarinya dalam kepeningan bagaimana cara menjatuhkan Jeanno Alexander yang selalu dibanggakan ayahnya.
Mungkin Arman akan melakukan kunjungan singkat, berkedok menjenguk si kecil yang sedang sakit, sekaligus bertemu dengan nyonya Alexander. Memastikan bahwa wanita itu benar-benar istrinya, dan bukan Judith yang nyaris satu tahun menghilang.
Satu seringai muncul disana, tak pernah ia merasa sesemangat ini ‘menjenguk’ orang sakit.
**
Siang itu Judith berjaga sendirian karena Jeanno pamit ke kantor sebentar untuk menghadiri rapat penting. Beruntung Aera sama sekali tidak keberatan dan bersedia ditinggal. Hanya sebentar, janjinya. Dua hingga tiga jam. Judith menyanggupi, toh menjaga Aera bukan hal sulit untuknya.
Pintu diketuk, menimbulkan tanya siapa gerangan yang datang. Namun Judith mengesampingkan prasangka, ini rumah sakit, tidak akan ada perampok, kan?
Judith memastikan Aera yang tertidur usai meminum obat. Ia lantas melangkah menuju pintu. Menyesali instingnya yang tidak berjalan seperti biasa.
“Selamat siang, nyonya Alexander”
__ADS_1
Terlambat untuk menghindar. Karena Arman Mahendera sudah berdiri disana. Dengan tangan menenteng bunga dan buah, tak dilupakannya senyuman misterius, yang menurut Judith lebih mirip seringai.