Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 55. Blank Space


__ADS_3

Hannah tidak pernah selega ini melihat Mr Louis mendekatinya ditengah-tengah pertemuannya dengan Arman. Disaat ia gugup setengah mati dan bingung harus menjawab apa, Louis datang, merangkul pinggangnya dan mengatakan bahwa ia sudah menunggu lama. Sebelum menghela Hannah menuju ruang VIP tempatnya menari. Meninggalkan Arman yang masih pada ekspresinya.


Ekspresi marah.


Sekarang perempuan itu bimbang. Haruskah ia menelpon Judith dan memberitahu kawannya? Ya, mungkin itu lebih baik. Setidaknya Judith bisa lebih waspada jika sudah mengetahui bahwa Arman telah kembali. Mengetahui karakter pria itu, Hannah sudah tau pasti bahwa Arman tak akan melepas Judith mau sejauh apapun kawannya bersembunyi.


“Siapa tadi?”


Hannah yang baru saja selesai menari dan memakai jubahnya, mengangkat wajah. Untuk kemudian bertatapan dengan netra biru laut milik bosnya. “Bukan siapa-siapa, hanya pengunjung Victoire”


Well, wajar saja Louis tidak tau siapa Arman. Pria itu memang pemilik Victoire, tapi ia sudah mempercayakan seluruhnya kepada Johnny. Dan menurut Hannah, Louis juga tidak peduli dengan siapa pengunjung royal club malamnya. Selama mereka membayar dan patuh pada aturan Victoire, Louis tidak akan ambil pusing untuk menghapalkan nama-nama mereka.


“Tidak terlihat seperti bukan siapa-siapa. Tubuhmu menegang seperti ular kobra ketika berhadapan dengannya, sayang”


Hannah terdiam. Hatinya ingin sekali menggertak Louis untuk tidak memanggilnya seperti itu. Membuat panggilan dari Mark terdengar kurang spesial. “Dia pengunjung setia Judith”


“Judith? Ah, benar. Dia sedang cuti. Lalu?”


“Dia tidak tau kalau Judith cuti. Jadi dia kemari untuk mencarinya”


Louis menganggukkan kepala mengerti. Pria itu membetulkan letak jasnya sebelum berdiri, melangkah mendekati penarinya yang sedari tadi menunduk, menghindari tatapannya. Ketika sudah berhadapan, Louis menggeram menyadari Hannah masih membuang muka, seakan enggan menatapnya. Dengan jarinya, ia mengangkat dagu Hannah supaya memandangnya.


“Kau cantik sekali, Hannah”


Hannah tak bisa berkutik, tubuhnya seakan terikat oleh tali tak kasat mata yang membuatnya hanya diam mematung. Ketika Louis menunduk, mencium bahunya yang tertutup jubah satin. Hannah masih terpaku ketika tangan pria berdarah campuran itu menyingkap kain satin itu hingga bahunya telihat. Seperti tadi, Louis mengecup bahunya. Sebetulnya bukan hal aneh, karena setiap usai menari, bosnya selalu memberikan kecupan di bahu, seperti sudah kebiasaan. Namun kali ini terasa aneh, tangan pria itu turun, bertengger di pinggangnya ketika hidung tinggi itu menyapu bahu, tulang selangka dan lehernya.


Hannah tercekat ketika bibir Louis berhenti pada perpotongan tulang selangkanya, memberinya kecupan basah dan sedikit gigitan yang membuatnya refleks melenguh. Demi Tuhan, ia tak pernah seintim ini dengan pria manapun bahkan dengan Mark yang notabene kekasihnya sendiri. Bahkan ketika Louis semakin dalam mencumbunya hingga tanda merah itu timbul di permukaan kulitnya, Hannah masih diam. Normalnya, ia pasti akan mundur dan menendang ******** pria yang sudah kurang ajar menyentuhnya. Tapi sekarang, ia merutuki dirinya yang seakan takluk akan perlakuan Louis yang mulai melewati batas.


Louis mendongak, mata birunya menelisik bagaimana Hannah menggigit bibirnya erat untuk meredam lenguhan supaya tak lolos darinya. Ia tersenyum, lebih tepatnya menyeringai menyadari kekakuan Hannah menjadi keuntungan baginya. Namun sebesar apapun keinginannya menyeret perempuan itu ke ranjang, ia harus sabar. Hannah akan membuka kakinya dengan sukarela jika ia tak terburu-buru.


Usai mengecup kissmark hasil karyanya, tangan Louis kembali membetulkan jubah satin itu seperti semula, kemudian memberikan satu kecupan di dahi Hannah. “Maaf, aku melewati batas”


Hannah membuang muka, berusaha mengumpulkan tenaga yang semula pupus entah kemana. Perempuan itu berbalik, keluar meninggalkan Louis di ruang VIP seorang diri.


*

__ADS_1


Judith tidak bisa tidur!


Bagaimana ia bisa terpejam ketika aroma parfum Jeanno masih melekat di tubuhnya usai adegan berpelukan yang nyaris setengah jam terjadi?


Ia melirik kearah Aera. Si kecil sudah terlelap satu jam yang lalu usai menandaskan satu gelas susu lagi. Meninggalkan Judith dalam kesendirian yang mengusik akibat kantuk yang tak kunjung datang. Dadanya terlalu ramai untuk membuat matanya terpejam. Usai dekapan mendadak itu, Jeanno melepaskan pelukannya dan mengucapkan selamat malam sebelum pergi ke kamarnya di lantai dua. Hanya itu. Tak ada penjelasan, atau apapun.


Tapi memang apa yang Judith harapkan? Mungkin pria itu hanya terbawa suasana karena sekali lagi penampilannya mengingatkannya kepada Nayara yang sudah lama tiada.


