
Renatta menghabiskan dua puluh menit terakhir dengan berbagi keheningan dengan Tyona. Mereka memutuskan untuk bicara di meja kecil di belakang halaman rumah Renatta ditemani secangkir teh hangat dan biskuit kelapa. Perempuan itu mengangkat wajahnya, mendapati Tyona tengah memandang kosong kearah cangkir teh yang belum disesapnya.
“Aku berasumsi kedatangan anda kemari karena anda sudah tau siapa diriku. Bukan begitu?”
Tyona mengangkat pandangannya. Kemudian mengangguk. “Ya, aku sudah mengetahuinya”
Lalu netra Tyona turun kearah perut lawan bicaranya yang tersembunyi dibalik baju terusan yang dikenakan Renatta. Bibirnya mengukir senyum pedih. Mengetahui fakta bahwa sebentar lagi Jeffrey memiliki keturunan, namun disisi lain sakit hatinya menyadari itu bukan darinya.
“Sudah berapa lama?”
“Lebih dari satu tahun. Maafkan aku”
Tyona mengangguk, sorotnya ia palingkan, tak kuasa jika harus berlama-lama memandang buah cinta suaminya dengan perempuan lain. “Apa kau… ada keinginan untuk meninggalkan Jeff?”
Renatta menggeleng lugas. “Tidak. Aku mencintainya, dan aku percaya dia juga mencintaiku. Dan lagi..” Rena menggantung kalimatnya hanya untuk mengusap perutnya. “Kami sedang menunggu kehadiran anak kami”
Tyona mengusap airmatanya sebelum jatuh mengaliri pipi. Sungguh, ia tak ingin menangis di hadapan orang lain lagi. Namun ternyata hatinya belum mampu menerima fakta yang sudah jelas terpampang di depan matanya. Terlebih diucapkan secara gamblang oleh selingkuhan suaminya sendiri.
“Jika anda memintaku untuk berpisah dengan Jeffrey. Itu artinya anda membiarkan seorang bayi tak berdosa harus lahir dan tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya”
Tyona memandang Renatta nanar. Ia tentu tau bagaimana menderitanya ketika seorang anak harus tumbuh tanpa orang tua yang lengkap. Bukan karena Tyona merasakan hal yang sama, namun mengingat profesinya sebagai spesialis pediatri yang sering mendapati anak yang secara mendadak menjadi yatim piatu karena kecelakaan yang merenggut kedua orangtuanya. Ia melihat bagaimana kesedihan dalam mata mereka. Seperti duniamu yang diambil paksa sebelum kau sempat mendekapnya. Tyona di Rumah Sakit, bekerja sekuat tenaga bagaimana caranya bisa mengembalikan senyum mereka. Agaknya ironis jika Tyona melakukan hal sebaliknya pada anak suaminya sendiri.
“Aku yakin anda tidak akan tega untuk membiarkan bayi ini tumbuh tanpa seorang ayah”
Artyona. Wanita mandiri dengan segala kesempurnaannya, kini hancur di tangan dua orang. Sesungguhnya, Anna sudah tak lagi mengenali dirinya sendiri. Ia tak pernah kehilangan fokus, namun untuk beberapa waktu belakangan, pikirannya kacau. Tidurpun tidak nyenyak, sekalipun lelap, mimpi buruklah yang menjadi kawan kentalnya. Jikalau tengah terjaga, benaknya tak henti memproduksi pikiran-pikiran negatif yang berakhir matanya memproduksi airmata tiada henti. Jujur, Anna lelah. Lelah dengan mentalnya yang dihantam habis-habisan tanpa diberi jeda.
__ADS_1
“Aku bicara ini bukan hanya sebagai sesama wanita, tapi juga dari sudut pandang seorang ibu. Aku tau hubunganku dan Jeffrey tidak diawali dengan baik. Awalnya aku memang tak berniat merebutnya dari dokter, tapi aku ingin egois. Terlebih ketika mengetahui aku hamil. Aku ingin egois demi anakku. Bolehkah?”
Tyona memilin cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin berwarna silver yang terukir nama inisial Jeffrey dan inisialnya disana. Cincin yang mereka pilih dengan perasaan penuh suka cita sembari membicarakan mimpi mereka di masa depan. Cincin yang menjadi simbol ikatan mereka ketika mengucap janji suci di altar. Cincin yang Tyona harap tak akan pernah ia kembalikan kepada pemberinya apapun yang terjadi.
“Jika anda berpisah dari Jeffrey, tidak ada hati lain yang tersakiti selain anda sendiri. Tapi jika aku berpisah darinya, ada lebih dari satu orang yang sakit hatinya. Dan.. sebelum anda memintaku menyerah, lebih baik anda tanyakan dulu kepada Jeffrey. Apa dia akan menyerah pada kami? Karena selama aku mengenalnya, dia sangat bersemangat menyambut kehadiran buah hati kami”
“…. Jika anda mengenal Jeffrey, anda pasti mengetahui betapa ia ingin seorang bayi. Yang tidak bisa ia dapatkan dari anda”
Cukup. Tyona sudah tidak bisa lagi mendengarnya. Tanpa satu patah katapun, wanita itu bangkit dan berjalan keluar. Membiarkan wajahnya dirembesi airmata yang tak kuasa lagi ia tahan.
