
Tepian pisau itu membiaskan pantulannya kala tertimpa cahaya dari luar. Hannah memandang benda itu kosong, sesekali mengusap tepiannya seakan sedang menghitung kemungkinan apakah pisau ini akan mampu membunuhnya dalam sekejap, atau hanya menorehkan setitik luka saja? Apapun hasilnya, semua tergantung si pemakainya, bukan?
Hannah memejamkan matanya erat. Meletakkan pisau itu kembali ke bawah ranjang. Tidak, belum saatnya ia melakukan ini. Mark masih membutuhkannya, dan lagi Johnny dan Judith bilang mereka punya ‘rencana’. Apapun rencana mereka, setidaknya ada Judith disana. Salah satu dari orang yang masih Hannah percayai.
Perempuan itu membaringkan tubuhnya. Membiarkan matanya terpejam dengan cepat, akibat kelelahan menangis, juga hancur mentalnya yang dihantam berkali-kali. Hannah lelah, tapi ia tak ingin menyerah. Demi Mark, demi cinta mereka.
Mark pernah memperjuangkannya, sekarang giliran Hannah yang berjuang.
**
Jeanno mempelajari beberapa berkas yang dikirimkan Johnny melalui kurir ekspedisi. Mengingat mereka berkoalisi secara rahasia, maka rencana merekapun dijalankan serapat mungkin tanpa terlihat melibatkan dua pihak secara terang-terangan.
Netra Jeanno menilik lembaran demi lembaran, mencari apakah ada celah untuk menjebak Louis. Dan ternyata ini jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan. Pria tampan itu menarik bibirnya keatas, membentuk senyum puas.
“Bagaimana?”
Ia menarik atensinya dari lembaran kertas, kepada Judith yang baru mengantarkan kopi ke ruang kerjanya. “Ini bukan hal sulit bagiku”
“Benarkah?”
Jeanno mengangguk. Memutuskan untuk menyesap kopinya terlebih dulu. “Aku bisa dengan mudah menyingkirkan bosmu. Tapi yang terjadi setelah itu.. pastilah tidak mudah, Judith”
Dahi Judith mengerut, memilih diam sampai Jeanno menyambungkan kalimatnya. “Semua rahasia ini dipegang oleh Johnny rapat-rapat sebagai orang kepercayaan Louis. Ketika ia tertangkap, maka ada kemungkinan Johnny juga terkena imbasnya. Kemudian pihak berwenang bisa saja membekukan aset Louis, termasuk Victoire”
“Mengingat itu klub mewah dengan banyak pekerja, jika tempat itu ditutup, maka ratusan karyawan disana akan menjadi pengangguran”
Judith menggigit bibir. Benar, resikonya besar. Tapi jika tidak seperti itu, maka bos gilanya itu akan membawa Hannah pergi selama-lamanya. Tetapi disisi lain, jika rencana ini dilanjutkan berarti rekan-rekan kerjanya dulu yang notabene tidak tahu apa-apa, akan terkena imbasnya. Hanya demi menyelamatkan satu orang.
Johnny sudah baik hati menempatkan dirinya dalam bahaya untuk menolong Hannah. Tapi apakah itu sepadan? Bagaimana jika rencana mereka gagal, lalu kondisi Mark menurun?
“Aku akan menolong semampuku demi Mark. Tapi mungkin kau bisa mendiskusikannya lagi dengan Johnny. Pikirkan secara matang, jangan sampai kita membuang waktu secara sia-sia”
__ADS_1
**
“Aku ingin bertemu dengannya lagi”
Johnny berdehem, menoleh secara sekilas untuk melihat apakah ada oranglain selain dirinya dan Hannah di pantry.
“Louis hanya pergi sebentar. Dia akan pulang dalam satu atau dua jam. Kau tidak akan ada kesempatan untuk ke rumah sakit”
Hannah menghela nafas frustasi. “Waktuku tidak banyak, aku tidak mau membuang satu haripun tanpa melihat Mark”
Raut tegas Johnny mulai melembut, ditepuknya pundak Hannah perlahan. “Terlalu beresiko, Hannah. Sampai saat ini dia belum tau apa yang terjadi pada Mark. Aku khawatir jika dia tau, dia akan melakukan apapun yang bisa membahayakan kekasihmu. Jadi kumohon jangan gegabah”
Hannah menggigit bibirnya, seketika pandangannya kabur akan airmata yang menggenang.
“Ibu! Perutku sakit!”
Keheningan di pantry pecah akibat teriakan Helga dari kamarnya. Hannah dan Johnny bertukar pandang, seperti mendapatkan pemikiran yang sama. Dengan segera keduanya turut menyusul Helga ke kamarnya.
**
Hannah bukannya bersyukur adiknya sakit, namun setidaknya dengan insiden yang menimpa Helga, ia bisa memiliki sedikit waktu untuk menyelinap ke ruang rawat Mark. Setidaknya melihat prianya barang sejenak.
