
Nayara melangkah setengah berlari menuju Jeanno yang sedang menunggunya di depan mobil usai kelas mereka berakhir. Wajah gadis itu cerah, tersenyum sumringah seakan sedang menyimpan kabar baik yang siap ia bagi dengan kekasihnya. Jeanno balas tersenyum, sekaligus mengantisipasti ada apa gerangan yang membuat Nayara terlihat bahagia.
“Kau terlihat bahagia, bolehkah aku tau alasannya?” tanya pemuda itu ketika Nayara sudah sampai di posisinya berdiri. Sembari menyelipkan anakan rambut yang mendarat di wajah gadis itu ketika ia bawa berlari tadi.*
“Aku ada kabar bahagia!”*
Jeanno terkekeh, gemas melihat Nayaranya yang begitu bersemangat. “Apa?”*
“Tapi berjanjilah kau tidak akan marah” senyum Nayara luntur, terganti dengan tatapan memohon yang ia tau pasti membuat kekasihnya lemah. “…Please?”*
Jeanno membuang muka. Jika diawali dengan kalimat seperti itu pasti berita yang dianggap bagus oleh kekasihnya, belum tentu bagus untuknya. Tapi mau bagaimana lagi, kebahagiaan Nayara adalah bahagianya juga, kan?*
Pemuda itu kembali memandang Nayara. “Baiklah, aku janji. Memang apa berita bagusnya?”*
Senyum gadis itu kembali seperti tadi. Diraihnya tangan Jeanno, seakan hal itu mampu menyalurkan rasa bahagia yang siap membuncah di dadanya. “Aku.. diterima bekerja di toko bunga”*
Raut wajah Jeanno berubah, terlihat sekali adanya perbedaan ekspresi antara pemuda itu dengan kekasihnya. “Bekerja?”*
Nayara mengangguk. “Iya. Aku memasukkan lamaran sekitar dua minggu yang lalu, kupikir mereka tidak mempertimbangkan menerima pekerja paruh waktu. Bahkan aku sampai lupa kalau aku melamar kesana. Tapi tadi aku mendapat telpon kalau pengajuanku diterima dan aku bisa mulai bekerja besok. Bukankah itu kabar yang sangat baik?”*
Jeanno tidak langsung menjawab. Pemuda itu membuka mulut, namun opininya tertahan. “Ayo kita bicara di mobil”*
__ADS_1
Nayara menurut, membiarkan Jeanno menghelanya menuju kursi penumpang. Usai mereka berdua berada dalam mobil, suasana menjadi canggung. Jeanno berdehem sejenak sebelum memecah sunyi.*
“Kabar baik, Na. Aku turut senang. Tapi.. kupikir kau tidak ada keinginan untuk mencari pekerjaan lagi. Setelah apa yang terjadi terakhir di kafe”*
Seperti tadi, Nayara meraih tangan Jeanno. Memberikan usapan lembut pada punggung tangan sang kekasih.*
“Selama ini kita, kau terlihat baik-baik saja tanpa bekerja. Jadi kupikir kau bisa seterusnya akan seperti itu. Dan lagi kau melamar tanpa memberitahuku, jujur saja aku kurang nyaman, Na”*
Nayara mengangguk. Memahami apa yang dikatakan pemudanya. “Maafkan aku karena tidak memberitahumu dulu. Kupikir kau pasti tidak akan setuju kalau aku bekerja lagi. Tapi aku benar-benar tidak bisa jika menganggur terus, Jeanno. Aku punya kebutuhan yang harus kupenuhi dan itu tidak bisa jika harus mengandalkan uang tabungan saja”*
“Aku bisa memenuhi kebutuhanmu”*
Nayara tersenyum. “Jangan dilanjutkan, oke? Kita sudah membicarakan ini berkali-kali. Aku tidak mau uangmu, Jeanno. Kau harus membiarkanku melakukan dengan caraku sendiri”*
“Tidak akan terulang, sayang. Aku tidak semenarik itu sampai membuat para pria jatuh hati padaku. Percayalah, kau harus membiarkanku bekerja”*
Jeanno menarik nafas panjang. “Baik, tapi dengan satu syarat”*
“Apa?”*
“Aku yang akan mengantar jemput setiap kali kau bekerja. Dan jika rekan kerjamu bertanya, kau harus memperkenalkanku sebagai kekasihmu”*
__ADS_1
Nayara tertawa kecil. “Baiklah Tuan Jeanno, aku menyetujui persyaratanmu”*
**
Hannah nyaris tidak bisa menyamai langkah panjang Maria yang menggandengnya dengan semangat ketika memasuki sebuah butik dengan aksen kayu yang khas pada bangunan tiga lantainya. Hannah tidak pernah memakai pakaian dari merk ini, tapi ia cukup mengerti bahwa butik ini dimiliki oleh desainer yang terkenal.
“Selamat datang Nyonya Sebastian”
Seorang pria gemulai datang menghampiri keduanya dan memberikan pelukan hangat kepada Maria. “Bagaimana kabarmu, Michael? Maaf aku menelponmu mendadak. Syukurlah kau sedang tidak diluar negeri”
“Kabarku baik, Nyonya. Dan jangan bertingkah aku akan menolak setiap kau menelpon. Bagaimana bisa aku menolah nyonya Maria Sebastian?”
