
Jeanno masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan Judith karena wanita itu langsung berpamitan dengan tergesa-gesa dan masuk kedalam. Tanpa memberinya jeda untuk bertanya maksudnya. Menggunakannya untuk melepaskan rindu? Apa itu ada kaitannya dengan pelukan tadi?
Jeanno mengusap wajahnya kasar. Usai mematikan rokok yang belum habis terbakar, pria itu memutuskan untuk masuk ke villa. Mungkin berdiam di kamarnya akan mampu membuatnya terlelap.
Di tempat yang berbeda namun waktu yang sama, Mark dibuat bingung setengah mati karena sikap Hannah yang menghindari tatapannya sedari ia menjemput kekasihnya di Victoire sampai menjelang mereka tertidur. Hannah juga berbaring memunggunginya, tidak bergelung manja dalam pelukannya seperti biasa. Ada apakah? Apa ia berbuat kesalahan? Tapi seingat Mark, mereka baik-baik saja malam tadi, bertukar pesan dan bercakap di telpon seperti hari biasa.
“Hannah..”
Kekasihnya tak merespon. Mark yang semula ingin menuntut penjelasan, lantas mengurungkan niatnya. Mungkin Hannah hanya kelelahan, dan mengajaknya bicara selarut ini pasti akan mengganggu istirahatnya. Pria itu menggeser posisi tidurnya hingga dadanya menempel pada punggung Hannah, tangannya ia lingkarkan ke perut sang kekasih.
“Selamat malam, sayang”
Diucapkannya dengan nada lembut, Mark memejamkan mata usai memberikan ciuman selamat tidur ke puncak kepala Hannah. Tanpa mengetahui bahwa Hannah masih terjaga, sibuk merutuki dirinya yang telah mengecewakan Mark. Sibuk menyalahkan dirinya yang telah membiarkan pria lain mencumbu. Airmata penyesalan tak bisa ia cegah mengalir keluar. Menahan isakan supaya tidak membangunkan lelakinya.
‘Maafkan aku, Mark. Maafkan aku’
**
Hannah menghela nafas sedih. Usai mandi dan bercermin, ia melihat bagaimana tanda sialan itu tercetak jelas pada kulitnya. Jika Mark melihat pria itu pasti akan marah, atau lebih tepatnya kecewa. Untunglah Louis meninggalkan tanda itu di tulang selangkanya, yang mana bisa ia tutupi dengan mudah. Berbeda cerita jika di leher, apa yang mau ia katakan pada Mark nantinya?
“Sayang? Kau baik-baik saja?”
Mark mengetuk pintu kamar mandi. Membuat Hannah terlonjak kaget, juga menyadari ia menghabiskan waktu lebih lama untuk mandi. “Y-ya, aku akan segera keluar”
Sekalipun berada dibagian tubuh yang mudah ditutupi, Hannah tetap harus berjaga-jaga. Ia meraih fondation, menutupi kissmark bodoh itu supaya samar.
“Maaf, aku keasyikan berendam jadi memakan waktu lama di kamar mandi”
Mark terkekeh, mengusap lengan wanitanya lembut. “Tidak apa-apa. Aku hanya cemas, takut jika kau ketiduran atau malah pingsan”
Hannah ikut tertawa. “Aku siapkan bekal makan siang ya? kau mau apa?”
“Sayang, kau lupa kalau ini hari minggu?”
Hannah menepuk dahinya. “Benarkah? aku sungguh lupa. Bekerja di malam hari membuatku tidak menyadari perubahan hari”
__ADS_1
Mark tersenyum, menarik Hannah kedalam pelukannya. Dihirupnya aroma sabun yang masih tertinggal di kulit kekasihnya. Begitu memabukkan dan menusuk saraf penciumannya. Atas dorongan itu, Mark semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hannah. Membuat Hannah sedikit beringsut tak nyaman, bukan karena pelukan Mark, lebih kepada takut jika bathrobenya tak sengaja tergeser dan menampakkan tanda dari Louis.
Mark yang menyadari gestur penolakan dari Hannah, lantas mengangkat wajahnya. Mendapati adanya raut tidak nyaman dari wajah ayu itu. “Sayang, kau oke?”
Hannah mengangguk sekilas. “Ya. Aku baik-baik saja. Aku.. aku berganti pakaian dulu, kau tunggu di meja makan, ya? kita sarapan bersama”
Perempuan itu melangkah ke lemarinya untuk mengambil pakaian, dan kembali ke kamar mandi dengan langkah panjang dan pandangan tak fokus. Meninggalkan Mark dalam tanda tanya yang belum terjawab sejak semalam.
