Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 80. An Incident


__ADS_3

Hari yang ditunggu Mark dan Hannah sudah tiba. Seharian kemarin Haikal dan Helga bekerja ekstra untuk merapikan rumah sederhana mereka supaya terlihat rapi dan enak dipandang. Sementara Ibu dan Hannah bekerja di dapur, menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak untuk menyambut Mark esok hari. Diselingi dengan obrolan ringan mengenai kehidupan Hannah di kota, yang tentu saja harus Hannah jawab dengan penuh kebohongan.


“Sudah siap semuanya?”


Sementara di kediaman keluarga Sebastian, Mark yang baru selesai sarapan menoleh melihat Ayahnya tengah melipat koran sebelum meletakkannya di rak penyimpanan. “Oh, sudah”


“Dia perempuan pertama yang kau kenalkan pada Ayah dan Ibumu, jadi Ayah harap kau jangan buat kami kecewa”


Satu alis Mark terangkat. Tidak biasanya sang ayah memberinya wejangan, terlebih mengenai kisah asmaranya.


“Ibu sudah menceritakan pada Ayah mengenai latar belakang pekerjaan Hannah. Memang bukan pekerjaan yang baik, Ayah harap kau bisa bekerja lebih keras supaya bisa memberinya kehidupan yang lebih baik sehingga ia bisa berhenti dari pekerjaannya yang sekarang”


Mark masih tercengang dengan ucapan ayahnya. “Jadi Ayah setuju dengan hubunganku?”


Jose mengangkat bahunya. “Memang apa yang bisa Ayah lakukan? Melarang putraku satu-satunya dan berakhir seperti iparku? Ayah tidak mau mengulang kesalahan yang sama yang telah dilakukan oleh Thomas Alexander. Memang kau mau jika Ayah memintamu untuk putus dari Hannah?”


Mark menggeleng. Jose tersenyum seraya menepuk pundak Mark keras.


“Anak muda sekarang begitu keras kepala. Sudah sana berangkat. Jangan biarkan dia menunggu”


“Dan berhentilah memandang Ayah dengan tatapan menggelikan seperti itu, Mark. Ayah tau kau ingin berterimakasih dan memelukku, tapi kita sama-sama tau bahwa love language kita adalah physical attack”


Mark terkekeh, pada akhirnya berbagi pelukan hangat dengan sang Ayah. Dari arah dapur, Maria Alexander hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah suami dan anaknya.


**


Mine – Busy


Sayang, aku berangkat sekarang.


Doakan aku ya!


Sampai bertemu lagi.


Aku mencintaimu


Usai mengirim pesan kepada Hannah, Mark yang telah selesai berpamitan dengan Ayah dan Ibunya, melangkah memasuki mobil yang akan membawanya menuju kampung halaman Hannah yang kurang lebih berjarak enam jam dari kota.


Di tempat lain, Hannah yang bersiap membawa kue-kue buatan ibunya ke pasar, tersenyum kala mendapat pesan dari Mark. Gadis itu menepi sebentar guna membalas pesan dari sang kekasih.


Mine – Busy


Ya, sampai bertemu nanti.


Hati-hati dijalan, Sayang.


Aku juga mencintaimu

__ADS_1



*


Tak ada balasan setelah itu karena Hannah yakin Mark membutuhkan konsentrasi ekstra untuk menyetir perjalanan yang lumayan jauh. Sementara itu, Hannah yang bermandikan akan euforia kegembiraan bertemu dengan Mark setelah sekian lama, nampaknya melupakan satu masalah dalam hidupnya.



Bahwa ia masih memiliki Louis yang menunggu kepulangannya.


**


Tyona terbangun dengan mata berkunang-kunang dan pandangan yang masih kabur. Samar, ia melihat postur tubuh pria yang tengah berbicara di telpon. Orang tersebut berdiri membelakanginya, juga berbicara dengan lirih sekali seakan takut percakapannya mengganggu tidur Tyona. Perempuan itu tersenyum sekilas, menyangka bahwa pria itu adalah Jeffrey yang datang pagi-pagi untuk menjenguknya.


“Je—“


“Anna, kau sudah bangun?” Darren melangkah mendekati ranjang Tyona.


