Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 155. Run To You


__ADS_3

“Kau saja yang datang mewakiliku. Aku sedang malas”


Sebagai bawahan, Nora hanya bisa mengangguk walau batinnya menjerit. Tak ingin jika bosnya membaca airmuka yang tidak menyenangkan darinya, sekretaris itu lebih memilih undur diri. Begitu sampai di mejanya, ia langsung meraih ponsel, mengirimkan pesan singkat kepada sang kekasih untuk membatalkan acara makan malam hari jadi mereka akibat panggilan pekerjaan.


Panggilan pekerjaan yang dimaksud Nora disini adalah acara ulang tahun perusahaan rekan bisnis Jeanno. Yang jelas-jelas undangannya tertulis nama lengkap bosnya, bukan ditujukan atas nama perusahaan Jeanno. Seharusnya pria itu yang datang, bukan dirinya.. lagi!


Nora mendengus. Meletakkan undangan tersebut dengan kasar usai membaca detail susunan acaranya. Bukan kali pertama ia dititah untuk mewakili bosnya dalam sebuah acara formal. Terhitung sejak tiga atau empat bulan yang lalu, kurang lebih sudah tujuh pertemuan yang Nora hadiri. Sementara Jeanno sendiri hanya menghadiri tiga kali, itupun ia datang, bersalaman, kemudian pulang. Benar-benar definisi ‘setor wajah’ saja.


Padahal sebelum ini, sang atasan sangat bersemangat jika ada pertemuan. Bahkan Jeanno memerintahnya untuk mencari setelan yang serasi dengan Judith jauh-jauh hari. Ketika malamnya ada pertemuanpun, si tuan tampan akan menyelesaikan pekerjaannya super cepat supaya bisa pulang lebih awal untuk bersiap dan menjemput ‘istrinya’.


Kelopak mata Nora mengedip, mengerjap beberapa kali. Menyadari bahwa perubahan sikap Jeanno muncul setelah Judith menghilang dari kehidupannya. Pertemuan formal itu tak lagi diliriknya.


Jeanno Alexander kembali menjadi pria tertutup seperti sebelum Judith datang.


**


“Kau sebenarnya tidak perlu mengantarku pulang, Owen”


Pria disampingnya tersenyum, dengan tangan yang masih tersimpan di saku jaket. “Tidak apa. Lagipula jarak antara tokomu dengan apartemen ternyata dekat sekali dan searah dengan rumahku. Jadi sama sekali tidak merepotkan”


Memberi anggukan sembari mengucap terimakasih, Judith yang tadinya sudah berbalik untuk menapaki pintu gedung, berhenti kala Owen memanggil namanya. “Aleta”


Nama yang dipanggil, mau tak mau membuat Judith menoleh. “Ya? ada apa, Owen?”


“Itu.. eum.. apa tidak ada yang keberatan kalau.. kita berteman dekat? Seperti aku membawakanmu masakan ibuku, bercengkerama denganmu, atau mengantarmu pulang.. seperti sekarang”


“Oh itu, tentu saja tidak” Judith tersenyum, tak merasa aneh akan pertanyaan Owen. “Kita kan berteman, kurasa apa yang kita lakukan sudah sewajarnya dilakukan antar teman”


“Teman, ya?”


Judith terkekeh, entah mengapa airmuka kebingungan yang terpeta pada wajah Owen terasa menggemaskan baginya. Padahal hati pria itu sedang sedikit terguncang akibat penekanan kata ‘teman’ yang diucap oleh sang pujaan.


“Aku masuk dulu, ya? Selamat malam, Owen. Sampaikan salam pada Bibi”


Sejujurnya, Owen masih ingin melanjutkan percakapan mereka dengan menanyakan beberapa pertanyaan lain. Dengan tujuan yang tak lain adalah supaya waktunya bersama Judith semakin banyak. Tapi melihat wajah lelah gadis itu, Owen menjadi tidak tega. Dilihatnya punggung Judith yang menghilang dibalik pintu.


