
Mama Rianti
Calling…
Tyona menghela nafas panjang. Persoalan pelik rumah tangganya membuat Tyona benar-benar lupa bahwa hari ini adalah tanggalnya. Tanggal dimana masa suburnya telah usai dan seharusnya bisa mengandung jika sudah dibuahi. Catatan, untuk perempuan normal dan jika dibuahi. Karena pada faktanya Jeffrey menciptakan jarak antara dirinya dengan istrinya sendiri. Jangankan berhubungan badan, berbagi pelukan saja sudah tidak pernah.
Mama Rianti
4 Missed call(s)
Semalam Tyona tertidur membelakangi Jeffrey. Pria itu tak berkata apapun sekalipun Tyona bisa merasakan tubuhnya berbaring disampingnya seperti biasa. Jangan minta maaf karena telah menuduh Tyona yang bukan-bukan, sekedar bertanya kabar saja tidak. Tyona yakin Jeffrey melihat wajah sembabnya, namun pria itu tak berkata apapun. Membuat dadanya semakin sesak karena untuk kepedulian sekecil itu saja, sang suami sudah tidak peduli padanya.
Mama Rianti
Calling..
Tyona memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Karena yakin jika tidak diangkat, Mama Rianti akan terus menelponnya. Atau yang lebih buruk, datang ke apartemen mereka.
“Lama sekali, kemana saja, Anna?”
“Maaf, Ma. Aku habis dari kamar mandi”
Terdengar ‘Ck’ samar yang bisa didengar Tyona. “Lalu bagaimana hasilnya?”
“Aku.. “ Tyona menggigit bibir. “Aku tidak melakukan test, Ma”
__ADS_1
“Kenapa? Bukankah ini tanggalnya?”
Tyona menunduk. Untuk saat-saat seperti ini lantai jauh lebih menarik dibanding melihat kearah lain. “Kami sama-sama sibuk sehingga tidak ada waktu untuk itu, jadi aku tidak mengambil test karena sudah pasti hasilnya negatif”
“Astaga, Anna. Kalau seperti ini terus bagaimana kau akan mengandung? Itu sama saja kau membuang waktu. Dan lagi sudah kewajibanmu untuk melayani Jeffrey, atau jangan-jangan kau yang menolak disentuh?”
Kepala Tyona berdenyut dan telinganya panas. Mengapa Ibu dan Anak ini suka sekali menuduhnya untuk hal yang tak berdasar?
“Mama tidak mau tau, kau harus cepat menelpon Mama untuk memberitahu hasil testnya. Mau positif atau negatif, jangan sampai ada bulan yang terbuang hanya karena kesibukan kalian”
“… atau karena kearogananmu, Anna”
Telpon diputus secara sepihak. Membuat Tyona setidaknya bernafas lega karena panggilan pedas itu sudah selesai. Jika saja ibu mertuanya tau seperti apa kelakuan putra kesayangannya. Apakah Rianti akan tetap membela Jeffrey?
Tyona memandang Jeffrey yang masih terlelap. Suaminya jaga malam, jadi ia biarkan pria itu masih pulas dalam tidurnya. Mungkin Tyona akan menggantikan jadwal dokter lain jaga malam juga. Setidaknya sibuk di Rumah Sakit akan membuatnya sedikit teralihkan dari prahara rumah tangga. Karena sejujurnya ia masih belum siap bicara empat mata dengan Jeffrey. Jadi sekalipun terdengar pengecut, biarlah ia menghindar, untuk sementara.
Setelah menyiapkan seragam jaga dan keperluan Jeffrey yang lainnya, Tyona berangkat ke rumah sakit. Tanpa mengecup kening Jeffrey, tanpa berpamitan.
**
Judith meraih ponselnya di dalam tas. Mencoba mendial nomor Renatta namun berakhir dengan nada sibuk. Padahal ia sudah bersiap mendamprat Renatta habis-habisan. Dengan penuh rasa kesal, Judith membalikkan tubuh, memutuskan untuk kembali ke sekolah Aera.
Baru saja tangannya terulur menuju knop pintu, bunyi bel terdengar dari luar. Membuatnya terlonjak kaget. Semula ia mengira yang datang Renatta atau Hannah. Membuatnya nyaris membukakan pintu sebelum berpikir, untuk apa sahabat-sahabatnya memencet bel jika mereka bisa masuk dengan passcode?
Penasaran, Judith memilih untuk menuju intercom guna melihat siapa yang datang. Dan… tubuhnya begitu lemas ketika melihat wajah siapa yang terpampang di pintu apartemennya.
