
1 tahun kemudian....
"pagi sayang". aku membangunkan alisya yang sedang tertidur lelap di kamarnya.
"aaghh.... ". alisya meregangkan tubuhnya.
"ayo bangun sayang, sebentar lagi kita akan berangkat". aku membuka jendela kamar alisya dan merapikan beberapa bajunya yang berserakan.
"masih pagi banget bunda". alisya menarik lagi selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
"ehh, ayo bangun sayang. lihat itu sudah jam 7:30 pagi". aku menggoyang-goyangkan tubuhnya.
hari ini, kami akan pergi berlibur ke Bali bersama-sama sekeluarga. setelah berbulan-bulan kami membuat jadwal, akhirnya hari ini kami bisa pergi juga.
"hmm, anak dan papa sama aja. susah untuk bangun pagi". gumamku.
"bunda kasih waktu 5 menit untuk bangun, kalau tidak bangun juga liburannya akan batal". aku sedikit mengancam alisya agar ia segera bangun.
"iyaa bunda, alisya bangun". alisya bergegas menuju kamar mandi.
"oke sayang, cepetan turun ya. kita sarapan pagi dulu". teriakku agar alisya mendengarnya di kamar mandi.
"iya bunda". sahut alisya.
setelah aku kembali ke kamar, aku melihat mas bram masih tertidur di ranjang dengan pulasnya.
"ya ampun mas bram, belum bangun juga". aku meneriaki mas bram agar ia segera bangun.
"gimana aku gak cepat tua, kalau setiap hari aku harus teriak-teriak bangunkan kamu mas". aku terus mengomel dengan kecepatan tinggi.
"sayang, pagi-pagi kamu kok marah-marah sih". ucap mas bram sambil mengusap-usap matanya.
"gimana aku gak marah mas, kamu itu susah banget di bangunkan.kita mau pergi liburan,kalau kamu gak bangun nanti kita bisa ketinggalan pesawat". jawabku.
"emang kita berangkat jam berapa sih sayang?".
"jam 10:30". jawab ku.
"sekarang jam berapa?". mas bram sibuk mencari ponselnya untuk melihat jam.
"jam 8:15 pagi".
"oke oke,aku akan bangun dan siap-siap sayang". mas bram bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"mas,bajunya sudah aku siapkan di ranjang".
"iya sayang". teriak mas bram dari kamar mandi.
"huuhh.. sampai kapan aku mengurus bayi-bayi besar itu". gumamku sambil merapikan tempat tidur.
karena ini liburan pertama kami, aku mempersiapkan segala sesuatunya sedetail mungkin. aku memastikan barang-barang yang penting tidak ketinggalan.
"sepertinya sudah semua".aku mengecek kembali barang-barang di dalam koper.
"non, ada lagi yang ingin non bawa". tanya bi nina.
"tidak ada bi, ini sudah cukup. lagian liburannya cuma ke Bali aja kok. kalau butuh apa-apa masih mudah mencarinya".
"sarapan dulu non". bi nina menyajikan masakan di meja.
"iya bi, terima kasih. mas, alisya... buruan turun sayang, ayo kita sarapan dulu". rutinitas setiap pagi harus teriak-teriak.
"iyaa sayang, bawel banget. emmmuuacchh". mas bram mengecup keningku.
"alisya mana mas?".
"itu sayang".
aku melihat alisya turun dengan membawa beberapa tas, dan dia terlihat kesusahan membawanya.
"ya ampun sayang, itu isinya apaan, banyak banget tasnya".
"ini mainan alisya, ini buku-buku alisya dan ini baju-baju kesukaan alisya". alisya menunjukkan tasnya satu persatu.
"sayang, kita liburan cuma seminggu dan masih di Indonesia. kalau alisya butuh mainan atau buku, kita bisa beli di sana sayang". aku mencoba menjelaskan pada alisya.
"iya sayang, bener apa kata bunda. gak perlu bawa barang banyak-banyak seperti itu". sahut mas bram sambil sarapan pagi.
"jadi, semua ini di tinggal?". alisya terlihat manyun karena barang bawaannya tidak bisa di bawa.
"iya dong sayang, bunda kan sudah siapkan baju-baju alisya di koper itu". aku menunjukan koper berwarna pink di sudut ruangan.
"yaa... bunda". alisya berjalan ke meja makan dengan wajah cemberut.
