
Tyona sebetulnya sudah tidak kaget ketika sampai ia pulang, Jeffrey masih belum membalas, atau bahkan membaca pesannya. Namun mendapati fakta bahwa sang suami belum pulang ke rumah mereka, membuatnya sedikit terheran. Kemana pria itu, bukankah tadi Darren bilang bahwa di poli kejiwaan hanya ada satu dokter konsulen, satu residen dan empat koass yang berjaga? Dan tidak ada nama Jeffrey diantara mereka.
Sekali lagi, Tyona mencoba menghubungi Jeffrey. Setidaknya ia ingin tau dimana sang suami berada, setidaknya ia hanya ingin memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
“Angkatlah, sayang…”
Wanita itu menghela nafas frustasi, diulanginya lagi. Lagi dan lagi hingga Tyona bosan mencoba. Sampai pada usaha yang entah keberapa, ponsel Jeffrey terjawab oleh operator, menandakan benda itu tidak aktif. Entah kehabisan daya, atau sengaja dimatikan oleh pemiliknya karena dianggap mengganggu.
Tyona menggigit bibirnya, ia sungguh cemas. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Jeffrey? Sebelumnya ia memang pernah tidak pulang, tapi setidaknya pria itu memberinya kabar. Entah menginap di rumah sakit, atau menginap di rumah orangtuanya yang memang jaraknya lebih dekat dengan rumah sakit.
Ingin sekali rasanya ia menelpon Rianti. Tapi ia takut jika ibu mertuanya itu menghakiminya macam-macam jika Jeffrey tidak ada disana. Perkataan sebagai istri tidak becus pasti akan ditunjukkan lagi kepadanya tanpa tedeng aling-aling. Jika Jeffrey disana, jawaban sang mertua juga pasti tak lebih baik. Ia akan dianggap istri tidak peduli karena baru mengetahui kalau suaminya tidak pulang. Dan dalam kondisi lelah seharian bekerja seperti ini, Tyona tidak siap jika harus mendengar kalimat menyakitkan seperti itu.
“Hey, Darren.. maaf aku menelponmu”
“Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin meminta tolong. Um.. bisakah kau memastikan ke poli kejiwaan siapa saja yang ada disana?”
“Ya, aku tunggu. Terimakasih banyak, Darren”
Tyona meletakkan ponselnya di meja usai memutus sambungan telpon dengan Darren. Satu-satunya solusi sementara yang terpikir di otaknya hanya menelpon rumah sakit, memastikan Jeffrey ada, atau tidak. Bisa saja ia menelpon poli langsung, tapi takut jika tersebar berita yang tidak-tidak mengenai rumah tangganya. Jadilah ia meminta bantuan Darren sebagai perantara.
Selang lima menit, ponselnya berdering. Panggilan dari Darren. “Ya?”
“Aku sudah menelpon. Yang berjaga disana seharusnya dokter William dan dokter Yulia. Tapi dokter Yulia sudah pulang 10 menit yang lalu. Jadilah tinggal dokter William bersama koass dan perawat”
“Kau yakin tidak ada Jeffrey disana?”
Darren diam sejenak. “Tidak ada untungnya bagi mereka berbohong padaku, Anna”
“Jeff belum pulang juga?”
Tanpa sadar tangan Tyona meremat ponselnya erat. “Belum. Aku tidak tau dia berada dimana, pesan dan panggilanku satupun tidak direspon. Aku cemas sekali, Darren. Aku takut terjadi sesuatu padanya”
Seperti tadi, Darren diam beberapa saat. Hanya nafas teratur lawan bicaranya yang bisa Tyona dengar. “Kau mau kubantu mencari Jeffrey?”
“Tidak usah. Ini sudah larut sekali. Aku akan menunggu sampai besok. Jika sampai besok dia belum pulang, atau memberiku kabar, mungkin aku akan lapor polisi. Terimakasih Darren, maaf mengganggu istirahatmu”
__ADS_1
“Anna..”
“Ya?”
“Tidurlah, istirahatkan tubuh dan pikiranmu. Aku yakin besok suamimu akan pulang”
**
Kegiatan sesederhana membakar jagung ternyata cukup menyenangkan. Judith dan Aera yang menertawakan jagung gosong milik Jeanno, hingga Judith menemukan keahlian baru Jeanno, yaitu pandai membuat segala makanan yang disentuhnya gosong. Hingga Aera yang menangis kepedasan karena tangan ceroboh Jeanno yang tak sengaja mengolesi bumbu pedas ke jagung Aera. Membuat pria itu dihujani tatapan datar Judith yang duduk diseberangnya.
“Bagaimana Aera?”
