
Tubuh Judith menegang ketika pintu kamarnya diketuk. Ia tahu siapa sang pengetuk. Tidak mungkin Aera karena gadis kecil itu sudah terlelap sekitar dua jam yang lalu. Sementara tidak ada siapapun di rumah ini selain dirinya, Aera dan Jeanno. Kecuali jika rumah Jeanno berhantu. Sejujurnya dalam situasi seperti ini Judith lebih memilih pintu kamarnya diketuk hantu dibanding…
“Judith, boleh aku masuk?”
Menghabiskan banyak waktu untuk menangis menyebabkan Judith kesulitan menyembunyikan sembab di wajahnya. Berada dalam satu atap dengan Jeanno, Judith sadar ia tak akan bisa selamanya menghindari pria tampan itu. Bagaimanapun, baik buruknya harus ia hadapi, bukan?
Usai menghela nafas beberapa kali, Judith meraih knop pintu. Jeanno berdiri disana, bahkan setelah memberinya luka baru, Judith masih saja terpesona akan ketampanan Jeanno. Pria itu berdiri, dengan ekspresi yang tak bisa ia terka.
“Masuklah, tuan”
Judith menggeser tubuhnya, membiarkan figur tegap itu masuk ke kamarnya. Dari sekian malam yang mereka lewati bersama, baru kali ini Judith merasakan ketidaknyamanan. Dan sepertinya itu ditangkap dengan baik oleh Jeanno. Pemuda itu memutar tubuhnya setelah berada di tengah kamar Judith.
“Aku.. ingin meminta maaf atas kejadian semalam. Pesanku terkesan sangat kasar dan tidak sopan, padahal kau hanya menjalankan tugasmu sebagai ibu pengganti”
Mau tak mau Judith tersentuh akan permintaan maaf Jeanno. Terlebih ketika raut pria itu mengekspresikan rasa bersalah akan perbuatannya. “Tidak apa-apa, tuan. Aku mengerti”
“Aku menghormati Nayara sebagai wanita yang kucintai selamanya. Tapi sepertinya egoku sudah kelewatan hingga membatasi semua yang berhubungan dengan Nayara. Bahkan melarangmu masuk ke kamarku”
“Aku tidak tahu apa perbuatanku menyakitimu atau tidak, walau aku yakin pasti jawabannya ya, aku menyakitimu” Jeanno tidak bodoh, ia bisa melihat sembab di wajah Judith yang diakibatkan bekas menangis. Sembab yang pernah Jeanno lihat pasca ia membanting ponsel Judith beberapa bulan lalu.
“Aku kemari untuk memberimu hadiah kecil, sebagai permintaan maaf sekaligus bentuk apresiasiku karena kau sudah melakukan tugasmu dengan baik”
Judith melihat kearah tangan Jeanno yang terulur padanya. Sebuah paperbag kecil yang tak bisa ia tebak apa isinya.
“Terimakasih, tuan”
Terkejut, adalah perasaan yang pas ketika mengetahui isi paperbag tersebut. Sebuah kotak berwarna merah marun dengan ukiran nama toko perhiasan yang tak asing. Begitu dibuka, seuntai kalung yang cantk bukan main ada disana.
“T-tuan. Ini.. benar-benar untukku? Apa ini tidak berlebihan?”
Jeanno menggeleng. “Tadi sewaktu aku mampir ke toko itu untuk mengambil pesanan Mark, aku melihat kalung itu. Membayangkan terpasang dilehermu, pasti sangat cantik. Kau pantas menerimanya Judith, atas segala yang kau berikan untukku dan Aera. Kau pantas menerimanya”
Jeanno meraih kalung itu, memutar tubuh Judith hingga berhadapan dengan cermin, lalu membantu memasangkan di leher jenjangnya. Begitu bertengger apik disana, Jeanno tersenyum puas.
“Cantik”
Sekali lagi, Judith tak akan bisa, dan tak akan pernah membenci Jeanno.
