Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 150. Alana


__ADS_3

Kehabisan kata. Itulah reaksi yang tepat menggambarkan Marco Sebastian ketika ia dipaparkan dengan bukti-bukti dari informasi yang selama ini ia cari, mengenai Judith dan kehidupan ‘asli’ perempuan itu. Dalam map coklat, tersimpan beberapa lembar foto bayi merah. Satu memiliki fisik seperti bayi pada umumnya, dengan pipi gembul berhias semu merah muda yang menggemaskan. Sementara satunya, berbanding terbalik, memiliki tubuh yang jauh lebih kecil dari bayi sebelumnya. Tak ada merah muda pada pipinya, lebih tepat jika kulit pipinya disana untuk memiliki satu fungsi, yaitu sebagai penutup tulang. Karena Mark bersumpah ia tak pernah melihat bayi sekurus itu.


Netra Mark turun kebawah, memandangi inisal A & A disana, yang entah apa artinya. Kemudian pada berkas lain dalam map itu, terdapat kopian usang akte kelahiran yang sudah pudar tintanya, menyebabkan beberapa kata tidak terbaca dengan jelas. Dua akte bayi perempuan yang terlahir pada hari, tanggal dan ibu yang sama. Hanya waktu lahir yang berbeda, yakni sebelas menit.


Bayi pertama, diketahui bersama Alana Maharani Johan. Sementara menyusul sebelas menit berikutnya, Aleta Maharani Johan lahir.


Lalu kertas berikutnya, berisi riwayat kesehatan Alana yang menurun beberapa hari setelah kelahirannya. Membuat berat badannya juga menyusut drastis, sekilas membuat bayi merah itu seperti bayi yang kekurangan gizi. Sekali lagi, berbanding terbalik dengan adiknya yang kuat menyusu. Alana selalu memuntahkan asi yang masuk ke tubuhnya, disusul diare, juga permasalahan kesehatan lain yang mengkhawatirkan.


Mark meletakkan berkas riwayat kesehatan Alana, kemudian beralih pada berkas lain. Kini merupakan surat perjanjian jual beli bayi. Yang mana membuat mata pria itu terbelalak sempurna. Disana tertulis bahwa Maharani dan Johan, selaku kedua orangtua kandung dengan sadar melakukan transaksi jual beli bayi mereka dengan harga yang cukup tinggi pada tahun tersebut. Surat itu, lengkap dengan bubuhan tanda tangan mereka diatas materai, dan dua tanda tangan lain yang Mark yakini sebagai calon ‘pembeli’.


“Awalnya mereka mau ‘menjual’ Alana. Tapi karena fisik bayi itu jauh lebih kurus, maka calon ‘pembeli’ lebih memilih Aleta untuk mereka angkat sebagai anak. Setelah menerima uang yang cukup besar, Maharani menyerahkan Aleta kepada mereka. Tapi baru beberapa minggu berjalan, si pembeli ini ternyata mengetahui bahwa dalam adanya riwayat leukimia dalam garis keturunan Maharani. Takut jika ketika besar nanti Aleta mewarisi sel kanker tersebut, maka mereka memutuskan untuk mengembalikan Aleta. Dan meminta 75% uang kembali”


“Sementara Alana. Bayi yang malang. Karena kesehatannya yang semakin menurun, baik Johan maupun Maharani yakin bahwa tidak akan ada yang mau ‘membelinya’. Maka dari itu mereka sepakat untuk membuangnya ke panti asuhan, tanpa pesan, tanpa petunjuk, hanya selimut tipis dan sebotol susu yang sudah dingin. Mirip seperti sinetron, mereka taruh secara diam-diam keranjang bayi Alana di depan gerbang panti asuhan. Tanpa takut akan resiko bagaimana jika hujan turun, atau ada anjing liar yang memakan Alana. Yang mereka tahu, Alana sudah bukan lagi tanggungjawab mereka. Mereka kehilangan satu beban”


Gigi gemerutuk, Mark mengumpat lirih. “Orangtua brengsek”


“Ya. Kau benar”


“Karena berita mengenai gen Maharani sudah menyebar luas, mereka kesulitan untuk mencari ‘pembeli’ bayi Aleta. Hingga pada akhirnya Maharani lelah dan memutuskan untuk merawat Aleta. Tapi percuma, karena kehadiran Aleta tetap tidak bisa memperbaiki pondasi rumah tangga Maharani dan Johan yang memang sudah hancur. Bahkan malah turut menyeret Aleta untuk ikut hancur”


Mark mendongak, dahi menyernyit seraya memandang bawahannya dengan curiga. “Dari mana kau dapatkan info sedetail ini?”

