
setelah aku pikir-pikir kenapa ibu lidya ingin mengambil alisya, mungkin ibu lidya ingin menjadikan alisya sebagai tawanannya agar dia bisa mendapatkan uang dari keluarga brata.
tapi tanpa ibu lidya sadari, tindakaannya ini akan membuat dia menderita dari sebelumnya ,karena dia menggunakan cara yang salah.
"bi, tapi ibu lidya emang orang yang menakutkan ya bi". setelah apa yang aku alami,dalam pikiranku ibu lidya seperti itu.
"iya non, makanya bibi khawatir kalau non bertemu lagi dengan ibu lidya.lain kali tolong di hindari aja ya non,bibi gak mau non celaka". ucap bi nina.
"aku juga ingin menghindarinya bi.tapi,karena dia sudah membuat alisya ketakutan dan menangis, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja".jika di ingat,aku masih emosi dengan tindakan ibu lidya terhadap alisya.
meskipun aku bukan ibu kandung alisya, tapi hatiku sakit jika melihat dia menangis. sejak aku memutuskan untuk menjadi ibu bagi alisya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri,bahwa aku akan melindungi alisya.
tookk...tookk
"bisa saya masuk".
"non,sepertinya itu dokter jeff. bibi bukakan dulu pintunya".
"selamat malam karin". ucap dokter jeff.
"malam dokter".
"saya dengar,kamu terjatuh ya". dokter jeff duduk disebelahku.
"hanya terpleset sedikit dok,dan pinggangku terasa sakit". aku menegeluhkan apa yang aku rasakan.
"baiklah, aku akan memeriksanya". dokter jeff mulai memeriksa kesehatanku.
mas bram langsung duduk tepat di sebelahku dan menggenggam tanganku dengan erat.
"ada aku di sini" bisik mas bram.
"gimana jeff, keadaan karin". tanya mas bram pada dokter jeff.
"syukurnya karin baik-baik saja, sakit pinggangnya di sebabkan karena benturan lantai akibat terpeleset. tapi tidak ada masalah pada bayinya". jawab dokter jeff.
"syukurlah sayang, anak kita baik-baik saja". mas bram memelukku.
"tapi aku harap kali ini karin bener-bener harus istirahat. jika karin mengalami hal ini lagi, mungkin sesuatu yang buruk bisa terjadi". ucap dokter jeff.
"iya dok, kali ini aku akan berhati-hati". aku mengelus perutku.
"terima kasih jeff, sudah memeriksa karin". mas bram menepuk bahu dokter jeff.
"aku jauh-jauh datang ke mari cuma di ucapkan terima kasih". canda dokter jeff.
"yaaaa jadi kamu mau apa??".
"ya apa gitu". jawab dokter jeff.
"kalau kamu mau jodoh jangan minta denganku, cari aja di pasar banyak tu". mas bram meledek dokter jeff.
"ya begini kalau orang kaya kebanyakkan uang". dokter jeff tertawa mendengar lelucon mas bram.
mas bram mendorong tubuh dokter jeff.
"udah, buruan pulang sana".
"yahh gitu amat jadi temen, main usir aja". dokter jeff pasrah.
"sayang sebentar ya, aku mau usir orang ini dulu". ucap mas bram.
"iyaa mas". aku tersenyum melihat tingkah mas bram dan dokter jeff seperti anak kecil.
"yaa... yaa.. pelan-pelan". teriak dokter jeff.
brakkk mas bram menutup pintu kamar.
"non istirahatlah, non alisya biar bibi yang jagain". bi nina menyelimuti ku.
"iya bi, terima kasih ya bi".
akhirnya aku bisa mengistirahatkan tubuhku yang terasa kaku ini, malam ini dan seterusnya aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian buruk yang menimpaku.
****
keesokan paginya...
mata hari bersinar cerah, sinarnya menyilaukan mataku saat membukanya.
"sudah bangun sayang". mas bram membuka tirai jendela.
"maaf mas, aku kesiangan". aku berusaha untuk duduk.
"kalau pinggang kamu masih sakit jangan di paksakan bangun sayang". mas bram membantuku untuk duduk.
