Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
gaun


__ADS_3

Nathan tidak kembali bekerja, ia justru kembali ke toko di mana Alayya mencoba gaun berwarna putih tulang tadi.


Nathan belikan gaun itu untuk sang istri, demi kedamaian bersama, Nathan mengalah, sepertinya tidak buruk juga , menyenangkan hati istrinya adalah hal yang paling utama.


segera Nathan pulang ke rumah lagi, ia lihat sang istri sudah duduk di ruang keluarga dengan stoples cemilan pisang coklat di pangkuannya.


"kamu ko pulang lagi, bukannya kerja"


"hari ini aku mau di rumah aja, nemenin istri ku, kan anak kita juga lagi nggak di rumah"Nathan duduk bersimpuh di hadapan Alayya, sedangkan Alayya berada di sofa dengan kaki terangkat.


tangan Nathan terulur mengusap perut buncit sang istri.


"anak ayah, lagi ngapain nak?"


"ayah, sama ibu... nggak sabar ketemu kamu, pasti Kaka Raisa senang banget sebentar lagi punya Dede gemoy" Nathan menempelkan wajahnya di perut Alayya, tangan Alayya terangkat merapikan rambut suaminya.


"sayang" Nathan mendongak


"kenapa?" Jawab Alayya


"sudah nggak marah? masih kesal sama aku?" Alayya menggeleng dengan bibir terangkat membentuk senyum.


"Aku, mana bisa marah lama-lama sama kamu"


Alayya sedikit memiringkan kepala, ia melihat bingkisan yang sejak tadi sudah mencuri perhatiannya


"bawa apa tu, kayanya Baju deh, kenapa bukan cemilan?"


"kamu mau di beliin apa, Hem... nanti aku beliin, dan sekarang... kamu coba ini dulu... nah" Nathan mengeluarkan dress putih tulang itu. mata Alayya langsung berbinar, ia rebut dress itu dari tangan nathan, Alayya langsung berdiri di depan cermin , ia samakan tinggi baju itu dengan tinggi badannya.


"Kamu akhirnya beli yang ini juga, Nat"


"iya demi kamu, kalo ngambek urusannya panjang" Alayya terkekeh, ia langsung saja memasang bajunya di sana, Alayya memang memiliki selera fashion yang bagus.


"cantik nggak Nat?"


"masyaallah, istri ku... cantik banget" Alayya melingkarkan tangannya di leher Nathan, mereka beradu pandang.


"makasih suami ku, aku senang banget"


"apapun akan kulakukan untuk kamu, selagi aku mampu" Nathan mendaratkan satu ciuman singkat di bibir Alayya.


"manis"


"kan habis makan coklat pisang"


"mau di beliin cemilan apa, Hem..."


"em, nggak ada. tapi aku mau nanti malam di ajak jalan-jalan"


"siap bos"


"tapi pakai motor"

__ADS_1


"hah,pakai motor?" Belo Nathan


"iya sayang, pakai motor Scoopy kamu, aku mau di bonceng sambil pelukan di belakang"


"ya Allah, istriku ini ada ada aja ngidam nya"


"mau nggak nih, kalo nggak mau aku sama tukang ojek aja lah" Alayya melepaskan tangannya, tapi Nathan menahan pergelangan tangannya


"jangan, aku cemburu kalo kamu goncangan sama tukang ojek" rengek Nathan sudah seperti Raisa yang sedang minta gendong, manja sekali, Alayya jadi gemas dan mencubit pipi suaminya.


"ya udah nggak jadi sama tukang ojek, perginya sama kamu aja"


"ye yeyeye" nathan menggendong Alayya ala bridal style"


"turunin aku Nat" Nathan menggeleng dan melangkahkan kaki menuju lantai atas


"Nathan... kamu mau ngapain, aku masih mau nonton drama Korea"


"aku mau jenguk Dede bayi"


"yak, nathan..." Nathan tersenyum nakal


"Dede bayi pasti Suka di jenguk ayahnya" Alayya memutar matanya jengah, Nathan menutup pintu kamar dengan bantuan kakinya.


...


Nathan memasangkan helm untuk Alayya.


"cantik banget sih bumil satu ini"


"iya sayang, iyaa"


"bismillah" ucap Alayya sesaat setelah naik ke motor Nathan, Alayya menggunakan daster rumahan dengan di padukan other untuk menutupi lengan pendeknya, sedangkan Nathan menggunakan baju kaos berwarna hitam dengan celana kain yang panjangnya di atas mata kaki.


