
Kiran membuang nafas panjang. Berharap keputusan yang ia lakukan tadi adalah tindakan yang benar. Sekalipun sesak di dada ketika harus melihat Tyona menangis. Sekalipun ia harus melemparkan kenyataan pahit kepada sahabatnya. Spesialis obsgyn itu memijat keningnya, pikirannya melayang pada perkataan sang adik tempo hari.
“Kak, dokter Jeffrey kemarin datang ke poliku. Astaga, dia sangat tampan, bertambah tampan dari yang terakhir kali aku lihat”
“Untuk apa Jeff datang kesana?”*
“Tentu saja untuk memeriksakan kandungan istrinya. Ini sudah kedua kalinya mereka datang. Tapi aku heran mengapa dia tidak datang kepadamu saja yang jelas-jelas satu rumah sakit dengannya”*
“Kuberitahu kak, usia kandungan istrinya sudah memasuki bulan keempat. Nyonya Renatta maupun calon bayi mereka sangat sehat. Aku penasaran akan seperti apa wajah anaknya nanti, pasti sangat rupawan”*
“Renatta?”*
“Iya, nama istrinya… Renatta, kan? Karena itu yang tercantum dipendaftaran. Dan lagi ketika mendengar hasil pemeriksaan aku sempat mendengar mereka bersyukur betapa sehatnya bayi mereka”*
Kiran semula tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga Tyona. Tapi mengetahui kenyataan bahwa sahabatnya dipermainkan hingga seperti ini, hatinya ikut sakit. Terlebih nama Anna yang sudah tercoreng akibat rumor yang tak jelas itu, membuatnya dilihat seperti pengkhianat yang seharusnya ialah korbannya. Sementara sang pengkhianat yang sesungguhnya sedang berleha-leha, menikmati peran sebagai korban dan mencuri waktu untuk bermesraan dengan selirnya.
Oh, selingkuhan lebih tepatnya.
Kiran tau Tyona tidak akan percaya begitu saja jika ia mengatakan yang sebenarnya. Jadilah ia berpura-pura seperti tadi. Melihat Tyona yang dikenalnya sebagai wanita yang tangguh, nampak terluka dengan airmata yang bercucuran, nyaris membuat Kiran juga ikut menangis. Disaat bersamaan ingin menonjok Jeffrey. Astaga, dimana otak bajingan? Dia sudah mendapatkan istri sebaik Tyona, namun dengan tak tahu terimakasihnya malah bermain belakang.
Wanita itu menggeleng. Sudah cukup sampai disini. Sebenci-bencinya ia dengan Jeffrey, bukan kapasitasnya untuk bertindak lebih jauh. Sekarang yang bisa Kiran janjikan adalah tetap berada disisi Tyona sebagai rekan sejawat, sekaligus sahabat yang baik.
**
Hannah bersyukur kondisi kesehatan ibu dan adik bungsunya berangsur membaik. Itu artinya ia bisa kembali ke kota dan bertemu Mark. Sudah tak terbendung rasa rindunya akan bertemu sang kekasih. Namun disisi lain, jika ia kembali, itu artinya ia harus menjalani rutinitas lama, menari untuk Louis.
Pernah terpikirkan dalam benaknya, apa ia kabur saja? lari dari perjanjian yang telah ia sepakati dengan Louis. Tapi tentu tidak akan sesederhana itu. Hannah yakin Louis tidak akan tinggal diam jika ia melarikan diri. Tentu saja, ia sudah meminjam uang yang tak sedikit, siapa yang tidak marah jika si pengutang kabur tanpa tanggungjawab begitu?
__ADS_1
Omong-omong, pria bermata biru itu hanya membalasnya dengan satu kata singkat ‘Ya’ ketika ia mengirim pesan untuk pulang ke kampung halaman. Hari-hari Hannah lalui tanpa pesan atau telpon darinya, jangan salah paham, bukannya Hannah mengharapkan. Namun Louis terlihat sangat tenang dan percaya pada Hannah, jika pada akhirnya Hannah tetap akan kembali. Mungkin Louis sudah menemukan penari lain yang lebih mempersona untuk menggantikan Hannah. Well, ia harap kenyataannya seperti itu. Dengan begitu ia bisa kembali pada job lamanya, sebagai penari ‘biasa’.