"tidak apa-apa mas, aku sudah baikkan". aku mengusap-usap mataku.
setidaknya aku merasa bahagia, karena orang yang pertama kali aku lihat saat bangun tidur adalah mas bram.
"sayang, kenapa menatap aku seperti itu". maa bram membuyarkan lamunanku.
"tidak apa-apa mas. oh iya, alisya gimana mas?".
"jangan khawatir sayang, ternyata alisya anak yang kuat.bahkan dia sekarang happy banget main dengan aira. jadi jangan terlalu khawatir ya".
"aku jadi tenang Sekarang mas, aku takut alisya mengalami trauma". aku merasa lega setelah mendengar bahwa alisya baik-baik saja.
"sayang, maafin aku ya. aku bisa temani kamu karena aku harus ke kantor".
"iya mas, tidak apa-apa".
"baiklah, nanti aku suruh bi nina
antarkan sarapan paginya ke kamar. kamu istirahat aja, jangan kemana-mana. aku berangkat dulu ya". mas bram mencium keningku.
"iya mas. mas.... ". ucapan ku terhenti.
"kenapa sayang?".
"sebenarnya aku ingin menanyakan tentang ibu lidya, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat".
"hmm tidak apa-apa mas, hati-hati ya di jalan". aku mengalihkan pembicaraan.
"iyaa sayang". jawab mas bram.
selang beberapa saat, ada yang mengetuk pintu kamar.
tokk.. took...
__ADS_1
"masuk aja". ucapku.
"kamu sudah baikkan karin".mama datang membawakan ku sarapan.
"mama!! iya ma, aku sudah baikkan kok, tapi pinggangku masih sakit".
"apa perlu mama pijitin". ucap mama.
"ah gak usah ma, nanti biar mas bram saja". bagaimana bisa aku membiarkan mama mertuaku memijitku.
"ini mama buatkan sarapan bubur buat kamu".
"iya ma terima kasih".
mama duduk menemaniku di kamar.
"karin, mama minta maaf. karena telah melibatkanmu dalam masalah ini" ucap mama.
"tidak apa-apa ma, aku mengerti kok. mama tidak perlu minta maaf dan merasa bersalah padaku".
"seharusnya lidya melampiaskannya pada kami bukan pada kamu karin. tapi kamu jangan khawatir ya, lidya tidak akan mengganggu alisya, kamu ataupun keluarga kita lagi". mama memegang tanganku.
"jadi bener ma. mas bram melaporkan ibu lidya ke polisi?". tanyaku pada mama.
"hmm iya karin, kemarin bram melaporkannya pada polisi dan tadi pagi kami dapat kabar kalau lidya telah di tanggkap". jawab mama.
aku terkejut mendengarnya, aku kira mas bram gak bakalan membawa masalah ini kepolisi. tapi bagaimana pun, ibu lidya masih nenek dari alisya walapun bukan kandung. selepas dari tindakan ibu lidya, pasti ada alasan di baliknya.
"ma, apa tidak bisa ibu lidya di biarkan saja, gak perlu masuk penjara kan ".
"tindakan dia sudah kelewatan batas karin, dia sudah berusaha membahayakan kamu dan alisya, itu yang tidak bisa di toleransi lagi". jawab mama.
tapi kenapa hatiku sedih mendengar ibu lidya masuk penjara. meskipun dia sudah dua kali berusaha melukaiku tapi aku tidak membencinya.
"karin, mama tau kamu orang yang baik. tapi setidaknya penjara akan membuat lidya jera dan bertaubat". ucap mama.
aku berusaha mengerti dengan keputusan yang di buat oleh mas bram, itu semua demi kebaikan bersama.
"iya ma, aku mengerti".
tookk.. took... "mbak, aku masuk ya". naiya mengetuk pintu masuk.
"masuk aja nay". jawabku.
naiya langsung masuk ke kamar.
"loh, mama juga ada di sini". ucap naiya.
"iya, mama membawakan bubur untuk karin". jawab mama.
"kenapa naiya?". tanyaku.
"ini aku bawakan vitamin buat mbak". naiya memberikannya padaku.
