
pada akhirnya mas bram tertidur di pangkuanku dan aku terus mengelus kepalanya agar tidurnya nyenyak dan rasa lelahny hilang.
mama yang berjalan keluar dari kamar terkejut melihat mas bram tidur di pangkuanku.
"loh bram kenapa?". tanya mama.
"kelelahan ma habis meeting katanya". jawab ku dengan suara pelan.
mama menggelengkan kepala dan tersenyum.
"seperti anak kecil saja".
sudah dua jam mas bram tidur di pangkuanku, kaki ku mulai terasa kebas dan kaku karena tertimpa kepala mas bram.
mas bram terbangun dan meregangkan tubuhnya
"hhmmmm maaf sayang aku ketiduran".
"gak apa-apa mas". aku tersenyum paksa karena menahan rasa kebas pada kakiku.
"bangun mas, udah hampir malam. sampai kapan mas mau tidur di sini". ucapku
"tapi aku udah nyaman di sini sayang". mas bram masih saja merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"mas tau gak, kakiku terasa kebas dan kaku. selama 2 jam aku duduk seperti ini terus". aku menatap tajam mas bram.
"ohh iya iya sayang, maaf". mas bram langsung bangun dan memijit kakiku.
mas bram merasa bersalah karena membuatku lelah menahan kepalanya, tapi setidaknya aku senang bisa membantu menghilangkan rasa lelahnya walaupun cuma sebentar.
***
kamar tidur....
setelah perkumpulan keluarga, aku langsung kembali ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur.
seperti ibu hamil pada umumnya, aku mengalami kesulitan untuk tidur malam. setiap posisi tidur tidak ada yang nyaman bagiku.
sudah berkali-kali aku mencari posi untuk tidur dan akhirnya aku duduk bersandar pada dinding, posisi itu membuat punggungku lebih baik.
"sayang, kok begitu sih tidurnya". mas bram masuk kamar setelah ngobrol dengan papa.
"cuma begini yang bisa aku nyaman mas. udah selesai ngobrolnya?". tanyaku.
"udah sayang, lagian cuma ngobrol masalah perusahaan aja kok". mas bram naik ke atas kasur mendekatiku.
"kenapa mas ? ada masalah sama perusahaan?".
"gak ada kok sayang". lagi-lagi mas bram menyenderkan kepalanya dibahuku.
"tapi ekpresi wajah kamu kelihatan banyak fikiran mas".
"hahaha ternyata aku gak bisa bohong ya sama kamu". mas bram menggenggam tanganku.
"maksud mas?". aku masih gak ngerti apa yang mas bram katakan.
"tadi aku dan papa ngobrolin tentang perusahaan, papa menyarankan kepada ku bagaimana kalau pindah saja ke Amerika. di sana ada perusahaan papa juga yang baru buka dan tidak ada yang mengelolanya". ucap mas bram.
"terus, mas mau?". aku langsung memotong ucapan mas bram.
"dengerin aku dulu sayang. papa gak minta aku pindah selamanya kesana tapi untuk sementara sampai perusahaan papa berjalan dengan lancar. kalau bayu kan dia tidak bisa karena sudah memegang perusahaan yang di Singapura. sedangkan papa sendiri tidak punya waktu banyak untuk mengurusnya".
aku menghela nafas saat mendengar cerita mas bram,bagaimana pun sebagai istrinya aku hanya bisa mendukung keputusannya.
"kalau aku pindah kesana, gimana menurut kamu sayang". mas bram menatapku dengan wajah serius.
pertanyaannya ini sangat membuatku sulit untuk menjawabnya, aku berharap mas bram tidak bertanya seperti itu.
aku hanya menundukkan kepala dan memainkan jari-jari ku. aku memikirkan kan jawaban apa yang harus ku ucapkan kepada mas bram.
"sayang". mas bram mengalihkan pandanganku ke wajahnya.
aku berusaha untuk tersenyum meskipun hatiku gak karuan.
"mas apapun keputusan kamu, aku terima dan dukung kok".
