
Tyona terbangun ketika merasakan tubuhnya tenggelam dalam dekapan Jeffrey yang tengah mengecupi dahinya lembut. Sesuatu yang jarang Jeffrey lakukan. Ia tengadahkan kepalanya untuk bertemu pandang dengan sang suami.
“Hey, maaf membangunkanmu”
Tyona mengenali Jeffreynya. Jeffrey yang sekarang ada memeluknya, mengingatkannya pada Jeffrey yang dulu. Yang kasih sayangnya belum dibagi dengan perempuan lain. Entah, mungkin karena ia memang merindukan Jeffreynya, atau karena bawaan bayi, tapi berada di dekat Jeffrey membuat perasaannya menghangat. Tyona mengulas senyum, senyum tulus yang kali pertama ia berikan kepada Jeffrey usai pengkhianatan yang pria itu lakukan. Anna mengusak wajahnya, semakin tenggelam di dada Jeffrey.
“Manja sekali”
Jeffrey menyukai Tyona yang manja. Image perempuan mandiri yang lekat padanya, nyaris membuat orang lain mengira Tyona tak memiliki sisi manja. Dan sekali lagi, Jeffrey merasa beruntung karena menjadi satu-satunya lelaki yang melihat, sekaligus menjadi tempat setiap Anna mengeluarkan sisi lain dari dirinya.
“Aku merindukanmu, Anna”
Tyona diam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia membenci pria itu, namun disaat yang bersamaan ia mencintainya. Gamang, tentu saja. Karena itulah sampai saat ini Tyona masih belum bisa memutuskan akan dibawa kemana akhir dari pernikahan mereka. Karena nyatanya, masalah yang melanda bukan masalah ringan. Mungkin, mungkin tidak akan sepelik ini jika Renatta tidak dalam kondisi hamil.
“Aku berpikir untuk mengambil cuti, supaya kita bisa berlibur. Menurutmu bagaimana?”
Berlibur. Satu kata yang serasa tak pernah mereka, terutama Tyona pikirkan. Bekerja sebagai dokter spesialis di departemen pediatri dengan segala jadwal padatnya, membuat berlibur adalah hal paling terakhir yang ia pikirkan. Tapi tentu saja, ia berhak mendapatkan cuti. Barang dua atau tiga hari.
“Mungkin akan sulit bagiku untuk mengajukan cuti, tapi akan kucoba”
Jeffrey tersenyum. “Apa ada tujuan yang ingin kau datangi?”
Sesungguhnya Tyona tak memiliki tempat impian. Well, ada, yaitu Swiss. Tapi ia tak yakin untuk pergi ke negara orang sejauh itu hanya dalam waktu tiga hari. Jadi lebih baik yang dekat-dekat saja, bukan?
“Aku.. ingin ke Bangkok. Bolehkah?”
Jeffrey, tanpa pikir panjang mengangguk. Walaupun bingung mengapa Tyona memilih destinasi itu. Bukan apa-apa, sejauh yang ia ingat, Tyona tak pernah menyebut nama Bangkok sebagai tempat yang ingin ia kunjungi.
__ADS_1
“Aku akan mengajukan cuti hari ini. Setelah itu aku akan mengurus semua yang kita perlukan untuk kepergian nanti”
Jeffrey menutupnya dengan mencium dahi Tyona lagi, kali ini cukup lama. Seakan memberitahu Tyona bahwa ia menyayangi sang istri dan serius bahwa tak akan membiarkannya pergi meninggalkan Jeffrey.
Dari sisi Tyona, sebut saja ia wanita bodoh karena masih mau bersanding dengan pasangan yang jelas-jelas menghancurkan mentalnya. Tapi percayalah, wanita kuat seperti Tyona sekalipun akan lemah jika sudah bersama dengan pria yang dicintainya. Pria yang mengucap janji suci di hadapan Tuhan.
Pria yang merupakan ayah kandung dari bayi dalam rahimnya.
**
Hari ini, seperti hari biasanya Judith menunggui Aera pulang. Ia tak melihat May, tapi bukan masalah baginya karena Judith sudah terbiasa menunggu sendiri. May baik sekali, tapi terkadang Judith masih canggung untuk bergaul dengannya. Sirkel para perempuan kaya seperti May dan Celine bukanlah ranahnya. Dan ia yakin Nayara juga tidak nyaman berada di lingkungan seperti itu. Terlebih Celine, entah mengapa Judith merasa Celine tak menyukainya. Ia tak pernah bicara berdua dengan Celine tanpa adanya May diantara mereka. Tapi apapun yang Celine rasakan padanya, ia tak peduli. Bukan masalah jika perempuan itu tak menyukainya, toh Judith tidak rugi.
Judith memilih fokus pada ponselnya, membalas pesan Jeanno yang bertanya apakah ia sudah makan atau belum. Hatinya berdesir, memang hanya basa-basi saja, namun perhatian sekecil itu mampu membuat Judith semakin jatuh kedalam pesona Jeanno Alexander. Ia yang merasa tak pernah dicintai, ketika mendapatkan afeksi dari Jeanno, rasanya ia ingin memeluk dunia. Jeanno sangat mengetahui titik lemahnya, hingga ia tak mampu mundur.