**
“Aku tidak bisa menerimanya”
Nayara mengembalikan kotak berukiran nama toko perhiasan ternama. “Aku tidak bisa menerima hadiah-hadiah darimu lagi, Jean. Ini.. berlebihan untukku”*
Jeanno menggeleng. “Aku membelinya karena aku merasa kau pantas memilikinya. Aku mencintaimu sayang, aku ingin yang terbaik untukmu”*
__ADS_1
“Jadi kau menilai berlian itu yang terbaik untukku?” tanya Nayara, skeptis. “Bisakah kau tidak menilaiku dengan barang-barang mewah yang kau beli, Jean?”*
“Nana, aku tidak bermaksud merendahkanmu”*
Nayara tersenyum, diraihnya tangan Jeanno. “Aku tidak membutuhkan semua kemewahan yang kau berikan, Jeanno. Aku hanya butuh kau tetap berada disisiku apapun yang terjadi. Bukannya aku tidak menghargaimu yang ingin menyenangkanku dengan memberikan hadiah. Hanya saja, aku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Memilikimu adalah hal baru bagiku, perbedaan kita begitu mencolok hingga rasanya aku selalu terkejut setiap hari”*
“Kecuali…”*
“Kecuali?”*
Senyuman itu berubah sendu. “Kecuali kalau kau malu memiliki kekasih yang sederhana sepertiku. Aku begitu berbeda dari mantan-mantan kekasihmu yang glamor. Tapi aku tidak memiliki apapun yang bisa kutawarkan padamu selain cinta ini. Jadi kumohon, Jeanno. Jangan hancurkan aku”*
“Aku tidak mengerti darimana pemikiran itu berasal. Tapi aku sama sekali tidak mau memilikimu, sayang. Aku tidak akan pernah malu menunjukkanmu, menunjukkan hubungan kita di depan orang lain. Seperti yang sering kukatakan, aku menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu apa adanya. Ini juga hal baru bagiku, memilikimu yang kucintai sepenuh hatiku”*
Jeanno mengikuti pandangan Nayara. Digenggamnya jemari mungil itu erat. “Kalau begitu biar kita yang menulis sendiri akhir kisah kita”*
“Aku akan mengenalkanmu kepada orangtuaku, Nayara”*
**
Ada undangan golden anniversary oleh pasangan tuan Jagad dan istrinya. Pemilik Jagad Raya Corp yang berkecimpung dalam dunia penyiaran itu mengundang pers, aktris dan aktor ternama, mitra bisnis serta tokoh penting lainnya. Jeanno salah satu dalam undangan tersebut.
“Haruskah aku ikut, tuan? Maksudku.. terakhir kita pergi ke acara seperti itu, berakhir dengan tidak baik” Judith menggigit bibir gugup, mengingat pertemuannya dengan Arman yang membuatnya ketakutan setengah mati.
“Jangan khawatir. Tuan Jagad tidak mengundang Arman”
“Bagaimana tuan bisa tahu?”
Jeanno meraih tux-nya, memakainya dengan gestur yang sangat elegan dimata Judith. “Tuan Jagad pernah berselisih dengan tuan Robert, membiarkan perang dingin terjadi bertahun-tahun. Sudah lama mereka tidak saling bertegursapa satu sama lain”
Judith mengangguk paham, sedikit lega karena tak akan melihat Arman di acara itu. Jeanno berbalik, melihat Judith yang masih mematung. “Bersiaplah, mengenai pakaian, kita akan mampir ke butik milik temanku. Dia sudah menyiapkan pakaianmu”
Ada kesenangan sendiri ketika Jeanno mengajak Judith ke acara formal. Karena ia bisa melihat bagaimana cantiknya wanita itu dalam balutan gaun yang elegan. Sehari-hari sebagai Nayara, Judith memakai pakaian sederhana yang tentu saja dipadukan dengan riasan sederhana pula. Namun diacara formal, Judith menjelma bak cinderella. Cantik, elegan, classy. Semua bercampur menjadi satu, sangat indah.
__ADS_1
Seperti malam ini, gaun panjang berwarna biru muda yang membalut tubuh rampingnya, ditambah aksen kalung yang menyempurnakan penampilan Judith. Jeanno nyaris bertepuk tangan kagum.
