
Judith terbangun dari lelapnya. Menyadari bahwa kembalinya bayangan Jeanno sebagai pemilik Victoire ternyata hanyalah mimpi belaka. Wanita itu lantas bangun, mengerjapkan matanya guna meyakinkan bahwa ia memang berada di kamar tamu rumah orangtua Mark, bukan ruangan pemilik Victoire yang baru. Tak serta merta puas, Judith juga meraba tubuhnya, memastikan pakaian yang ia kenakan adalah piyama tidur yang ia ingat semalam, bukan pakaian minim khas seorang penari.
Butuh sekian menit baginya untuk meyakinkan bahwa kembalinya ia ke Victoire hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang ia jamin tak akan pernah menjadi kenyataan. Judith memang butuh uang, tapi jika itu mengharuskannya menjadi penari erotis seperti dulu, hati kecilnya menolak keras. Jika memang kemungkinan terburuknya adalah menginap dibalik jeruji besi, maka biarlah ia memilih itu sebagai takdirnya. Dibanding harus menjadi santapan para kaum adam yang lapar.
Tak ingin terlalu lama bergelung dalam gundah, ia memutuskan untuk mandi air hangat. Kemudian membantu Maria membuatkan sarapan.
Sekali lagi, Judith bersyukur yang terjadi padanya semalam hanyalah bunga tidur belaka.
**
Waktu berjalan begitu cepat, ketika hari demi hari sudah memasuki minggu. Melewati minggu kedua, kemudian tiba pada saatnya minggu keempat.
Tak banyak yang terjadi. Judith tetap mencari pekerjaan walaupun upah yang ditawarkan tak seberapa. Mark masih berusaha membujuk Judith untuk meminjam uangnya, masalah Jeanno tahu atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting hutangnya selesai.
Namun Judith masih dengan tegas menolak. Ia tak tahu, dan tak berani membayangkan dampak semengerikan apa yang akan terjadi padanya jika Jeanno mengetahui ada campur tangan Mark dalam masalahnya. Sudah cukup ia membuat hubungan persaudaraan mereka hancur, tak perlu menyeret Mark lebih jauh lagi. Masalah ini.. biarlah menjadi tanggungjawab Judith sendiri.
“Hey”
Judith mendongak, sapaan sederhana yang membuyarkan lamunannya di sore hari yang cerah. “Kak Mark? Tumben sudah pulang”
Membalas dengan senyum simpul, Mark mengangguk. “Aku diminta pulang lebih cepat oleh Ibu untuk mengantarnya dan Hannah pergi belanja. Karena aku tahu akan terlalu lama jadi Ibu menyuruhku untuk pulang dan kembali menjemput mereka setelah ditelpon”
Judith ber-oh-ria. Sudah sejak dua minggu lalu Mark bergabung di perusahaan milik ayahnya sendiri. Dan sudah dua hari yang lalu juga Aera dijemput oleh ayahnya. Judith dengar Jeanno mengambil cuti selama 3 hari. Itulah mengapa mungkin pria itu ingin menghabiskan waktu bersama putri tunggalnya. Ah, andai saja kekacauan ini tidak terjadi.
Judith menggeleng, memaksa bayangan indah menghabiskan waktu bersama Aera dan Jeanno untuk enyah dari benaknya. Harapan yang terlalu tinggi telah menghancurkan hatinya tak tersisa.
“Kau oke? Sudah makan?” Mark duduk setelah menarik kursi di hadapan Judith. Wanita itu nampak pucat dan kurus. Jauh sekali dari Judith yang ia temui kali pertama dulu.
__ADS_1
“Ya, aku baik-baik saja”
“Aku minta maaf atas nama sepupuku. Aku merasa gagal menjaganya, membiarkan dia berperilaku persis seperti ayahnya yang semena-mena dan keras kepala. Aku sungguh, sungguh minta maaf, Judith”
Bibirnya terulas lesu, berusaha tersenyum bahagia walau sorot mata tak mampu berdusta. “Kenapa kau yang harus minta maaf? Bukan salahmu, Kak. Bukan juga salah Jeanno. Aku memahami alasan dibalik sikapnya yang seperti ini”
Mulut Mark baru saja ingin menyanggah, namun agaknya sudah lelah akan jawaban Judith yang akan terus membela Jeanno, seperti yang sudah-sudah.
“Kau… sangat mencintainya, ya?”
