Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 94. Good News


__ADS_3

Maria ada disana, memberikan atensi sepenuhnya pada sosok Hannah yang tengah duduk di ruang rawat Mark sembari mengajaknya bicara. Walaupun ia tak bisa mendengar apa yang Hannah bicarakan, tapi hatinya cukup tenang. Terlebih melihat hasil pemeriksaan dokter yang sekalipun Mark belum sadar, namun kondisinya stabil dan telah berhasil melewati masa kritis. Sebagai seorang Ibu dari putra tunggal, secara alami ia telah menganggap Hannah seperti anaknya sendiri. Setelah ia merasakan hal yang sama beberapa tahun lalu terhadap mendiang Nayara, kini ia merasakan hal yang sama kepada Hannah.


Sementara di dalam, Hannah masih setia bermonolog, menceritakan apapun yang bisa ia bagi dengan Mark.


“Kau tau, Mark? Aku merasa senang melihat Judith pada akhirnya merasakan jatuh cinta. Dia yang tak pernah dan tidak mau merasakan cinta, pada akhirnya menyerah pada sepupumu. Aku tidak tau apakah mereka akan berakhir dengan bahagia atau tidak. Tapi sebagai sahabat, aku berharap ini cinta pertama dan terakhir Judith”


Gadis itu tersenyum sendu. “Seperti perasaanku padamu. Kau tetap cinta pertama dan terakhirku, sampai kapanpun Mark”


Hannah terdiam. Batinnya tengah mengucap kata maaf berkali-kali karena setelah ini, ia sudah tak lagi bisa menjaga kegadisan yang semula ia peruntukan untuk Mark suatu saat nanti ketika sudah resmi sebagai pasangan yang sah. Hannah ingin meminta maaf secara lisan, tapi lidahnya seakan kelu. Sekalipun Mark masih belum sadar, ia tetap tak ingin membawa kabar buruk untuk Mark.


“Waktuku semakin singkat, Mark. Tapi aku tak pernah bosan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu..”


Satu aliran airmata lolos bersamaan ketika Hannah merasakan ada gerakan kecil yang berasal dari jemari yang sedang digenggamnya. Awalnya gadis itu tak menyadari, namun ketika gerakannya semakin jelas, ia lantas berdiri, memanggil perawat.


“Hannah, kenapa sayang? ada apa dengan Mark?”


Maria yang sedang berbincang dengan Judith, serta merta bangkit dari duduknya ketika melihat Hannah dengan tergesa memanggil perawat. Semula ia mengira kondisi putranya drop, namun melihat Hannah tersenyum dengan mata berkaca-kaca, harapan wanita itu kembali naik.


Hannah menghambur memeluk Maria erat. “Bibi… Mark menggerakkan tangannya”


**


Sudah hampir satu jam Jeanno duduk di tempatnya. Berhadapan dengan kawan lamanya yang memiliki jabatan penting di kepolisian. Kawannya yang bernama Levi itu memeriksa berkas-berkas yang Jeanno serahkan padanya tak hanya sekali, namun beberapa kali.


“Ini hal yang cukup serius, Jean. Darimana kau mendapatkan informasi seperti ini?”


Jeanno tersenyum. “Kau tidak perlu tau, Lev. Apakah semua itu cukup untuk menahannya?”

__ADS_1


“Tidak hanya menahannya, kurasa. Tapi mengingat banyaknya pelanggaran dan statusnya sebagai warga asing, ia bisa dideportasi dan segala asetnya dibekukan”


“Bisakah kau melakukan proses penyelidikan ini dengan cepat, Lev? Sebentar lagi ia akan menikahi wanita Indonesia dan membawanya tinggal di Negeri asalnya. Jika itu terjadi sebelum penangkapan, aku takut kabar ini bocor dan dia menggunakan kesempatan untuk kabur. Aku juga takut jika Louis menyakiti wanita itu”


Levi memasukkan kembali kertas-kertas kedalam map, kemudian dimasukkan ke tasnya. “Tenang saja, Alex. Aku akan mendiskusikannya dengan timku hari ini juga. Kau bisa percaya padaku”


“Terimakasih banyak, kawan”


**


Mark masih belum sadar, namun adanya gerakan dari jemarinya sekalipun gerakan kecil, adalah sebuah kemajuan yang dinanti-nanti. Dokter bahkan mengucap terimakasih kepada Hannah, karena kunjungan rutin dan mengajak Mark ‘bicara’ sehingga alam bawah sadar Mark merespon melalui gerakan. Itu artinya Mark masih memiliki keinginan untuk berjuang hidup setelah hampir dua minggu koma.