"tapi aku di sana mungkin sekitar 5 tahun gitu sayang, dan kita akan LDR selama itu. apa kamu sanggup". tanya mas bram lagi
"5 tahun mas? kenapa selama itu sih". aku terkejut mendengarnya.
"itupun bisa jadi lebih sayang, tergantung dengan kondisi perusahaan".
"dan kamu tega ninggali aku dan alisya selama itu mas". aku mulai terbawa suasana hati.
"dan juga tadi mama bilang, kalau mama mau alisya sekolah di Singapura bersama mama dan papa". ucap mas bram.
aku bahkan lebih sangat terkejut mendengar ucapan mas bram tentang alisya. bagaimana bisa suami dan anakku pergi ninggali aku begitu saja, sedangkan mama dan papa kenapa mereka tega misahkan aku dengan mas bram dan alisya.
hatiku sakit, deg-degan, gemetar dan tubuhku terasa lemas seperti tanpa ada tulang.
"kamu serius mas? ke.. kenapa setega itu sama aku". mataku berkaca-kaca tapi aku berusaha agar tidak menangis.
"maaf sayang, kalau semua ini membuat kamu terkejut. tapi itu keinginan mama dan papa, sulit untukku menolaknya.aku ingin sekali membawa kamu ikut denganku, tapi aku takut kamu sendirian terus di sana karena aku akan terlalu sibuk". ucap mas bram.
sulit untukku mengungkapkan kata-kata, perkataan mas bram begitu menyakitkan. sanggup dia meninggalkan ku sendirian disini saat sedang hamil.
"kenap kamu mengambil semua keputusan sendirian mas tanpa bicara dulu denganku. apa pendapatku tidak penting? apa karena aku hanya seorang ibu tiri jadi kamu tidak melibatkan aku dalam memikirkan alisya".aku langsung emosional di depan mas bram.
__ADS_1
"bukan begitu sayang, kamu itu tetap ibunya alisya. semua itu secara tiba-tiba dan papa minta keputusannya malam ini sebelum besok papa pulang ke Singapura". jawab mas bram.
"dan kamu langsung menjawab iya". aku menatap mata mas bram berharap dia berkata tidak.
mas bram hanya menundukkan kepalanya dengan wajah serius dan itu membuatku berpikir bahwa dia telah menyetujuinya.
"mas jawab aku". aku memegang bahu mas bram agar dia menatapku.
air mata yang aku tahan, akhirnya terjatuh setelah aku tidak bisa lagi menahannya. aku tidak menyangka mas bram begitu teganya padaku dan itu semua membuatku sakit.
"baiklah mas, kita selesaikan saja sampai di sini". aku beranjak dari kasur.
"sayang, kamu mau kemana?". ucap mas bram yang melihatku pergi.
aku terdiam tidak menjawab pertanyaan mas bram, karena itu akan membuatku semakin sedih.
lalu mas bram berlari kecil dan memelukku dari belakang menahan langkahku untuk keluar.
saat mas bram memelukku, air mataku terus terjatuh semakin deras. lalu mas bran membalikkan badanku kearahnya.
mas bram menatapku dengan wajah tersenyum
"mau kemana sayang, udah malam".
aku menghempaskan tangan mas bram yang memegang kedua bahuku.
"mau pulang kerumah ibu".
"kamu yang tega ninggalin aku sendirian disini, dan alisya kamu suruh mama membawanya". ucapku sambil menangis.
mas bram menghapuskan air mata di pipiku.
"udah sayang, jangan nangis lagi ya. ayo sini aku kasih sesuatu". mas bram membuka pintu kamar.
"HAPPY BIRTHDAY ". ucap semuanya ( papa, mama, Bayu ,naiya dan alisya)
aku terkejut melihat semua orang datang ke kamarku dengan membawa cake dan mengucapkan selamat ulang tahun pada ku.
aku melihat ke arah mas bram
"mas, ini.... ". dengan air mata yang masih mengalir.
