
“Selamat siang Jeanno.. hari ini apa menu makan siangmu? Kalau makan siangku.. ada nasi, tumis brokoli, lalu daging asap. Salah satu supplier tengah berulang tahun, jadi dia mengirimkan beberapa kotak nasi untuk kami. Baik sekali, kan?”
“Jeanno, sebentar lagi ulang tahunmu. Kau ingin meminta kado apa? Tapi jangan yang mahal-mahal ya, karena aku belum mampu membelikanmu hehe. Tapi tetap saja, katakan apa maumu. Sebisa mungkin aku akan berusaha memenuhinya. Asal Jeannoku bahagia”*
Monolog Nayara terhenti ketika pintu toko terbuka, menampilkan sosok Mark yang tengah berjalan kearahnya. Sontak saja Nayara menyudahi voicemail-nya usai mengucapkan salam penutup.*
“Kak Mark, kupikir siapa”*
Pandangan Mark turun kearah ponsel Nayara. “Masih mengiriminya voicemail?”*
Gadis itu mengangguk lesu. “Ya. aku ingin tetap terhubung dengan Jeanno sekalipun kami sudah tidak berkomunikasi. Setidaknya dengan begitu dia tahu bahwa aku baik-baik saja”*
Nayara tersenyum, namun entah mengapa justru membuat Mark prihatin. “Apa dia pernah membalas voicemailmu?”*
“Sampai saat ini.. belum. Tapi mungkin dia memang tidak sempat membuka ponsel”*
Mark menghela nafas panjang. “Kenapa kau begitu baik padanya, Nay? Bahkan setelah dia menyakitimu”*
Nayara tersenyum sedih. Ia sudah lelah berpura-pura kuat, setidaknya di hadapan Mark ia sudah tak lagi sungkan jika harus menangis. Dibiarkannnya airmata luruh membasahi pipinya.*
“Jeanno pernah bilang bahwa dia akan terus bersamaku. Aku memegang janjinya, Kak. Aku percaya apapun yang terjadi, dia akan kembali padaku. Jadi.. sampai aku mendengar sendiri dari bibirnya bahwa dia tidak menginginkanku, maka aku tidak akan menyerah”*
Mark mendekatkan tubuhnya, merangkul Nayara yang isaknya semakin deras. Gadis yang belum lama ia kenal, namun telah dianggap seperti adiknya sendiri. Mark menyayangi Nayara, dan tidak ingin jika gadis itu terus-terusan disakiti seperti ini. Terlebih oleh sepupunya sendiri yang tidak tahu diri.*
“Kau mau melihat Jeanno?”*
Nayara sontak mendongak, ia mengangguk cepat. “Mau”*
“Ayo. Tapi mungkin aku tidak bisa membawamu untuk berinteraksi dengannya. Jadi kita lihat dari jauh saja tidak apa-apa, kan?”*
Tentu saja tidak apa-apa bagi Nayara. Melihat Jeanno-nya setelah hampir dua bulan tidak bertemu, sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindunya yang menggila. Barang berapa menitpun tidak apa, yang penting Nayara tau Jeanno sehat dan baik-baik saja.*
Dengan langkah ringan dirinya mengikuti Mark menuju mobilnya, kemudian melaju kencang membelah jalanan ibu kota.*
Disinilah mereka. Nayara dan Mark, duduk di satu meja sebuah restoran klasik Italia yang bangunannya berbalut kaca satu sisi yang hanya bisa dilihat oleh pengunjung di dalam. Sementara dari luar, orang-orang tidak bisa melihat keadaan di dalam. Meja mereka sejajar dengan restoran tak kalah mewah di seberang jalan, yang juga berbalut kaca dua sisi, yang mana mereka bisa melihat dengan jelas isi restoran itu.*
__ADS_1
“Yang kutahu dia ada jadwal makan siang dengan klien disana. Mungkin sebentar lagi sampai”*
Jantung Nayara berdegup kencang. Efek dari kerinduan yang membuncah ketika ia, dalam hitungan menit akan bertemu dengan sang tercinta. Dan benar saja, sedan mengkilap yang tak asing itu berhenti. Menampilkan seseorang yang turun dari kursi penumpang, berjalan dengan penuh wibawa memasuki restoran.*