Arman Mahendera.
__ADS_1
Pria itu nampak kesal karena belnya tak kunjung direspon. Ia memencet bel, kali ini secara brutal membuat nada itu tak kunjung putus menggema didalam apartemen. Judith masih dilanda ketakutan yang luar biasa hingga tubuhnya gemetar, ketika Arman sudah tak lagi fokus pada bel, melainkan sibuk mengutak-atik passcode apartemennya.
Dengan segenap sisa tenaga, Judith segera mengunci pintu tersebut dari dalam. Menghindari Arman jika saja kombinasi angka yang pria itu masukkan benar. Judith tidak ingat apakah ia pernah memberitahu Arman mengenai angkanya, samar-samar iya, mengingat dirinya berbagi apapun dengan pria itu sebelumnya. Judith hanya berharap Arman lupa akan passcodenya, atau salah satu kawannya telah mengganti tanpa sepengetahuannya. Tapi yang kedua jelas tidak mungkin, karena jelas-jelas tadi Judith berhasil masuk dengan kombinasi angka yang lama.
Ketika nada yang menunjukkan kombinasi angka yang dimasukan berhasil, kaki Judith sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya. Ditambah knop pintu yang bergerak-gerak dari luar, menandakan usaha Arman untuk masuk kedalam.
Judith membekap mulutnya sendiri, masih dengan tubuh yang bersandar di balik pintu, menahan benda itu supaya tidak terbuka sekalipun kombinasi passcode benar. Airmatanya berhasil lolos, sungguh Judith ketakutan setengah mati! ia hanya bisa berdoa, berharap Arman lelah akan usahanya membuka pintu dan memilih pergi.
Beruntung, sepuluh menit berlalu, sepertinya Arman menyerah. Satu gedoran kencang sebelum Arman angkat kaki. Membuat Judith yang tubuhnya sudah lemas dan bergetar hebat, lega bukan main. Walaupun ia harus menunggu hampir satu jam untuk keluar dari apartemen. Untuk memastikan bahwa Arman benar-benar pergi.
Judith tidak berani membayangkan, jika saja ia lebih cepat membuka pintu dan bertemu dengan Arman. Akan jadi seperti apa nantinya?
**
Masih teringat akan insiden tadi siang yang membuat jantungnya masih berdetak hebat jika diingat, Judith masih tidak yakin apakah ide makan malam ini adalah hal yang benar. Namun bukan kapasitasnya menolak, terlebih alasan Jeanno yang cukup masuk akal untuk menerima undangan Arman. Ini adalah kesempatan terakhirnya membuktikan kepada Arman bahwa ia adalah Nayara. Jika Judith menghindar, bukankah Arman akan curiga nantinya?
“Arman pasti sudah menyelidiki latar belakangku. Dia penasaran apakah betul istriku memiliki rupa yang sama seperti Judith. Begitu ia mendapatkan faktanya, dan melihat kemiripan yang sangat besar antara Nayara denganmu, ia pasti berpikir bahwa kau adalah Nayara. Dan mengingat aku memiliki hubungan baik dengan Ayahnya, ia tidak ingin berita bahwa dirinya melecehkan istriku sampai ke telinga tuan Robert. Maka dari itu ia ingin meminta maaf, sekaligus memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa kau bukanlah orang yang ia cari”
Begitu penjelasan Jeanno ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran tempat mereka akan makan malam. Menurut Jeanno, Arman datang sendiri tanpa istrinya. Karena kesibukan Winona dalam aktifitas keartisannya.
“Nanti biar aku yang bicara, kau hanya perlu merespon seperlunya dan.. mungkin skinship sebagai pemanis?”
Judith mengangguk. Mobil Jeanno sudah sampai di restoran mewah tersebut. Membuatnya teringat akan kegugupan yang Judith rasakan ketika hendak datang ke acara Iris Group. Hanya saja sekarang jauh, jauh lebih horor.
“Kau percaya padaku, kan?”
Judith mengangkat wajahnya. Melihat bagaimana sepasang kelereng kembar itu memandangnya lamat-lamat. Jeanno nampak tenang dan pria itu selalu meyakinkannya bahwa ia akan menjaganya. Tangan besar itu terulur, meraih jemarinya diatas paha.
__ADS_1
“Anggap saja ada poin kesebelas yang bunyinya.. pihak pertama akan melindungi pihak kedua selama masa perjanjian berlangsung”
**