
Terkadang Jeanno iri dengan Mark. Papanya dan Ibunda Mark memiliki hubungan darah sebagai kakak dan adik kandung. Namun sifat mereka berbanding terbalik. Maria Alexander dengan segala kesederhanaan dan kemurahan hatinya, menerima Hannah dengan tangan terbuka. Bahkan jauh sebelum Hannah datang, wanita itu sudah lebih dulu merangkul Nayara. Jauh lebih baik memperlakukannya dibanding Ibu mertuanya sendiri. Maria Alexander yang bersanding dengan Jose Sebastian, pria yang dari luar terlihat dingin karena jarang tersenyum, namun adalah seseorang penyayang keluarga. Orang awam akan mengira pasangan ini hanya pasangan biasa, karena cara mereka berpakaian sungguh sederhana. Tak ada rangkaian perhiasan mahal atau tux dan dasi. Bahkan mobil yang dipakai Jose sehari-hari tetap mobil pertama dari hasil kerja kerasnya dulu. Sekali lagi, jauh berbeda dengan kedua orangtuanya.
Jeanno iri, mendengar cerita Mark bagaimana hangatnya Maria dan Jose memperlakukan Hannah. Sekalipun masa lalu Hannah yang pernah bekerja sebagai penari erotis di klub malam. Sekalipun Hannah berasal dari keluarga yang tak punya apa-apa selain peninggalan hutang menggunung oleh ayah kandungnya. Kerendahan hati yang pernah Jeanno lihat sebelumnya ketika ia memperkenalkan Nayara pada mereka. Maria yang langsung memeluk Nayara, dan mengatakan betapa cantiknya ia. Jose yang mengusap kepala Nayara lembut dan berkata selamat atas pernikahan mereka.
Terkadang Jeanno memimpikan jika kedua orangtuanya seperti orangtua Mark, mungkin akan berbeda ceritanya. Namun Thomas dengan segala kecongkakannya, memilih untuk pergi dibanding menerima Jeanno dan Nayara, juga cucu mereka dengan tangan terbuka. Sementara Yvone, yang sebetulnya memiliki sedikit hati nurani, namun terhalang kepatuhannya sebagai istri, lebih memilih mengikuti Thomas membalikkan punggung, dibanding melihat cucunya.
Bahkan setelah mengetahui kejahatan Sharin, hati Thomas tidak tergerak sedikitpun menerima Nayara. Menurutnya ada banyak gadis dari keluarga ‘sepadan’ lain yang lebih pantas menjadi menantunya dibanding Nayara yang bukan siapa-siapa. Begitu tinggi hatinya sampai ia rela mengusir anak lelaki satu-satunya penerus keluarga Alexander, tanpa mempedulikan bagaimana hidupnya kelak.
Jika Thomas dan Yvone memilih untuk berbalik, Jeannopun akan melakukan hal yang sama. Jika mereka tidak mau mengakui Nayara maupun Aera, maka iapun akan memasang badan untuk melindungi keluarganya. Toh ia sudah ‘dibuang’, jadi tak ada baiknya mengemis-ngemis hanya untuk sebuah pengakuan.
“Jean? Kau mendengarku kan?”
Jeanno menggelengkan kepalanya. “Ya… maaf aku sedikit melamun”
Mark mendecakkan lidah. “Bukan sedikit melamun. Kau bahkan tidak mendengarku sejak tadi. Apa yang kau pikirkan, hm?”
“Jangan salah paham, aku sangat bahagia melihatmu akan menikah. Tapi aku tidak bisa menghindari rasa iri ketika orangtuamu menerima Hannah dengan hangat. Dibanding orangtuaku dulu”
“Ah.. maafkan aku” Mark menepuk dahinya, menyesali ketidakpekaannya berbagi kebahagiaan dengan Jeanno yang tidak memiliki nasib seberuntung dirinya. “Maafkan aku”
“Bukan salahmu. Seperti yang kubilang tadi, aku bahagia untukmu dan Hannah”
Mark mengubah posisi duduknya. “Kau.. sudah pernah mencoba menghubungi mereka?”
Jeanno menggeleng. “Untuk apa? Aku bahkan tidak yakin apa nomor ponsel mereka masih sama atau tidak”
“Mereka tetap orangtuamu, Jean”
Jeanno tersenyum tipis. Sekilas seperti senyuman sinis. “Mereka tidak keberatan kehilanganku sebagai anak karena ego mereka yang kelewat tinggi. Akupun tidak keberatan menganggap sudah tidak memiliki orangtua”
“Bukankah Bibi Yvone datang ketika Nayara meninggal?”
Jeanno mengangguk. “Hanya sebentar, lalu setelah itu aku tidak mendengar apapun lagi selain berita kepindahan mereka ke Australia”
“Seandainya aku ada diposisimu pun, aku akan melakukan hal yang sama. Lebih memilih Hannah dibanding pilihan orangtuaku”
“Setidaknya aku masih memilikimu, dan kedua orangtuamu. Dengan begitu Aera bisa merasakan kasih sayang kakek dan neneknya walau bukan dari kedua orangtuaku dan orangtua Nayara”
__ADS_1
Mark baru saja hendak menjawab, namun Jeanno sudah lebih dulu memotong. “Jadi, kapan kau akan menikah?”
