
Ini hari ke empat Nathan berada di Bandung, sudah empat hari juga ia selalu bolak-balik dari hotel ke rumah mertuanya, tapi terus saja mereka tidak bertemu, dan hari ini Nathan akan menunggu seharian, semoga saja Raisa tidak cerewet seperti hari-hari yang sebelumnya.
Nathan bisa sedikit tersenyum melihat tingkah putri kecilnya yang bermain dengan anak tetangga, gadis lucu itu tertawa riang meskipun Nathan tau jika Raisa begitu merindukan ibunya.
Nathan mengusap kepala Raisa saat anak itu berlari dan memeluk kakinya.
"masyaallah, senangnya anak ayah dapat teman baru" Raisa tertawa seolah mengerti maksud Nathan, ia kembali berlari mengejar bola yang teman sebayanya tendang ke sembarang arah.
"pelan - pelan nak, nanti jatuh"
setiap hari juga Nathan mengubungi dan mengirimi Vidio atau kegiatan Raisa di depan rumah Alayya ke nomor istrinya itu, meskipun sampai sekarang tidak ada jawaban apapun dari Alayya.
wajah cantik Alayya saat menggendong Raisa ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya, Nathan terus memandangi wajah Wanita yang begitu ia rindukan, jika waktu dapat di putar, Nathan Hanya ingin mengulang satu kejadian di dalam hidupnya, di mana hari ia melihat Alayya memeluk Aksa, ia ingin mengubah apa yang terjadi saat itu, ia ingin turun menghampiri istrinya dan menjabat tangan Aksa, andai hal itu yang ia lakukan, pasti sekarang keadaannya Berbeda, pada kenyataannya Nathan sudah melukai istri dan anaknya sendiri, melukai wanita yang begitu menyayangi putri nya, Wanita yang sabar menunggu ia membuka hati untuknya, tapi Nathan sia-siakan begitu saja.
"argh" semuanya hanya tinggal kenangan, semuanya Sudah menjadi masal lalu terburuk yang pernah ia lakukan dalam hidup.
di rumah sakit, Farah menata baju-baju Alayya ke dalam tas, hari ini mereka akan pulang, kondisi Alayya sudah membaik, infus juga sudah terlepas di punggung tangannya. Aksa datang dengan mendorong kursi roda untuk Alayya, ia terkejut karena tiba-tiba Alayya berdiri dan ingin duduk sendiri ke kursi rodanya, dengan cepat Aksa memegang tangan Alayya, menuntun wanita itu duduk di kursi rodanya
"Lo baru sembuh Al"
"lebai Lo, santai kali"
"sudah tua masih aja belagu" omel Aksa sambil merapikan selimut yang berada di pangkuan Alayya.
"Lo juga" balas Alayya dengan sinis
"kalian ini sudah sama-sama besar, masih aja bertengkar kaya Anak kecil" kesal Farah yang sudah selesai menyusun baju putrinya.
"Anak Tante galak banget, Aksa jadi nggak bisa bayangin kalo nanti nikah sama dia, gimana hari-hari aksa"Ali dan Farah Hanya tersenyum, mereka memang sudah biasa dengan tingkah anak anak itu.
__ADS_1
"Lo bakal naik darah tiap hari, gue kasih Lo makan garam" ledek alayya dengan sombongnya
"yaa, gue percaya sih... kan Lo nggak bisa. masak, yang ada masakan Lo asin terus"
"aksaaa" Alayya sudah kesal, ia pukul lengan sahabatnya.
"sudah ah, ayo kita pulang"
Nathan menenteng tas perlengkapan pribadi Alayya dan orang tuanya, sedangkan Ali mendorong kursi roda sang putri.
"ayah gimana berkas perceraiannya" Ali sedikit menunduk memandang wajah sang putri
"dua hari lagi ayah di suruh ke pengadilan buat ngambil surat perceraian kalian, semakin cepat surat itu di serahkan ke pengadilan kembali, maka semakin cepat pula sidang perceraian kalian di lakukan" jelas Ali, Alayya hanya mengangguk dan tersenyum hambar, senyuman yang mengartikan hal yang berbeda, Tanpa orang-orang sadari, Alayya meneteskan air matanya, tapi dengan cepat Alayya menghapus air mata itu, ia tidak ingin orang tuanya melihat lagi sisi lemahnya, sisi lemah karena cinta pada Nathan.
