Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 163. Man Who Can’t Be Moved


__ADS_3

Kembali dari minimarket yang terletak tak begitu jauh dari rumah Jeanno, Judith bingung melihat mobil tuannya yang terparkir melintang yang setengah badannya menutupi pagar. Begitu juga dengan pintu rumah yang dibiarkan terbuka lebar yang padahal seingatnya sudah ia tutup rapat sebelum pergi. Tak ingin berasumsi macam-macam, Judith memilih untuk melangkah masuk pelan. Berharap memang Jeanno yang ada didalam dan bukan orang jahat.


“Please.. please”



*


Suara rintihan samar yang Judith perkirakan ada di dalam rumah. Ia sudah menyiapkan nomor telpon darurat di ponselnya, sehingga jika keadaan berjalan kendali ia bisa langsung tersambung dengan satu tombol.



Entah lega atau justru khawatir, karena yang ia lihat bukanlah sosok orang jahat, melainkan Jeanno yang duduk menutupi wajahnya disalah satu anakan tangga yang rendah. Pria itu nampak belum menyadari kehadirannya. Disisi lain ia khawatir, karena tak pernah dirinya melihat Jeanno Alexander seberantakan ini. Belum lagi kondisi rumah yang tak kalah kacaunya. Vas bunga yang bahkan sempat buat Jeanno bentak Aera karena tak sengaja menyenggolnya.


Konon, vas bunga kesukaan Nayara.


Vas bunga cantik yang sekarang teronggok tak beraturan, pecahannya berserakan kemana-mana. Pemikiran konyol muncul secara tiba-tiba, apa Jeanno terlihat seperti sekarang karena vas yang ia lindungi itu… pecah?


Tidak, Judith menggelengkan kepala. Menyingkirkan asumsi tak berdasar. Ada baiknya ia berjalan mendekat, untuk memastikan tuannya memang baik-baik saja.


“Tuan?”


Kejadian itu begitu cepat, ketika sebuah tangan kekar menarik pinggangnya untuk masuk dalam dekapan. Lengan itu menguncinya erat, dengan wajah yang ia rendahkan, bersembunyi diceruk lehernya. Jeanno memeluknya begitu erat, seolah takut jika sosoknya hanyalah semu.


“Tuan oke?”


Hanya deru nafas yang terdengar. Judith bisa rasakan cengkeramannya mengerat, sedikit membuatnya sesak nafas walaupun tidak sampai menyakiti. Dalam kebimbangan pukulan apa yang tuannya dapatkan sehingga bersikap seperti sekarang. Tangannya yang masih menggantung disisi tubuhnya, perlahan terangkat, mengusapi surai gelap Jeanno yang sudah mulai panjang melewati kerah. Biarkan ia lalui sekon dalam sunyi. Biarkan Jeanno merengkuhnya dalam dekap yang ia sendiri diam-diam rindukan.


“Jangan pergi…”


**


Judith merasa pendengarannya normal. Ia, jelas-jelas menangkap bibir Jeanno yang mengatakan ‘jangan pergi’ sebanyak kurang lebih tiga kali ketika mereka berpelukan. Judith memang tidak menanggapi apapun, karena ia kira pria itu sedang terpukul karena teringat akan Nayara, dan memeluknya karena menanggap ia adalah Nayara.


Skenario lama, huh?


Tapi ia tak mengira bahwa setelah menit bergulir usai berbagi pelukan, Jeanno langsung menarik pergelangan tangannya menuju ke kamarnya sendiri. Membuka koper dan mengemasi barang-barang Judith dengan terburu-buru.


“Kau harus pergi dari sini secepatnya”

__ADS_1


Dua peristiwa yang memiliki selisih waktu tidak banyak itu membuat Judith heran sekaligus bingung. Jeanno belum menjelaskan apa-apa pada dirinya yang memang belum bertanya. Judith hanya berdiri mematung melihat tuannya yang mengemasi pakaian dan barang-barangnya asal kedalam koper. Lemari yang semula masih terisi sedikit baju lamanya dulu, kini benar-benar kosong. Seakan Jeanno tidak memperbolehkannya menginap lagi disini untuk waktu yang akan datang.


Usai selesai berkemas, Jeanno pergi ke kamarnya. Kembali dengan jaket kulit hitam, topi dan masker yang warnanya senada.


“Pakai ini. Setelah itu kau harus pulang. Jangan pernah hubungi Aera lagi, selamanya”


Jeanno melangkah keluar, meninggalkan Judith yang masih belum bisa membaca situasi yang membuatnya bingung.


Dari sekian banyak tanda tanya, perkataan Jeanno mengenai memutus hubungan dengan Aera yang membuatnya sakit. Jadi ini adalah akhir dari segalanya…? Bahkan Judith belum sempat berpamitan dengan anak itu secara langsung. Aera baru saja sembuh dari sakitnya, bagaimana jika kondisinya drop lagi usai ia tinggalkan kedua kali?


“Judith, kutunggu dibawah 10 menit lagi”


Tapi Judith tidak memiliki pilihan lain, bukan? Ia tetaplah seseorang yang tak memiliki kuasa dibanding Jeanno dengan segala yang pria itu bisa. Sebulir airmata lolos, menyadari bahwa mungkin ini kali terakhir ia menginjakkan kaki dalam kediaman Alexander.


**


Judith turun 10 menit kemudian sesuai dengan pakaian yang Jeanno kehendaki. Netranya saling menyapa manik mata milik tuannya yang langsung memalingkan wajah usai memandangnya sendu. Tak hanya Jeanno, disamping pria itu berdiri Marko Sebastian dan dua pria berbadan tinggi besar yang asing.


