Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 116. Invisible String


__ADS_3

Acara makan malam berakhir ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari. Menyudahi permainan seru mereka ketika kantuk mulai mendera. Mark dan Hannah yang memang membooking satu kamar di Montana, sudah berlalu sejak setengah jam yang lalu.


Lalu dimanakah Jeanno dan Judith? Awalnya mereka berniat pulang, namun Jeanno memutuskan mengikuti jejak Mark. Lagipula tidak baik jika harus berkendara ketika mereka menyesap bergelas-gelas alkohol, bukan?


“Kau tidak keberatan kan, kalau aku hanya memesan satu kamar?”


Jeanno menutup pintu, seraya melepas tuxnya. Judith berbalik, tersenyum lembut. “Ya, tidak apa-apa. Lagipula bukan pertama kalinya kan kita tidur satu kamar?”


“Kau mau pakai kamar mandi dulu?”


Judith mengangguk. Membawa kakinya menuju kamar mandi untuk menenangkan hatinya dengan air hangat. Dibawah shower, mata Judith terpejam. Teringat akan truth terakhir yang ia tanyakan kepada Jeanno.


‘Pernah’


Hanya satu kata yang membuat Judith ingin berteriak kegirangan. Jeanno pernah melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai Nayara Alexander. Tidak tahu ketika momen apa, Judith tidak peduli. Yang penting Jeanno pernah melihatnya sebagai Ananta Judith. Itu yang terpenting.


“Sial”


Gadis itu mengumpat, ketika menyadari bahwa dirinya tidak membawa baju apapun selain gaun yang ia pakai tadi. Apakah ia harus tidur dengan gaun malam itu? tidak, ide buruk. Pakaian seindah itu akan lusuh jika dibawa tidur. Apa ia harus tidur dengan menggunakan bathrobe? Judith memijat keningnya, memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


“Kau pusing?”


Jeanno bertanya, tepat ketika Judith keluar dengan tangan memijat kepalanya.


“Tidak. Hanya saja aku lupa kalau kita tidak membawa pakaian salin untuk tidur”


Jeanno tertawa kecil, ia berjalan mendekati Judith. “Kau tidak perlu repot-repot memikirkan pakaian tidur, karena kurasa kita tidak memerlukannya”


Ucapan itu memang hanya bentuk gurauan untuk menggoda Judith, tetapi sukses membuat wajah gadis itu merona hebat. Membuat si tuan muda tertawa puas sebelum memasuki kamar mandi.


Judith mencibir, memutuskan untuk bermain dengan ponselnya karena kantuk yang semula datang, menguap entah kemana. Ia meraih champagne, mengisi gelasnya dan melangkah menuju balkon dimana ia bisa melihat aktifitas kota yang belum ‘tidur’ sekalipun sudah menunjukkan dini hari.


Entah berapa lama Judith melamun, karena yang ia sadari Jeanno sudah selesai mandi. Dengan mengenakan bathrobe yang sama, pria itu memeluknya dari belakang. “Kupikir kau sudah tidur”


“Tidak mengantuk. Lagipula terlalu disayangkan jika tidak menyespa champagne mahal”


Hening. Suasana yang terlalu hikmat sehingga baik Jeanno maupun Judith enggan merusaknya.


“Tuan..”


“Ya?”


“Boleh aku bertanya sesuatu?”


Jeanno menggumam, cukup memberi Judith isyarat bahwa ia mengijinkannya bertanya. Tubuh ramping gadis itu menegang dalam pelukannya. “Tadi, sewaktu tuan bilang pernah melihatku sebagai Judith, bukan sebagai Nayara… maukah tuan memberitahuku, kapan tepatnya?”


Pertanyaan yang tidak langsung dijawab Jeanno. Pria itu membalikkan tubuh lawannya hingga berhadapan. “Aku tidak tahu pastinya, tapi mungkin ketika kau.. sudah masuk terlalu jauh dalam hidupku dan Aera”


Angin berhembus dingin, membawa anak rambut Judith menutupi pandangannya. Jemari Jeanno terulur, menyelipkan anakan rambut itu supaya tidak menjadi penghalangnya untuk menatap mata indah sang lawan.


