
H-7
Hari ini Louis mengajak Hannah ke butik untuk fitting baju. Awalnya Hannah menolak, tapi atas bujukan yang sedikit memaksa oleh sang Ibu, pada akhirnya Hannah menyerah. Memberikan respon dingin pada Louis yang menggandeng tangannya.
“Kau bisa menolak sekeras apapun. Tapi percuma saja, karena minggu depan kau sudah resmi menjadi istriku” tutur Louis ketika mereka sudah berada di mobil.
“Apa kau bahagia menjalani hidup dengan perempuan yang tidak mencintaimu? Atau lebih tepatnya, dengan perempuan yang membencimu?”
Louis terkekeh. “Aku tidak peduli dengan perasaanmu, sayang. Yang aku tau, aku memilikimu, memiliki tubuh indahmu. Persetan jika kau tidak mencintaiku”
“Kau gila”
“Ya, aku gila karenamu”
Hannah membuang muka kearah luar jendela. Menurutnya itu seribu kali lebih baik dibanding harus melihat kearah Louis. “Jika kau begitu mendambakan ****, kenapa tidak menyewa ****** saja? diluar sana banyak perempuan yang jauh lebih cantik dariku”
“Kau masih penasaran rupanya?” Louis menoleh sekilas. “Sederhana saja, karena kau tidak seperti perempuan lain, sayang. Wanita lain tak berpikir dua kali untuk mendatangiku, merayuku untuk menyeret mereka ke ranjang. Tapi kau? Kau adalah perempuan pertama yang menolakku. Bahkan menamparku”
“Setelah berhasil mendapatkanku sebagai obsesimu, apa kau akan mencampakkanku?”
Louis mengangkat bahunya. “Tergantung. Jika aku sudah puas menikmati tubuhmu, maka aku akan membuangmu. Entahlah, aku belum bisa menilainya sekarang karena belum menjamahmu lebih dalam lagi. Ucapkan terimakasih pada Ibu dan adikmu yang tinggal di rumah. Karena jika tidak, kau sudah kehilangan kegadisanmu sejak lama, Hannah”
Sungguh, rasanya Hannah ingin tuli saja. Ia tak sanggup mendengarkan ucapan demi ucapan Louis yang mengecapnya sebagai alat pemuas nafsu. Sesuatu yang tak pernah Mark katakan padanya. Jika tidak teringat Mark yang berjuang hidup, Hannah ingin sekali mencekik pemuda blasteran itu hingga mati. Kenapa tidak Louis saja yang kritis?
“Tapi sepertinya aku tidak akan melepasmu dengan mudah. Kau begitu manis, sayang. Aku ragu akan bosan denganmu dalam waktu singkat”
__ADS_1
Louis lantas tertawa. Tawa yang membuat Hannah ingin muntah.
“Sungguh takdir baik sekali padaku. Melancarkan segala aksiku untuk memilikimu”
**
Louis menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai calon suami yang perhatian. Membuat siapapun yang melihatnya merasa Hannah wanita yang beruntung. Seperti saat ini, ketika mereka tengah berada di butik ternama untuk fitting baju pernikahan.
“Anda ingin model seperti apa, nona Hannah?”
Seorang pegawai wanita yang bertuliskan Feli di nametagnya, memberikan katalog berisikan referensi gaun pernikahan kepada Hannah. Ekspresi Hannah sungguh berbeda dari calon pengantin yang Feli temui sebelumnya. Jika perempuan lain terlihat antusias dan bahagia, Hannah justru terkesan mendung dan kelam. Pun gadis itu hanya diam memandang katalog yang tak ia sentuh sedikitpun. Membuat Feli bertukar pandang dengan Louis.
“Oh, maaf Feli. Tunanganku sedang sakit, asam lambungnya naik karena stress menjelang pernikahan kami yang semakin dekat” Louis melingkarkan tangannya di pinggang Hannah, yang ditepis dengan kasar oleh pemiliknya. Menempatkan Louis pada posisi canggung.
“Eum, mungkin kau bisa merekomendasikan pada tunanganku gaun-gaun yang terbaik disini. Hannah menyukai gaun yang sedikit berani, jadi mungkin kau bisa memberinya gaun dengan potongan terbuka? Supaya kulit tan kekasih cantikku terekspos”
“Ini beberapa rekomenasi gaun yang cocok untuk anda, nona Hannah. Silakan anda mencobanya dulu. Anda bisa memanggil nama saya jika membutuhkan sesuatu” pamit Feli. Hannah hanya menggumam singkat ketika pegawai itu keluar dari tirai ruang gantinya.