Jeanno Alexander. Jeannonya.*
Perasaan Nayara menghangat, Jeanno nampak sehat dan berkali-kali lipat lebih tampan dari yang terakhir ia lihat. Tubuhnya yang tinggi dan tegap terbalut apik dalam pakaian formal. Terkesan lebih dewasa dan berkarisma. Jeanno menghampiri meja yang diduduki satu pria dan satu wanita, lalu bersalaman dengan sopan sebelum duduk. Nayara tebak bahwa mereka rekan bisnis yang Mark bicarakan.*
Melihat Jeanno dari jauh, Nayara berkali-kali mengucap syukur. Melihat Jeanno yang terlihat sehat dan baik-baik saja walaupun tanpa dirinya. Tidak apa, Jeanno pasti akan kembali jika waktunya telah tiba, kan? Dan Jeanno pasti akan menjelaskan keabsenannya selama ini, kemudian meminta maaf kepada Nayara karena telah mengabaikannya. Lalu mereka akan bersama lagi seperti dulu.*
Rangkaian imajinasi indah itu membuat Nayara tersenyum semakin lebar. Matanya tak lepas dari Jeanno diseberang sana. Seketika Mark menyadari, bahwa gadis ini sudah mencintai sepupunya setengah mati.*
*
“Ibu menelponku dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini. Dan berjanji untuk datang ke pernikahan. Aku sangat bahagia, sayang. Aku bahkan menangis semalaman saking bahagianya”
Judith tersenyum, dipeluknya Hannah sekilas sebagai tanda bahwa dirinya turut bahagia. “Syukurlah kalau begitu. Akhirnya hati keras ibumu luluh juga”
“Kau tau apa yang membuat Ibu pada akhirnya luluh?”
Judith menggeleng. “Karena apa?”
“Karena Mark pergi ke rumahku dan bersujud memohon restu. Aku tidak tahu kalau dia berangkat, kupikir pagi itu Mark berpamitan untuk bekerja seperti biasa, lalu pulang dini hari. Aku kira itu karena pekerjaan yang ia selesaikan karena ia akan mengambil cuti. Tapi ternyata dia mengambil penerbangan pagi untuk mendarat di kota besar yang paling dekat dengan kampungku. Lalu menempuh nyaris tiga jam dari bandara ke rumah”
“Aku tidak tahu apa yang kulakukan di masa lalu, sehingga aku mendapatkan calon pendamping seperti Mark. Aku beruntung sekali, Judith”
“Ya.. eum, Renatta.. kau sudah mendengar kabarnya?”
Ah, wanita itu. Baik Judith maupun Hannah sama-sama tidak tahu bagaimana Renatta sekarang. Dimana ia berada, bagaimana kabar dirinya dan kehamilannya. Situasi rumit yang terjadi belakangan ini membuat keduanya tidak sempat mencari tahu. Ditambah Renatta sendiri yang pertama memutus komunikasi, sama sekali tidak membantu Hannah untuk memberitahu kabar bahagia ini.
“Aku merasa bersalah. Bagaimanapun kita bersahabat. Tinggal satu atap nyaris lima tahun. Tapi pada akhirnya seperti ini, berada di jalan masing-masing. Padahal aku ingin kalian menjadi bridesmaid-ku. Sahabatku yang selalu ada ketika aku sulit”
Judith tersenyum sedih. “Tidak ada yang menyangka akan seperti ini, sayang. Rena pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia memilih jalan seperti ini. Mungkin dia malu setelah mengaku bahwa kekasihnya adalah suami orang. Entahlah, kita berdoa saja semoga dia mendapatkan akhir yang bahagia”
Hannah mengangguk. Ketika detik-detik menjelang hari sakralnya, satu persatu kebahagiaan datang melengkapi. Namun Renatta layaknya potongan puzzle terakhir yang tak kunjung bisa Hannah temukan untuk melengkapi hari pernikahannya.
**
“Aku tadi melihat mobilmu di restoran”
Mark menyimpan ponselnya. “Ya, aku memang berada disana”*
“Sejak kapan kau suka makanan Itali?”
