Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 137. Risk It All


__ADS_3

Tidak apa jika tidak memiliki Jeanno, setidaknya ia akan memiliki bagian dari pria itu, yaitu anak mereka yang ia besarkan tanpa sepengetahuan Jeanno. Setidaknya begitulah yang Judith pikir.


“Sayang, makan ya?”


Takdir akhir-akhir ini begitu kejam padanya. Tak memberinya jeda untuk sekedar bernafas lega. Hidup dan hatinya terasa diombang-ambing. Satu waktu Judith merasa ia telah menggenggam dunia dan seisinya dengan menjadi ‘bagian’ dari keluarga Jeanno. Pada akhirnya ia merasakan seperti apa hangatnya keluarga jika terbentuk dengan benar. Namun diwaktu yang berikutnya, dunianya runtuh. Sikap Jeanno yang marah bukan main, putusan kontrak sepihak, gugatan tiga miliar, kemudian harus kehilangan janinnya. Menjadi pukulan telak bagi Judith, membuat perempuan itu bertanya pada semesta untuk apa lagi ia hidup. Karena alasannya untuk berjuang saban hari sudah tidak ada lagi.


“Judith, makan ya? beberapa suap saja, yang penting kau ada nutrisi”


Judith menangis lama sekali. Membuat Hannah kelimpungan. Wanita itu nampak hancur luar dalam, tak peduli kalimat menenangkan dari Hannah, nyatanya isakan itu tak kunjung reda. Bukan tangis histeris dan amukan berupa lemparan barang, Judith menangis dalam diam. Namun justru itu yang membuat Hannah turut merasakan sakitnya. Ia tak pernah melihat Judith menangis sedalam ini, hingga tersengguk dan matanya sembab parah. Sahabatnya baru tenang sekitar setengah jam yang lalu, kemudian membuang muka, memilih memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.


“Baiklah jika kau belum mau makan. Nanti kalau kau lapar, bilang saja ya? aku suapi”


Tak kunjung menjawab iya atau tidak, atau sekedar memberikan gestur berupa anggukan atau gelengan. Hannah memaklumi itu, siapa yang tidak syok jika kehilangan anak kandungnya?


“Aku baru bersamanya sebentar, Hannah. Tapi mengapa Tuhan mengambilnya begitu cepat?”


Isakan itu kembali terdengar. Serak dan memilukan.


“Mungkin karena Tuhan lebih sayang pada anakku ya? Tuhan tidak ingin dia menderita jika terlahir dari rahim perempuan sepertiku. Makanya Tuhan mengambilnya kembali, Tuhan menyelamatkan anakku dari derita yang akan ia lalui nantinya”


“Ssh.. jangan berkata seperti itu, sayang. Tuhan mengambilnya lagi karena belum saatnya dia bersamamu. Tidak ada yang salah dengan terlahir dari perempuan sepertimu. Kau sama seperti perempuan lainnya. Jangan berkata seolah-olah kau wanita pendosa yang tidak berhak bahagia”


Judith tidak memberikan respon apapun. Agaknya menangis membuatnya lelah, ditambah rasa lemas yang masih menghinggapinya, tak lama kemudian matanya terpejam dan nafasnya teratur. Hannah menarik nafas lega, setidaknya Judith berhenti mengoceh hal aneh dan setidaknya ia tak membutuhkan bantuan tenaga medis untuk memberinya obat penenang.


Wanita Sebastian itu bangkit, membetulkan letak selimut Judith dan mengecup keningnya lembut.

__ADS_1


“Tidurlah, Judith. Semoga kau bermimpi bertemu dengan anakmu disana”


Hannah berpindah ke sofa, mengambil ponselnya untuk mengecek portal berita ketika ia baru menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan tidak ada kabar dari Mark. Dicobanya mendial nomor sang suami, namun tak ada jawaban.


“Mungkin sedang menyetir” pikirnya, Hannah memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Mark. Takut jika telponnya mengganggu fokus pria itu menyetir.


**


Sayangnya anggapan Hannah salah.


Mark tidak menjawab panggilannya bukan karena sedang menyetir. Namun karena tengah melampiaskan amarahnya pada Jeanno Alexander.