Jika bagi Jeanno tidak ada artinya, lantas bagaimana dengannya? Judith memegang dadanya yang masih bergemuruh. Pelukan itu terlalu nyata baginya. Lembutnya lisan Jeanno usai mengucap selamat malam menjadi kaset rusak yang terus-menerus bergaungan dalam pendengarannya. Apa yang terjadi padanya? Apa dia benar-benar telah jatuh dan menyerah?


Judith mengubah posisi tidurnya gusar, untunglah lelap Aera tidak terganggu. Dua bulan, baru dua bulan ia menjalani perjanjian ini, namun hatinya sudah dibolak-balikkan oleh sang tuan muda. Entah apa yang terjadi pada empat bulan kedepan, hanya semesta yang tau.


Judith takut. Selama ini ia berhasil membentengi hatinya dari rayuan busuk pria manapun. Terimakasih pada ayahnya yang bajingan dan pria asing yang melukainya dulu. Dua sosok lelaki yang membuatnya tak percaya dengan omong kosong cinta. Dan dalam kurun waktu itu, Judith berhasil menjalani hari-harinya dengan tenang, tanpa beban apapun karena tak pernah jatuh cinta. Begitupun ketika bertemu Jeanno, ia dengan percaya diri tak akan pernah jatuh cinta pada tuan tampan itu.


Tapi jika harus menyerah, bolehkah Judith ‘menikmati’ setiap sisa waktu bersama Jeanno, dan juga Aera sebelum pada akhirnya ia harus kembali pada kehidupan lamanya?


Judith bangkit, menghela nafas panjang. Ia menoleh kearah Aera yang terlihat sangat pulas. Dibenahi selimutnya yang sempat tersingkap. Kemudian wanita itu keluar pelan-pelan, rasanya menghirup udara puncak larut malam ini mampu meneduhkan pikiran, dan mungkin menjernihkan hatinya.


*


Jeanno tak bisa tidur. Kantuk seakan sungkan menghampirinya. Padahal ia melalui hari yang melelahkan. Bermain seharian di taman bermain, menyetir berjam-jam ke puncak, menyiapkan ini itu. Benaknya terus kembali pada bayangan beberapa jam lalu, ketika ia dengan lancangnya memeluk Judith. Jika ditanya kenapa, Jeanno sendiri tidak tau. Ia hanya mengikuti instingnya. Atau mungkin ia merindukan Nayara.


Atas kegusarannya, pria itu memutuskan untuk pergi ke halaman depan sembari merokok. Mungkin melihat kelamnya langit malam dan menghirup sejuknya udara, mampu membuatnya mengantuk.


“Astaga, aku kira siapa”


Jeanno menoleh, mendapati Judith yang tengah memegang dadanya akibat terkejut melihatnya di halaman depan sendirian.


“Oh, kau belum tidur? Aku tidak bisa. Jadi kuputuskan untuk merokok di depan”


Judith merekatkan jaketnya dan berjalan mendekati Jeanno. “Aku baru tau tuan merokok”


Lawan bicaranya tersenyum. “Aku merokok kalau ingin saja. Tidak ada keharusan yang membuatku kecanduan. Aku bisa berhenti kapapun aku mau”


Judith mengangguk paham.

__ADS_1


“Kau mau?” Jeanno menyodorkan kotak rokoknya, membuat Judith memandangnya heran. “Tapi.. poin perjanjian itu—“


“Aku tau. Tapi kurasa tidak masalah, setidaknya untuk kali ini. Anggap saja kita melanggar salah satu poin itu, karena alasan mendesak”


Judith tersenyum sedih. Andai saja ia bisa melanggar poin terakhir yang Jeanno berikan. Juga karena alasan mendesak. Judith memandangi rokok yang ditawarkan Jeanno. Kemudian ia menggeleng sebagai respon penolakan.


“Kenapa?”


“Aku sebetulnya bukan perokok aktif, tuan. Seperti tuan, aku hanya merokok jika ingin saja. Bukan suatu keharusan juga bagiku, sekalipun aku bekerja di klub malam”


“Jadi sekarang sedang tidak ingin?”


Judith menggeleng.


Hening. Keduanya seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai pada akhirnya Jeanno memecah sunyi.


“Aku terakhir kemari bersama Nayara. Beberapa bulan sebelum kondisinya menurun, dia memintaku untuk membawanya berlibur kemari. Katanya dia ingin menghabiskan waktu berdua denganku. Tanpa bisa kuketahui bahwa itu terakhir kalinya aku kemari bersama Nana..”


Judith masih mempertahankan pandangannya ke langit malam, enggan menoleh. Enggan melihat rona kesenduan di wajah tampan tuannya. “Pasti banyak memori indah yang tersimpan disini..”


“Ya.. aku terlalu terbayang sosoknya di setiap sudut villa ini. Dari pertama kali disaat dirinya masih segar, sampai kunjungan kedua sekaligus terakhir dimana ia sudah kurus dan pucat”


“Tuan merindukannya?”


Jeanno terkekeh. “Tentu saja, Judith. Aku merindukannya setiap detik”


Ada denyutan nyeri yang berbanding terbalik dengan getaran indah yang Judith rasakan. Mengetahui fakta bahwa memang Jeanno memperlakukannya manis karena semata-mata ia mengingatkannya pada Nayara. Bukan karena ia adalah Judith.


“Jika.. jika tuan merindukan Nayara….”


Judith memejamkan matanya, menahan nafas gugup hanya untuk sekedar melanjutkan kalimatnya.


“Ya?”


“Jika tuan merindukan Nayara..” Judith berhenti memandang langit untuk memberikan atensi sepenuhnya kepada Jeanno.

__ADS_1


“Tuan bisa menggunakanku untuk melepaskan rindu itu…”


**


__ADS_2