“Aku tidak munafik, kau terlalu mirip dengan mendiang Nayara. Ada saat dimana aku tersadar bahwa kau bukan Nayara, dan itu membuatku bersikap dingin padaku. Akan hal itu, aku minta maaf. Aku juga pasti melukaimu ketika memanggilmu dengan nama Nayara saat kita bercinta dulu”

__ADS_1


Judith tercekat, jadi.. Jeanno menyadarinya?


“Kau sudah berperan sebagai ibu pengganti dengan sangat baik. Tidak hanya itu, hadirmu juga membawa warna baru di rumah. Tidak hanya untuk Aera, tapi juga untukku. Tapi terkadang.. aku merasa seperti tengah berselingkuh”


“Itu juga yang membuat tuan terkadang bersikap dingin padaku?” Judith menambahkan, yang direspon anggukan oleh Jeanno.


“Mau bermain truth or dare?” Judith tersenyum, menyetujui usulan random Jeanno. “Tuan dulu”


“Aku mau.. truth”


Judith mengulum senyum, dikalungkannya kedua tangannya pada tengkuk Jeanno. “Jika aku melangggar poin kesepuluh dari perjanjian kita, apa yang akan tuan lakukan?”


Jeanno terdiam, mengingat-ingat akan poin-poin yang pernah ia tulis. Ketika poin yang dimaksud Judith berhasil ia ingat, pria itu masih terdiam. Berlalu sekitar lima menit sebelum jawaban yang Judith tunggu pada akhirnya keluar dari bibir Jeanno.


“Perasaanmu adalah sesuatu yang tidak bisa kucegah. Hakmu untuk jatuh cinta pada siapapun”


“Apa tuan akan langsung memecatku?”


Jeanno menggeleng. “Perjanjianmu adalah mengenai putriku. Akan sangat egois jika aku langsung memutus kontrak kerja kita hanya karena.. misal kau jatuh cinta padaku”


‘Misal’, Judith tersenyum. Karena pada kenyataannya pengandaian yang sedang mereka bahas adalah kenyataan.


“Sekarang giliranmu”


“Aku mau truth”


Jeanno menatapnya lurus, lamat-lamat. Seakan hanya dengan tatapan mampu menelanjangi Judith. Mendadak gadis itu gugup, pertanyaan macam apa yang akan Jeanno lontarkan dengan ekspresi demikian?


Judith mengangguk enteng. “Pernah. Jika tuan bertanya kapan, inilah jawabanku. Ketika sikap tuan berubah-ubah. Terkadang tuan begitu hangat, membuatmu merasa istimewa. Lalu dimomen berikutnya, tuan berubah dingin. Membuatku seakan seperti manusia sampah yang tidak layak diperlakukan lembut”


“Ssh, kau bukan sampah”


Judith mengangkat bahu. “Giliran tuan”


“Dare”


“Aku mau.. tuan memberikan bonus dan jatah cuti untuk Nora. Dia terlihat stress sekali bekerja dengan tuan”


Tawa Jeanno meledak. “Mengapa tiba-tiba membahas Nora?”


“Ya.. karena aku kasihan padanya. Tuan seperti bos yang sangat galak sehingga membuatnya tertekan”


Jeanno mencubit hidung Judith gemas. “Aku tidak galak”


“Tuan harus melihat ekspresi tuan ketika marah. Mengerikan sekali, seperti hulk”


“Lebih tampan diriku”


Keduanya tertawa bersama. Ketika angin malam sudah mulai tak bersahabat, Jeanno menghela Judith untuk masuk ke kamar. “Giliranmu”


“Aku mau dare”

__ADS_1


Jeanno tak bisa menyembunyikan semangatnya ketika Judith memilih dare. “Berikan aku tarian terbaikmu”


“Oh astaga, aku sudah lama sekali tidak menari”


Jeanno meraih gelas Judith, mengisinya untuk disesapnya sendiri. “Well, game tetaplah game”


“Tuan harus tau bahwa tarianku tidak gratis\~”


Jeanno meraih ponsel, memutar musik entah apa, sebagai pengantar tarian Judith. “Aku bisa membayarmu 10x lipat dari jumlah yang bisa Arman bayar”


“Ya, ya, ya. Aku percaya. Sekarang, bisakah tuan duduk?”