__ADS_1


Pria itu terkekeh. “Seorang wanita yang sudah cukup tua, yang kebetulan adalah pembantu Maharani sejak lama, sekaligus yang merawat Aleta sampai besar. Dialah yang menceritakan semuanya, sekaligus memberiku bukti-bukti yang sekarang ada di tanganmu”


Mark masih termenung. Map yang diserahkan padanya cukup tebal, ia memutuskan untuk memeriksanya sendiri nanti.


“Mark”


“Hm?”


“Kau belum bertanya siapa nama bayi-bayi itu sekarang?”


“Tidak perlu. Aku tahu Aleta adalah Judith”


Lawan bicaranya menyeringai. “Lalu Alana? Bagaimana dengannya?”


“Nayara…”


**


Sudah hampir dua jam Jeanno tidak keluar ruangan. Yang ia lakukan hanyalah memandang gamang pesan pada layar ponselnya. Puluhan pesan dan telpon sudah masuk, namun ia abaikan. Pria itu mengetahui ada nama pengacaranya dari kesekian penelpon yang masuk. Berbeda dengan sebelumnya yang begitu bersemangat dalam menjatuhkan lawan, kali ini Jeanno bimbang. Terlebih sejak ada pesan masuk dari Judith tepat dua jam yang lalu.


Besok, seharusnya adalah hari dimana polisi menjemput Judith. Ia memang serius dengan ancaman penjara untuk perempuan itu. Begitu seriusnya sampai ia menghubungi pengacaranya dan berdiskusi nyaris seharian.

__ADS_1


Akan tetapi, hatinya mulai goyah hanya karena satu pesan. Apakah dirinya sudah keterlaluan? Apakah kesalahan Judith sebegitu fatal sehingga tak ada ampun baginya? Tapi, semua orang disekeliling Jeanno menyayangi Judith. Menandakan bahwa ia adalah pribadi yang baik. Jika diurut kebelakang, tak ada satupun perilaku Judith yang merugikan Jeanno. Perempuan itu menyayangi Aera selayaknya anak kandung sendiri, begitupun putrinya. Bersama Judith, Jeanno dan Aera mampu merasakan gambaran hangatnya keluarga utuh.


Haruskah ia memaafkan Judith? Memaafkan? Terdengar konyol, karena tak ada kesalahan berat yang diperbuat Judith. Jeanno hanya geram karena masa lalu Judith yang mengakibatkan Nayara sempat menderita. Tapi tanpa asal-usul keluarga Judithpun, Jeanno yakin keluarganya tetap tidak menerima Nayara. Dengan satu alasan sederhana, yaitu karena Nayara orang tidak berpunya.


Lamunan Jeanno terusik akan pintu ruangan yang terbuka kasar. Tak ada yang melakukan ini sebelumnya selain Mark. Dan tentu saja, memang pria itu yang memaksa masuk dan saat ini berdiri di hadapannya.


“Mark..”


Pria itu melemparkan sebuah map coklat yang lumayan tebal. “Sebelum menjebloskan Judith ke penjara, kuharap kau mau merendahkan hatimu untuk melihat apa isi amplop itu”


“Jika kau masih bersikeras dengan keputusanmu bahkan setelah kau tau kebenarannya, maka aku sudah tidak bisa menolongmu lagi, adikku”


Diluar dugaan, karena Jeanno pikir Mark akan menyerangnya secara membabi buta seperti dulu. Namun kali ini sosok itu lebih seperti ‘Mark’ yang ia kenal. Dewasa, menyelesaikan segalanya dengan kepala dingin. Ia rasa Mark sudah lelah.


“Baik”


Jeanno meraih amplop yang Mark berikan. Entah apa isinya, ia mungkin harus menyisihkan waktu lumayan banyak untuk memeriksa keseluruhan isi amplop tersebut.


“Kau keliru, Jeanno. Selama ini orang-orang ayahmu tidak salah menyelidiki latar belakang Nayara. Bukan latar belakang Judith yang mereka ambil. Mereka memiliki kesamaan, ayahnya adalah mucikari, dan ibunya adalah wanita malam. Cerita mereka sama, karena mereka lahir dari rahim yang sama”


“…. Judith dan Nayara, mereka saudara kembar”

__ADS_1


**


__ADS_2