Dengan dalih ingin mencari makan dulu selagi Helga sedang tertidur, Hannah berpamitan kepada Ibu. Membawa langkahnya setengah berlari menuju sisi gedung rumah sakit yang lain, dimana kekasihnya tengah terbaring disana. Semakin dekat jaraknya, semakin berdebar hatinya. Sungguh, ia sangat merindukan Mark.
Hanya ada Jose ketika Hannah datang. Pria paruh baya itu mengatakan bahwa Maria sedang pulang sebentar untuk membawa pakaian ganti mereka. Keduanya berbincang sebentar karena Jose tau tujuan Hannah kemari adalah untuk melihat putranya.
Kali kedua ia menginjakkan kaki disana, Hannah sudah jauh lebih meneguhkan hatinya. Tangisnya sudah tak lagi pecah, walau bulir mutiara sudah dipelupuk mata.
“Selamat siang sayang…”
Hannah mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Mark. Tangannya membalut jemari Mark yang terbaring disisian tubuhnya. “Apa yang kau mimpikan hm? Sampai kau betah tidur se-lama ini”
__ADS_1
“Maukah kau menceritakannya padaku?”
Hannah menarik nafasnya dalam-dalam ketika menyadari tangisnya ingin pecah. Tapi sekuat tenaga ia tahan, ia tak ingin pertemuannya kali ini dihabiskan dengan tangisan.
“Bangunlah, sayang. Aku merindukanmu. Bukankah kau juga merindukanku?” Satu airmata, disusul airmata berikutnya lolos tanpa sanggup ditahan. Hannah menangis dalam diam, bibirnya tersenyum, namun tidak dengan hatinya.
“Hari-hariku buruk sekali. Aku mendapatkan kabar buruk bertubi-tubi. Aku lelah, Mark. Dulu kalau aku lelah, ada kau yang memelukku dan membisikkan kata-kata penenang. Tapi sekarang aku bingung, Mark. Tidak ada yang menghiburku, tidak ada yang mendukungku”
Monolog Hannah terhenti ketika perempuan itu memalingkan muka, membiarkan ia menyelesaikan tangisnya yang sudah diujung emosi. Sekalipun Mark sedang ‘terlelap’, namun Hannah tak ingin pria itu melihatnya menangis. Ternyata menguatkan hati tak semudah yang dibayangkan. Lagipula siapa yang bisa tahan melihat yang terkasih terbaring lemah seperti ini? Setidaknya Hannah menghabiskan 15 menit untuk menuntaskan tangisnya. Sekali lagi, merutuki dengan penuh sesal mengapa ia membuang 15 menit yang berharga untuk menangisi takdir yang begitu jahat padanya dan Mark.
Dirasa cukup tenang, Hannah membuka maskernya kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Mark. “Bangunlah Mark. Aku percaya kau tidak akan semudah itu menyerah. Aku mencintaimu, aku mencintaimu Mark..”
Bisiknya. Diakhiri dengan kecupan lembut pada punggung tangan dan pipi Mark. Terakhir yang ia lakukan sebelum perawat masuk untuk memberitahunya bahwa waktu besuk sudah berakhir.
**
“Mark adalah putraku satu-satunya. Sekalipun kami sering berdebat hal yang tidak penting, tapi aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Jika saja bisa kugantikan tempatnya sekarang, maka aku tak akan ragu untuk melakukannya”
“Mark memiliki beberapa teman dekat wanita sebelum kau, tapi ia tak pernah membawanya ke rumah. Tidak juga ia pernah menceritakannya kepadaku atau ibunya. Ketika ia datang pada kami dan menceritakan tentangmu, kami langsung tau bahwa kau orangnya. Bahwa kau, perempuan istimewa yang mampu membahagiakan putra kami”*
“Hannah, jangan berkecil hati. Kami tau apa pekerjaanmu, tapi bukan posisi kami untuk menghakimimu hanya karena pekerjaan yang kau jalani. Mark yang mengenalmu, jika ia bisa mencintaimu sampai sedalam ini, maka kami yakin kau memang perempuan yang baik. Tidak ada yang bisa kami lakukan selaku orangtua, selain mendukung apapun yang membuat Mark bahagia. Termasuk jika itu memberikan restu pada hubungan kalian”*
Siapa yang tidak senang mendapatkan lampu hijau dari keluarga kekasih? Percakapannya dengan Jose Sebastian tadi membawa angin segar yang sedikit membuat Hannah senang. Senang karena ketakutan yang selama ini membayanginya akan respon keluarga Mark begitu tau pekerjaannya, pupus sudah. Namun tentu saja situasi tidak sesederhana itu. Apa gunanya restu keluarga Mark, ketika dalam 10 hari lagi ia akan menjadi istri orang lain?
__ADS_1
Hannah tak hanya mengecewakan Mark disini, tapi juga hati Jose dan Maria.
**