Judith yang tengah mencuci peralatan makan yang sempat dipakai kala memakan jagung, menoleh sama datarnya seperti tadi. “Sudah mendingan setelah meminum dua gelas susu. Tuan, jika aku boleh jujur, aku nyaris melempar tuan dengan kulit jagung tadi”
“Ya memang salah tuan”
Judith selesai dengan cucian terakhirnya. Ia meraih tissue, mengeringkan tangannya. “Harus kuakui tuan sangat payah dalam urusan masak memasak”
“Ya mau bagaimana lagi, aku tidak waktu untuk mengurusi urusan dapur”
“Jangan-jangan tuan tidak bisa memasak mie instan saking payahnya” mata Judith memicing, yang ditatap buang muka sembari berdehem. “Bisa kok. Cuma ya itu, antara masih terlalu keras atau terlalu lembek karena kematangan”
“Astaga tuan, lalu nanti siapa yang akan menghandle urusan dapur jika aku sudah tidak ada?”
Jeanno mendelik, ekspresinya berubah total dan rahangnya mengeras. “Jangan. Jangan katakan itu”
“Tapi benar kan? Enam bulan akan berlalu dan pada akhirnya akan datang hari terak—“
“Kubilang jangan katakan!”
__ADS_1
Mulut Judith bungkam. Sedikit gentar akan Jeanno jika sudah menggunakan nada tinggi, mengingatkannya pada malam ketika pria itu memarahinya habis-habisan. “Maaf”
“Tidak” Jeanno mengusap wajahnya kasar. “Maaf sudah membentakmu”
Keheningan yang kaku menyelimuti suasana dapur malam itu. Untunglah Aera sedang asik menonton kartun di kamarnya, sehingga tak mendengar pertengkaran kecil ‘orangtuanya’.
“Aku.. akan melihat Aera, mungkin dia membutuhkanku” Judith berjalan melewati Jeanno, namun langkahnya terhenti ketika pergelangan tangannya ditahan pria itu.
‘Ck, mau apalagi’ Judith membatin, setiap sentuhan fisik yang diberikan pria itu mengirimkan getaran aneh dan nyaman secara bersamaan. Membuat Judith takut jika ia mulai goyah pada pendiriannya dan pada perjanjian mereka.
“Ada apa, tuan?”
Ketika Judith berbalik kesamping, ia menabrak dada bidang Jeanno yang menariknya masuk ke pelukan. Tangan pria itu melingkari tubuh Judith yang jauh lebih kecil dibanding tubuhnya. Membuat sosok cantik itu seperti tenggelam dalam dekapannya. Jeanno menunduk, menyembunyikan wajahnya di pundak Judith seakan anak yang mencari kenyamanan ibunya.
Sementara Judith yang masih tertampar keterkejutan yang belum juga surut, hanya diam mematung ketika tubuhnya dipeluk begitu erat. Tangannya masih menggantung. Pelukan itu, terasa berbeda dari pelukan semua pria yang pernah ia alami. Pria lain hanya memeluknya disaat menjemput ‘putih’ ketika mereka bercinta. Namun Jeanno, dalam pelukannya ia merasa terlindungi. Tak hanya nyaman, namun juga membuatnya ingin menghentikan waktu supaya posisi mereka tetap seperti ini. Judith tidak bohong, hatinya bergetar hebat ketika detik berikutnya Jeanno semakin mengeratkan pelukannya. Bisa ia rasakan hidung bangir tuannya menyentuh ceruk leher, membuat nafas panas itu menyapa permukaan kulitnya.
Judith memejamkan mata. Entah apa arti pelukan ini. Tapi, bisakah ia egois malam ini? Bisakah ia berpura-pura tidak memiliki prinsip untuk tidak jatuh cinta dulu? Bisakah ia berpura-pura tidak ingat poin terakhir perjanjian mereka?
‘Tidak apa, Judith. Hanya sekali saja. Dan besok kau boleh menutup hatimu lagi, seperti biasanya’
Usai meyakini dirinya sendiri, tangan Judith terangkat, membalas pelukan Jeanno dengan hati-hati. Takut jika sentuhannya membuat pria itu kaget dan justru melepaskan dekapannya. Namun ternyata tidak, alih-alih lepas, Jeanno justru semakin membungkuk dan memindahkan tangannya yang semula di leher Judith, turun ke pinggang perempuan itu. Membuat posisi mereka menjadi lebih intim.
Nayara, ijinkan aku untuk merasakan pelukan suamimu.
Ijinkan aku untuk merasakan lembutnya perlakuan Jeanno seperti yang pernah ia lakukan padamu.
Nayara, ijinkan aku merasakan manisnya memiliki keluarga yang utuh..*
*
__ADS_1