"jangan manyun gitu dong sayang, nanti jelek loh anak bunda" aku menyajikan roti di piring alisya.
"ayo buruan sarapannya, kita langsung berangkat ke airport". ucap mas bram.
"iya pa". jawab alisya.
"kopernya sudah di masukkan semua ke dalam mobil pak?". tanyaku pada pak Ahmad.
"sudah non, semua ada di bagasi mobil". jawab pak Ahmad.
"baiklah, terima kasih pak". aku menuju ke mobil untuk memeriksa kembali bahwa tidak ada yang ketinggalan.
"sudah semua sayang". mas bram menghampiri ku.
"sudah mas, alisya sudah selesai?".
"sudah, dia lagi ke kamar mandi. ayo kita masuk ke dalam mobil". ucap mas bram sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
"bunda, tunggu". alisya terlihat berlari dari dalam rumah.
"pelan-pelan sayang, jangan lari-lari". aku membukakan pintu untuk alisya.
"bi, kami pergi dulu ya". aku berpamitan dengan bi nina.
"iya non, hati-hati di jalan".
"iya bi". aku melambaikan tangan ke arah bi nina.
"ayo pak, kita berangkat". ucap mas bram.
"baik tuan".
perjalan dari rumah ke airport memakan waktu 30 menit.sepanjang jalan di dalam mobil, alisya tampak begitu bahagia. dia terus bersenandung riang dan membuat kami juga ikut bahagia.
liburan kali ini benar-benar membuat aku senang, karena sekian tahun aku menjadi istri mas bram, baru kali ini mas bram benar-benar memiliki waktu libur yang cukup panjang.
aku merasakan bahagaian yang nyata saat kami meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang paling menyenangkan dalam hidup kami.
kami tiba di airport pukul 10:09 pagi, tidak banyak sisa waktu kami untuk melakukan hal lain. begitu sampai kami langsung melakukan check in dan pemeriksaan tiket pesawat.
****
Bali....
Dalam dua jam kami sampai di Airport Bali, saat itu kami di sambut oleh beberapa orang dari Hotel tempat kami menginap.
"selamat siang pak bram". ucap salah satu karyawan hotel.
"siang".setelah menjawab mas bram segera masuk ke dalam mobil.
terlihat beberapa karyawan lainnya membereskan koper dan meletakkan di bagasi mobil.
"papa, alisya lapar". alisya memegangi perutnya.
"iya sayang, nanti sampai di hotel kita makan siang. alisya mau makan apa?". tanya mas bram.
"apa aja pa". alisya terlihat sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
"sabar ya sayang". aku mengelus-elus kepalanya.
"apa jauh hotelnya mas?". tanyaku
"gak sayang, cuma 15 menit dari airport". jawab mas bram sambil memainkan Ipadnya.
jelas saja mas bram paham dengan rutenya, karena hotel yang akan kami tinggali adalah salah satu anak perusahaan propertinya.
"alisya seneng??". aku melihat alisya yang terus tersenyum.
alisya hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis padaku. Quality time bersama dengan orang-orang yang kamu cintai lebih berarti, dan dapat meningkatkan hubungan yang lebih dalam lagi.
"sayang". mas bram memanggilku dengan lembut.
"sayang, kamu kenapa?". mas bram mendapatiku melamun.
"ahh.. apa mas?". tanyaku kebingungan.
"kamu ngelamunin apa sih? kamu sakit?". mas bram memeriksa keningku.
"gak mas, aku baik-baik saja". jawabku dengan senyuman.
"tapi kamu terlihat sedikit pucat sayang. apa perlu kita ke rumah sakit untuk periksa?". mas bram terlihat mengkhawatirkan ku.
"gak usah mas,aku beneran baik-baik saja". aku mencoba tersenyum lebar di hadapan mas bram.
dua hari sebelumnya, aku merasakan pusing dan demam. tapi aku mencoba untuk tidak merasakan sakitnya, karena aku tidak mau mas bram membatalkan liburan hanya karena aku sakit.
saat tiba di hotel, mas bram menggandeng tanganku dan alisya. dia langsung mengajak kami untuk makan siang di restauran yang berada di hotel.