“Kak”
Tersentak dari lamunannya, Hannah menoleh melihat Haikal duduk di sampingnya. “Ya?”
“Ibu memanggilmu untuk makan”
“Nanti. Aku ingin disini dulu”
Hening. Bertahun-tahun hidup di kota membuat Hannah merindukan sunyinya pedesaan terutama di malam hari. Dimana ia melewati malam dengan tenang, tanpa menjajakan bagian tubuhnya untuk dilihat banyak pasang mata ‘lapar’.
“Omong-omong, terimakasih”
Hannah menoleh, melihat adik sulungnya yang mengucapkan kalimat tersebut tanpa melihat kearahnya. Ia lantas tersenyum. Haikal memang anak lelaki yang dingin, jarang menunjukkan kasih sayangnya namun Hannah tau ia anak yang baik.
“Untuk?”
“Untuk semuanya. Jika tidak ada Kakak, hidup kita semua pasti sudah berantakan sejak lama”
Seulas senyum kecut terulas disana, Haikal adiknya yang nyaris tak pernah mengucapkan kata terimakasih, memandangnya sebagai sosok pahlawan penyelamat keluarga. Jika ia tau pekerjaan apa yang sesungguhnya Hannah jalani untuk menghidupi keluarganya disini, apakah gelar pahlawan masih Haikal sematkan untuknya?
“Aku tidak sabar ingin lulus dan bekerja. Aku tidak mau Kakak menanggung sendiri. Terlebih dengan situasi keluarga kita yang rumit akibat hutang Ayah yang seperti tidak ada ujungnya”
“Ck, terlalu lama! Sekalipun kuliah, aku bisa sambil bekerja. Walaupun mungkin hasilnya tidak seberapa karena paruh waktu, tapi setidaknya aku bisa memakai uang itu untuk membeli keperluanku sendiri”
“Haikal, Kakak tidak keberatan sama sekali jika harus menafkahi keluarga kita. Justru Kakak keberatan jika kau kuliah sambil kerja. Kakak takut fokusmu terganggu dan mengakibatkan nilaimu turun. Kau bisa dan boleh membantu Kakak, tapi nanti. Sementara, pakai tenagamu untuk membantu ibu dan Helga jika ada pekerjaan rumah yang berat”
Haikal menoleh, beberapa detik berselang ia mengangguk.
“Bagus, anak pintar”
“Beberapa hari ini aku melihatmu fokus sekali bertukar pesan. Apa itu kekasihmu, Kak?”
Hannah mengulum senyum, kemudian mengangguk malu. “Ya”
“Ceritakan bagaimana ia”
Sang Kakak tertawa kecil melihat antusias adik sulungnya sampai memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengannya. “Eum.. dia sangat tampan, sangat baik, sangat mencintaiku. Dia banyak membantuku dalam banyak hal. Dan yang lebih penting, dia menerimaku apa adanya”
“Wah beruntung sekali. Bagaimana bisa dia mau bersama Kakakku yang dekil ini?”
__ADS_1
“Apa katamu? Dekil? Sini, sini biar kucubit bibirmu”
Untuk selanjutnya, Haikal mengaduh karena telinganya dijewer oleh sang Kakak. Tak ada yang serius, karena detik berikutnya mereka tertawa bersama.
**
“Jeanno Alexander memulai perusahaannya sekarang dengan tangan sendiri, tanpa bantuan koneksi dari Ayahnya. Kau tentu pernah mendengar nama Thomas Alexander, bukan?”
