Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 101. Right Time


__ADS_3

“Aku tidak percaya kau melamar sahabatku di rumah sakit, Kak”


Protesan Judith mengundang tawa baik dari Mark maupun Hannah. Perempuan itu mengerling kearah jemari manis Hannah. “Kau bahkan melamarnya tanpa cincin”


“Aku melakukannya secara mendadak, Judith. Yang penting lamaranku diterima dulu, kalau sudah begitu hal lain bisa menyusul” Mark mengusap tengkuknya canggung. Menyadari bahwa lamarannya kemarin mungkin terlihat sangat tidak romantis.


Judith mengangkat bahu. “Kau bersyukur aku sangat menyukaimu sebagai pendamping sahabatku” Kemudian ia melirik sang kawan, menyerbu untuk memeluknya. Sekalipun tadi Judith sudah memeluk Hannah erat ketika ia diberitahu perihal lamaran Mark. “Aku bahagia sekali, sayang. Aku bahagia untukmu. Aku selalu siap jika kau membutuhkanku untuk menemanimu mempersiapkan segalanya”


Hannah mengusap pundak Judith, tersenyum. “Terimakasih untuk segalanya, Judith”


Judith melepaskan pelukannya. Menghabiskan setiap menit untuk bercengkrama sembari menunggu Jeanno menjemputnya. Oh, omong-omong, Aera berada di rumah Mark. Sengaja Mark dan Jeanno ‘menitipkan’ Aera sebagai paksaan supaya Maria dan Jose pulang untuk beristirahat. Tidak tega melihat wajah lelah dan kantung mata kedua orangtuanya yang menghitam karena tidur di tempat yang kurang nyaman.


Judith terdiam, menatapi penuh haru bagaimana Hannah yang tengah menyuapi makan malam Mark dengan telaten. Hatinya menghangat, merasakan kebahagiaan seperti yang kawannya rasakan. Hannah pantas menerimanya, setelah bertahun-tahun jungkir-balik menghadapi sulitnya hidup sebagai pekerja malam, dipandang rendah dan murahan. Pada akhirnya saat indah itu tiba, ketika Hannah bertemu dengan pangerannya. Judith memalingkan wajah, tak ia pungkiri ada iri hati yang terselip di dadanya. Bukan, bukan karena ia menyukai Mark. Tapi lebih kepada… kapankah waktu indahnya akan tiba?


**


Sharin menghempaskan tubuhnya di kasur. Menatapi langit-langit kamar apartemennya penuh kebencian, seolah mereka yang bertanggungjawab akan kesengsaraan hidup yang ia dapatkan beberapa tahun lalu. Matanya boleh memandang lurus keatas, namun pikirannya tertuju pada satu nama yang paling ia benci sedunia.


Nayara.


Ketika ia masih duduk di bangku kuliah, masih sebagai Sharin yang begitu terobsesi pada Jeanno Alexander. Well, sekarangpun masih. Keinginan memiliki pria itu masih sama besarnya seperti dulu. Sharin tidak begitu mengetahui kehidupan Jeanno sekarang, tapi dengan kembalinya ia ke tanah air, Sharin akan menggunakan waktu yang singkat ini untuk ‘merebut’ Jeanno-nya.


Sharin memejamkan matanya, membiarkan potongan-potongan memori kembali berputar dalam otaknya. Ia ingat bagaimana kuat usahanya menjatuhkan Nayara. Begitu gigihnya usaha Sharin untuk menjauhkan Nayara dari Jeanno.


Pagi itu, sama seperti pagi pada umumnya. Mobil mewah milik tuan muda Alexander memasuki area kampus. Sekalipun banyak dari mereka yang membawa mobil tak kalah mewah, namun tetap saja milik Jeanno menarik perhatian jauh lebih banyak. Terlebih ketika si pemilik yang berwajah tampan itu turun dan memutar tubuhnya ke kursi kemudi guna membukakan pintu untuk kekasihnya. Semua berdecak kagum bercampur iri. Kebanyakan dari mereka tentu saja mahasiswi. Mereka yang melihat, berangan-angan untuk dapat memiliki kekasih gentleman, kaya raya dan luar biasa tampan seperti Jeanno. Separuhnya iri, menganggap Nayara yang sederhana tak pantas bersanding dengan pangeran sesempurna Jeanno. Hanya sebagian kecil yang turut bahagia akan hubungan berbeda kasta itu.