"terima kasih naiya".
"mbak baik-baik aja akan". naiya duduk di atas ranjang.
"baik-baik aja kok, cuma sakit sedikit aja". aku bercanda pada naiya.
"mbak sakit bisanya bercanda". ucap naiya sambil tertawa.
"iya ma, mbak karin buat aku nyaman kalau di sampingnya. aku jadi gak mau pulang ke Singapura lagi". canda naiya.
"jadi ceritanya besok uda pada pulang ke Singapura?". tanyaku dengan menatap mama dan naiya.
"iya karin, papa dan Bayu tidak bisa lama-lama ninggali perusahaan". jawab mama.
"kamu naiya?". aku menatap naiya.
"aku juga harus ikut mbak, kasihan mas Bayu kalau harus LDR lagi" naiya tersenyum.
"sepi dong rumah ini". aku mengerutkan dahiku.
"kami bakalan kemari lagi kalau kamu sudah lahiran". jawab mama.
"ya ampun ma, masih lama". semua tertawa kecil mendengar ucapanku.
hari ini mama dan naiya menghiburku, mereka membuat ku tertawa dan bahagia. begitu hangatnya saat bisa bersenang-senang bersama dan menghibur satu sama lain.
aku menikmati suara tawa mama dan naiya, mungkin suara tawa ini akan menjadi suara tawa terakhir yang aku dengar karena mereka semua akan pulang ke Singapura.
***
sore hari....
setelah beristirahat seharian di kamar dan meminum obat yang dokter jeff berikan. keadaanku sekarang sudah lebih baik, bahkan sakit pinggangku sedikit berkurang.
karena merasa bosan, aku memutuskan untuk keluar kamar dan pergi mencari alisya. sudah seharian aku tidak melihat alisya, aku merindukannya.
"non, mau kemana?". tanya bi nina.
"mau duduk di ruang keluarga bi". aku berjalan pelan-pelan.
"bibi bantu non".
"gak usah bi, aku bisa sendiri". aku menolak tawaran bi nina.
"bunda" alisya teriak ketika melihatku.
"sayang". jawabku
alisya berlarian ke arahku dab langsung memelukku dengan eratnya.
"bunda sakit?". alisya menatapku.
"gak sayang, bunda sehat kok. sini sayang cium bunda". alisya menciumku.
seharian tidak melihatnya membuat ku gelisah, setelah bersamanya hatiku jadi nyaman.
"alisya temeni aira main sana, bunda duduk di sini".
"iya bunda". alisya pergi menemui aira yang bermain.
saat akun sedang memperhatikan alisya bermain dengan aira, terdengar suara naiya teriak dari dapur.
"mbak, mau teh?". ucap naiya.
"hmm boleh nay". jawabku.
__ADS_1
"oke, segera meluncur". naiya datang dengan membawa dua gelas teh hangat.
"loh, kok cepat banget". tanyaku.
"spesial buat mbak gak pakai lama".
"terima kasih naiya". aku menyeruput secangkir teh manis.
"mama kemana?". tanyaku.
"mama lagi istirahat mbak".
lalu kami mendengar suara mobil di luar, mungkin mas bram telah pulang.
"aku pulang sayang". teriak Bayu.
"ihh apaan sih mas teriak-teriak gitu". naiya menepuk pundak Bayu.
"wooww lagi pada ngumpul ya. hayoo ghibahin apa?". Bayu ikut nimbrung dengan kami.
"mau teh mas?". naiya menawarkan Bayu.
"mau dong sayang". Bayu bersikap manja.
naiya pergi mengambilkan teh untuk Bayu.
"mas bram mana?".tanyaku.
"lagi ada meeting mbak, jadi telat pulang. ohh ya gimana keadaan mbak? pasti mbak terkejutkan dengan kelakuan ibu lidya?".
"aku baik-baik saja. ya aku cuma gak habis fikir aja kalau ibu lidya bisa nekat seperti itu". jawabku pada Bayu.
