
Toko pada hari itu lumayan ramai karena adanya perayaan hari guru yang membuat kuenya diserbu oleh sekolah-sekolah yang ingin menghadiahkan guru mereka sedikit penghargaan berupa kudapan manis. Nyaris tidak adanya jeda membuat baik Judith maupun Alya tidak sempat beristirahat. Sampai menjelang pukul setengah enam sore, ketika kue benar-benar habis, barulah Judith memutuskan untuk tutup lebih awal supaya memiliki waktu istirahat untuk esok hari.
“Kakak tau? tadi ada anak SD yang datang ingin membelikan kue kepada bu gurunya. Tapi dia hanya membawa uang dua ribu saja. Karena kasihan jadi aku berikan saja kue yang dia mau. Nanti dipotong dari gajiku saja, Kak”
Judith yang sedang menulis rekapan penghasilan mereka hari itu, tertawa kecil mendengar pengakuan Alya. “Iya, tadi aku juga melihat kau berinteraksi dengannya. Tidak apa-apa, Alya. Kau tetap akan mendapatkan gajimu tanpa potongan”
“Jangan begitu, Kak. Aku ikhlas kok, membelikan kue itu untuk bocah tadi”
Tanpa mengangkat wajahnya dari buku agenda, Judith kembali menimpali. “Aku juga ikhlas. Lagipula kan kejadian seperti itu tidak setiap hari”
Alya yang tidak punya pilihan lain, memilih untuk tidak berdebat. “Baiklah, terimakasih Kak Judith. Oia, aku ijin membuang sampah dulu, Kak”
Judith hanya mengangguk seadanya ketika ia melihat dari ekor matanya bayangan Alya keluar dengan menenteng plastik hitam. Ia begitu fokus pada perhitungan hari ini, hingga tak begitu memberikan atensi ketika pintu tokonya terbuka. Judith tahu sosok itu bukanlah Alya karena pegawainya membuang sampah lewat pintu belakang.
“Maaf, toko kami sudah tutup”
Agaknya enggan jika fokusnya terpecah dan mengakibatkan perhitungannya kacau, Judith tak begitu mengambil pusing akan heningnya seseorang itu. Dipikirnya ia akan berbalik pergi ketika mendengar pemberitahuan toko tutup. Nyatanya ia justru berjalan mendekati kursi yang sedang diduduki Judith hingga perempuan itu bisa melihat pantofel hitam mengkilap.
“Maaf, tuan tapi toko sudah tu—“
Tepat ketika Judith mengangkat wajahnya, ia bertemu pandang dengan pria yang telah lama tak ditemuinya. Begitu terkejutnya hingga penanya terjatuh ke lantai. Bunyi ‘pluk’ yang tidak mampu memecah keterkejutan Judith. Jeanno mengulas senyum, sepasang mata sabit yang selalu menjadi kesukaan Judith, kini berlutut memungut pena miliknya sebelum menggelinding lebih jauh. Kemudian menyerahkannya, masih dalam posisi yang sama. Persis seperti pria yang berlutut hendak melamar kekasihnya.
“Apa kabar, Judith?”
**
Keheningan selalu menjadi hawa yang tidak menyenangkan ketika ada lebih dari satu jiwa dalam satu ruang. Setelah usai meyakinkan bahwa kehadiran Jeanno bukanlah mimpi, Judith dengan sopan mempersilakan pria itu untuk duduk dan bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Judith kembali dengan coklat panas yang asapnya masih mengepul. Terlihat menggiurkan.
“Maaf, tokoku tidak menyediakan kopi”
Jeanno tersenyum. “Tidak apa”
Agaknya canggung akibat pertemuan tak terduga, keduanya masih enggan memulai obrolan. Judith yang sibuk memalingkan pandangan, sementara Jeanno yang menyesap coklat panasnya dengan mata terus memandang kearah Judith.
“Bagaimana.. kabarmu?”
Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu Judith jawab, mengingat Jeanno yang masih diam-diam menyelidikinya. Tapi pertanyaan basa-basi apalagi yang patut dilontarkan dalam kondisi seperti ini?
“Ba—baik. Tuan sendiri.. bagaimana?”
Teringat hari dimana Judith mengetahui kepergian Jeanno dan Aera ke Jepang, saat itu ia menghabiskan satu malam untuk menangis. Membuat matanya bengkak dan kepalanya pusing ketika bangun keesokan harinya.
__ADS_1
“Baik. Aera juga baik”
Mendengar nama Aera, dadanya menghangat. Judith sungguh merindukan putri kecilnya itu. Ia ingin bertanya lebih lanjut mengenai Aera, namun diurungkan pada detik berikutnya. Judith menyadari posisinya, bahwa Jeanno telah memberikan batasan antara dirinya dengan Aera terakhir kali mereka bertemu dulu.
“Aku sedang dalam perjalanan bisnis kemari. Kudengar dari Mark kau membuka toko kue disini. Maaf jika aku menghancurkan pelarianmu. Aku bisa pergi jika kau tidak nyaman”
Judith menggeleng cepat, entah mengapa enggan jika Jeanno harus undur diri secepat itu. “Tidak. Maksudku.. tidak apa-apa. Tuan bisa kemari sesuka hati tuan”
Omong-omong, Jeanno tidak berbohong ketika ia mengatakan sedang dalam perjalanan bisnis. Karena entah takdir sedang memihak padanya atau memang hanya sebuah kebetulan, proyek yang Thomas percayakan padanya di Indonesia bertempat di pusat kota yang Judith tinggali.
“Kau tidak marah pada Mark, kan? Karena telah memberitahu lokasimu padaku?”
Judith berdehem, sama seperti tadi, dirinya menggeleng. “Tidak, tuan”
Sulit mengendalikan dirinya ketika harus bersitatap dengan Jeanno Alexander. Lebih dari satu tahun berlalu setelah pertemuan terakhir mereka, Jeanno terlihat lebih.. berkarisma. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan panjang hingga melewati kerah. Anakan rambut yang sesekali menyentuh matanya membuat Jeanno harus menyugarnya kebelakang dengan gerakan asal. Postur tubuhnyapun jauh lebih proporsional dari yang terakhir kali, oh.. mengenai wajahnya, tidak perlu dipertanyakan. Pahatan sempurna bak dewa itu tak pernah berhenti membuat Judith terkesima.
‘Tuhan pasti sedang bahagia ketika menciptakan Jeanno Alexander’ begitu yang selalu muncul dipikirannya ketika berhadapan dengan mantan atasannya.
“Coklatnya enak sekali. Terimakasih, Judith”
Judith mengangguk, arah matanya mengikuti tangan Jeanno yang baru saja meletakkan cangkir coklatnya yang tinggal setengah. Disitu ia menemukan kejanggalan yang membuat matanya terbelalak.
Wajar jika Judith sedikit histeris. Siapa yang tidak bergidik melihat keseluruhan jemari pria itu merah dan lecet? Seakan Jeanno habis menghantam benda keras secara berulang-ulang—walau memang kejadiannya seperti itu.
“Aku berlatih tinju beberapa minggu terakhir. Kurasa aku terlalu semangat melakukannya”
“Pasti ini sakit. Sudah diobati, kan?”
Jeanno mengangguk. “Seadanya”
Judith mencibir. Seadanya tapi tidak diobati dengan sempurna. Terbukti dengan luka yang masing menganga dibeberapa buku-buku jarinya. Jika sudah diobati pasti lecetnya mengering. Perempuan itu lantas berdiri, mengambil kotak obat dari laci dibawah meja kasir.
“Aku punya salep yang ampuh untuk mengobati luka lecet. Membuat lukanya lebih cepat mengering” sindirnya. Jeanno terkekeh, terlebih menyadari bahwa salep yang Judith keluarkan adalah merk yang sama dengan salep yang pernah ia oleskan ketika Judith terluka akibat tamparan Sharin dulu.