Bermula dari permintaan sang istri untuk menyuruhnya pulang dan membawakan baju ganti untuknya sendiri sekalian mampir ke apartemen Judith untuk mengambil baju salin juga. Kondisi unit itu masih sama seperti saat terakhir ditinggalkan. Masih ada gelas susu yang isinya tinggal seperempat, bantal sofa yang tidak beraturan, juga perabotan yang mulai berdebu. Mark sebagai pribadi yang cukup ketat menjaga kebersihan, memutuskan untuk menyisihkan barang-barang yang berantakan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar setengah jam, sebelum pria itu memasuki kamar Judith untuk mengambil pakaian seperlunya.


Ya, hal itu yang membuat emosi Mark naik. Dan meraih kunci mobilnya untuk pergi, bukan ke rumah sakit, melainkan ke kantor Jeanno.


Ia tahu Jeanno masih di kantor, karena sejak pagi Aera dititipkan kepada ibunya.


Sayang, karena perjalanan bertepatan dengan jam pulang kantor beberapa budak company, kendaraan Mark mau tak mau menjadi satu dari korban macet. Butuh satu setengah jam baginya untuk menerobos padatnya jalanan. Satu setengah jam yang sulit bagi Mark, karena tangannya sudah gatal ingin menghabisi sepupunya yang nampaknya sudah tidak waras.


Sesampainya di gedung perkantoran milik Jeanno, Mark langsung memasuki elevator. Tanpa basa-basi atau menyapa siapapun yang ia temui. Sialnya—atau malah untungnya, Nora tidak ada di mejanya begitu Mark sampai di lantai ruangan Jeanno. Kesempatan itu Mark pakai untuk memasuki ruangan Jeanno tanpa tedeng aling-aling.


Begitulah, Jeanno yang diserang tanpa persiapan, mendapat beberapa bogeman serta tendangan. Baru menit kesekian ia berhasil mengumpulkan akalnya, untuk membalas Mark dengan perlakuan yang sama. Walau sesungguhnya ia masih belum mengetahui mengapa kakak sepupunya kesetanan seperti ini.


“Ternyata satu pukulan tidak bisa mengembalikan kewarasanmu, wahai adikku? Butuh berapa kali lagi, huh?” tanya Mark usai berhasil bangkit dari pukulan Jeanno, kemudian membalasnya dengan tendangan di perut.

__ADS_1


“Jika kau dendam karena diturunkan jabatanmu, maka kau sungguh kekanakan, Mark!”


Mark menyeringai. “Aku tidak peduli dengan perusahaanmu, bodoh! Aku bisa bekerja di perusahaan ayahku sendiri, tidak ada ruginya bagimu”


“Lalu kenapa kau datang dan menghajarku seperti orang gila!”


Sebelum menjawab, Mark meludahkan liurnya yang bercampur darah ke karpet ruang kerja Jeanno. Membuat pitam pria Alexander itu kembali naik.


“Tiga miliar. Bukankah ini sudah keterlaluan, Jeanno?”


Kali ini giliran Jeanno yang menyeringai. “Ah, jadi dia mengadu padamu? Apa yang dia katakan? Dia butuh uang tiga miliar supaya tidak masuk penjara?”


“Lepaskan Judith. Jika kau tidak ingin melihatnya lagi, lepaskan dia. Biarkan dia menjalani hidupnya dengan normal. Jangan jadi pria yang jahat seperti ini, Jeanno”


Jeanno melipat kedua tangannya di dada, memandang tajam Mark. “Apa yang dia berikan padamu sampai kau membelanya mati-matian? Let me guess, a blow? Apa mulut Hannah tidak senikmat Judith? Should I tell Hannah about that?”


Cukup. Hanya membuang waktu untuk bicara pada orang yang sedang tidak waras, Mark melangkah maju, kembali memberi wajah tampan itu pukulan. Memar biru ungu dan luka sobek berdarah nampak kentara di wajah kedua pria itu.


Perkelahian baru selesai ketika Nora yang baru kembali dari makan malam, berteriak histeris dan langsung memanggil security untuk memisahkan Jeanno dan Mark.


“Mulai hari ini, jangan pernah anggap aku sebagai sepupumu lagi!”


Begitulah kalimat terakhir yang Mark serukan, sebelum ia dengan sukarela pergi dari ruangan Jeanno.


**

__ADS_1


__ADS_2