“Aku baru saja mengatakannya padamu kurang dari setengah jam yang lalu. Tapi tidak apa-apa kukatakan lagi. Aku berniat menikah bulan depan, apa menurutmu tidak terlalu cepat?”
Jeanno tersenyum, kemudian menggeleng. “Tidak”
Mark tersenyum puas. “Kalau begitu kau harus menjadi pendamping pengantin untukku, dan Judith sebagai pendamping pengantin wanita”
Judith ya? Jeanno menggumam. Menyetujui ucapan Mark karena memang Judith adalah sahabat baik Hannah. Mengingat nama itu pikiran Jeanno melayang tadi malam. Usai bicara sejenak mengenai Sharin, yang mana membawa kenangan buruk, Judith menenangkan Jeanno dengan caranya sendiri. Tak butuh kata, ketika Jeanno yang masih bergelut dengan amarahnya hanya diam saja, Judith menarik selimut hingga dadanya, sambil mengusap lembut lengannya. Begitu ia lakukan terus hingga kantuk mendatanginya, membuat Jeanno melupakan amarahnya dan memilih pergi terlelap.
Kamar Judith tidak sebesar kamarnya, namun berada disitu entah mengapa membuat segala lelah dan emosi menguap entah kemana. Kualitas tidurnya juga membaik. Ia selalu bangun dalam keadaan segar dan mood yang baik. Membuat bermalam di kamar Judith menjadi rutinitas yang awalnya hanya sekali-dua kali, sekarang menjadi sebuah kebiasaan. Sementara kamarnya sendiri menjadi dingin sebab jarang ditiduri oleh sang pemilik.
“Perjanjian kalian.. tinggal beberapa minggu lagi, kan?”
Jeanno benci mengapa Mark harus membawa topik mengenai perjanjian yang ia buat sendiri. Jeanno menyesal mengapa ia tak membuat perjanjian mereka menjadi satu tahun, atau tiga tahun sekalian. Tapi biarlah, mungkin ia akan memperpanjang masa kontrak mereka. Dirinya yakin Judith akan setuju, terlebih jika harga perjanjian ia naikkan.
“Ya, lebih tepatnya satu bulan dua minggu lagi”
“Wow.. waktu berjalan cepat. Lalu setelah itu, bagaimana? Jika Judith pergi, Aera pasti akan bertanya-tanya kemana mamanya. Kali ini kau tidak bisa terus-menerus menghindar. Lalu media, mereka sudah tahu mengenai Nayara. Jika kalian berpisah dan ada yang melihat Judith kembali kekehidupan lamanya, pasti mereka akan mencari tahu dan jika terbongkar, maka namamu taruhannya”
Jeanno mengangguk. “Aku akan memikirkannya nanti, Mark”
**
“Kau masih memiliki nyali untuk menjalin hubungan dengan Jeanno?”
Nayara tidak perlu menebak siapa yang berucap demikian. Ia lantas menutup bukunya, mendongak. Sharin Widjaja berdiri di hadapannya dengan tatapan benci. Jika tatapan bisa membunuh, sudah dipastikan saat ini Nayara sudah terkapar tak berdaya. Dibelakang Sharin ada ‘dayang-dayang’ yang turut menghujamnya dengan pandangan benci.*
“Kau masih tidak bisa melupakan kekasihku, Sharin?”*
__ADS_1
Sharin membuang muka. Wajahnya memerah akibat pertanyaan balik dari Nayara. “Beraninya kau berkata begitu padaku”*
Nayara mengangkat bahu, kemudian kembali membuka bukunya yang menurutnya jauh lebih penting dibanding menanggapi Sharin.*
“Kuberitahu kau satu hal. Orangtua Jeanno sangat menginginkanku sebagai menantunya. Mereka adalah orang berpendidikan yang tidak akan mau menerima perempuan tanpa asal-usul sepertimu. Jadi sebelum kau kecewa lebih baik jangan bermimpi menjadi bagian keluarga Alexander”*
“Bukankah sampai sekarang, Jeanno masih belum mengenalkanmu pada orangtuanya? Ya apalagi artinya kalau bukan karena orangtuanya tidak menerimamu?”*
Nayara terdiam. Ia tak ingin mendongak. Tak ingin jika Sharin melihat wajahnya yang memerah. Tak ingin Sharin tau kegundahan hatinya.*
“Kau itu lebih cocok dengan pria yang sepadan denganmu” Sharin menunduk. “Dan Jeanno Alexander tidak termasuk dalam levelmu”*
Begitu, Sharin pergi ketika dosen datang. Nayara berusaha keras mengontrol raut wajahnya supaya terlihat tidak terjadi apa-apa.*
Dijaman modern seperti ini, masih adakah orangtua yang memaksakan jodoh anaknya harus sepadan? Sekalipun sang anak tidak mencintai pilihan orangtuanya? Sementara disisi lain, apakah orang miskin tidak boleh mencintai putra keluarga kaya? Apa kemiskinan menjadi momok mengerikan bagi keluarga terpandang? Seakan-akan menerima menantu miskin sama halnya sebagai virus yang akan membuat keluarga mereka serta-merta langsung miskin dalam waktu singkat.*
Nayara menghela nafas, memutuskan untuk ijin dengan alasan kurang enak badan. Ia kembali ke asrama tanpa memberitahu Jeanno.*
*
__ADS_1