
Seperti belum habis keterkejutan yang menimpa Maria akan kecelakaan Mark, Jeanno datang dengan ke rumah sakit bersama seorang wanita yang sungguh mirip mendiang Nayara. Membuat Maria mundur selangkah ke belakang hingga menubruk dada Jose saking terkejutnya. Jose juga nampaknya sama kagetnya, karena bola matanya membulat sempurna dibalik kacamata.
“Akan kujelaskan nanti. Bagaimana keadaan Mark, Paman?”
Jose memijat pundak istrinya lembut seraya membantunya berdiri dengan benar sebelum menjawab pertanyaan sang keponakan. “Mark sempat drop tadi. Tapi syukurlah Tuhan masih mengijinkannya bersama kami”
Terlihat hembusan nafas lega baik dari Jeanno maupun Judith. “Syukurlah. Sepanjang jalan aku sudah ketakutan setengah mati jika terjadi sesuatu yang buruk”
“Tapi dokter menjelaskan bahwa masa kritis Mark masih belum dilewati. Kami diminta banyak-banyak berdoa” Maria menambahkan. Ia masih memandang kearah Judith. Takjub, seakan melihat orang yang sudah meninggal hidup lagi.
“Eum” Jeanno berdehem. “Dia Judith, adik kembar Nayara. Aku memintanya berdandan seperti Nayara untuk sementara waktu, karena aku masih belum bisa menjelaskan kepada Aera apa yang terjadi pada Ibu kandungnya”
Judith menganggukan kepalanya sekilas, bermaksud memberikan sapaan kepada orangtua Mark. Yang dibalas dengan anggukan yang sama.
“Maaf baru memberitahu Ibu dan Paman. Kupikir akan sangat mengejutkan jika tiba-tiba membawa perempuan yang sangat mirip dengan Nayara. Tadi sewaktu mendengar Mark kejang, aku tidak memikirkan apapun selain membawanya kemari. Dan yah..”
Maria melangkah, membingkai wajah Judith dengan dua tangan hangatnya. “Kau.. aku hampir tidak bisa membedakanmu dengan Nayara”
Judith tersenyum canggung. Maria membawanya kedalam pelukan singkat. “Tolong jaga Aera, dia adalah bidadari kecil kami”
Judith mengangguk, tentu saja ia akan menjaga Aera bahkan tanpa diminta. “Ya, terimakasih nasehatnya, Bibi”
“Sekarang aku dan Judith sudah disini. Kalau kalian mau pulang, atau makan, pergilah”
“Tapi, Jean..”
“Aku tidak ingin mendengar bantahan apapun, Ibu. Kalian sudah disini sejak kemarin, sekarang giliranku menjaga Mark. Jangan sampai kalian juga jatuh sakit karena mengabaikan istirahat dan makan. Aku janji akan memberikan kabar jika terjadi sesuatu”
Jose merangkul sang istri, membenarkan ucapan Jeanno. “Benar kata Jeanno. Ada baiknya kita beristirahat sebentar, percayalah putra kita akan baik-baik saja”
Maria memandang Judith dan Jeannos secara bergantian. Bukan, bukan ia tak mempercayai keponakan tersayangnya. Namun hatinya berat meninggalkan Mark yang tengah berjuang hidup di dalam sana. Tapi disisi lain yang Jeanno katakan benar adanya. Jika sampai mereka berdua jatuh sakit, maka akan merepotkan dan menambah beban lainnya.
__ADS_1
“Jeanno, Ibu titip Mark, ya?”
**
Tyona baru saja selesai melipat pakaian kering ketika ponselnya berbunyi. Menampakkan nama Jeffrey sebagai caller ID. Dengan enggan ia menjawab panggilan suaminya.
“Ya?”
“Bersiaplah, Anna. Mama mengajak kita makan malam di rumahnya. Aku masih di Poli, mungkin akan sampai kurang lebih 25 menit lagi”
Tyona meremat ponselnya. Bagaimana bisa ia menghadapi mertuanya setelah apa yang Jeffrey berikan untuknya?
“Anna, kau mendengarku?”
“Oh.. ya, baiklah”
Sambungan telpon terputus sepihak. Tyona masih diposisi semula, menempelkan ponselnya ke telinga seakan ia masih terhubung dengan suaminya. Detik berlalu, tangan wanita itu turun, menyadari bahwa memang mungkin tidak ada lagi yang bisa ia perbaiki dari pernikahannya. Pemikiran akan perpisahan, membawa kembali Tyona dalam isakan dalam.
