Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Episode 35


__ADS_3

"ayo kita pulang". mas bram mencoba ingin menggendong ku.


"mas, kamu mau ngapain?  aku masih bisa jalan". aku menolak untuk di gendong.


Ryo datang menghampiri ku dan mas bram, ia terlihat seperti merasa bersalah karena telah lupa menyampaikan pesan ku pada mas bram.


"karin, aku.... ". Ryo menundukkan kepalanya dengan suara bergetar.


"tidak apa-apa Ryo, ini semua bukan kesalahan kamu". ucapku sambil tersenyum.


mas bram menatap ku dan Ryo dengan pandangan aneh dan penasaran.


"apa yang kalian bicarakan?"ucap mas bram.


"sudahlah mas gak usah di bahas, aku ingin segera pulang". jawabku.


"Ryo!!". mas bram menatap Ryo dengan tatapan tajam.


"ohh itu, anu bram... aku.... ". Ryo terbata-bata saat menjawab ucapan mas bram.


"mas, katanya mau antar aku pulang". aku sengaja mengalihkan topik pembicaraan mas bram.


"ohh iya sayang, ayo. pelan-pelan jalannya".mas bram memegang tangan ku.


"bram, kamu mau kemana?  bagaimana dengan makan malam kita". ucap Ryo.


"kalian saja yang melanjutkan makan malamnya. pakai ini untuk membayar semua tanggihan yang kalian pesan". mas bram memberikan kartu kredit perusahaan pada Ryo.


"wahh... ini baru benar". Ryo tampak senang saat menerima kartu kredit dari mas bram.


"ingat, kamu masih punya hutang penjelasan padaku. jangan sesekali mencoba untuk menghindari ku". mas bram sedikit mengancam pada Ryo.


"huhh... sadis amat kamu bram pada temen sendiri". guman Ryo.


mas bram yang mendengarkan gumam Ryo,ia membalikkan badan dan memelototi Ryo.


"iya... besok akan aku jelaskan". jawab Ryo dengan tegasnya.


"Bagus". mas bram mengacungkan jempolnya pada Ryo.


"ayo mas, kok malah bercandaan sih". aku menarik tangan mas bram agar cepat melanjutkan jalannya.


"iya iya sayang".


saat mas bram mengantarkan aku pulang, di dalam mobil kami sempat tidak berbicara satu sama lain beberapa saat. 


sesekali mas bram melirikku tapi saat aku menatapnya, mas bram mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"bicara saja mas, jika ada yang ingin kamu sampaikan". ucapku sembari memainkan ponselku.


"ohh.. gak sayang, hanya saja kamu terlihat sangat cantik malam ini". mata mas bram terus menatapku.


"mas, tolong fokus lihat ke depan. kamu sedang menyetir mobil mas".


"gimana aku bisa fokus sayang, kalau ada bidadari di samping ku". jawab mas bram.


"kamu ya mas... ". aku melototin mas bram dengan garangnya.


"iya sayang, ini aku fokus nyetirnya". seketika mas bram menegakkan tubuhnya.


"hmmm sayang". mas bram terlihat memainkan jari-jarinya di setir mobil.


"kenapa mas?".


"kamu belum jelaskan, kenapa kamu tadi ada di restoran?". tanya mas bram yang masih penasaran.


"untuk makan malam". jawabku singkat .


"sendirian?  tapi aku tidak melihat ada piring makanan di atas meja".


"udalah mas gak usah di bahas". jawabku sedikit kesal.


"kamu kenapa sayang? sepertinya kamu marah padaku". mas bram merasakan perubahan sikap ku padanya.


"gak". lagi-lagi aku menjawab dengan jutek.


tapi, pada saat kami sampai di rumah, aku melihat ada seorang wanita berdiri di depan pintu rumah.


"siapa itu?". aku memfokuskan pandangan mataku pada sosok wanita itu.


"hmm mana?". ucap mas bram.


setelah mas bram memarkir mobilnya, aku  terlebih dahulu turun dari mobil dan berjalan menghampiri wanita itu.


"rara!!?". aku terkejut melihat rara tepat di depan mata.


"malam". rara menyapa ku dengan wajah datar.