Senyuman sendu itu kini berbalut sempurna, tanpa perlu susah payah ditutupi. “Terlihat sekali ya?”
Mark mengangguk.
“Dia lelaki pertama yang membuatku seperti ini, Kak. Dia lelaki pertama yang membuatku menyerahkan hatiku sepenuhnya. Walau pada akhirnya hati yang kutitipkan ia buang jauh-jauh. Sedikit tidak tahu diri tapi.. aku berharap dia mau memungut kembali hatiku yang sudah tidak berbentuk ini”
“Jeanno sudah menyakitimu, Judith. Kau pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya”
“…. Aku tidak akan pernah bisa menggantikannya”
Bicara Nayara, Mark sudah sejak lama ingin menanyakan sesuatu kepada Judith. Hanya saja tidak sempat mengingat betapa tega ayahnya membebani pekerjaan yang menggunung sehingga ia tak memiliki waktu luang banyak, bahkan hanya untuk sekedar berbincang ringan dengan Judith.
“Judith.. boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit pribadi, aku hanya ingin memastikan. Tidak apa jika kau tidak mau menjawabnya”
Judith terkekeh sebelum mengangguk ringan. “Kurasa aku tidak punya rahasia lagi”
“Begini… kau, apa kau memiliki saudara kandung?”
__ADS_1
Tak perlu membuang banyak sekon untuk mendapatkan jawaban yang ditanya. Judith menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sejak kecil aku hidup sendiri di rumah orangtuaku yang seperti neraka”
“Apa orangtuamu pernah membahas anak lain selain.. kau?”
Judith mengalihkan pandangannya keatas, berusaha menggapai ingatannya. “Setahuku tidak, Kak. Pertengkaran mereka begitu banyak dan aku tidak begitu menangkap perkataan yang diucapkan dengan teriakan. Jadi setiap mereka mulai saling meneriaki, aku memilih untuk menutup telingaku rapat-rapat”
Mark menyudahi pertanyaan-pertanyaannya ketika awan senja mulai menggelap. Ia tak bisa memaksa Judith untuk mengorek ingatan masa lampaunya mengenai saudari perempuan yang kemungkinan ia punya.
Ya, Nayara. Memang belum ada bukti pasti, tapi insting Mark mengatakan bahwa mereka adalah saudari kembar. Orang suruhannya masih belum mampu mendapatkan info apapun mengenai anak dari Maharani selain Judith. Jika memang benar Nayara dan Judith kembar, itu akan membantunya untuk melunakkan hati Jeanno.
Semoga.
**
“Mimpi indah ya, sayang? tidur yang nyenyak supaya besok bisa bangun pagi untuk jalan-jalan bersama papa”
Satu kecupan mendarat di kening Aera. Gadis kecil itu membalas kecupan yang sama di pipi Jeanno. Melambaikan tangan mungilnya begitu sang papa bangkit dan menutup pintu.
Tak langsung tidur, Aera meraih pigura foto Nayara yang tengah menggendong bayi merah, dirinya kala itu.
“Mama Nayara…”
“Mama sedang apa? Mama, Aera rindu sekali Mama Nayara dan Mama Judith. Aera punya dua mama, tapi kenapa Aera kesepian? Aera ingin seperti teman-teman Aera. Aera sayang papa, tapi Aera juga ingin mama. Kalau mama Nana tidak bisa bersama Aera, apakah Aera boleh meminta kepada Tuhan supaya mama Judith yang berada didekat Aera? Bisakah mama membantu Aera untuk menyampaikan permohonan itu kepada Tuhan?”
“Mama, Aera tidur dulu ya? Semoga mimpi indah untuk dua mama cantiknya Aera. Aera sayang sekali dengan mama Nana dan Mama Judith”
Begitu polosnya permintaan sederhana seorang gadis kecil yang merindukan figur seorang ayah. Tidak banyak Aera tahu, bahwa Jeanno masih berada dibalik pintu ketika doanya dipanjatkan. Sang papa yang mendengar setiap rangkaian kata dari bibir putrinya. Jeanno telah mengetahui kecerdasan putrinya yang mampu membedakan dua wanita satu rupa sebagai Nayara dan Judith dari Bibi Maria. Jeanno tidak keberatan akan hal itu, walau ia belum secara gamblang mengetahui bahwa mama Nana-nya telah tiada.
__ADS_1
Menanggalkan segala ego dan kerasnya hati, Jeanno pada akhirnya turut mengamini doa Aera.
**