Hannah melirik penuh cela pada troli yang tergantung setidaknya lima potong gaun disana. Tak pernah sedikitpun ada hasrat untuk menyentuh, apalagi mencobanya. Jadi sampai Feli kembali, ia tak akan melakukan apapun selain memandangi wajahnya yang sembab di depan cermin.
Tirai terbuka, bukan Feli yang nampak, melainkan pria tinggi bermata biru yang langsung membungkus tubuh Hannah dari belakang. Lengannya ia kalungkan di leher gadis itu, seakan bersiap mencekiknya hingga mati.
“Bersikaplah yang manis, Hannah. Kau bisa bertingkah kurangajar jika hanya ada kita berdua. Tapi aku tidak suka jika kau sembarangan seperti tadi dihadapan oranglain. Jangan membuatku malu”
Louis mengucapkannya dengan nada lirih namun mengintimidasi. Ditambah pegangan pada lehernya yang menguat, membuat kepala Hannah mendongak dan nafasnya sesak.
__ADS_1
“Lihatlah di cermin sayang. Aku melingkarkan tanganku pada tubuhmu, dan kau yang terlihat tak berdaya. Ck! Kau benar-benar membuatku ingin menelanjangimu sekarang juga”
Louis merendahkan kepalanya sejajar dengan telinga Hannah. “Seperti ketika kita di hotel dulu, dimana kau menari tanpa pakaian di hadapanku. Hanya demi uang 600 juta”
Louis memberikan ******* menggoda pada telinga Hannah sebelum melepaskan lilitan lengannya. Ia tersenyum puas melihat wajah Hannah yang memerah. “Pakai gaun-gaun itu, sayang. Sebelum aku merobek pakaianmu”
Sepeninggal Louis, tubuh Hannah merosot. Sekali lagi, ia merasa hina dilecehkan seperti itu oleh pria yang konon ‘calon suaminya’. Hannah memeluk lututnya, menangis dalam diam sembari menyebut nama Mark berkali-kali.
**
Alih-alih bertemu Jeffrey dan bicara empat mata, Renatta justru berpapasan dengan Tyona. Wanita berbalut snelli itu baru saja keluar dari poli interna sembari berbincang dengan rekannya. Begitu melihat Renatta, ekspresi Tyona berubah. Ia kemudian pamit memisahkan diri dari kawannya, untuk berjalan menemui Renatta.
“Ada perlu apa datang kemari?”
Renatta memutar bolamatanya jengah. “Kurasa ini tempat umum. Dokter tidak berhak tau alasanku kemari”
Tyona tersenyum tipis. “Jika kau kemari untuk memeriksakan kandunganmu, poli Obsgyn ada diarah sebelah sana” Tyona menujuk arah timur dari tempatnya berdiri. “Tapi jika kau kemari untuk menemui Jeffrey, poli kejiwaan ada di sebelah selatan sana”
“Ck, aku tidak sebodoh itu untuk mencari tau sendiri dimana tempat yang akan kutuju”
Anna menelusupkan tangannya di saku snelli, masih tersenyum. “Tapi kurasa kau cukup bodoh untuk menghampiri Jeffrey kemari, hm? Kau ingin satu rumah sakit tau kalau kau adalah selingkuhan suamiku? Jika memang seperti itu, lanjutkan saja. Toh aku bukan sebagai pihak yang dirugikan nama baiknya. Tapi Jeffrey, dia kan dicap sebagai pengkhianat, suami yang tidak setia, dan pria tukang selingkuh. Dampaknya panjang, jika sampai ke telinga pasien, secara tak langsung bisa mengusik kredibilitasnya sebagai dokter. Pada akhirnya menghancurkan karir Jeffrey. Apa itu yang kau inginkan, Renatta?”
Lawan bicaranya diam. Merasa perlu juga mempertimbangkan ucapan Tyona mengingat Jeffrey pria yang sangat peduli pada nama baiknya.
“Baiklah, aku akan pulang. Tapi jangan dipikir aku akan menyerah sampai disini. Aku akan terus memperjuangkan hak bayiku, dokter”
__ADS_1
Renatta berbalik. Sepeninggalnya, Tyona membuang nafas yang sedari tadi ia tahan. Berharap pembawaaannya tadi cukup meyakinkan dan tidak terlihat lemah, seperti terakhir kali pertemuannya dengan Renatta.
**