“Ini pasti sakit kalau terkena air. Sakit untuk menulis. Sakit untuk melakukan aktivitas”
Judith yang telah meraih tangan Jeanno, mengoleskan salepnya dengan telaten kesetiap bagian yang luka. Sesekali membawa reaksi ringisan dari Jeanno akibat perih yang menyengat. Benar kata Judith, tangannya yang terluka memang menghambatnya terutama untuk menulis. Rasanya sakit sekali.
Pintu terbuka, menampilkan Owen yang tengah menenteng paperbag bertuliskan nama restoran Jepang ternama. Bunyi lonceng ketika pintu terbuka, membawa atensi Judith dan Jeanno untuk sama-sama menoleh ke sumber suara.
“Owen?”
__ADS_1
‘Jadi ini yang namanya Owen? Ck, tidak seberapa tampan dibanding diriku’ cibir Jeanno usai menyapukan pandangannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Hei, aku mau mengantarkan makan malam. Tadi aku lihat toko ramai sekali ya? jadi pasti kau belum sempat makan. Makanlah, aku beli dua untuk Alya”
Secara spontan, Judith menarik tubuhnya dari kegiatan mengobati jemari Jeanno. Dibawanya bento dari Owen ke meja belakang. Membuat Jeanno mencibir samar karena pria asing itu mengganggu waktunya dengan Judith.
“Oh, aku lupa belum memperkenalkan kalian”
“Eum, Owen.. kenalkan ini.. Tu-ehm, Jeanno Alexander. Ayah dari Aera Alexander”
Jeanno lantas berdiri, melirik kearah tangan Owen yang terulur untuk mengajaknya bersalaman. “Aku Owen, kekasih Aleta”
Jeanno sangat tidak menyukai bagaimana Owen membawa status hubungannya dengan Judith ketika mereka berkenalan, juga bagaimana Judith mengijinkan Owen untuk memanggilnya dengan nama lahir yang semula ia benci.
Pria bertubuh tegap itu berdehem sekilas, raut wajahnya kini berubah dingin dan memandang datar tanpa minat. “Maaf, aku tidak bisa membalas salammu karena tanganku sedang sakit. Senang bertemu denganmu, Owen”
Kemudian Jeanno memalingkan wajahnya kearah Judith. “Aku pamit dulu”
Tak butuh jawaban Judith bagi Jeanno untuk keluar dari toko kue Alana. Pria itu masuk ke mobilnya tanpa menoleh kedalam lagi.
“Wah, kau tidak pernah cerita kalau ayah Aera seperti itu?”
Judith terkekeh. “Seperti itu, bagaimana?”
“Ya.. seperti itu? sangat tampan, kaya, dan auranya.. mengintimidasi. Kau tidak lihat bagaimana dia tidak membalas sambutan tanganku?”
Judith melangkah maju, tak tahan untuk tidak mencubit pipi ‘kekasihnya’ gemas. “Kau dengar sendiri tadi, tangannya sedang sakit jadi wajar dia tidak membalas salammu. Jangan sering berprasangka buruk, Owen”
“Aw! Aw! Iyaa, tapi lepaskan pipiku. Sakit sekali rasanya”
“Tidak mau\~”
Gurauan sepasang kekasih itu masih dilihat dengan jelas oleh Jeanno dari kaca mobilnya. Membuat suhu tubuhnya berkali-kali lipat lebih panas dan dadanya bergemuruh akan rasa tidak suka. Ia benci melihat Judith yang bisa tertawa lepas ketika bersama Owen. Ia benci bagaimana Judith tidak membantah ketika Owen memperkenalkan diri sebagai kekasihnya. Ia benci akan kekalahannya mendapatkan Judith.
Bug!
Satu pukulan keras pada stir kemudi, meninggalkan bercak merah pada benda bulat itu ketika sang tuan mengangkat kepalan tangannya.
Jeanno bisa saja kalah, tapi ia akan bangkit dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
**
__ADS_1