Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 177. Not That Easy


__ADS_3

Bukan tanpa alasan Owen berpikir negatif. Bukan hanya karena betapa tampan sang tuan muda, tapi juga karena kenyataan yang ia ketahui dibelakang bahwa mereka sempat bertemu beberapa kali ketika dirinya sedang pergi jauh.


“Alya? Aku ingin menanyakan sesuatu, apa Aleta sudah makan? Aku mengiriminya pesan beberapa menit lalu tapi belum dibalas. Aku takut toko terlalu ramai sehingga dia lupa makan. Kalau misal seperti itu, tolong pesankan makanan dulu ya? tidak usah tanya persetujuannya, karena pasti Aleta akan menjawab nanti. Pesankan saja, dia tidak akan menunda makanan makanan yang sudah ada didepan mata”


“Toko tidak terlalu ramai, tuan. Kak Judith juga sedang ngobrol dengan tuan Jeanno”


“Tuan Jeanno?”


“Iya, tuan tampan yang waktu itu kesini. Kak Owen juga sempat bersalaman dengannya. Beberapa kali dia kemari untuk menemui kak Judith. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi mereka terlihat dekat”


“Oh begitu, terimakasih informasinya, Alya”


Mobil milik Owen berhenti usai berkendara sekitar dua puluh menit. Terhenti di depan rumah bertingkat dua yang terlihat minimalis.


“Owen, ini rumah siapa?”


Owen yang tengah melepas seatbelt, tersenyum lembut. “Rumahku. Aku ingin kau berkenalan dengan ibuku”


**


“Jadi ini yang namanya Aleta? Ibu senang sekali bisa bertemu langsung dengan kamu, nak. Owen sudah terlalu sering menceritakan tentang kamu ke Ibu. Aleta cantik, Aleta pintar masak, Aleta baik. Semua yang bagus-bagus diceritakan. Sampai Ibu penasaran, memang sesempurna itu yang namanya Aleta? Ternyata cerita Owen tidak salah. Aleta cantik sekali, benar-benar sesuai dengan gambaran cerita Owen”


Seorang wanita paruh baya yang terduduk di kursi roda tak hentinya menghujani Judith akan pujian. Sekarang Judith tahu dari mana Owen mendapatkan senyumnya yang begitu hangat. Tentu saja dari warisan yang diturunkan oleh ibunya. Benar-benar mirip keduanya. Aura mereka begitu hangat, membuat siapa saja betah akan sambutan baik pasangan ibu dan anak itu.


“Terimakasih, Ibu. Owen terkadang melebih-lebihkan cerita. Saya.. tidak sesempurna itu”


Ibu menggeleng, menyangkal tegas ucapan Judith. “Tidak sama sekali. Oia, Aleta tau kan ibu sangat suka kue-kue buatan Aleta? Maaf ya ibu hanya bisa membalasnya melalui masakan ibu yang sederhana. Tapi, Aleta suka, kan?”


Judith mengangguk. “Suka sekali. Masakan ibu enak. Maaf karena justru saya merepotkan ibu”

__ADS_1


“Ibu tidak sabar menjadikanmu menantu ibu. Kapan kalian akan menikah? Ibu sudah sangat ingin menimang cucu”


Senyum Judith lolos. Sontak memandang kearah Owen. Anehnya Owen justru berpura-pura tidak melihat sinyal yang diberikan Judith. Pemuda itu justru bangkit. “Owen ke toilet sebentar, bu”


Pria itu pergi, meninggalkan Judith yang masih terkejut tanpa jawaban dan penjelasan.


“Tahun ini ibu sudah memasuki kepala 6. Owen ditinggal oleh ayahnya saat usianya masih 15 tahun. Sejak itu kami hanya tinggal berdua, hanya memiliki satu sama lain. Sampai pada tiga tahun lalu ibu terjatuh dan dinyatakan lumpuh. Ibu merasa tidak bisa merawat putra ibu dengan maksimal karena kondisi ibu yang terbatas. Itulah mengapa Ibu selalu mendesak Owen untuk segera mencari pendamping supaya ibu bisa lebih tenang karena dia ada yang menemani”


Tangan Ibu terulur, meraih tangan Judith.