“Jean, mulai besok biarkan aku naik bus saja, ya?”*



Jeanno menggeleng keras. Dibawanya jemari mungil Nayara di kantung jaketnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju koridor, mengabaikan puluhan pasang mata yang memandang dengan berbagai ekspresi.*


__ADS_1


“Tidak, sayang. Aku punya fasilitas untuk memudahkan kita berangkat lebih awal tanpa repot berdesakan. Kenapa tidak dimanfaatkan, hm?”*



Nayara menghela nafas samar. “Aku tidak biasa dengan perhatian mendadak yang kuterima. Semua orang memandangku aneh. Aku suka diriku yang dulu, yang tidak terlihat”*



Jeanno menoleh, memberikan senyum menggoda dan kedipan mata. “Nayara yang tidak terlihat sudah tidak ada sejak kau memutuskan untuk menerima cintaku. Dan.. kau tidak boleh menarik kata-katamu lagi”*



“Haah, aku mulai menyesal” balas Nayara dengan nada setengah menggoda dan kerlingan jahil. Membuat Jeanno menggeram gemas dan mengacak surainya lembut. Membuat gadis itu berteriak protes, dibalas kekasihnya dengan kekehan.*



“Nanti istirahat ikut ke kafetaria, ya?”*




“Apa?”*



“Aku membayar makananku sendiri” ucapnya lugas. Nayara tidak salah meminta syarat seperti itu karena selama ini Jeanno bersikeras membayar semua keperluan hidup kekasihnya. Yang tentu saja Nayara tolak sekuat tenaga. Meskipun ada satu waktu Jeanno jauh lebih keras kepala sehingga Nayara tak mampu menolak.*



“Boleh. Bukan hal sulit untukku”*



Nayara tersenyum. Dilepaskan tangannya dari genggaman Jeanno setelah ia sudah sampai di depan kelas. “Aku masuk dulu. Sampai bertemu nanti”*


__ADS_1


Jeanno melambaikan tangan, sosoknya masih tetap di tempat, memandang penuh sayang kepada pungggung Nayara yang melangkah masuk menuju kelasnya.*



Nayara mengambil satu tempat duduk yang menurutnya strategis, diletakkannya totebag lusuh yang berisi buku-bukunya. Setengah jam sebelum mata kuliah dimulai, lebih baik ia gunakan untuk membaca materi, pikirnya. Setidaknya menenggelamkan kepala ke buku adalah pelariannya. Setidaknya dengan begitu ia tak harus berhadapan dengan tatapan aneh dari siapapun yang melihat keberadaannya.*



Ya, ya. Dua bulan sejak resmi berpacaran dengan Jeanno, Nayara masih belum terbiasa. Ada banyak kejutan yang seperti tak ada habisnya. Dari mulai Andhra yang dikeluarkan dari kampus dan menghilang dari hidupnya. Kemudian ia yang kehilangan pekerjaan di kafe. Lalu segala perlakuan serba istimewa-dan mewah dari Jeanno. Oh, mengenai tatapan-tatapan sinis yang dilayangkan padanya, itu seperti bonus. Membuat Nayara jauh lebih nyaman jika berada di perpustakaan dibanding ruang terbuka seperti kelas atau kafetaria.*



“Jadi dia kekasih Jeanno Alexander? Wah aku masih tidak menyangka seleranya turun. Kau tau kan mantan-mantan kekasihnya seperti apa? Cantik, kaya, seperti model. Tapi sekarang? Terlihat kampungan”*



“Iya, kan? Bahkan tasnya tidak pernah ganti. Sepatunya juga lusuh seperti itu. Jangan-jangan dia tidak punya sepatu lagi? Oh, lalu pakaiannya sekarang, aku seperti melihatnya memakai pakaian yang sama minggu lalu”*



“Jeanno tidak malu ya memamerkannya di publik? Setidaknya ia harus berusaha tampil modis, supaya Jeanno tidak terlalu malu”*



Entah sengaja atau tidak para gadis itu membicarakannya dengan suara yang mampu Nayara dengar. Ia tau posisi duduk mereka berada di belakangnya. Nayara secara pribadi tidak mengenal mereka, ia yakin gadis-gadis itu tidak mengenalnya secara personal. Tapi mengapa mulut mereka mudah sekali mengkritiknya? Seperti sudah memahami Nayara dan Jeanno luar dalam.*



Nayara memutuskan untuk tetap fokus pada barisan kata pada bukunya. Walau ia tak yakin apakah ada materi yang terserap. Sebetulnya slentingan-slentingan para gadis itu belum seberapa dibanding sindiran lain yang pernah ia dengar. Kata-kata pedas seperti kampungan, murahan, tidak tau malu, bahkan dianggap berpura-pura polos demi melucuti harta Jeanno. Awalnya Nayara tidak mau ambil pusing. Namun lama kelamaan hatinya sakit. Apakah perempuan sepertinya segitu tidak pantas mencintai pria seperti Jeanno?*



Segala umpatan itu, tentu saja tanpa sepengetahuan Jeanno. Karena mereka yang menyindir, selalu melakukannya ketika Nayara sedang sendirian. Mereka tak berani jika Jeanno ada bersamanya. Namun begitu, sekalipun sudah melukai harga dirinya, Nayara tetap memilih diam. Diam membiarkan telinganya panas dan hatinya pedih. Tapi tak apa, selama Jeanno ada bersamanya, itu sudah lebih dari cukup.*



**

__ADS_1


__ADS_2