
Judith nyaris tersedak melihat Jeanno yang menghampirinya dengan atasan tanpa lengan berwarna putih, memperlihatkan bisepnya yang menonjol, sementara rambut pria itu sudah kering. Tergantikan dengan kacamata yang baru kali pertama Judith lihat.
“Kau seperti melihat hantu”
“Itu.. ehm” Judith meraih gelas, meneguknya pelan. “Aku baru pertama kali melihat tuan memakai kacamata”
“Ah ini, mataku sebenarnya minus, tapi aku tidak suka memakai kacamata. Jadi untuk sehari-hari aku lebih suka memakai softlens bening untuk membantu penglihatanku”
Judith manggut-manggut mengerti. “Makanlah tuan, aku pesan makanan chinese, tidak apa-apa kan?”
“Ya, tidak apa. Tidak ada makanan yang kuhindari” Jeanno meraih piringnya, memakannya lahap.
“Jumat depan, maukah kau menemaniku ke acara kantor?”
Judith menghentikan kunyahannya. “Ya?”
“Bukan acara kantorku. Tapi pembukaan cabang kantor klienku, kami bekerja sama dengan baik jadi aku merasa harus menghadiri acaranya”
“Tapi, bagaimana jika orang lain melihatku?”
Jeanno tertawa. “Memang kau hantu yang tidak boleh dilihat? Tenang saja, Judith. Seperti yang kubilang dulu, hanya ada sedikit orang yang tau mengenai kematian Nayara. Itupun orang-orang yang kupercaya—walaupun pada akhirnya kedua orangtuaku tau-. Aku jamin mereka tidak akan mengetahui atau bahkan menyadari bahwa kau bukan Nayara”
“Aku mau, tapi.. apa tidak apa-apa?”
Pria itu mengangguk. “Ya, tidak apa-apa. Ada banyak dari mereka yang membawa pasangannya, jadi kurasa itu hal normal”
‘Kecuali fakta bahwa aku bukanlah pasangannya’ batin Judith, yang entah mengapa mendadak kehilangan nafsu makan.
**
Tyona mengitari setiap sudut rumahnya dua kali, berharap menemukan sosok Jeffrey disana. Tapi nihil, kunci mobil dan jaketnya juga tidak ada. Sudah pasti suaminya tak ada di rumah. Ponselnya juga ditinggal, sepertinya pria itu pergi dengan terburu-buru. Apa ada panggilan dari rumah sakit?
Enggan berpikiran negatif, Tyona memutuskan untuk menelpon poli kejiwaan. Akan tetapi panggilannya tak kunjung diangkat, ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Tyona menyerah. Wanita itu meraih ponsel Jeffrey yang berwallpaper polos. Bukan foto pernikahan mereka seperti yang terakhir ia lihat. Benda itu terkunci dengan passcode angka. Sebesar apapun keingintahuannya, Tyona menahan diri untuk tidak mencoba menebak kode ponsel Jeffrey.
Bukan hanya karena tidak sopan, tapi ia takut. Takut jika tebakan angkanya benar, dan dirinya menemukan sesuatu yang nantinya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
Tyona menyerah sekali lagi. Cukup untuk hari ini. Cukup dengan segala omong kosong yang ia dengar. Dirinya sudah lelah sekali, baik fisik maupun mental. Akan hal tersebut, Tyona memutuskan untuk meletakkan ponsel Jeffrey di nakas, kemudian masuk ke selimut, berharap menjemput mimpi dengan damai. Karena tidur adalah satu-satunya pelarian untuk saat ini.
**
Hannah membungkuk perlahan ketika musik usai. Hatinya lega bukan main, besok hari liburnya dan setidaknya ia bisa menjauh barang sebentar dari Louis dan segala ***** bengek Victoire yang membuatnya muak.