Keduanya berbagi tawa, sebelum Maria beralih kepada Hannah yang masih terpaku di tempatnya. “Oh iya, kenalkan sayang, ini calon menantuku, Hannah”
Hannah ‘mengenal’ pria itu, Kent Michael, seorang designer muda yang namanya sudah mendunia. Kiprahnya dibidang fashion sudah diakui oleh berbagai ahli. Rumornya untuk datang ke butiknya saja butuh waktu kurang lebih satu hingga dua bulan, tergantung dengan banyaknya antrian. Begitu pula untuk bisa memakai jasanya merancang pakaian, jangan tanyakan perkara kualitas. Namun harganya? Oh, tentu setara dengan harga mobil.
Mendengar Maria dengan mudahnya datang usai menelpon secara mendadak, cukup menjelaskan bagaimana wanita yang berpenampilan sederhana itu, memiliki kelas yang bahkan seorang Kent Michael saja turun dan menyambutnya secara langsung.
“Hai sayang, aku Michael. Ken. Mike, terserah kau mau memanggilku apa” Michael memberikan kecupan samar antara pipi kanan dan pipi kirinya dengan Hannah. Gadis itu tersenyum kikuk. “Hannah”
“Mark memiliki selera yang bagus, Nyonya. Lihatlah dia, cantik sekali. Aku sangat suka kulitnya, kulit khas wanita Indonesia. Aku tidak sabar untuk membuatnya mengenakan pakaianku”
Wajah Hannah memerah mendengar pujian dari Mike. Selanjutnya, waktu berputar cepat, Hannah tak memiliki waktu untuk menolak ketika Mike serta dua asisten Mike ‘menenggelamkannya’ dengan tumpukan pakaian seperti tak habis dibawa oleh dua asistennya. Hannah kira Maria hanya menyuruhnya memilih satu atau dua potong pakaian, namun mulutnya berhasil dibuat ternganga ketika wanita itu dengan ringannya berkata. “Aku ambil semua, Mike”
Hannah sempat menilik bandrol harga pada salah satu pakaian. Yang membuatnya mendegut ludah. Ia.. tak salah lihat kan? Hannah berkedip beberapa kali, barangkali ia salah menghitung angka 0. Dengan cepat ia bangkit, berdehem di samping Maria.
“Ibu..”
Maria yang baru saja mengeluarkan dompetnya, menoleh. “Iya, sayang? ada yang kau sukai lagi? Kalau ada, ambil saja. Biar Ibu sekalian bayar”
“Bukan” Hannah menggeleng cepat. “Bukan begitu, justru aku ingin bertanya.. apa semua ini tidak berlebihan?”
“Kau tidak menyukainya?” Lagi, Hannah menggeleng. “Bukan, Ibu. Pakaian-pakaian ini sangat indah. Tapi.. harganya sangat mahal bahkan untuk satu pakaian. Aku tidak yakin bisa menggantinya dalam waktu dekat”
Maria tertawa kemudian menggelengkan kepalanya sebelum menyerahkan credit card ke kasir. “Ibu hanya ingin menyenangkan hati calon menantuku. Lagipula Ibu sudah lama memimpikan hal seperti ini, sayang”
Maria mengajak Hannah untuk duduk sejenak sembari kasir membungkus pakaian-pakaian yang sudah dibelinya. “Ibu tidak memiliki anak perempuan. Pun Ibu juga tidak memiliki keponakan perempuan karena adik Ibu, yaitu ayahnya Jeanno hanya memiliki satu anak lelaki, yaitu Jeanno”
“Terkadang Ibu iri melihat teman-teman Ibu yang memiliki anak atau menantu perempuan. Mereka pergi ke salon bersama, belanja bersama, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh perempuan. Sementara Ibu, setiap pergi belanja dan mengajak Mark, yang dia lakukan hanya bertanya ‘Apa masih lama?’, ‘Apa masih ada yang Ibu beli?’ lalu setiap Ibu bertanya mana yang bagus, Mark selalu menjawab semua bagus. Jadi ketika Ibu tau Mark memilikimu, Ibu tidak bisa mencegah untuk tidak mewujudkan impian Ibu. Mengenai pakaian-pakaian yang tadi, jangan pernah kau memiliki pikiran untuk mengganti uang Ibu. Aku membelinya murni sebagai hadiah, dan ingin membuatmu senang. Jadi maaf jika Ibu membuatmu tidak nyaman, Ibu hanya.. terlalu bersemangat”
Hannah tersenyum, diraihnya tangan Maria. “Ibu tidak membuatku tidak nyaman. Aku bahagia sekali, mendapat restu Ibu dan Paman Jose saja sudah membuatku bersyukur setiap harinya. Aku dengan sangat senang hati akan menemani Ibu kalau Ibu ingin pergi belanja atau ke salon. Tapi mungkin lain waktu, berikan aku kesempatan untuk membayar belanjaanku sendiri. Bukan karena aku tidak menghargai Ibu, aku hanya tidak ingin merepotkan”
Maria membalas tautan jemari Hannah. “Anakku benar-benar tidak salah memilih”
__ADS_1
Percakapan mereka terhenti ketika dua asisten Mike menyerahkan tujuh goodie bag berukuran besar kearah mereka. Hannah kembali membeku, tak berani membayangkan berapa total belanjaan yang sudah Maria keluarkan. Ia bergidik, mungkin nominal sekali belanja Maria setara dengan uang tabungannya yang ia kumpulkan bertahun-tahun ketika bekerja di Victoire.
**