Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 57. Tutur Batin


__ADS_3

Tyona baru saja selesai membuat sarapan ketika pintu apartemennya terbuka. Dengan langkah cepat ia menghampiri ruang tamu, perasaannya lega luarbiasa melihat Jeffrey pulang dalam keadaan tak kurang suatu apapun.


“Dari mana saja?”


Jeffrey yang tengah melepas sepatunya, mendongak. “Menginap di rumah mama”


“Kupikir kau kemana. Ponselmu baik-baik saja, kan?”


Lelaki itu menaruh sepatunya ke rak, menggantinya dengan sandal rumahan. “Ya”


“Lalu kenapa kau tidak mengabariku? Aku menunggumu sampai dini hari. Kau juga tidak menepati janjimu untuk pulang bersama”


Jeffrey melangkah menuju kamar mereka, yang diikuti Tyona di belakangnya. “Maaf. Aku benar-benar lupa, Anna. Lain waktu kukabari”


“Tapi…” Tyona menggigit bibirnya. “Aku berkali-kali menelponmu. Apa kau sesibuk itu di rumah mama? Jeff, hanya satu pesan singkat saja tidak sempat kau balas. Apa sesulit itu?”


“Tsk..” Jeffrey membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan Tyona yang memandangnya sendu. “Aku tau kesalahanku. Dan aku sudah meminta maaf, lalu apa masalahnya? Aku lelah sekali, Tyona. Aku ingin tidur sebentar sampai nanti waktuku berjaga. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit”


Tyona belum sempat merespon ketika sosok itu sudah menghilang menuju kamar mandi. Dadanya sesak, sudah lama sekali Jeffrey tidak memanggilnya dengan nama ‘Tyona’. Mendengar namanya disebut secara lengkap oleh pria yang mengikat janji suci padanya, Tyona tidak suka. Mengingatkannya pada masa lalu ketika mereka belum terikat hubungan spesial.


Wanita itu menarik nafas dalam, berharap dengan begitu sesak yang membekapnya akan hilang. Mungkin Jeffrey memang lelah. Mungkin Jeffrey sedang banyak pikiran. Tyona mengusap dadanya, berusaha menghilangkan segala negatif yang bermunculan pada benaknya. Apapun itu, yang penting Jeffrey pulang dengan selamat. Yang penting ia aman di rumah orangtuanya semalam.


Tyona lantas mendekati kasur, tempat dimana Jeffrey menaruh snelli kotornya kemarin. Kebiasaan buruk itu sulit sekali dihilangkan, sekalipun Tyona sudah mengatakan ribuan kali untuk tidak menaruh pakaian kotor di atas kasur. Tapi tetap saja itu seperti masuk ke telinga kanan keluar telinga kiri.


Seperti biasa, sebelum membawanya ke ruang laundry, Tyona mengecek lebih dulu setiap saku dari pakaian kotor. Takut jika ada benda tertinggal. Tak terkecuali snelli kotor Jeffrey. Saku kanan kosong, tangannya merogoh ke saku kiri, hanya untuk menemukan benda bulat kecil yang bentuknya seperti cincin. Penasaran, diambilnya benda itu keluar.


Cincin pernikahan.


Tyona tentu saja tak pernah lupa, bagaimana bentuk cincin yang mengikat mereka lebih dari lima tahun. Cincin Jeffrey yang terdapat namanya, bagaimana bisa ada di kantong snelli?


Pada saat itu, entah atas dorongan apa, Tyona membawa snelli itu ke hidungnya, menyadari bahwa aroma yang ada disana bukan hanya dari parfum suaminya, namun juga tersisa aroma manis yang tak pernah Tyona kenali sebelumnya. Bukan dari parfum Jeffrey, bukan juga parfum miliknya.


Apa parfum ibu mertuanya? Tidak, seingatnya Rianti tidak suka parfum dengan aroma semenusuk ini. Apa parfum pasien? Tapi bagaimana bisa sampai menempel di snelli Jeffrey. Apa jangan-jangan parfum wanita lain?


Berbagai pertanyaan bermunculan di benak Tyona. Pikiran negatif yang tadi susah payah ia singkirkan, dengan sendirinya hadir kembali, semakin susah ia benamkan. Haruskah ia mengkonfirmasikannya kepada Jeffrey?


Tapi emosi suaminya sedang tidak stabil akibat kelelahan. Jika ia bertanya sekarang, Tyona yakin akan berujung pertengkaran yang malah akan membuat segalanya semakin rumit. Mungkin Tyona akan bertanya nanti malam, sebelum mereka pergi tidur.

__ADS_1


Semoga mood Jeffrey bagus.


**


Tyona mendecakkan bibirnya kesal. Pagi itu ternyata tidak sesepi dugaannya. Taksi yang ia panggil lama sekali datangnya. Jika saja mobilnya tidak turun mesin dan mengakibatkan harus menginap di bengkel, ia pasti tidak akan kewalahan. Bisa saja ia meminjam mobil Jeffrey, tapi kuncinya entah diletakkan dimana dan suaminya sudah terlelap pulas. Membuat Tyona tak sampai hari membangunkannya hanya sekedar menanyakan dimana letak kunci mobil. Lagipula jika mobil ia bawa, lalu dengan apa Jeffrey berangkat ke rumah sakit?


“Anna?”


Tyona mengangkat wajahnya yang kesal dari ponsel yang sibuk menghubungi operator taksi. Netranya bertemu dengan milik Darren yang berada di pajero putihnya. “Oh syukurlah, Darren. Kau mau ke rumah sakit?”