Gadis itu meraih jubah satin hitamnya, seperti biasa ia pakai kembali dengan tergesa supaya tak ada lagi celah bagi Louis untuk memandangi bagian tubuhnya yang terbuka. Malam ini berbeda dari biasanya, perasaan Hannah buruk, membuatnya kesulitan untuk mengikat tali jubahnya sendiri. Hal itu dilihat oleh Louis, yang bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Hannah. Sayangnya, gadis itu terlalu fokus pada ikatan jubahnya sehingga tidak menyadari sosok tinggi itu sudah berada di hadapannya.
Tangan Louis menahan jemari Hannah yang berkutat pada tali jubah, membuat gadis itu refleks mendongak hanya untuk bertukar netra dengan lautan biru laut yang memandangnya lekat.
Ruangan VIP itu begitu hening usai musik mati. Tempat itu kedap suara, sehingga hingar bingar dari luar tidak terdengar sama sekali. Yang tersisa hanya deru nafas keduanya yang saling bersautan. Satu nafas kegugupan, satu lainnya nafas gairah.
Louis mengangkat tangannya, mengusap pipi Hannah lembut. Selembut yang ia mampu supaya gadis itu tidak terkejut dan panik. Jemarinya yang panjang mengusap ranum lembut milik Hannah. Dari jaraknya yang dekat, ia bisa menghirup aroma lipgloss strawberry yang penarinya kenakan. Membuatnya tak sabar untuk mengecap manisnya. Namun sekali lagi, ia tak boleh terburu-buru. Jika ingin mendapatkan wanita seperti Hannah, hanya kesabaran jalan utamanya.
Louis memajukan kepalanya, dengan tangan lain yang menahan tengkuk Hannah supaya gadis itu tidak mundur. Dan memang, Hannah tidak menjauh sama sekali. Louis menarik bibirnya keatas, puas dengan gestur tanpa penolakan yang penarinya berikan. Detik berikutnya, Louis mempertemukan ranum mereka. Awalnya hanya menempel saja, namun manisnya membuat pria asing itu menggila.
Hannah refleks memejamkan matanya erat. Tangannya yang bebas mendorong dada pria itu menjauh, namun tenaganya tak seberapa ditambah Louis yang menggerakan bibirnya lembut, membuat Hannah lemah. Louis mencumbunya dengan luarbiasa gentle, seperti bagaimana Mark melakukan itu padanya. Pria bermata biru itu begitu lihai menemukan titik lemah Hannah. Yang berhasil ia pakai untuk membuatnya tak mampu melawan.
Awalnya kecupan, namun kebutuhan mendesak Louis untuk bergerak lebih liar. Menggoda Hannah untuk membalas cumbuannya. Lambat laun, tangan yang semula berontak, kini berakhir mengalung di pundaknya. Louis mengecap, menggigit, mendominasi permainan hingga pada akhirnya terdengar lenguhan yang semerdu dawai. Ketika kaki Hannah melemas, Louis menopangnya dengan mengangkat pinggangnya, membiarkan kaki penarinya mengalung di pinggangnya.
Ruangan VIP yang semula dingin, kini panas oleh aktifitas dua manusia di dalamnya yang seperti lupa daratan. Jubah satin yang belum terikat sempurna, kini sudah terbuka kembali, menampakkan balutan indah tubuh Hannah yang terbalut pakaian menarinya tadi.
Louis memutus cumbuannya, ia menegakkan kepala, melihat bagaimana ia telah menghancurkan Hannah. Kepalanya pening, darahnya mendidih akan gairah yang sudah memuncak. Ia menginginkan Hannah, sungguh ingin membawa gadis itu menemaninya menggapai putih bersama.
“J-jangan..” Hannah, yang masih tersisa sedikit akal sehatnya, mencegah tangan Louis yang meraih balutan kain pada tubuh bagian bawahnya. Gerakan itu terhenti, Louis mengerutkan dahi, mengira hanya tinggal selangkah lagi, Hannah akan jatuh ke pelukannya.
“Kau menginginkanku sama besarnya seperti aku menginginkanmu malam ini. Lalu apa salahnya, Hannah?”