“Wow”
“Sepertinya kau akan merebut perhatian orang-orang dariku, seperti ketika terakhir di acara Iris Group”
Judith tersipu, tak mengatakan apapun selain menyambut uluran tangan Jeanno. Berada dalam jangkauan pria itu membuat Judith merasa terlindungi.
**
Sharin hampir lupa rasanya datang ke acara formal seperti ini. Sejak menikah, ia tak pernah menemani suaminya ke acara serupa. Tak sudi, katanya. Ia tak ingin diperkenalkan sebagai istri seorang Bryan Dharma yang namanya tak sebesar ayahnya, atau Thomas Alexander, atau Jose Sebastian, atau pemimpin Iris Group dan Tuan Jagad Raya sendiri.
Ketika ibunya meminta Sharin mewakili nama keluarganya ke acara, Sharin tak bisa menolak. Hitung-hitung cuci mata, pikirnya. Barangkali ia bisa bertemu dengan teman lamanya. Setelah beberapa hari ini bergelung dalam kebencian dari sosok masa lalunya, saatnya Sharin menghidup udara luar.
Acara terkesan begitu khidmad dan lancar. Setidaknya begitu yang dipikiran Sharin sebelum netranya menangkap pasangan serasi yang memasuki Ballroom. Tatapan penuh kekaguman dilayangkan oleh setiap pasang mata yang menyambut pasangan itu.
Jeanno Alexander dan istrinya, Nayara Alexander.
Kebencian yang sempat ia redam, mau tak mau muncul kembali. Bagaikan kobaran api yang disiram oleh minyak, Sharin menggenggam gelas champaignenya erat. Terlebih ketika tangan Nayara dengan lancangnya mengalung di lengan Jeanno. Jika membunuh dihalalkan, Sharin akan berlari dan menusuk Nayara dengan apapun yang bisa ia jadikan senjata.
Tapi tidak, sekeras apapun keinginan Sharin, ia masih berusaha berpikir jernih.
“Istrinya cantik sekali ya, pantas saja Jeanno Alexander cinta mati padanya”
“Iya, akhir-akhir ini tuan Alex lumayan sering membawa istrinya ke acara. Padahal sebelumnya dia terkenal sangat menjaga rapat kehidupan pribadinya”*
“Kudengar istrinya sempat sakit lumayan parah beberapa tahun terakhir ini. Bahkan ada rumor yang mengatakan istrinya meninggal. Tapi kurasa tidak benar, karena bisa kita lihat sendiri sekarang dia menggandeng istrinya yang sehat dan cantik”
‘Nayara sempat sakit?’ Sharin membatin. Mengutuk dirinya yang pindah dan tidak mengetahui perkembangan apapun mengenai Nayara maupun Jeanno.
**
Judith menghela nafas lega ketika riasannya tidak rusak usai ia menyantap sepotong cheese cake. Dipikirnya lipstiknya akan hilang, tapi ternyata tetap ada dan menawan. Membuatnya tersenyum puas. Perempuan itu lantas mencuci tangan, bersiap kembali ke Ballroom bersama Jeanno. Jeanno benar, Arman tidak datang. Tak ada satupun perwakilan dari tuan Robert yang datang.
Pintu bilik lain terbuka, seorang wanita cantik bergaun merah marun berdiri di sampingnya. Judith terlalu fokus untuk menyadari tatapan kebencian wanita itu.
“Hey”
Judith mengangkat wajahnya, bermaksud memastikan apakah wanita itu bicara padanya. Namun di toilet itu hanya ada mereka berdua, dan wanita itu tidak sedang dalam sambungan telpon. “Ya?”
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi, Nayara”
Judith termenung. Sosok dihadapannya jelas-jelas kenalan dari kehidupan Nayara. Yang tentu saja tidak ia ketahui siapa identitasnya.
Sementara disisi Sharin, hanya perasaannya saja atau.. Nayara seperti tidak mengenalnya?
**
__ADS_1