Pria berkacamata itu mengangguk. “Kau belum dapat taksi? Kalau belum, mau berangkat bersama?”


Tyona mengangguk tanpa pikir panjang mengingat jam sudah merangkak naik, sedikit lagi ia bisa terlambat. Dengan langkah panjang ia membuka pintu kursi penumpang.


“Terimakasih banyak. Kalau tidak bertemu denganmu aku sudah pasti terlambat”


Darren tersenyum, sembari menjalankan mobilnya. “Aku mampir untuk mengambil pesanan buket bunga dokter William di toko sekitar sini karena hari ini anniversarynya bersama istrinya yang ke-30. Untunglah beliau menyuruhku, jika tidak kita pasti tidak bertemu. Mengingat arah tempat tinggal kita yang berlawanan”


“Oia, Jeffrey sudah kembali?”


Tyona menoleh. “Ya, sudah tadi malam. Belum lama aku menelponmu, dia pulang ke rumah”


Oh, Tyona juga memilih untuk berbohong kepada Darren. Jika Darren tau bahwa Jeffrey baru kembali paginya, kawannya itu pasti berasumsi ada yang tidak beres dengan rumah tangganya. Dan Tyona juga tidak ingin ada yang memandang buruk Jeffrey. Anggap saja kebohongannya adalah upaya untuk melindungi rumah tangganya.


Sesampainya di rumah sakit, Tyona buru-buru melepas seatbeltnya. Gerakannya yang terburu-buru justru membuat benda itu sulit terlepas dari tubuhnya.


“Sabar, Anna. Seatbeltku memang terkadang sedikit bermasalah. Sini kubantu”


Darren mendekatkan tubuhnya, membantu Tyona melepas sabuk pengamannya. Setidaknya itu yang ia ketahui, namun di mata orang-orang tertentu, pemandangan Darren dan Tyona di dalam mobil bisa disalah artikan, terlebih jika dilihat dari angle yang berlawanan.


Dan.. bukankah rumor negatif jauh lebih cepat berkembang?


**


Hari ini Pak Yudi mengajak mereka untuk ke istal kuda yang berada tak jauh dari villa yang sebenarnya juga milik Jeanno. Pria itu memutuskan untuk mendirikannya sebagai bentuk ‘hiburan’ jika ia berkunjung ke villa dan ingin berkuda. Sebetulnya Jeanno menolak mengajak Aera kesana, namun si kecil sudah terlanjur mendengar pembicaraannya dengan pak Yudi dan mengakibatkan Jeanno kesulitan menolak karena putrinya melayangkan jurus puppy eyes.


“Kalau ini namanya Kobi. Kobi ini kuda kesayangan Papa Aera”

__ADS_1


Pria paruh paya itu mengusap kepala kuda berbulu coklat kelam yang tengah sibuk mengunyah rumput. Aera yang berada disampingnya memandang takjub, baru kali ini melihat kuda secara langsung.


“Papa, boleh Aera menyentuh Kobi?”


Jeanno mengangguk. “Boleh, tapi dibantu pak Yudi, mengerti?”


Pak Yudi mengangguk, membimbing Aera untuk menyentuh kepala Kobi pelan-pelan. Menghindari gerakan mendadak yang sekiranya membuat kuda itu terkejut.


“Papa pernah menaiki Kobi?”


“Tentu saja. Tapi sudah lama sekali. Kobi mungkin sudah lupa dengan papa”


“Aera ingin menaiki kuda. Bolehkah?”


Jeanno tidak langsung menjawab, memilih untuk beralih kepada pak Yudi. “Apakah aman jika Aera menaikinya?”


“Jika hanya mengelilingi area, saya jamin aman, tuan. Kobi berkelakuan baik selama ini, tidak pernah histeris atau mengamuk”


Jeanno mengangguk. “Baiklah, Aera boleh menaiki Kobi tapi dengan papa. Oke?”


Mendengar itu, si kecil mengangguk semangat. Matanya berbinar lucu ketika pak Yudi mengeluarkan Kobi dari kandangnya. Bulu kuda itu nampak mengilap diterpa cahaya matahari. Judith yang sedari tadi diam juga takjub melihat kuda yang terlihat gagah dan sehat. Pak Yudi sepertinya merawat mereka dengan baik.


Jeanno mengangkat Aera untuk menduduki badan Kobi, disusul dirinya duduk di belakang. Sembari mengusap Kobi dengan lembut, Jeanno mulai membawa kudanya untuk berjalan santai mengitari lapangan. Hanya dua putaran saja sebelum pria itu turun dan membawa Aera bersamanya.


“Mama mau naik? Rasanya asyik lho”


Judith yang sedari tadi sibuk mengambil foto Jeanno dan Aera diatas kuda, sontak menggeleng. “Tidak sayang. Mama tidak pernah naik kuda sebelumnya”


Judith memang tidak ada fobia dengan kuda. Namun ia pernah menemani Renatta berkuda dan kebetulan kuda yang kawannya pilih sedikit heboh, sehingga terjadi gerakan mendadak yang mengakibatkan Rena jatuh dan berakhir tangannya terkilir.


“Mama.. please. Kan ada papa. Papa mau naik lagi bersama mama, kan?”


Jeanno mana bisa menolak jika Aera sudah memohon dengan tatapan seperti itu? dengan kikuk ia mengangguk. Lantas diulurkan tangannya kearah Judith.


“Ayo, biar kubantu”


Semula awalnya ragu, namun pada akhirnya, Judith menerima uluran tangan pria itu.

__ADS_1


*


__ADS_2