
Malam bermandikan bintang yang rembulannya menyembul malu-malu dibalik pekatnya awan. Jarum jam merangkak menuju dini hari, menghantarkan setiap hembusan menjemput mimpinya masing-masing. Dari sekian mata yang masih terjaga, ada dua jiwa yang pikirannya tengah berkelana. Satunya tengah berdiri didepan pintu dengan tangan menggantung, bak orang bodoh. Memandangi pintu kamar yang beberapa malam terakhir menjadi tempatnya tidur.
Insomnia itu datang kembali, mengacaukan waktu tidur Jeanno yang semula sudah teratur berkat kasur Judith. Jika dimalam sebelumnya ia bisa masuk sesuka hati, maka tidak dengan kali ini. Tidak ketika sang pemilik yang sesungguhnya sudah kembali, walau hanya sementara. Tangannya sedari tadi menggantung, akal sehatnya nyaris lolos membuatnya mengetuk pintu.
Jeanno Alexander yang lama, pasti akan mengetuk dan masuk sebelum Judith merespon. Membiarkan tubuhnya berbaring di ranjang itu lalu terlelap tanpa ijin sang empunya. Jeanno yang dulu begitu keras, begitu arogan, selalu memaksakan kehendaknya.
“Kau harus hidup. Jangan tinggalkan aku sebelum aku mengijinkan”
Seuntai kalimat yang pernah ia ucapkan pada Nayara yang tengah sekarat. Egois sekali, huh? Memaksakan wanita yang sudah lelah berjuang untuk sembuh yang mana itu sangat kecil kemungkinannya. Jeanno yang dulu, pernah mengungkapkan amarahnya pada para tenaga medis dan juga Tuhan karena telah ‘mengambil’ yang tersayang. Menyalahkan mengapa ia harus diberi hukuman seperih ini.
Jeanno yang dulu, begitu dibutakan oleh harga diri yang kelewat tinggi. Sehingga tak ada ampun bagi siapapun yang menyenggolnya, termasuk Judith. Perempuan yang telah memandikan putrinya dengan kasih sayang seorang ibu yang belum terlalu lama ia rasakan. Perempuan yang memperlakukannya dengan baik, memasakan makanan lezat, menyiapkan segala kebutuhannya bak seorang istri.
Perempuan yang ia permainkan hatinya, yang ia gunakan tubuhnya, yang ia panggil dengan nama mendiang istrinya ketika menjemput putih.
Perempuan itu, Judith.
Dulu, Jeanno pikir dengan melepaskannya maka rasa bersalah itu pupus berlahan. Namun anggapannya salah, setiap hari yang ia lalui tanpa eksistensi Judith, jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Rasa bersalah bercampur kerinduan, mungkin? Dua rasa itu membekapnya hingga ia sulit bernafas. Baik Jeanno maupun Aera berubah, sejak Judith menghilang dalam pelariannya.
“Jika semua sudah termaafkan, apa kau mau berjuang untuknya? Kau memperjuangkan Nayara dengan mengorbankan semuanya. Sekarang kau jatuh cinta lagi, Judith berhak kau perjuangkan sama besarnya seperti apa yang kau lakukan dulu kepada Nayara”
Perkataan Mark tadi sore terngiang kembali. Tidak semudah yang terucap dilisan. Jeanno mungkin, mungkin menyimpan cinta untuk adik kembar Nayara itu, tapi kesalahan yang ia buat jauh lebih besar. Jeanno takut jika ia bertindak, bukannya membawa Judith mendekat tapi malah sebaliknya.
Dan Jeanno tidak mampu lagi menanggung rasa bersalah jika suatu saat Aera harus kehilangan figur seorang ibu lagi untuk kedua kalinya.
__ADS_1
**
Terhalang oleh daun pintu, Judith tengah terduduk memeluk lututnya dengan punggung menyandar pada pintu kamar. Ia tak bisa tidur, malam itu.. entah mengapa udara berhembus lebih dingin dari biasanya. Atau hanya perasaannya saja?
“Alana.. apa keputusanku sudah benar? Aku kembali kesini hanya sebentar dan demi Aera, kan? Tapi setiap aku melihatnya… hatiku sakit sekali. Aku teringat setiap perkataan yang ia ucapkan dimalam terakhir kami bercinta. Sulit sekali rasanya melupakan itu semua, Al”
Pelacur memang sepatutnya diperlakukan seperti pelacur.
Kalimat itu terus bergaung dan semakin mengeras suaranya ketika Judith membaringkan tubuh di ranjang lamanya. Setiap memori bagai klip yang berputar, tentang bagaimana Jeanno yang kesetanan menyetubuhinya, menggoreskan tak lain luka dan getirnya darah. Entah sudah berapa kali Judith mengubah posisi tidurnya, yang mana tidak membantu sama sekali. Bisikan itu baru terhenti, ketika ia menjauh dari ranjang.