"Sudah siap" Alayya mengangguk, tangannya sudah melingkar di pinggang sang suami.


"bismillah" ucap Alayya dan nathan bersamaan.


"Semoga nggak banyak antriannya "


"Hem, semoga, Nathan -nathan, stop"


"astaga, sayang... kenapa?


"mau beli pisang keju" Alayya menunjuk satu stand yang menyediakan berbagai macam pisang dengan banyak pilihan rasa.


"mau?" Alayya mengangguk, Nathan kembali melajukan motornya ke arah sebrang, sesampainya di depan sana, Alayya lebih dulu turun dan memilih rasa apa yang ia inginkan.


"coklat di campur tiramisu, mau?" Alayya menggeleng, ia terus membaca satu persatu tulisan pada menu tersebut, satu tangannya juga terus mengusap perutnya.


"coklat aja, mau?" kembali Alayya menggeleng


"bukannya kamu suka coklat?"

__ADS_1


"iyh, kamu bawel deh, kan aku yang mau, kalo kamu mau itu ya udah pesan Juga sana" kesal Alayya.


"salah lagi" Gumam Nathan, pria itu memilih duduk, ia biarkan istrinya menatap menu sampai Lelah sendiri.


"Nathan" panggilan itu bukan dari sang istri, Nathan kenal betul suara Alayya, Nathan mengangkat kepalanya, pria tersebut tersenyum hangat melihat seseorang di depannya, bahkan seseorang tersebut sudah duduk di sampingnya


"hey, nes" sapa Nathan ramah.


"beli... juga?"


"iya"


"sama siapa? sendiri?"


"saya, istrinya" jawab Alayya dingin, tatapannya menyorot tajam pada Nathan, Alayya meminta Nathan bergeser, agar ia bisa duduk di tengah-tengah.


"enak aja duduk mepet - mepetan" bisik Alayya di telinga Nathan, Alayya mengapit lengan nathan, Alayya juga tidak segan melirik Nesha dengan sinis.


"Al" panggil Nathan lembut


"apa" jawab Alayya ketus


"kamu sudah pesan?"


"sudah, makanya kalo istrinya lagi milih, di temenin... bukannya di tinggal ngobrol sama cewe lain"


"sayang... nggak gitu loo" Nathan mencoba merayu tapi gagal, Alayya menepis tangan Nathan yang ingin merapikan kerudungnya, Alayya memilih merapikannya sendiri, tapi apitan lengan sang suami tidak ia lepas sedikitpun.


"Cemburu niee"


"emang, iya, Kenapa, nggak suka ?"


"Ternyata bisa cemburu juga cewek badas satu ini " Nathan menoel hidung Alayya, mereka tertawa berbagi bahagia, melupakan sosok vanesha di sampingnya,merasa di abaikan vanesha lebih memilih pergi, dan tidak jadi membeli pisang rasa.


"tuh, pergi tuh. cewek kamu " Alayya menunjuk vanesha yang sudah berada di atas motornya dengan menggerakkan alisnya.


"kalo itu cewek aku, terus ini siapa?"


"Nathaaaaan"


"husst, ingat kita lagi di luar , bukan di rumah " nathan menggunakan ibu jarinya untuk membungkam mulut sang istri, Alayya menggerakkan bola Matanya ke sembarang arah, ia lupa dimana mereka berada sekarang, untungnya tidak ada pelanggan lain selain mereka.


....


"Enak" Alayya hanya bisa mengangguk karena mulutnya penuh dengan nasi goreng, Alayya begitu menikmati nasi goreng pesanannya, tapi tidak dengan Nathan, pria itu secara tiba-tiba kehilangan selera makannya.


"kenapa nggak makan?"


"tiba-tiba nggak selera aja" Alayya mengarahkan sendoknya ke mulut Nathan


"aa, buka mulutnya sayangku" pria itu tersenyum singkat, bujukan Alayya Padanya sama ketika Alayya berusaha menyuapi Raisa makan, Nathan mengunyah dengan perlahan.


"Rasanya jadi 100 kali lebih enak kalo di suapin kamu"

__ADS_1


"masa sih?" Alayya kembali mengarahkan sendoknya ke mulut Nathan.


"iya, sayang ku, habis ini kita langsung pulang ya, sudah jam 9 malam, nggak baik lama-lama di luar, kamu juga lagi hamil gini" Nathan mengusap perut Alayya, Alayya mengangguk.


__ADS_2