“Judith, kau sudah siap?” Mark bertanya. Direspon anggukan kepala oleh Judith. “Sebenarnya ada apa, kak?”


Mark terdiam sejenak, mengusap dagunya sembari melempar pandang kearah Jeanno. Seakan meminta ijin apakah bisa ia jelaskan sesungguhnya pada Judith. Namun adik sepupunya itu hanya diam dan memutus kontak mata.


Mark menunjuk dua pria asing yang menganggukan kepala singkat kearahnya. Judith menggeleng. “Jika aku harus pulang, aku bisa pulang sendiri”


“Tolong dengarkan aku sekali ini saja. Aku tidak tahu dimana tempat pelarianmu berada tapi kami tidak bisa membiarkanmu pulang naik kereta sendiri. Jika kau takut karena nanti alamatmu akan ketahuan, jangan khawatir. Aku… kami tidak akan mengganggumu pelarianmu”


Lawan bicaranya menggigit bibir. “Tapi.. aku belum berpamitan dengan Aera”


“She’ll be fine. Kami yang akan menjelaskan padanya tentang kepergianmu. Kau masih bisa menghubungiku atau Hannah jika ingin tahu kabar Aera, okay?”


Tak ada pilihan lain selain mengangguk. Mark lantas memerintahkan ‘orang-orangnya’ untuk mengangkuti barang-barang Judith ke bagasi mobil. Membiarkan Jeanno memiliki waktunya sendiri dengan Judith.


Sepasang kaki jenjang milik Jeanno melangkah pelan. Hingga tiga langkah berikutnya ia sampai berhadapan dengan sang wanita yang berhasil mengukir nama tersendiri dalam sudut hatinya. Berdampingan dengan nama Nayara dan Aera. Sebelum lisan terucap, tangannya terulur, membetulkan letak topi yang sebelumnya dipasang asal, agar tidak terlihat berantakan.


“Saatnya kita berpisah. Usai segala pelik yang terjadi, kau berhak memilih jalan hidupmu sendiri. Menjemput bahagiamu, sekalipun bukan disini tempatnya”


Judith yang sedari tadi membuang muka, memberanikan diri mendongak. Menyelami sepasang bola mata coklat kesukaannya itu.


“Maafkan aku atas segalanya. Kuharap kau bahagia, Judith. Aku melepaskanmu..”

__ADS_1


“Selamat tinggal”


**


Satu jam usai kepergian Judith, dua pria itu masih berada di rumah Jeanno. Mark menoleh kala Jeanno mengendurkan dasi, memijat pelipisnya perlahan. Dirinya tahu bagaimana kondisi Jeanno yang kacau sekarang, ketika sepupunya sudah menyadari bahwa ia ‘jatuh’ diwaktu yang salah. Mark tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan Jeanno untuk memutus komunikasi sepenuhnya dengan Judith. Karena menurutnya jika mereka bersama, hal itu bisa menempatkan Judith dalam bahaya.


“Siapa yang bisa menjamin Arman tidak akan mengganggu Judith lagi? Apalagi setelah tau identitas aslinya”


Jeanno memandang Mark. “Aku akan mengawasinya”


“Mengawasi Judith? Kau bilang kau melepasnya”


“Aku akan mengawasinya, melalui kau”


Mark mengangguk setuju, itu cara yang menurut mereka paling tepat untuk saat ini. “Lalu Arman, bagaimana? Kita tidak tahu yang dia lakukan hanya gertakan semata atau bisa lebih dari itu. Kuharap kau tidak meremehkannya, Jean”


“Aku tidak meremehkannya. Hanya sedang memikirkan rencana untuk menjatuhkannya terlebih dahulu sebelum dia menjatuhkanku”


“Mark, dia memiliki sextape bersama Judith. Aku yakin dia akan menggunakan itu untuk menyerangku, atau menyerang Judith. Terlebih ketika dia tidak berhasil membawanya hari ini”


Suami Hannah itu mengusap dagunya, turut berpikir. “Tapi Arman bukan orang sembarangan. Kau mungkin bisa mengusik Louis dan Victoire, tapi Arman.. ada tuan Robert dibelakangnya. Memang dia tidak begitu percaya dengan Arman, tapi si brengsek itu tetaplah anaknya. Jika kau mengusik Arman, itu sama saja mencoret nama baik tuan Robert”


Itu juga yang menjadi pertimbangan Jeanno. Sekalipun Arman pria brengsek, namun dirinya sangat menghormati tuan Robert. Begitupun sebaliknya. Jeanno paham bagaimana pria tua itu segan padanya, dan berharap putra kandungnya sendiri mencontoh Jeanno. Yang Arman lakukan padanya, bukan hanya perihal Judith. Namun juga dendam dan sakit hati karena terus-menerus menjadi tolak ukur ayahnya mengenai kesuksesan.


“Kalau kau mau, aku bisa bicara dengan ayahku mengenai kerjasama dengan tuan Robert”


Jeanno dengan cepat menggeleng. “Tidak. Tugasmu hanya membantuku menjaga Judith. Selebihnya.. biar aku yang menyelesaikan”


“Apa rencanamu, Jean?”


Sang tuan muda, mengangkat wajahnya memandang lurus kearah Mark. “Ada dua nama yang bisa kugunakan untuk menghancurkan Arman”


“Siapa?”


“Paula Winona dan…”


“Ayahku, Thomas Alexander”


**

__ADS_1


__ADS_2