**
Johnny memandang datar kearah Judith dan Jeanno yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba menyambangi apartemennya. Dibanding Judith yang terlihat sangat emosi, Jeanno jauh lebih tenang. Pria itu bersedekap, berdiri sedikit jauh dari Judith dan Johnny.
“Bagaimana bisa kau menjual penarimu sendiri kepada bos gila itu?”
Tadi, begitu menerima penjelasan dari Haikal secara jelas, Judith dan Jeanno memutuskan untuk putar balik. Tidak ada gunanya jika perjalanan mereka lanjutkan karena toh, Hannah sudah tak ada di kampung halamannya. Tujuan mereka berganti menuju kediaman satu-satunya orang yang Judith yakini tau semuanya.
“Kau tau Hannah seperti apa. Dan kau membantu pria gila itu untuk menjebak Hannah. Astaga, Johnny. Mark sedang kritis dan kami membutuhkan Hannah ada bersamanya”
Jeanno berdehem, merasa sedikit canggung harus berada di tempat yang sama dan mendengarkan permasalahan yang sebenarnya bukan urusannya. Sepasang netra sabitnya sempat bertukar pandang dengan Johnny sebelum pria jangkung itu fokus lagi kearah Judith.
“Aku sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan mereka, Judith. Akupun sudah lelah mengikuti permainan Louis”
Judith tersenyum mengejek. “Tentu saja kau mundur. Toh sekarang Louis sudah memiliki Hannah, tujuannya sudah tercapai jadi dia tidak membutuhkanmu lagi”
__ADS_1
“Dimana Hannah?”
“Judith..”
“Pria itu pasti membawa Hannah ke rumahnya, kan? Beritahu aku dimana rumah Louis. Kumohon, Johnny. Hanya kau yang bisa menolongku..”
Pandangan pria itu masih sama datarnya seperti kala mereka datang. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Judith, Johnny hanya diam mematung. Membuat Judith berdecak frustasi. Disaat ia hendak buka mulut untuk mencaci mantan manajernya, Jeanno sudah lebih dulu memutus.
Judith menoleh, mendapati Jeanno dengan ekspresi cemas baru saja menyimpan ponselnya.
“Kita ke rumah sakit. Mark kejang”
**
Johnny sudah terbiasa menyimpan rahasia banyak orang. Bergelut dalam dunia malam, berisi pria-pria hidung belang yang licik dan perempuan pemuja uang yang tak lagi mempedulikan norma asusila. Sebagai pria yang menjabat sebagai manajer salah satu klub malam paling mewah di Ibukota, tentu saja Johnny tau seluk beluk setiap pekerja disana. Ah, tak hanya pekerja. Namun juga bosnya.
Johnny tau Renatta pernah dikhianati oleh kekasihnya, dengan menemukannya berdua di ranjang bersama sahabat baiknya. Johnny tau Hannah gadis baik-baik yang terpaksa jatuh kedalam dunia malam hanya karena persoalan ekonomi yang tak ada habisnya. Johnny tau Judith kabur dari rumah dimasa remaja untuk menghindari ketidakharmonisan keluarganya, yang pada akhirnya tercebur dunia malam akibat trauma yang ia dapatkan sewaktu di Ibukota. Johnny tau Louis pernah memiliki kekasih yang pernah ia hamili dan ia tinggalkan begitu saja di Winchester, Inggris. Johnny tau bagaimana Louis tidak menerima kenyataan bahwa sang ibu hanyalah wanita berdarah Indonesia sederhana yang kemudian dicampakkan dengan tak tau diri oleh ayahnya hingga tutup usia, yang saat ini menjalani hidup enak di London bersama keluarga baru. Itulah mengapa pria itu bekerja keras mengorbankan segalanya untuk berada diposisi sekarang. Mengumpulkan pundi-pundi uang untuknya kembali ke Inggris, hanya untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa tanpa bantuan sepeserpun.
Johnny ada disana ketika Louis menghalalkan segala cara untuk membangun klub malam hingga menjadi tempat elite yang hanya bisa dijamah oleh golongan tertentu saja. Johnny ada dan melihat setiap proses perekruitan pekerja Victoire, termasuk para penari.
Ketika melihat Hannah, Johnny tak merasa Louis tertarik padanya. Wajah pria itu masih sama datarnya seperti melihat penari sebelumnya. Jadi ia tak tau yang Louis rasakan terhadap Hannah sekarang hanyalah obsesi semata, atau memang ia telah terpikat pada pesona gadis manis itu.
Tanisha Hannah.
Louis menelpon beberapa saat usai kepergian Judith. Meminta Johnny untuk menjaga Hannah di rumahnya selagi ia mengurus sesuatu. Entah apakah Louis sudah tau mengenai kabar tentang Mark, tapi Johnny tak ingin memberitahunya. Setidaknya untuk sekarang.
__ADS_1
Pria itu melirik arlojinya, memutuskan untuk bergegas menuju rumah Louis sebelum pemuda itu kembali menelponnya.
**