Arman mengangguk. “Ya. Thomas Alexander, pengusaha sukses yang tidak hanya cerdas namun juga bertangan dingin. Semua proyek yang ditanganinya selalu berhasil, bahkan ia membantu banyak perusahaan kecil berkembang”
“Ya. Tuan Thomas ada ketika Iris Group sempat krisis lima belas tahun yang lalu. Juga ketika Lou Group sempat terkena dampak global keuangan dunia delapan tahun lalu. Tuan Thomaslah yang membantu dua perusahaan itu untuk bangkit, hingga besar seperti sekarang. Dan tak terhitung ada berapa banyak perusahaan yang telah ia bantu diluar sana. Sudah lima tahun beliau dan istrinya menetap di Sidney”
“Dia ayah Jeanno Alexander”
Arman menganga. Memandang ucapan sekretarisnya Ivan, berharap pemuda itu berbohong. Namun gestur Ivan tak menunjukkan tanda-tanda itu. Dan bekerja dengannya hampir lima tahun, Arman mengenal baik Ivan. Tidak mungkin pria ini berbohong atau memberinya informasi asal.
“Kuranglebih tujuh tahun yang lalu, Tuan Thomas mengusir putra tunggalnya, Jeanno. Membuat pria itu pergi hanya dengan membawa nama Alexander dibelakang namanya”
“Mengapa dia mengusir satu-satunya penerus bisnis?”
Sebelum Ivan menjawab, ia lebih dulu meletakkan map keatas meja Arman. Yang dibuka oleh bosnya, menampakkan beberapa lembar foto Jeanno bersama wanita yang tak asing baginya.
“Sederhana saja, karena Jeanno jatuh cinta pada gadis sederhana bernama Nayara”
Seperti tak habis rasa terkejutnya, Arman dibuat tak berkedip melihat lembaran momen yang diabadikan sebagai foto. Jeanno bersama wanita yang mirip dengan wanita yang beberapa waktu lalu Jeanno kenalkan sebagai istrinya. Wanita bernama Nayara. Wanita yang memiliki kemiripan hampir 100% dengan Judith.
“Tuan Thomas tidak menyukai pilihan Jeanno, dengan alasan latar belakang yang kurang jelas. Karena Nayara adalah anak yatim piatu, terlebih Tuan Thomas sudah memiliki pilihan sendiri sebagai pendamping Jeanno. Dan disitulah beliau memberikan dua pilihan, keluarga atau Nayara. Jeanno memilih Nayara, membuatnya harus menjalani hidup penuh kesederhanaan, sebelum sedikit demi sedikit merintis usaha, yang lambat laun membesar dan berkembang pesat. Sepertinya kecerdasan Ayahnya menurun kepada Jeanno”
“Jeanno Alexander adalah sosok yang sangat tertutup. Bahkan ketika nama dan perusahaannya sudah besar, ia jarang terlihat datang ke acara penting. Sekalipun harus datang, ia akan datang sendiri. Media sudah tau kalau dia menikah, tapi hanya sedikit yang tau informasi mengenai istrinya”
“Baru kemarin, di acara Iris Group Jeanno Alexander datang dengan membawa istrinya. Nyonya Nayara Alexander yang mempesona. Bahkan beritanya muncul diberbagai media, membawa respon positif. Antara mereka senang dengan Jeanno yang mulai terbuka, sekaligus terpesona dengan kecantikan Nayara”
Arman termenung. Jadi wanita yang ia temui malam itu… adalah benar-benar Nayara, istri Jeanno? Bukan Judith seperti yang ia kira? Tapi melihat reaksi Jeanno yang murka ketika Arman menyakiti wanita itu, bukan tidak mungkin memang benar bahwa ia adalah Nayara yang asli.
“Kau yakin semua informasi ini sudah benar, Ivan?”
Ivan mengangguk sekilas. Tanpa perlu menjelaskan darimana ia mengepul informasi tersebut. Arman mengangguk, kemudian meminta Ivan meninggalkan ruang kerjanya.
Sepeninggal Ivan, Arman membuang nafas kasar. Tangannya mengendurkan dasi yang seakan membebat lehernya. Jika memang wanita tersebut adalah Nayara, itu artinya ia telah melakukan kesalahan besar. Ayahnya pasti akan murka jika mendengar ia telah melecehkan istri Jeanno.
Hah, Arman benar-benar dalam masalah.
__ADS_1
*