"tapi tenang mbak, sekarang dia tidak akan ganggu keluarga kita lagi".
naiya datang dengan membawa teh hangat
"ini mas teh nya".
tanpa aba-aba Bayu langsung meminum tehnya
"aaghh... panas.. panas.. ". teriak Bayu
"kamu sih, main minum aja tanpa di tiup dulu". naiya membersihkan kemeja Bayu yang terkena tumpahan teh.
"namanya juga haus sayang". jawab Bayu.
melihat keakraban Bayu dan naiya membuatku senang, mereka bukan hnya sekedar suami istri tapi teman hidup yang bisa saling berbagi tanpa mengenal status yang mereka sandang.
"sayang, kamu gak mau hamil lagi?". bayu tiba-tiba bertanya pada naiya.
naiya tampak terkejut dengan pertanyaan bayu yang mendadak.
"kenapa tanya seperti itu mas?". naiya menatap dengan wajah keheranan.
"bener yang di tanyakan bayu, biar ada teman main aira".jawab ku sambil ketawa.
"mbak kok ikut-ikutan mas bayu sih". ucap naiya.
"kan tidak apa-apa loh kalau kamu hamil lagi nay".
"aku mau aja mbak, tapi gak sekarang karena aira masih kecil, dia lagi butuh perhatian ekstra dari kami". jawab naiya.
"sayang, kita kan bisa bagi-bagi perhatiannya. lagian kita bisa kerjakan baby sitter kan". Bayu mencoba merayu naiya.
naiya mencubit pinggang bayu
"aawwhhh sakit sayang".
"kamu sih gak pernah tau gimana capeknya ngurus anak di rumah. lagian aku gak mau anak-anak harus diurus oleh baby sitter. yang di butuhkan oleh anak-anak itu perhatian orang tuanya mas". jawab naiya.
benar apa yang di katakan oleh naiya, perhatian orang tua adalah nomor satu. aku juga begitu, aku tidak ingin anak-anak ku tidak merasakan perhatian orang tuanya. karena dari aku kecil hingga sekarang, perhatian ayah dan ibu tidak pernah berubah sama sekali.
"iyaa iya sayang, kita gak akan pake baby sitter kok. tapi kapan kita mulai?". Bayu mencoba menggoda naiya.
"apanya mas". naiya melototin Bayu.
"buat anak lagi". celetuk Bayu.
"ihh kamu bisa-bisanya tanya kayak gitu di depan mbak karin. malu tau mas, iihh tau aah". naiya menutupi wajahnya dengan bantal.
"hahahhaa malu dianya mbak". bayu tertawa terbahak-bahak.
"kamu sih ,suka banget jahili istri sendiri". aku tersenyum melihat tingkah mereka.
"sayang". bayu mencoba menarik bantal yang menutupi wajah naiya.
naiya memukuli bayu dengan bantal yang di pegangnya.
"iihh kamu udah buat aku malu di depan mbak karin,malam ini jangan tidur di kamar". ucap naiya , bayu mengejar naiya yang berlari masuk kamar.
"hahahaha ada-ada aja mereka". aku tertawa sambil mengelus perutku.
"kenapa kamu tertawa sendiri sayang". tiba-tiba mas bram muncul di belakangku.
"mas, sudah pulang".
mas bram mencium keningku
"iya sayang". mas bram merebahkan tubuhnya di sampingku.
"papa". teriak alisya yang sedang bermain.
"hai princess papa". mas bram melambaikan tangannya pada alisya.
"mas kayaknya capek banget". aku mengusap-usap kepala mas bram.
"hmm iya sayang, seharian meeting gak selesai-selesai. tapi setelah melihat kamu, rasa capekku hilang". mas bram menatapku dan tersenyum.
"mau aku buatkan minum mas? ".
"gak usah sayang, aku cuma butuh ini". mas bram meletakkan kepalanya di pangkuanku.
"ahh nyamannya". ucap mas bram.
mas bram membalikkan badannya menghadap ke perutku dan menciumnya beberapa kali.
"sehat-sehat sayang di perut bunda, biar Bisa ketemu papa". mas bram berbicara dengan bayi yang ada di perutku.
begitu semangatnya mas bram ingin cepat-cepat bertemu dengan bayi yang aku kandung.
__ADS_1