Sayangnya, ketika pria itu berbalik bukanlah Jeffrey seperti Tyona harapkan. Melainkan Darren. Salahkan pandangan kaburnya sehingga tidak mengenali perbedaan postur tubuh suami dan kawannya.


“Kau baik-baik saja? mau kupanggilkan suster?”


Tyona menggeleng. “Sudah lebih baik. Hanya masih pusing”


Darren menghela nafas. Berita pingsannya Tyona sampai ke telinganya. Kemarin ia mendapatkan jadwal pagi sehingga tidak sempat datang ke rumah sakit ketika Tyona dirawat. Sebetulnya bisa saja Darren datang malam, namun keterbatasan jam besuk, juga khawatir menimbulkan rumor lain yang lebih buruk membuat Darren mengurungkan niatnya. Barulah pagi ini ia bisa datang, sebetulnya bersama Kiran. Namun spesialis Obsgyn itu masih dalam perjalanan.


“Kau.. terlihat kacau”


“Sepanjang aku mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu sekacau ini, Anna. Dan itu.. menyakitiku”


“Aku tidak apa-apa, Darren. Aku kacau karena sedang sakit, belum mandi dan kurang tidur. Jadilah penampilanku seperti zombie”


Masih dengan senyumnya, Darren membetulkan letak selimut Tyona yang turun. “Kau bukan pembohong yang baik, kau tau itu?”


“Terlihat sekali, ya?”


Darren mengangguk. “Kau harus mengapresiasi usahaku menahan diri untuk tidak menonjok Jeffrey ketika bertemu dengannya di Poli tadi”


Senyum di wajah ayu itu surut, tergantikan oleh kesenduan yang tak bisa Tyona tutup-tutupi lagi. “Sudah berapa lama, Darren?”


“Aku tidak tau pastinya” Darren menghela nafas, memutuskan untuk berkata jujur akan apapun yang Tyona tanyakan padanya nanti. Sudah cukup ia menutupi borok Jeffrey. “Tapi perempuan itu datang dua kali ke Poli, untuk mencari Jeff. Kedatangannya yang kedua akulah yang menemuinya langsung”


Tyona memejamkan matanya erat. Melahirkan bulir airmata yang kembali mengalir dari ujung matanya. “Perempuan itu tengah hamil, Darren”


Darren tercekat. Tak menyangka jika perselingkuhan Jeffrey ternyata membuahkan masalah yang cukup rumit. Disisi lain menambah semangatnya untuk ‘mencuri’ Tyona dari pria brengsek yang tidak bertanggungjawab itu.


“Aku harus bagaimana…”

__ADS_1


Detik berikutnya pintu terbuka, membawa sosok Kiran yang berbalut snelli melangkah mendekati ranjang Tyona. Wanita itu bertukar pandang dengan Darren, yang hanya dibalas Darren dengan anggukan. Kiran cukup mengerti, karena kemarin siang ia sempat makan bersama dengan psikiater itu dan membahas mengenai pengkhianatan Jeffrey. Sejak saat itu, baik Darren maupun Kiran membuat kesepakatan untuk menjadi kawan yang baik bagi Tyona. Menemaninya disaat-saat seperti ini, dan mendengarkan keluhannya. Memberitahu setidaknya Tyona tidak sendirian.


“Aku mencintainya, tapi apa yang bisa kulakukan untuk menahannya? Jika Jeffrey tidak mau tinggal, aku bisa apa?”


Tak tahan, Kiran membungkuk, membawa tubuh ringkih Tyona kedalam pelukannya. Sementara Darren mengusap lengan wanita itu lembut.


Tidak pernah sekalipun dalam hidup Tyona ia menangis secara gamblang di hadapan orang lain. Artyona membangun image-nya dengan baik sebagai wanita yang tegas, mandiri, cerdas dan hangat. Menangis dan menunjukkan kelemahannya tentu saja tidak ada dalam daftar Tyona. Ia pernah menangis, tapi cukup dalam kesendiriannya. Bahkan Jeffrey saja jarang melihatnya menangis.


Namun untuk kali ini, pertahanan wanita itu runtuh. Biarlah untuk kali ini, ia membutuhkan sandaran. Karena dirinya tak akan mampu melangkah sendirian ketika sandaran satu-satunya yang ia miliki, memilih meminjamkan bahunya kepada perempuan lain.