"ini kejutan buat kamu dari semua keluarga sayang". ucap mas bram.
aku langsung memeluk mas bram
"jahat kamu mas".
"maaf sayang, aku udah buat kamu sedih dan menangis. tapi itu semua bohong yang aku ucapkan tadi, itu hanya sandiwara untuk ngerjain kamu aja". mas bram tertawa bahagia karena rencananya berhasil.
"selamat ulang tahun karin". ucap papa.
aku berdoa sejenak sebelum meniup lilinnya
"aku berharap semua keluarga bahagia dan selalu baik-baik saja".
setelah meniup lilin aku memeluk mereka satu persatu sebagai tanda terima kasihku telah merayakan ulang tahunku yang bahkan aku sendiripun lupa.
"mama berharap, kamu selalu sehat tanpa ada sakit sedikitpun dan melahirkan cucu mama dengan selamat". ucap mama.
"terima kasih mama". aku memeluk dan menciumnya.
"selamat ulang tahun mbak". ucap naiya.
"terima kasih nay".
"ini kejutan Dari kami semua sebelum kami pulang ke Singapura besok ". ucap Bayu.
"aku berharap kalian tetap di sini bersamaku". semua orang tertawa mendegar ucapanku.
"selamat ulang tahun bunda,alisya sayang bunda". ucapan terakhir dari malaikat kecil ku.
"terima anak bunda, bunda juga sayang alisya,jangan tinggali bunda ya". aku memeluk alisya dengan erat.
"sudah sudah ayo kita kembali ke kamar masing-masing karena sudah larut malam". ucap papa.
"alisya ayo tidur sama nenek". mama menggandeng tangan alisya.
"iya nek. bunda selamat malam". alisya melambaikan tangannya padaku.
"selamat malam juga anak bunda". aku juga melambaikan tanganku.
setelah memberikan ku kejutan yang sangat mengejutkan jantung ku. mereka semua bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
"sayang, sekarang giliran aku ucapin selamat ulang tahun buat kamu". mas bram merangkul ku.
"gak, aku gak mau dengar".
"sayang, jangan marah dong. aku kan udah minta maaf dan itu semua hanya bohong". ucap mas bram.
mas bram memeluk ku dan mencium keningku.
"selamat ulang tahun sayang, terima kasih sudah bersedia menjadi istriku. terima kasih juga telah menjadi bunda bagi alisya. aku sayang dan Cinta sama kamu sayang, aku gak akan ninggalin kamu ataupun membuat kamu sedih. karena kamu dan alisya adalah bagian dari hidupku yang sangat berarti. sekali lagi selamat ulang tahun sayang".
ucapan mas bram membuatku tersentuh dan bahagia, ini pertama kalinya mas bram mengucapkan kata-kata romantis padaku selama menikah.
perayaan yang sederhana yang mas bram berikan tapi telah membuat kesan yang mendalam bagiku. karena tanpa aku sadari bahwa aku telah di kelilingi oleh orang-orang yang sangat sayang padaku.
__ADS_1
"terima kasih mas". aku semakin menangis di pelukan hangat mas bram.
"sudah, jangan nangis lagi ya. ayo kita istirahat dan kamu gak boleh tidur terlalu larut". mas bram menghapus air mataku.
malam ini aku bener-bener sangat bahagia, bahagia memiliki mas bram sebagai suamiku dan keluarga yang sangat menyayangiku.
***
pagi hari...
saat bangun tidur aku mendapatkan kedua mataku bengkak akibat banyak menangis.
"kenapa sayang?". mas bram melihatku menutupi mata.
"kamu lihat mataku mas, bengkak karena nangis semalam". aku menunjukkan mataku pada mas bram.
mas bram tertawa kecil setelah melihat mataku yang bengkak
"sini aku kompres biar gak bengkak lagi".
"pakai apa mas?". tanyaku karena aku tidak melihat mas bram membawa apapun di tangannya.
"pakai ini ". mas bram mengecup kedua mataku.