**
Judith menoleh, tersenyum. “Bukan masalah bagiku. Maaf juga karena aku tidak tau kalau keberadaanku masih Tuan sembunyikan. Kalau tau begitu aku lebih memilih untuk diturunkan saja di halte”
“Bukan salahmu”
Hening. Keduanya duduk di ruang tunggu ICU yang sunyi. Beberapa tenaga medis berlalu lalang, selebihnya kembali lagi hanya mereka berdua.
“Johnny. Apa menurutmu dia akan membantu kita?”
Judith mengedikkan bahu, sesungguhnya ia juga ragu. “Aku tidak tau. Tapi aku mengenal Hannah sejauh yang bisa kuingat. Dia tidak mungkin mengkhianati Kak Mark. Dia pasti ingin melawan, tapi terhalang oleh ancaman Ibunya. Tuan, bagaimana jika Kak Mark sadar dan menyadari kalau Hannah….”
Oh, baik Judith maupun Jeanno belum tau bahwa penyebab kecelakaan Mark bukan lain adalah karena ‘kejutan’ yang datang melalui ponselnya.
__ADS_1
“Yang kau sebut Louis itu, siapa dia?”
“Dia pemilik Victoire. Membangun klub itu dari 0 hingga seperti sekarang. Louis juga yang menyeleksi para penari secara langsung. Aku tidak begitu mengenalnya karena ia tak begitu sering terlihat. Urusan Victoire ia serahkan kepada Johnny selaku tangan kanannya. Aku juga terkejut bagaimana awal ketertarikan Louis kepada Hannah karena sejak awal, ia tak menunjukkan tanda-tanda apapun”
“Aku merasa menjadi teman yang buruk karena tidak ada ketika Hannah kesulitan. Seandainya dia datang padaku untuk meminjam uang, tidak perlu berpikir ulang aku pasti akan memberikannya. Dibanding ia harus masuk kedalam jebakan Louis”
Jeanno mengulurkan tangan, mendekap tangan Judith dan mengusapnya lembut.
“Aku mencemaskannya, Tuan. Hannah.. dia berbeda dari kami para penari yang lain. Dia tidak pernah ikut terseret dalam gelapnya dunia malam. Memang dia penari erotis, tapi dia tidak pernah mau membiarkan pria lain menidurinya sebesar apapun tawaran uangnya”
“Maaf jika aku salah dengar, tapi bukankah tadi adiknya bilang bahwa Hannah pernah mengandung anak Louis?”
Judith menghembuskan nafasnya berat. “Aku yakin itu hanya jebakan. Pria seperti Louis, tidak akan mengambil hal yang merugikan. Menurut Tuan apakah sulit memalsukan surat pernyataan dari Rumah Sakit? Di jaman canggih seperti sekarang semuanya bisa dilakukan dengan mudah”
“Aku menyayangkan sikap Ibunya yang langsung percaya kepada Louis. Mengingat Ibunya adalah satu-satunya yang Hannah miliki setelah ayahnya pergi, Hannah pasti akan menuruti kemauannya walaupun itu bertentangan dengan hatinya”
“Jika kau ada di posisi Hannah.. apa yang akan kau pilih?”
Judith menoleh, membiarkan netranya saling bertukar dengan milik Jeanno.
“Tentu saja aku akan memilih pria yang kucintai. Keluarga memang berharga. Tapi aku selama ini sudah cukup berkorban banyak. Menjajakan tubuhku untuk menari dengan pakaian minim di hadapan puluhan masang lelaki nakal, adalah hal sulit dan menjijikkan. Ketika aku memiliki pilihan untuk bahagia bersama priaku, kenapa tidak? aku berhak bahagia”
Jeanno tersenyum. “Sekali lagi, kau mengingatkanku pada diriku sendiri 8 tahun yang lalu ketika aku kabur dari rumah dan memilih bersama Nayara”
“Yang kita anggap benar, belum tentu Hannah juga berpikiran hal yang sama. Hannah memilih untuk ikut Louis, pasti dengan banyak pertimbangan. Salah satunya takut jika terjadi sesuatu dengan Ibunya”
Judith menyandarkan kepala di dinding, mendecak frustasi. “Lalu menurut Tuan kita harus bagaimana? Aku yakin sebentar lagi mereka benar-benar menikah. Dan yang kutakutkan, bagaimana dengan Kak Mark?”
Jeanno mempererat genggamannya, kini jemari mereka saling bertaut. “Kita coba cari celah untuk membantu Hannah dan Mark semampu kita. Sekarang kau tenangkan dirimu dulu, jangan panik”
Judith mengangguk, dirinya menarik dan menghembuskan nafas perlahan untuk membuang paniknya.
__ADS_1
**