"ada apa?". tanyaku.


"aku kemari ingin menemui pak bram".  jawab rara.


pandangan matanya melihat kearah mas bram yang tengah berjalan menuju kearah kami. terlihat sudut bibir rara terangkat dan tersenyum.


"rara?  ada apa?". tanya mas bram.


"oh, malam pak bram. saya datang kemari untuk memberikan ponsel bapak". rara memberikan ponselnya pada mas bram.


"ohh iya terima kasih, saya lupa". jawab mas bram sambil mengambil ponsel dari tangan rara.


"ponsel??". aku menatap kearah mas bram.


"aah ini, aku tadi ninggalin ponselku di kantor. terima kasih rara, tapi kenapa kamu menunggu di luar?". ucap mas bram.

__ADS_1


"bi nina gak ada di rumah". jawabku sedikit kesal dan langsung masuk ke dalam rumah.


"rara pulanglah sudah malam, terima kasih sudah mengantarkan ponsel saya".


"baik pak, saya permisi dulu". rara langsung melangkahkan kakinya keluar.


segera mas bram menghampiri ku yang sedang duduk di ruang keluarga. sesekali aku menggoyangkan kaki ku yang masih terasa sedikit sakit.


"sayang, masih sakit kakinya?apa kita perlu ke dokter?". mas bram memegang kakiku.


"mas, apa karyawan-karyawan kamu tidak tahu kalau aku ini istri kamu?". tanyaku.


"hmm, kenapa kamu tanya seperti itu sayang. jelas mereka semua tahu kalau kamu adalah istriku".


"lalu, bagaimana dengan rara?".


"oh rara, dia baru saja tiba dari inggris sayang, mungkin dia belum mengetahuinya". jawab mas bram sedikit gugup, matanya terlihat ragu.


"mas tau gak?  sudah dua kali dia datang kerumah ini, sudah dua kali juga dia tidak mengahargaiku sebagai istri kamu mas. saat aku bertanya padanya, dia selalu mengabaikan ku. lebih parahnya lagi, dia menganggap aku sebagai pembantu di rumah ini". aku mengungkapkan semua kekesalan ku pada mas bram.


"sayang, aku minta maaf atas perlakuan rara pada kamu. tapi aku.... ".


"apa mas?  kamu minta maaf atas nama dia?".


"iyaa itu karna dia karyawanku, aku merasa bersalah juga pada kamu sayang".


"aku bener-bener gak ngerti sama kamu mas, bahkan kamu mempercayai dia untuk memegang ponsel kamu".


"bukan begitu sayang, tadi saat rapat ada beberapa file di ponselku dan aku menyerahkanya pada ryo.aku bener-bener gak tau,kenapa ponselku bisa ada pada rara". mas bram berusaha menjelaskannya padaku.


aku sudah terlanjur kecewa dan marah, mau penjelasan seperti apapun aku tidak bisa menerimamya saat hatiku terasa panas.


mas bram terlihat membuka ponselnya dan melihat ada beberapa notifikasi dari ku.


"sayang, kamu.... ". mas bram masih melanjutkan membaca pesan-pesan yang aku kirimkan padanya.


"aku mau istirahat". aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar. lalu mas bram menarik tanganku dan memelukku.


"maafkan aku sayang". ucap mas bram dengan nada lirih.


"apaan sih mas, lepaskan aku". aku mencoba memberontak dan kemudian melepaskan pelukkan mas bram.


"aku minta maaf telah mengabaikan kamu dan membiarkan kamu menunggu sendirian seperti tadi".


"sudahlah mas, aku lelah". aku mengabaikan permintaan maaf mas bram dan berlalu meninggalkannya di ruang keluarga.


"bukan hanya tubuhku yang lelah mas, bahkan hati ku juga sangat lelah". aku terus berjalan dengan mengepalkan kedua tanganku.


***


pagi hari....


aku tidak ingat banyak apa yang terjadi setelah aku meninggalkan mas bram sendirian. seingatku aku merebahkan tubuhku di atas sofa kamar, tapi kenapa tiba-tiba aku ada di atas ranjang.


aku terbangun dengan sedikit bingung, tubuhku telah tertutup dengan selimut dan  gaun ku berubah menjadi piyama berwarna putih.