“Selamat malam, Aleta”

__ADS_1


Sepertinya ia harus bersabar untuk mendapatkan hati si cantik.


**


Nora mengetukkan kakinya tak kentara, sesekali mengerutkan dahi ketika melihat waktu yang seakan berjalan begitu lambat. Bahkan sudah terlambat lima belas menit dari jam yang seharusnya, acara itu belum juga mulai. Entah ada perbaikan teknis atau apa, Nora tidak peduli. Ia hanya ingin pulaang!


Bertemu dengan jajaran tinggi perusahaan-perusahaan bonafit tentu menambah bebannya. Apalagi datang sebagai perwakilan, membuat Nora harus bersikap seramah dan seprofesional mungkin. Menjawab rangkaian pertanyaan mengapa bukan bosnya yang datang.


“Tuan Jeanno sedang sakit. Jadi beliau mempercayakan saya untuk datang kemari guna mewakili tuan dan perusahaannya”



*


Entah sudah berapa kali Nora utarakan kalimat tersebut untuk setiap pertanyaan. Pertemuan terakhir dirinya sudah memakai alasan Jeanno sedang berlibur dengan Aera. Pertemuan yang lain ia sudah memakai alasan Jeanno sedang dalam perjalanan bisnis. Jika pertemuan yang akan datang ia lagi yang harus menghadiri, maka Nora harus memutar otak untuk menyiapkan alasan lain.



Sebetulnya Nora sudah pernah bertemu dengan sebagian besar tamu yang datang, namun pertemuannya hanya sebentar dan setelah itu dihandle oleh Jeanno langsung. Untuk acara seperti ini, Nora harus menyiapkan obrolan basa-basi dengan jawaban yang sekiranya masuk akal. Obrolan kalangan atas cenderung membosankan. Sebagian membicarakan bisnis, sebagian membual mengenai kekayaan, sisanya saling menjelekkan satu sama lain.


Dua jam yang menurut Nora bisa ia gunakan untuk makan malam romantis dengan prianya. Gadis itu menghembuskan nafas samar, memilih menarik diri dari percakapan tiga arah dengan alasan haus ingin mengambil minum.


“Nona Nora, kan?”


Yang disapa berusaha tersenyum ramah, walau jantungnya serasa akan melompat. Nora terhitung sudah lihai dalam mengarang alasan mengenai ketidakhadiran Jeanno. Namun untuk hal lain.. ia tidak menyiapkan.


“Nora saja, tuan Arman”


Arman Mahendera, menoleh kekanan-kiri, menyapukan pandangannya ke Ballroom yang luas untuk mencari sosok yang ia cari. “Bosmu, tidak datang?”


“Tuan sedang sakit”


Arman memberikan anggukan. Jemari pria itu mengulurkan segelas champagne pada Nora yang nampak gugup dan menghindari matanya. “Belakangan ini aku jarang melihat bosmu dengan istrinya. Apa mereka.. baik-baik saja?”


Rasa haus yang semula menjadi alasan Nora untuk ‘kabur’, kini menghampirinya berkali lipat. Membuat kerongkongannya kering. Ia bersumpah tidak menyiapkan apapun mengenai pertanyaan yang menyangkut ‘istri’ Jeanno.


“Itu.. ya, mereka baik-baik saja”

__ADS_1


“Hmm” Arman menyesap champagnenya. “Sangat disayangkan, padahal sebelumnya tuan dan nyonya Alexander selalu terlihat dalam pertemuan seperti ini. Banyak pihak yang menyukai kedatangan mereka. Pasangan yang sempurna, huh?”


“Sebetulnya aku ingin mengajak nyonya Alexander untuk makan siang. Bukan hanya kami berdua, tapi juga istriku dan Jeanno sendiri. Tapi kelihatannya mereka sibuk, sehingga susah meluangkan waktu untuk memenuhi undanganku”


Nora berdehem, tentu ia mengetahui siapa Arman. Apa yang terjadi antara Arman dengan Judith dimasa lalu, kemudian perkelahian hingga perang dingin antara Jeanno dan Arman. Nora mengetahui semua.