Nathan mengayun-ayunkan raisa di gendongan nya, gadis kecil itu baru saja terlelap setelah menegak satu botol susu, mungkin karena kelelahan jadi ketiduran di gendongan ayahnya, sesekali Nathan menepuk bokong Raisa, jika merasakan pergerakan dari bayi mungil itu
"semoga hari ini kita bisa ketemu ibu ya, nak" tampak jelas lelah di raut wajah Nathan, semenjak kejadian hari itu, Nathan tidak bisa beristirahat dengan tenang, di dalam kepalanya hanya ada Alayya, makan pun Nathan kesulitan, belum lagi ia harus merasakan lelahnya mengurusi Raisa seharian, kantung mata terlihat begitu jelas, baju yang biasanya rapi, sekarang terlihat begitu lusuh, mata yang tadi terpejam langsung terbuka, saat mendengar suara pagar yang di buka
"Alyaa... tunggu, alyaa maafkan aku alyaa" telat, pagar rumah sudah di tutup kembali oleh Aksa, Nathan memohon - Mohon agar Aksa membiarkan ia masuk, tangan Nathan di pergelangan lengan Aksa terhempas dengan kuat
"Lepass, Lo nggak akan pernah bisa nyakitin Alayya, sudah cukup semua tangisannya, sudah cukup luka yang Lo beri untuk nya" ucap Aksa memperingati dengan tegas, ia ikut menyusul, membantu Alayya dan keluarga nya
"Aksa gue mohon, aksaaa" Nathan mengguncang pagar, ia melihat Alayya yang di papah Ali untuk masuk ke dalam rumah
"Alya, aku mohon dengerin aku Alya, aku salah, iyaa, aku Minta maaf Alya, alya maafin aku, alyaaa" pintu rumah berlantai dua milik keluarga Alayya tertutup, Nathan bersimpuh di depan pagar, bulir bening penyesalan kembali turun
"Alyaaaa, aku mohon... alyaaaa, maaf alyaa" lirihan Nathan begitu pilu di pendengaran
"argh" Nathan menghampiri putrinya yang menangis,ia gendong Raisa menuju pagar
__ADS_1
"ALAYYA, RAISA KANGEN KAMU, RAISA MENANGIS SETIAP HARI MERINDUKAN IBUNYA, RAISAA INGIN KAMU, DI TIDAK MAU MEMINUM SUSUNYA... ALAYYA, DIA MAU IBUNYA, KU MOHON JANGAN SIKSA DIA KARENA KESALAHAN KU, AKU MOHON ALAYYA, aku mohon... aku mohon" suara Nathan mengecil, kembali ia bersimpuh dengan Raisa yang sudah menangis di gendongan nya
di dalam rumah, Alayya, Aksa dan keluarga nya mendengar teriakan itu.
"yah, boleh minta tolong?"
"iya nak, apa"
"jemput raisa, Al juga begitu merindukan nya"
"iya sayang"
"tunggu... Paman, biar saya temani" aksa dan Ali kembali keluar untuk menjemput Raisa, Nathan tidak menyadari kehadiran dua orang itu, Suara tangisan Raisa menutupi langkah keduanya.
sadar seseorang sedang membuka pagar, Nathan mendongak,ia dapati Ali dan Aksa dengan tatapan dingin, Nathan tersentak saat Raisa di ambil secara tiba-tiba oleh Ali,ia ikut berdiri menyentuh lengan Ali
"Ayah, saya mohon, ijinkan saya bertemu istri saya, saya mohon"
"istri?" Ali terkekeh
"istri yang sudah kamu sakiti Terlalu dalam, istri yang kamu lukai terus-terusan, istri yang selalu bertahan dengan pria brengsek seperti kamu, istri yang Malang"
"ayaah..."
"lepas" tangan Nathan terlepas dari lengan Ali.
"kamu tenang saja, dua hari lagi saya akan serahkan surat perceraian kalian, setelah kamu bebas menikah dengan siapa aja, dan anak saya juga akan terbebas dari pria brengsek kaya kamu" Nathan menggeleng, ia bersimpuh di bawah kaki Ali, air matanya menetes mengenai sepatu mertuanya
"Sa--saya mohon, jangan pisahkan saya dengan Alayya, saya mencintainya, saya Mohon ayah"
__ADS_1
"bukan saya yang ingin memisahkan kalian, bukan saya yang mengajukan gugatan perceraian, tapi anak saya sendiri, anak saya lelah hidup dengan pria seperti kamu, saya sudah katakan, jika kamu memang tidak bisa mencintai nya, tidak bisa menjaganya, tidak bisa menerimanya, kembalikan dia, kembalikan dia pada saya, jangan pernah sakiti perasaannya, saya sudah pernah katakan dengan kamu kan, tapi kenapa....Kenapa Nathan, kamu justru menyakitinya dan membunuh anak kamu sendiri, JAWAB, KENAPA NATHAN" Nathan tak sanggup mengucapkan apapun, ia hanya bisa menunduk. ia tidak menahan saat Aksa kembali menutup pagar rumah.