Apa kekasihnya tidak nyaman dengan perlakuannya? Tapi yang ia lakukan hanya memeluknya. Hal biasa yang mereka lakukan setiap saat. Apa Mark telah melanggar batas kenyamanan Hannah?
Pria itu membuang nafas. Jika memang begitu, ia akan meminta maaf pada kekasihnya nanti.
*
Jeanno terbangun dan mendapati suara Judith dan Aera menyapa pendengarannya. Keduanya tengah memasak di dapur, diiringi cerewetnya Aera yang bertanya ini itu, dan bagaimana Judith dengan sabarnya menjawab pertanyaan si kecil.
“Selamat pagi, papa!”
“Selamat pagi sayang”
“Aera sedang apa?”
“Aera sedang menemani mama membuat sarapan”
“Oh ya? memang Aera tau mau memasak apa?”
Si kecil mengangguk. “Telur dan nasi goreng. Telurnya sudah matang, lalu Aera yang membentuknya seperti bintang dengan cetakan ini. Lucu kan, papa?”
Jeanno melihat hasil ‘karya’ putrinya yang berjejer diatas piring, bersebelahan dengan cetakan bintang dan bulan yang jika dilihat seperti cetakan kue. “Wah, pintar sekali anak papa”
“Aera kalau sudah besar ingin pandai memasak seperti mama. Aera bisa tidak ya?”
Sebelum Jeanno menjawab, Judith sudah lebih dulu merespon. “Tentu saja bisa, sayang. Sekarang saja Aera sudah jago membantu mama di dapur”
“Tapi mama kan sudah jago, Aera tidak bantu saja masakan mama tetap enak”
__ADS_1
Judith tersenyum seraya menjawil hidung mungil Aera. “Kalau tidak ada Aera mama pasti kewalahan”
Senyuman Aera merekah, merasa bangga jika sang mama ternyata menghargai bantuannya. “Kalau begitu Aera berjanji akan membantu mama memasak”
“Iya sayang. Tapi setelah Aera mengerjakan PR. Mengerti?”
Si kecil mengangguk patuh. Kemudian menoleh kearah Jeanno yang sedari tadi memperhatikan keduanya. “Papa duduk saja, biar Aera dan mama yang menyiapkan makanannya”
Jeanno terkekeh, kepalanya ia anggukan. “Baiklah nona muda”
Pria itu menuruti perintah putrinya. Ia mengambil tempat disalah satu kursi makan, memainkan ponselnya untuk mengecek email pekerjaan. Hanya beberapa menit, karena ternyata pemandangan Judith dan Aera memasak menurutnya jauh lebih menarik. Disimpannya kembali alat komunikasi itu untuk memperhatikan dua perempuan berbeda generasi tersebut.
**
“Sayang..”
Hannah mengangkat wajahnya. “Ya?”
“Kau baik-baik saja?”
Gadis itu berhenti menyuapkan nasi, mengangguk pelan. “Ya. Aku baik-baik saja. Kenapa bertanya seperti itu, Mark?”
Mark menggeleng. “Kau terlihat aneh sejak pulang dari Victoire. Aku tidak mau memusingkan posisi tidurmu yang membelakangiku tapi.. kau menghindari tatapanku, kau juga mundur ketika aku memelukmu tadi. Apa perlakuanku melewati batas kenyamananmu?”
Jantung Hannah berdegup kencang. Ini kali pertamanya Mark bicara padanya dengan nada rendah, membuat kesan serius yang dingin mengepung meja makan yang biasanya hangat oleh canda tawa mereka.
“Tidak, Mark. Kau sama sekali tidak membuatku kurang nyaman. Hanya saja.. aku sedikit tidak enak badan”
Dahi Mark mengerut, ingin sekali rasanya ia menekan Hannah lebih jauh. Karena tanpa gadis itu sadari, Mark sebetulnya heran mengapa ia harus memakai atasan turtle neck di pagi hari. Namun Mark mengurungkan niatnya bertanya lebih jauh, seperti yang pernah Hannah katakan dan ia janjikan untuk menunggu gadisnya berbagi cerita, dengan sendirinya.
Ini hanya masalah waktu, kan? Tapi masalahnya, harus sampai kapan Mark menunggu?
‘Hannah.. ada berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku?’
**
__ADS_1