“Bibi tidak tau bagaimana caranya berterimakasih padamu, Hannah”


Hannah menggeleng. “Tidak, Bibi. Aku tidak melakukan apapun. Justru akulah yang berterimakasih pada Mark karena masih sudi meresponku”


Senyum Hannah pupus. Bukan karena ia tak senang, tapi karena ia takut jika salah mendengar. “Maaf?”


“Panggil aku Ibu, sayang. Aku tidak mau mendengarmu memanggilku ‘Bibi’. Kau gadis yang dicintai putraku, sudah sewajarnya aku menganggapmu sebagai anakku juga”


Hannah kembali terisak. “Ibu..”


Judith hanya diam ditempatnya, seraya tersenyum melihat Maria dan Hannah yang saling berpelukan berbagi suka cita. Ia hanya berharap rencana Jeanno dan Johnny berhasil. Dengan begitu, maka Hannah akan mendapatkan akhir yang indah.


**


Hannah tidak akan pernah berhenti mengucap syukur akan apa yang terjadi hari ini. Usai mendapatkan waktu untuk menjenguk Mark secara bebas. Belum lagi kemajuan kondisi Mark yang signifikan. Lalu ia mendapatkan haid berkat obat yang diminumnya. Namun rupanya kejutan tak hanya sampai disitu. Karena rupanya ketika ia pulang, Helga dan Ibu bercerita bahwa Louis pergi sekitar tiga jam yang lalu usai mendapat surat panggilan penyelidikan dari Kepolisian. Entah untuk kasus apa, mereka tak mengerti.

__ADS_1


Sampai waktu merayap hingga tengah malam, Louis tak kunjung pulang. Membuat Hannah nyaris menari-nari kegirangan. Moodnya luar biasa bagus, ketika untuk sejenak ia berpikir apakah penangkapan Louis entah untuk kasus apa, adalah bagian dari rencana Johnny? Hannah ingin sekali menghubungi pria jangkung itu, namun teringat ia tak memegang ponsel.


Hari esoknya, Louis tetap tidak menunjukkan batang hidungnya. Hannah, tentu saja tak perlu membuang waktu segera berkemas untuk mengunjungi Mark. Disana ia bertemu dengan Maria, Jose dan juga Jeanno.


“Hannah, boleh aku bicara sebentar denganmu?”


Ini kali pertama Jeanno mengajaknya bicara selain perkenalan singkat mereka dulu dimana pria itu hanya menyebutkan namanya saja. Hannah mengangguk, mengikuti langkah Jeanno menjauhkan diri dari orangtua Mark.


“Apa Louis semalam pulang?” Hannah menggeleng. “Hari inipun ia tidak pulang”


Jeanno melipat tangannya di depan dada. “Kau mungkin sudah mendengar mengenai rencana yang Johnny susun bersama denganku. Ini saatnya aku memberitahumu…”


“Johnny memutuskan untuk mengumpulkan bukti-bukti mengenai pelanggaran hukum yang selama ini bosmu lakukan. Prostitusi, Ijin usaha bagi warga asing, visa kadaluarsa, transaksi narkoba, perdagangan manusia, penggelapan, pemalsuan surat ijin usaha, dan masih banyak lagi. Jika semua yang dituduhkan terbukti dan Louis ditetapkan bersalah, maka besar kemungkinan ia akan dikembalikan ke Negaranya. Dan dijamin ia tak akan pernah menginjakkan kakinya lagi disini”


Hannah masih mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan Jeanno. Bagai angin segar yang mengusir segala gundahnya belakangan ini.


“Tapi kau juga harus tahu. Jika Louis terbukti bersalah, semua asetnya disini akan disita. Termasuk Victoire. Itu artinya rekan-rekanmu juga akan terkena dampak. Tapi aku tidak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri, anggap saja ini memang balasan atas kejahatan yang telah Louis lakukan”


Hannah tak dapat menahan kebahagiaannya hingga airmatanya panas. Berharap jika yang ia dengar bukanlah mimpi. “B-benarkah, tuan?”


Jeanno mengangguk. “Aku akan membantu mengawal kasus ini”


“Terimakasih, tuan. Terimakasih”


Pria itu mengangguk, kemudian pamit pergi bekerja setelah menepuk pundak Hannah sekilas.


**

__ADS_1


__ADS_2