Dan disinilah dirinya, meringkuk seperti anak kecil yang kedinginan dibalik pintu. Memandang sendu ranjang yang sekarang terlihat mengerikan.
“Tapi aku tidak bisa membencinya. Aku tidak bisa membuangnya jauh-jauh sekeras apapun kucoba. Alana, kenapa kita harus jatuh cinta pada pria yang sama?”
**
Dalam ruang kerja yang tertutup, Arman menghabiskan entah berapa lama untuk membaca dan menelisik setiap fakta dari informasi yang berhasil ia kumpulkan. Sebagian yang ia dapatkan dari kenalannya didalam perusahaan Jeanno, bahwa Nayara Alexander dirumorkan menderita kanker darah yang semakin lama stadiumnya bertambah parah hingga kritis. Dikala itu Jeanno sendiri yang turun tangan menjaga istrinya, sekitar tiga bulan pria itu menghilang total, sementara perannya di perusahaan digantikan oleh Marco Sebastian. Kemudian Jeanno muncul kembali, sebagai pribadi yang jauh lebih dingin dan sulit untuk didekati. Ia yang semula sudah tertutup, menjadi berkali lipat menutup dirinya. Bahkan menolak untuk datang ke acara formal, yang selalu mengirim perwakilan entah itu dari Marco atau sekretarisnya.
Jeanno yang semula sering absen dari kegiatan kantor karena menjaga Nayara di rumah sakit, setelah itu malah lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja. Terkadang membawa si kecil ke kantor, yang kebetulan ada ruangan tersembunyi yang dipergunakan sebagai kamar didalam ruang kerja Jeanno. Yang bisa digunakan untuk istirahat dan bermain sang putri.
Sejak itu sosok Nayara Alexander seperti hilang ditelan bumi. Setiap ditanya bagaimana kondisi istrinya, Jeanno hanya menjawab “sedang dalam masa pemulihan. Doakan saja yang terbaik” selalu seperti itu. Hingga si penanya kelelahan sendiri dan melupakan masalah kesehatan sang Alexander.
Lalu berselang kurang lebih satu tahun, publik dikejutkan oleh munculnya kembali Nayara Alexander. Dengan fisik sehat dan cantik. Seperti tidak pernah memerangi penyakit ganas seperti yang dirumorkan. Jeanno juga dengan bangga menunjukkan istrinya dimuka umum, berbeda jauh dengan sebelumnya.
__ADS_1
Lucunya, setelah Arman perhatikan, hilangnya Judith hanya selisih sebentar dengan munculnya kembali Nayara Alexander. Penampilan Nayara tentu berbeda dengan Judith. Nayara yang gaya berpakaiannya begitu kalem, rambut coklat gelap yang tergerai sebatas pinggang, riasakan make up sederhana. Tidak sebanding dengan Judith yang rambutnya lebih pendek dan diwarnai terang. Juga gaya busana Judith yang lebih terkesan seksi. Sekilas, dua wanita itu sangat berbeda.
Tapi.. bagaimana jika penampilan Judith diubah seperti Nayara, begitu juga sebaliknya?
Mengenai luka di daun telinga Judith, tempo hari ia sempat melihat adanya goresan samar disana ketika berkunjung ke putri Jeanno. Tidak sampai lama memperhatikan memang, tapi Arman mempercayai apa yang ia yakini saat ini. Diurut dari awal pertemuannya dengan ‘Nayara’ yang terlihat sangat gugup cenderung takut, kemudian ‘Nayara’ yang sempat kembali menghilang disusul sosok Jeanno yang kembali tertutup.
Menarik kesimpulan bahwa… Nayara adalah Judith.
Berada di kafe yang berjarak dua menit dari kediaman Jeanno, Arman meraih ponselnya, menekan nomor milik Jeanno Alexander.
“Halo”
“Selamat pagi, tuan Alexander. Masih ingat denganku?”
“Ya. Arman Mahendera. Ada yang bisa kubantu? Mengingat sudah lama kita tidak berkomunikasi, jika kau menghubungiku untuk alasan yang tidak penting, ada baiknya kau memutus sambungan terlebih dahulu”
Arman tersenyum, mengagumi bagaimana Jeanno yang masih pongah dibalik rahasia yang ia simpan. “Aku hanya minta waktumu sebentar, Jeanno”
Terdengar helaan nafas kasar. “Katakan apa tujuanmu menelponku”
“Sejujurnya aku masih menyimpan rasa bersalah kepada istrimu. Aku ingin meminta maaf lagi, tapi aku bingung.. harus meminta maaf secara langsung atau…”
Genggaman Jeanno pada ponselnya meremat. “Atau..?”
__ADS_1
“Atau harus meminta maaf dipusaranya?”