Jeanno menurut, menyamankan posisinya di sofa ketika Judith mulai meliukkan tangannya mengikuti ritme lagu. Sesekali ia menggoda sang tuan muda dengan kedipan mata yang nakal. Jeanno hanya tertawa kecil, dibanding terlihat seksi, ia justru melihat Judith menggemaskan.


“Stop stop, kau sama sekali tidak cocok menari seperti itu”


“Kenapa? Apa aku tidak seksi?”


Jeanno mematikan lagu. “Tidak. Kau seksi bahkan tanpa perlu meliukkan tubuhmu. Maafkan aku, Judith. Kau tidak perlu merendahkan dirimu hanya untuk sebuah game”


“Aku tidak merasa seperti itu” Judith menghampiri Jeanno, bermaksud meminta kembali gelas champagnenya, namun pria itu justru menjauhkan gelasnya. “Tuan, itu gelasku. Kembalikan, aku haus”


Jeanno menggeleng. Kemudian menyesap satu teguk cairan keemasan itu sebelum menyatukan ranum mereka secara singkat. Cukup untuk mentransfer minuman itu ke tengggorokan Judith. Sekali lagi, Judith merona dengan gerakan yang tiba-tiba.


“Bisakah tuan berhenti membuatku merona? Jantungku bisa meledak jika tuan terus-terusan berperilaku seperti itu”


Jeanno terkekeh. Diletakkannya gelas champagne itu diatas meja. “Bukankah kau yang seharusnya berhenti membuatku merasa sepanas ini, Judith? Kau harus tahu betapa tadi kau menyiksaku dengan tantangan yang diberikan Mark”


“Mau melanjutkan?” Judith melempar senyum tipis. “Tapi dengan satu syarat”


Satu alis Jeanno terangkat. “Apa?”


“Sebut namaku”


**


Pikiran Jeanno menggila, kepalanya pening akan gairah yang siap meledak ketika Judith menghela tangannya menuju ranjang. Ia tak perlu membuang waktu untuk melepas helaian benang yang melekat, karena Judith dengan sukarela melakukannya sendiri. Membawa tubuh polos bak porselen itu berbaring di ranjang. Menunggu, siap berbagi kehangatan di sela malam bersama Jeanno.


Ini bukan **** pertama mereka, hanya saja entah mengapa terasa berbeda. Terutama sejak beberapa pertanyaan yang mengganjal telah terjawab. Judith memandang Jeanno sayu, entah apa yang membuat pria itu masih terpaku di tempatnya. Satu hal yang Judith tahu, Jeanno sama bergairahnya seperti dirinya sendiri.


“Jeanno…”


Ketika Judith dengan pasrah membuka kedua kakinya, disitulah segala yang menahan Jeanno meledak. Judith hanya memanggil namanya, namun itu terdengar indah, seperti kayu bakar yang membakar gairahnya semakin tak terkendali.


Begitulah, Jeanno membawa dirinya masuk kedalam ranah intim Judith. Berbagi kehangatan, menjemput matahari dengan aktifitas panas yang seharusnya tak mereka lakukan. Melupakan sejenak bahwa nyatanya tak ada hubungan apapun diantara mereka selain partner kerja. Yang mereka tahu, mereka membutuhkan satu sama lain. Lenguhan dan geraman, menyerukan nama satu sama lain menjadi latar suara yang mengisi megahnya kamar itu.


Judith sadar betul bahwa mereka melakukannya tanpa pengaman. Ia tak tahu Jeanno sadar atau tidak, tapi yang pasti… hari itu adalah masa suburnya.


Judith memejamkan mata. Yang terjadi, biarlah terjadi.


**

__ADS_1


__ADS_2