**


Tiga jam berlalu. Mark menyetir dengan suasana jalanan yang normal dan nyaris tanpa hambatan. Ditemani alunan musik yang tidak terlalu keras, juga cup kopi yang membantunya terjaga, mood Mark bagus sekali. Bahkan sesekali ia turut bersenandung mengikuti alunan lagi. Kemudian di detik berikutnya tersenyum mengingat Hannah, yang tak sabar ia bawa ke rumah. Menunggu bagaimana reaksi Ayah dan Ibunya.


Perihal Jose dan Maria, Mark beruntung sekali memiliki mereka sebagai orangtua. Memang dibanding Jeanno, respon Ayah dan Ibunya berkali-kali lipat jauh lebih bagus dibanding Thomas dan Yvone. Bayangkan jika kedua orangtuanya setipe dengan orangtua Jeanno, sudah pasti Mark akan memilih jalan yang dipilih Jeanno dulu.


Berada di jalan bebas hambatan, ponsel Mark berkedip. Pemuda itu melirik kearah layar, dari nomor asing. Mark menolaknya. Ia memang tak begitu suka menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.


Nomor tersebut menghubunginya lagi. Lagi dan lagi, berulang-ulang tanpa mengenal kata menyerah. Mark yang kesal pada akhirnya mengangkat, namun si penelpon dengan tak tahu dirinya malah mematikan sambungannya. Begitu pria Sebastian itu hendak mematikan ponsel dengan maksud supaya si penelpon misterius tidak menghubunginya lagi, ponselnya justru berkedip tiada henti. Menampilkan pesan dari nomor yang sama.


Penasaran, Mark membuka pesan tersebut. Masih dalam keadaan menyetir. Dan.. betapa terkejutnya ia ketika melihat pesan gambar yang terpampang pada layar ponselnya.


Beberapa-ralat, puluhan foto Hannah yang tengah memasuki hotel, juga foto ketika ia tengah membuka pakaiannya dihadapan sosok pria yang membelakangi kamera. Foto lain yang sangat tidak pantas dan cukup fulgar. Foto yang cukup membuat Mark terguncang akan keterkejutan luar biasa.


Ya, cukup terkejut sepertinya hingga kehilangan fokus. Hingga tak sadar bahwa stir kemudinya melenceng dari jalur yang seharusnya ia lalui.


Detik berikutnya, tabrakan itu tak bisa dihindari. Suara dentuman keras dari mobil Mark yang menabrak beton pembatas jalan, membuat kendaraan itu sempat berputar-putar beberapa meter sebelum berhenti dalam keadaan ringsek.


Beberapa kendaraan berhenti untuk melihat keadaan si pengemudi. Mereka yang mendekat, hanya bisa berharap bahwa semoga ada keajaiban. Semoga siapapun yang ada di mobil itu bisa selamat.


**


Hannah yang baru pulang dari pasar, berlari kecil dengan wajah sumringah begitu melihat ada mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya. Helga berlari keluar menghampiri Kakaknya dengan wajah penuh kekaguman.


“Kak, kau tidak bilang kalau kekasihmu setampan itu?”


“Apa dia baru datang?”


Helga mengangguk. Adik perempuannya menggamit lengan Hannah untuk segera membawa kakaknya masuk. “Sudah datang sekitar lima belas menit yang lalu. Dia sangat gentle sekali, Kak. Meminta ijin kepada Ibu untuk meminangmu. Tentu saja Ibu langsung menyetujui, mengingat kau juga terlihat mencintainya”


Dada Hannah menghangat. Benarkah Mark melamarnya? Tapi sebelumnya tidak ada ucapan apapun. Ah, mungkinkah ini kejutan? Hannah semakin tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Mark.


“Nah itu dia anaknya. Sayang, kekasihmu, oh maaf, calon suamimu sudah datang”


Ibu menyapanya dengan senyuman bahagia, Hannah siap menghambur memeluk Mark. Namun langkahnya terhenti ketika pria yang duduk membelakangi pintu itu, memutar tubuhnya. Yang seketika membuat segala euforia itu padam.


“Selamat datang, sayang. Aku sudah menunggumu sejak tadi”

__ADS_1


Louis berjalan kearahnya, memeluknya tanpa beban.


**


__ADS_2