Pria itu terkadang menyelinap ke kamarnya, hanya untuk berbagi selimut bersama. Bahkan ketika pekerjaannya padat, ditambah bolak-balik ke rumah sakit untuk menjenguk Mark, sekaligus mengawal kasus Louis, Jeanno bermalam di kamarnya tiga malam berturut-turut. Mengeluhkan jam tidurnya berantakan. Seperti biasa, Judith mengusap-usap lengan yang memeluk pinggangnya dari belakang. Hal kecil yang membuat Jeanno tertidur tak berselang lama.
Judith masih menunduk ketika ia melihat Celine datang bersama perempuan di sampingnya. Bukan May, melainkan perempuan asing yang sekilas mirip dengan Celine.
“Sekolah Lea bagus juga”
Celine mencibir. “Tentu saja. Uang tahunannya saja tidak main-main. Kalau kau memiliki anak pasti kau akan menyekolahkannya juga disini”
Wanita itu gantian mencibir. “Kau kan tau aku tidak memiliki hasrat untuk punya anak. Terlebih jika itu anak dari Ian”
“Kau sebenci itu dengan Ian? Padahal dia sangat menyukaimu”
Sang lawan bicara mengangkat bahunya. “Aku tidak menyukainya. Dia hanya asisten papaku yang terpaksa dijodohkan denganku sebagai hukuman karena telah membuat malu keluarga. Seperti tidak cukup, papa mengasingkanku ke Singapura. Cih, semua gara-gara Nayara”
__ADS_1
Celine berhenti. Menoleh secepat kilat. “Apa katamu?”
“Nayara. Kau ingat kan? Perempuan murahan yang merebut kekasihku dulu. Yang sempat membuat ulangtahunmu kacau. Kau tentu ingat juga bahwa aku mendapatkan masalah cukup serius karena telah menjebak Nayara supaya dia menjauhi Jeanno. Tapi si ****** itu malah menikah dengannya. Sementara aku terjebak dengan pria bodoh seumur hidupku”
Sharin. Ya, perempuan yang merupakan sepupu Celine yang tak lain adalah Sharin.
“Kenapa kau melihatku begitu?” Sharin menghentikan omelannya, menyadari Celine tengah memandangnya heran. Sang sepupu menggeleng, lantas menunjuk sosok yang duduk tak jauh dari tempat mereka.
“Nayara. Apa dia Nayara yang kau maksud?”
Pandangan Sharin mengikuti arah tangan Celine. Sejurus kemudian, hatinya mencelos. Setelah sekian tahun ia bertemu lagi dengan wanita yang paling ia benci dalam hidupnya. Perempuan yang tak hanya merebut Jeanno, namun juga mempersulit hidupnya hingga detik ini.
Sharin baru saja akan melangkah untuk melabrak Nayara, namun ditahan oleh Celine. “Jangan buat malu di sekolah putriku. Jika kau memiliki masalah dengannya, selesaikan diluar. Jangan disini”
“Anaknya. Apa ayah dari anaknya adalah.. Jeanno Alexander?”
Celine mengangguk. Membuat Sharin semakin belingsatan. “Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu, Celine?”
“Aku tidak tau. Lagipula sejak kapan aku mengurusi kehidupan pribadimu? Aku hanya pernah bertemu Jeanno dan Nayara sekali di acara ulangtahunku bertahun-tahun lalu. Kau mengharapkanku ingat mengenai pria yang tidak bisa kau gapai? Sudahlah Sharin, mereka sudah bahagia. Kau juga harus menerimanya”
Tidak, Sharin tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa Jeanno bahagia bersama Nayara. Celine betul, konflik mereka sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Jika kebanyakan orang sudah move on, maka tidak dengan Sharin. Tak pernah Sharin lalui setiap waktu tanpa mengutuk takdir. Mengapa ia harus berakhir bersama pria yang tak pernah ia inginkan untuk menjadi suami. Sepanjang pernikahannya, tak pernah ia biarkan pria berstatus suaminya itu menyentuhnya. Untunglah Ian cukup baik untuk bersandiwara di depan orangtuanya bahwa pernikahan mereka baik-baik saja yang padahal aslinya jauh dari kata baik. Beruntung pula mereka tinggal jauh dari orangtuanya, sehingga mereka terutama sang papa tidak begitu mengendus prahara rumah tangganya. Sharin berniat menceraikan Ian, setelah sang papa lengser dari posisinya sebagai direktur.
Bel pulang berbunyi. Membuat sosok Nayara itu menyimpan ponsel dan berdiri dari duduknya. Memandang penuh antusias kearah gerbang. Berselang lima menit, seorang gadis cantik berlari riang kearahnya. Keduanya saling berpelukan dan berbagi tawa. Terlihat bahagia. Lalu Nayara menggandeng tangan mungil si kecil menuju mobil mereka.
“Aera, anak mereka”
Aera. Nama yang indah. Jika tidak menyimpan luka dan dendam, Sharin pasti akan menganggap Aera gadis kecil yang cantik. Matanya berbinar bulat seperti Nayara. Hidungnya tinggi seperti Jeanno. Bibirnya berbentuk hati seperti Nayara. Semua bersatu padu sehingga terlihat mirip dengan ayah dan ibunya. Tanpa sadar tangan Sharin mengepal.
__ADS_1
‘Aku yang seharusnya ada disana. Bukan perempuan murahan itu’ batinnya geram.