“Tidak penting. Setidaknya aku bisa menemani Nayara untuk melihat kekasih tololnya dari kejauhan”*
Gerakan tangan Jeanno yang sedang melepas dasi sontak terhenti. “Apa katamu?”*
Mark menyandarkan punggungnya, merasa pegal karena seharian berdiri di depan komputer. “Kupikir pendengaranmu masih berfungsi dengan baik supaya aku tidak perlu mengulang perkataanku lagi”*
__ADS_1
“Kau tidak bisa melakukan ini, Mark”*
“Kenapa?” Dagu Mark terangkat, siap menantang Jeanno.*
“Kau bisa membahayakannya”*
Mark tersenyum sinis. “Omong kosong. Kau terus berkata demikian tanpa pernah memberinya kabar, atau kepastian. Dia mengirimkan voicemail setiap hari, menceritakan harinya. Kutebak, kau pasti sudah mendengarnya?”*
Jeanno berbalik, melepas dasinya dan meletakkannya sembarang. “Ya, aku mendengarnya”*
“Dan kau tidak mau repot-repot membalasnya? Benar-benar brengsek. Kupikir kau sudah berubah, tapi ternyata kau masih Jeanno yang dulu. Aku akan menjaganya jika kau tidak becus menjadi kekasihnya. Aku akan menjaga Nayara dari pria brengsek yang menyia-nyiakannya. Jika awalnya aku berbuat seperti itu karena kau yang minta, maka mulai detik ini, aku akan menjaganya karena kemauanku sendiri”*
Mark bangkit mendekati pintu keluar, terlalu lama disini bisa gila dibuatnya.*
“Papa mengancamku, Mark”*
Tanpa membalikkan badan, langkah Mark terhenti.*
“Papa mengancamku akan menyakitinya jika aku masih berhubungan dengan Nayara. Aku terpaksa mengikuti kemauannya. Kau tahu seperti apa papaku. Setidaknya dia baik-baik saja selama jauh dariku. Sampai aku bisa menemukan jalan keluar hubungan kami”*
Mark terkekeh. Lebih kearah mengejek. “Papamu sudah menyakitinya”*
“Maksudmu?”*
“Ah, kau pasti tidak tahu ya?” Mark memutar tubuh. “Nayara dikeluarkan dari kampus. Beasiswanya dihentikan tanpa alasan yang jelas. Belum cukup, dia juga diusir dari asrama. Nayara tidak bisa menyewa flat karena tabungannya tidak cukup untuk membayar uang deposit. Untuk bisa berteduh, kekasihmu tidur di toko beralaskan kasur tipis. Tapi dia tidak pernah bercerita padamu karena dia ingin kau mendengar kabar yang baik tentangnya! Bukan kesengsaraan yang selama ini dia pendam sendiri. Dia membutuhkanmu, bajingan!”*
“Kau seharusnya tidak mendekatinya, Jeanno. Kau menghancurkan mimpi seorang gadis. Ah tidak hanya mimpi kurasa, tapi juga hatinya. Hati yang sudah kau ambil dan dia harap akan kau simpan dengan baik. Justru kau remukkan dalam genggaman tanganmu”*
Jeanno masih mematung. Tubuhnya membeku dan wajahnya pucat. Namun itu tak membuat Mark merasa kasihan sama sekali.*
“Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah orang luar yang kebetulan mengetahui bahwa kalian adalah sepasang kekasih. Tapi bahkan dari pandanganku saja aku bisa menilai bahwa kau, kau Jeanno.. tidak pantas untuk Nayara. Dia terlalu berharga untukmu”*
“Aku pergi. Temui aku kalau kau sudah kembali pada kewarasanmu”*
Mark menutup salamnya dengan gebrakan pintu. Sepeninggal Mark, tubuh Jeanno melemas hingga ia tak mampu menopang tubuhnya berdiri. Jeanno ambruk, memukuli dadanya yang sesak akibat rasa bersalah yang dalam. Jadi selama ini.. Nayara begitu menderita, begitu menderita namun dengan sabar ia tutupi darinya? dari kekasih pengecut sepertinya?*
__ADS_1
***