Hannah bangkit, membetulkan penampilannya yang berantakan dan jubahnya yang terbuka. “Tadi hanya kesalahan, tuan. Aku.. aku terbawa suasana”
Louis menggeram, membawa rahang Hannah mendekatnya. “Kau membalas cumbuanku sama bergairahnya dan kau bilang itu sebuah kesalahan?”
Ia sungguh tersinggung, harga dirinya sebagai pria terusik akan kalimat yang ia dengar.
“T-tuan boleh melakukan semau tuan, tapi tidak dengan satu itu. Kumohon.. itu satu-satunya yang kujaga untuk suamiku kelak”
__ADS_1
Louis melepaskan rahang Hannah perlahan. Kemudian terkekeh, sembari memandang Hannah takjub. “Kau sudah sejauh ini, sayang. Dan kau masih berpikir bisa membangun pernikahan yang.. sempurna?”
Hannah mengangguk, pandangannya buram oleh airmata yang menggenang. “Aku tau aku masih memiliki hutang. Aku cukup tau diri untuk melakukan pekerjaanku sampai hutangku lunas. Tapi bukankah pekerjaanku hanya menari? Tidak ada dalam kontrak kerja yang tertulis aku harus memuaskan tamuku. Dan itu yang akan kulakukan sampai hutangku lunas”
Hannah bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Tuan Louis bukanlah pengecualian”
Louis tertawa sedetik setelah Hannah pergi meninggalkannya sendiri. Ia sungguh kagum dengan tingginya harga diri Hannah, membuatnya semakin semangat untuk menghancurkan wanita itu dalam genggamannya.
“Kupikir aku bisa memakai cara lembut, tapi ternyata kaulah yang memaksaku untuk memilih cara yang lain, Hannah sayang”
Diluar, Mark beberapa kali mengecek isi roomchatnya dengan Hannah yang masih belum mendapat balasan. Seharusnya ia sudah keluar lima belas menit yang lalu. Telponnya kepada Johnny juga seperti diabaikan oleh pria itu. Membuat Mark mau tak mau hanya bisa menunggu.
Ketika sorot matanya menangkap sosok Hannah yang sedang berjalan cepat kearahnya, Mark tersenyum lega. Gadisnya nampak lelah tapi setidaknya ia tak kurang suatu apapun.
“Sayang, aku pikir kau sudah pul—“
Mark tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ranumnya dibungkam dengan milik Hannah. Gadis itu mencumbunya dengan tergesa dan bisa Mark rasakan pundaknya bergetar. Tanpa membalas, Mark menjauhkan kepala, memutus benang saliva, bermaksud bertanya ada apa gerangan? Namun belum sempat bertanya, Hannah sudah kembali menarik tengkuknya, kali ini jauh lebih dalam dan menuntut. Mark masih diam, membiarkan kekasihnya melakukan apapun yang ingin ia lakukan sekarang. Jika Hannah ingin memimpin permainan, akan ia biarkan. Mark hanya membalas seadanya, sekedar memberitahu Hannah bahwa ia menyukai pagutan mereka.
Berselang menit, Hannah menjauhkan bibirnya, menyatukan dahi dan hidung mereka.
“Hannah, ada apa?”
Yang ditanya tak langsung menjawab. Ia hanya memejamkan mata, menikmati hangatnya sapuan nafas Mark yang menyapa wajahnya. Aroma khas prianya yang mampu membuatnya tenang. Tolong, apapun itu, Hannah ingin melupakan kejadian di ruang VIP tadi.
“Sayang?”
Hannah membuka mata, usai memantapkan segala keputusan yang telah tersusun. Ia memandang binar coklat milik kekasihnya, melihat bagaimana kilah kecemasan tergambar disana. Detik itu, Hannah yakin pilihannya sudah tepat.
“Mark..”
“Ya?”
Hannah menghela nafas panjang. “Ayo bercinta”
*
__ADS_1