"mas". aku jadi tersipu malu karena kecupan mas bram.
"udah kan, udah bilang bengkaknya". ucap mas bram dan aku hanya tersenyum.
"ayo kita turun, sarapan bareng sama yang lainnya". mas bram menggandeng tanganku.
saat aku menuruni anak tangga, aku melihat mama, papa, Bayu, naiya dan alisya sedang duduk di meja makan untuk sarapan.
aku juga melihat beberapa koper besar berada di ruang tamu yang berjejer rapi. aku sedih melihat rumah ini bakalan sepi tanpa mereka.
"ayo karin sarapan bareng". ucap mama.
"iya ma". aku langsung duduk di sebelah mama.
"mbak karin kok sedih ". tanya bayu
"aku sedih karena kalian harus pulang". jawabku
"jangan sedih mbak, kami bakalan sering-sering pulang kemari kok atau gak mbak yang main ke Singapura". jawan naiya.
"iya, nanti kami juga bakalan main ke sana". jawab mas bram.
"jam berapa pesawatnya berangkat ma". tanyaku.
"jam 11: 20 siang, masih ada waktu buat ngumpul bersama". ucap mama.
"sebenarnya papa juga gak mau cepat-cepat pulang, tapi kerjaan papa sudah menunggu di sana". jawab papa.
"iya karin, mama juga maunya lama-lama di sini. tapi kamu tau kan, kesibukan papa yang gak bisa di tinggal lama-lama".
"iya ma, aku ngerti kok. bagaimana pun aku bahagia semua bisa berkumpul di sini". ucapku sambil tersenyum.
"udah ah jangan sedih-sedihan lagi. ayo kita makan, aku laper banget". ucap Bayu.
benar kata Bayu, bukan saatnya untuk sedih. aku harus terlihat bahagia, aku juga gak mau membuat mereka berat hati saat pulang karena kesedihanku ini.
setidaknya aku bersyukur bahwa mereka semua dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. sehingga kami masih punya memiliki banyak waktu untuk berkumpul kembali.
setelah maka siang, kami berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang satu sama lain. semua terlihat bahagia saat berkumpul dan saling bercanda.
"aku sangat beruntung dan bersyukur memiliki kalian semua di hidupku. dan pasti akan makin lengkap lagi di jika ibu dan ayah di sini".
sudah waktunya mama, papa ,Bayu dan naiya berangkat ke bandara untuk pulang ke Singapura.
"mas, bantuin papa dong angkat kopernya ke mobil". ucapku.
"iya sayang, aku bantu papa dulu". mas bram mengangkat koper ke dalam mobil.
"karin, mama berangkat pulang dulu ya. kamu jaga diri baik-baik jangan sampai terluka lagi". ucap mama.
"iya ma, mama hati-hati ya di perjalanan dan kabari aku kalau udah sampai". aku memeluk mama.
"alisya baik-baik ya di rumah, jagain bunda". ucap mama pada alisya.
"iya nenek". jawab alisya.
"apa sudah semua di masukkan ke dalam mobil". ucap papa
"sudah pa". jawab Bayu yang menyusun koper di mobil.
"mbak, kami pulang ya. terima kasih sudah mau kami repotkan". naiya memelukku .
"gak ada yang di repotkan nay. hati-hati dijalan ya, jangan lupa kabari aku".
"iyaa mbak". jawab naiya.
"alisya, say goodbye dulu sama aira". ucapku pada alisya.
"bye bye". alisya melambaikan tangannya pada aira.
"hati-hati ma, pa". mas Bayu mengucapkan perpisahan dengan keluarganya.
aku, mas bram dan alisya melambaikan tangan ke arah mereka seraya mengucapkan selamat jalan.
__ADS_1
"ayo kita masuk". ucapku pada mas bram dan alisya.
saat memasuki rumah aku merasakan sepi, sekarang hanya ada mas bram dan alisya di rumah yang menemaniku dan itu juga membuatku jauh lebih bahagia bersama suami dan anakku.