"sayang, sudah bangun". mas bram datang dengan membawa secangkir teh hangat.


"kamu yang ganti baju ku mas?". tanyaku.


"iya dong sayang, siapa lagi? kan cuma ada aku di rumah ini". jawab mas bram sembari membuka jendela kamar.


cahaya matahari pagi langsung masuk dan menyinari wajahku yang sembab.


"ahh". aku menepis cahaya matahari dengan tanganku.


"sudah waktunya bangun sayang. kamu sudah tidak marah lagi kan?".


"kamu fikir aja sendiri mas". aku beranjak dari ranjang.


"sayang tunggu, aku minta maaf. aku salah telah mengabaikan pesan dari kamu dan membiarkan kamu menunggu sendirian. sebagai permintaan maafku, aku rela kamu hukum aku sayang". mas bram berlutut di hadapanku dengan kedua tangannya memegang telinganya.


"apaan sih mas". aku mengernyitkan dahi ku.


"sayang, please maafkan aku ya. aku mohon". mas bram memegang kedua kakiku sehingga aku tidak bisa bergerak.


"mas!! lepasin kaki aku".


"tapi kamu maafkan aku ya sayang".


"hmm". jawabku.


mas bram terlihat bahagia melihat aku memaafkan nya, ia langsung memeluk ku dan mencium keningku.


"mas udah dong". mas bram terus-menerus  menciumku.


hingga akhirnya, mas bram menjatuhkan ku di atas ranjang dengan posisi dia atasku. entah apa yang merasuki mas bram sampai dia begitu semangatnya.


"mas, udah pagi". ucapku sambil menahan tubuh mas bram yang terasa berat.


"kenapa kalau pagi sayang?kamu maunya malam ya.  lagian dirumah kita sendiri, gak akan ada orang selain kita berdua". mas bram lanjutkan menciumku hingga aku kehabisan nafas.


ddrrt....ddrrt... ddrtt...


terdengar getaran ponselku di atas meja rias.


"sebentar mas, aku angkat telpon dulu". aku segera mengambil ponselku.


"aahh.. menganggu saja". gumam mas bram yang terlihat kesal.


"hallo ma". ternyata Mama mas bram Video Call padaku.


"hallo karin, apa kabar kamu?".

__ADS_1


"kabar baik ma. gimana kabar mama, papa dan alisya".


mendengar suara mama, mas bram langsung berlari kearahku.


"itu mama?". bisik mas bram.


"iyaa, sssttt sebentar ya mas". aku menjawab dengan bisikkan juga.


"kabar kami di sini semua baik-baik saja. mama VC hanya ingin tahu kabar kalian saja. apa bram menyulitkan kamu karin?".


"ohh itu, tidak ma. hanya saja...... ".


"hallo mama, aku disini". tiba-tiba mas bram merebut ponselku.


"yaaa, kamu kenapa masih di rumah. apa kamu tidak ke kantor".


"aku ambil libur satu hari ma, aku ingin menjaga karin" jawab mas bram dengan asalnya.


"menjaga karin? ada apa dengan karin?  apa dia sakit?".mama terdengar panik mendegar ucapan mas bram.


"tidak ma, aku tidak sakit. jangan dengarkan kata-kata mas bram ma".


"aduh kamu bram, buat mama panik aja".


"hehehehe maaf mama. o iya, dimana alisya ma?".


"alisya di rumah Bayu, tadi pergi di antar sama papa kamu. apa kalian merindukannya ya?".


"iya ma, aku sangat rindu dengan alisya". jawabku.


"kembalikan dong ma anak kami". ucap mas bram.


"kalian sudah bersamanya bertahun-tahun dan Setiap hari. alisya baru beberapa hari sama mama, kalian sudah minta di kembalikan. gak, mama gak akan antar alisya pulang. dia sudah betah di sini sama mama dan papa. " jawab mama.


"kamu sih mas". aku memukul pundak mas bram.


"baiklah ma, deal ya. biarkan saja alisya di sana, jadi tidak akan ada yang mengganggu kami berdua,ya kan sayang". mas bram merangkulku dan mengedipkan matanya.