“Tuan Arman bisa menghubungi tuan Jeanno secara pribadi untuk masalah itu. Saya kemari hanya untuk mewakilkan beliau. Saya tidak berwenang untuk menjawab pertanyaan lain mengenai kehidupan pribadi atasan saya. Permisi, tuan”


Meletakkan gelas champagne ditempat semula, Nora memberikan anggukan hormat untuk Arman sebelum berlalu entah kemana. ‘Kabur’ yang menjadi jalan pintas Nora, justru mengundang kecurigaan lawan bicaranya. Ia mengamati Nora sejak tadi. Perempuan itu nampak nyaman dan percaya diri ketika mengobrol dengan lawan bicara sebelumnya, tapi ketika ia dekati dan singgung masalah Jeanno dan sang istri, gelagat Nora berubah sepenuhnya. Menjadi gugup, seakan ingin cepat pergi dari situasi ini.


Bibir Arman terangkat, membentuk seringai. Ia penasaran, sungguh penasaran dengan apa yang terjadi pada Jeanno Alexander… dan Nayara.


**


Seperti sudah menjadi rutinitas, pria itu berbaring bukan pada ranjang kamarnya. Melainkan pada ranjang lebih kecil yang sampai beberapa bulan lalu ditiduri oleh adik kembar mendiang istrinya. Ya, sejak mengetahui bahwa ia bisa terlelap damai ketika berada di kamar Judith, Jeanno mulai menghabiskan malamnya disana. Berbaring menjemput mimpi ditemani aroma tubuh yang tersisa, untuk menyambut matahari dengan segar keesokan hari.


Jeanno tidak berani mendeklarasikan arti kehampaan apa yang dirasanya sekarang. Ketenangan yang ia dapat ketika menghirup aroma tubuh Judith, ia artikan hanya buaian belaka. Terlalu bodoh, terlalu tidak peka untuk mengartikan degup yang dirasa. Bahkan ketika benaknya memutar memori hadirnya Judith di setiap sudut rumahnya yang penuh kenangan indah.


Nora mengiriminya pesan sekitar setengah jam yang lalu, mengatakan bahwa ia telah selesai menghadiri acara yang berjalan lancar. Jeanno hanya membalasnya dengan emoticon thumbs up. Ia letakkan benda pipih itu diatas nakas. Entah mengapa ponsel serasa tak semenarik dulu, ketika ada seseorang yang mengingatkannya untuk makan dan istirahat.


Jeanno meraih selimut, menghirup dalam-dalam seakan ingin merekam aroma itu untuk disimpannya. Apakah ia rindu? Entahlah, karena sekali lagi, Jeanno terlalu bodoh untuk menyadari.


Ketika aroma tidak lagi cukup untuk menghilangkan resah tak beralasan, Jeanno memutar otak. Mencari cara bagaimana ia bisa mengobati gundah yang mengganggu. Detik selanjutnya ia meraih ponsel, mensettingnya menjadi private contact, sebelum mendial satu nomor yang ia harap masih sama seperti terakhir kali.


Satu dering… disusul dering berikutnya.


“Hallo”


Suara diseberang terdengar serak, kemungkinan sosok disana sudah terlelap dan terpaksa bangun ketika ponselnya berdering.


“Hallo? Ini dengan siapa?”


Jeanno tidak menjawab apapun, hanya desah nafas yang ia hantarkan kepada sang lawan disana.


“Dengar, ini sudah malam. Kau tidak punya jam ya? siapapun kau, jangan mengerjaiku atau kudoakan kau bermimpi buruk”


Selanjutnya terdengar nada panjang yang menandakan sambungan telah diputus secara sepihak oleh Judith. Jeanno terkekeh, walaupun kelakuannya barusan sama seperti anak sekolah yang sedang kasmaran, namun batinnya merasa puas dan terisi kala mendengar suara yang diseberang. Dengan nafas yang ringan, pria itu menarik selimut untuk menghampiri lelap.

__ADS_1


Dan benar saja doa Judith, Jeanno mimpi buruk malam itu.


**


__ADS_2