“Kau tau, nak? Tidak pernah ada wanita yang dikenalkan oleh Ibu. Jangankan dikenalkan, diceritakan saja tidak pernah. Owen terlalu sibuk dengan bisnis kafenya. Dia selalu bilang bahwa fokusnya sekarang adalah sebagai tulang punggung keluarga, mencari uang sebanyak-banyaknya untuk biaya pengobatan ibu. Barulah sejak bertemu dengan nak Aleta, dia berubah. Putra ibu akhirnya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan gadis yang tepat”


“Nak Aleta tidak tahu betapa bahagianya ibu ketika mendengar cerita-cerita tentangmu. Ibu harap kau menjadi gadis terakhir untuk putra ibu. Dia sudah kehilangan kasih sayang ayahnya sejak remaja, dan harus banting tulang untuk pengobatan ibu. Ibu berani jamin Owen adalah anak yang baik. Dia mungkin banyak kekurangan, tapi dia akan mencari cara untuk membuat orang yang disayangnya bahagia”


“Ibu tahu ini pertemuan pertama kita, masih jauh jalan kedepannya. Tapi ibu minta nak Aleta untuk mempertimbangkan Owen, ya?”


Seakan melupakan tujuannya sejak awal, pada akhirnya Judith mengangguk perlahan. Membuat Ibu Owen menariknya lembut kedalam pelukannya. Pelukan seorang ibu yang jarang sekali Judith rasakan.


Jadi begini rasanya dipeluk seorang ibu?


Jika nyamannya sedemikian rupa, Judith rela menukar apapun asal bisa merasakan pelukan sehangat ini lagi.


**


“Kau marah?”


Mobil Owen terhenti di depan bangunan apartemen Judith. Menyadari bahwa sepanjang perjalanan pulang Judith memilih diam. “Aleta?”


“Kau seharusnya mengatakan dulu padaku, Owen”

__ADS_1


“Kupikir kau menikmati waktu yang kau habiskan bersama ibuku seharian ini”


Well, Owen tidak salah. Judith memang sangat menikmati waktu bersama ibunda Owen. Pasalnya, sekalipun baru pertama kali bertemu, sekalipun ruang gerak sang ibunda terbatas, namun wanita itu sungguh memperlakukannya dengan baik. Sangat baik malah. Keduanya berbincang banyak hal, memasak makan siang dan makan malam bersama. Melakukan aktifitas layaknya ibu dan anak perempuan kebanyakan. Judith menikmati setiap detiknya, rasanya seperti pengalaman yang jarang ia dapatkan. Begitu mengesankan, juga menyenangkan.


“Aku memang menikmati waktuku dengan ibu. Hanya saja.. setidaknya kau jangan bercerita dulu terlalu jauh mengenai hubungan kita. Aku tidak mau ibu berharap”


Owen menoleh, sedikit sangsi dengan pernyataan Judith. “Aku hanya mengatakan harapanku untuk menikah denganmu. Apa itu salah?”


“Hubungan kita masih baru, Owen. Jalan didepan masih panjang. Kau juga tahu kalau aku.. aku masih belum bisa”


“Kita bisa berjalan bersama. Aku akan menunggumu, dan masih tetap seperti itu. Asal kita berjalan berdampingan, bukannya kau melepaskan tanganku dan pergi mencari kebahagiaanmu sendiri”


Judith terdiam. Rangkaian kata yang sejak semalam ia rancang guna menyampaikan keputusan akhir mengenai hatinya, kini buyar.


“Aku tidak bisa melepaskanmu, Aleta. Aku baru pertama kali merasakan jatuh cinta, dan ketika gadis yang kucintai berhasil kumiliki, menurutmu apa yang bisa kulakukan selain berusaha untuk mempertahankan hubungan ini dengan segala cara?”


Judith menghembuskan nafas samar. Beban yang semula terangkat kala bersama dengan ibunda Owen, kini kembali lagi membuat pundaknya berat. “Aku lelah, kita bicara lagi besok”


Ketika Judith hendak membuka pintu, pergelangan tangannya sudah lebih dulu ditahan Owen. “Aleta”


“Ada apa lagi?”


“Kau bilang kau belum bisa mencintaiku, kan? Itu karena memang aku belum bisa menaklukan hatimu, atau.. apa karena ada pria lain yang lebih dulu menempati hatimu?”


Judith memejamkan matanya sejenak. “Kesalahannya bukan ada padamu, tapi sepenuhnya ada padaku. Maafkan aku, Owen. Selamat malam”


Dengan lembut, Judith melepaskan genggaman tangan Owen pada pergelangannya. Menutup pintu usai mengucapkan selamat malam. Memasuki unit apartemennya tanpa menoleh sedikitpun.


**

__ADS_1


__ADS_2