"yaa.... kamu ya bram". teriak mama dengan senyum.


"oke mama, bye". mas bram langsung mematikan VC-nya.


setelah video call dengan mama, aku merasa sedih dan tidak bersemangat. aku terduduk di ranjang dengan menundukkan wajahku dan mengerinyitkn dahi.


"sayang, kok jadi sedih sih".mas bram menghampiriku.


"gara-gara kamu mas, mama gak mau antar alisya pulang". ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"ya ampun sayang, mama hanya bercanda. gak mungkin mama beneran gak antar alisya pulang. kalau itu terjadi, kita akan ke Singapura untuk jemput alisya". mas bram mencoba menghibur ku.


"aku rindu alisya mas". pada akhirnya air mataku terjatuh dan tak sanggup aku bendung lagi.


mas bram menatapku dalam, ia mengerti betapa aku sangat merindukan alisya dan berharap alisya segera pulang.


"sudah sayang jangan menangis lagi, melihat kamu menangis hatiku sakit". mas bram memelukku dengan hangatnya.


pelukkan mas bram membuatku tenang dan nyaman. walaupun terkadang mas bram membuat ku kesal tapi hati mas bram sangat baik dan tulus padaku.


"sudah ya, ayo kita turun dan sarapan. aku sudah buatkan sarapan buat kamu". mas bram menggandeng tanganku.


"kok kamu mas yang buat sarapan?  bi nina kemana?".


"duduk sayang. bi nina izin tidak masuk dua hari karena anaknya sakit. jadi aku izinkan bi nina seminggu untuk libur". jawab mas bram dengan senyuman liciknya.


"kamu sengaja ya mas, biar cuma kita berdua di rumah". aku sangat mengerti apa maksud mas bram.


"kamu tau aja sayang.semenjak kita menikah, kita itu tidak punya waktu yang bener-bener hanya untuk kita berdua. aku juga merasa bersalah sama kamu sayang, karena aku terus sibuk dengan kerjaan, sampai aku mengabaikan kamu". jawab mas bram dengan menggenggam tanganku.


aku menghela nafas dan menatap mata mas bram.


"mas, aku tidak mempermasalahkan tentang kerjaan kamu yang begitu banyak. tapi, hanya satu yang aku minta sama kamu mas".


"apa sayang?  katakan saja". mas mendekatkan wajahnya di hadapanku.


"jangan pernah kecewakan aku atau membuatku terluka mas".


"iya sayang, aku janji gak akan ngecewain kamu".mas bram mengecup bibirku.


"semoga prasangka buruk ku terhadap kamu salah mas".


"ayo sayang, kita sarapan dulu. coba deh masakkan ku, enak apa tidak". mas bram menyuapkan sesendok nasi padaku.


"gimana sayang?". mas bram terlihat penasaran gimana reaksi ku terhadap masakkannya.


"uhukk.. uhukk.. uhukk... minum mas". aku tersedak hingga terbatuk-batuk.


"kenapa? kenapa sayang?  ini minumnya".


"ahh, asin banget mas nasi gorengnya". jawabku.


"yang bener sayang, coba aku rasakan dulu".


saat mencoba masakkannya sendiri, mas bram terlihat terkejut dan memuntahkannya.


"iya sayang, maaf ya sayang". mas bram merasa bersalah padaku karena telah membuat sarapan yang tidak bisa di makan sama sekali.


"hahahaha sudah mas tidak apa-apa, biar aku buatkan roti saja untuk sarapan kita". aku langsung menuju ke kulkas untuk mengambil roti dan selainya.


"kamu emang istri yang paling the best deh sayang". mas bram mengacungkan jempolnya padaku.


"hmm kalau ada maunya aja baru muji kamu ya mas".


"hehehehe ketahuan deh". jawab mas bram sambil memelukku dari belakang.

__ADS_1


jika ada keraguan yang menganggu fikiran, selama kita masih bisa bicaran dan saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, keraguan itu akan memudar.


aku sangat beruntung bahwa mas bram mengerti dan memahami perasaanku saat ada sesuatu yang membuat ku kesal. setidaknya dia bisa mengatasinya agar aku tidak salah paham padanya.


__ADS_2