"loh, kita mau kemana mas?". tanyaku
"kita makan siang dulu sayang".
saat kami memasuki restaurant, seluruh staff dan karyawan restauran menyambut kedatangan kami. mereka semua terlihat sedikit menundukkan kepala mereka ketika kami masuk.
"selamat datang pak". ucap salah satu staff yang merupakan manajer restauran.
"apa sudah siap semua yang saya pesan".
"sudah pak, mari saya antar kan".
kami mengikuti langkah manajer restauran. ia menunjukkan yang akan kami tempatin untuk makan siang.
selesai makan siang, alisya berlari ke arah pantai dan ia bermain dengan girangnya. sesekali alisya memercikkan air ke arah kami.
"hahahaha jangan sayang". aku menepis percikan air laut dengan tanganku.
"ayo bunda kejar alisya". alisya berlari di bibir pantai dengan tawa cerianya.
"wahhh... awas ya kalau tertangkap sama bunda". aku juga berlari mengejar alisya.
mas bram yang berdiri menyaksikan tingkah kami juga ikut tertawa, melihat aku dan alisya berlari saling mengejar satu sama lain.
"papa, lihatlah. woow pantainya indah sekali.ayoo ikut main sama kita". alisya terlihat sangat bahagia.
"kamu happy sayang". ucap mas bram pada alisya.
"sangat happy papa". alisya memutar-mutarkan tubuhnya di atas pasir pantai yang putih.
"kamu bener-bener menyiapkan liburan ini dengan baik mas". pujiku.
__ADS_1
"iya dong,belum tentu kita bisa liburan seperti ini setiap bulannya.ini semua untuk menebus rasa bersalahku karena telah membuat kamu menunggu selama ini untuk liburan". mas bram merangkulku sambil menatap indahnya pantai dengan lautan birunya.
"kamu tidak perlu merasa bersalah mas, tanpa liburan aku juga merasa bahagia jika selama masih bersama kalian". jawabku sambil menatap wajah mas bram.
desiran ombak terdengar sangat menenangkan dan itu membuat fikiranku ikut terhanyut begitu dalam. angin laut berhembus yang juga ikut menerpa wajahku yang tersenyum bahagia.
"apa kamu bahagia sayang?". tangan mas bram membelai wajahku
"sangat mas, aku sangat bahagia".aku membalas dengan mengecup pipi mas bram.
"hmm, aku berharap kita akan bersama selamanya. sampai kita benar-benar menyaksikan alisya menikah dengan seorang pria yang baik". ucap mas bram.
"ihh apaan sih mas, alisya masih kecil ya. aku gak mau dia cepat-cepat menikah. aku belum bisa untuk berpisah dengan dia mas". aku menatap mas bram dengan wajah masamku.
"iyaa sayang, aku juga gak mau alisya cepat-cepat menikah. tapi suatu hari nanti itu akan terjadi, dan kita tetap berdua menjalani masa tua kita berdua". jawab mas bram sambil memelukku.
membayangkan ucapan mas bram saja sudah membuat ku merinding. bahwa kita tidak akan terus berada di jalan yang sekarang ini, kenyataannya masih ada jalan lain yang harus kita jelajahi.
matahari perlahan mulai terbenam di ujung lautan.cahaya yang berwarna orange mengubah suasana pantai menjadi sangat romantis.
begitu banyak wisatawan yang memadu kasih di setiap sisi pantai.
"I Love You sayang". tiba-tiba mas bram mengecup bibirku.
aku terkejut dan mataku membelalak kaget karena mas bram tiba-tiba menciumku.
"mas, malu ah". aku menutup wajahku.
"kenapa malu sayang, kamu lihat sekeliling kita, mereka semua berciuman dengan pasangan mereka masing-masing". mas bram memegangi wajahku dengan kedua orang tangannya yang hangat.
"tetap aja malu mas". aku menyembunyikan wajahku di dadanya.
"hahhahaa kamu lucu banget sayang". mas bram mengecup keningku.
aku dan mas bram menyaksikan matahari terbenam di pesisir pantai dengan duduk sambil berpelukan. alisya yang masih terlihat bermain dengan ombak-ombak laut menyempurnakan suasana sore itu.
"hhuhh.. hhuhh.. huhh.... ". alisya menghampiri kami dengan nafas terengah-engah.
"kenapa sayang". tanyaku.
"alisya capek bunda". jawabnya dengan senyuman manisnya.
"udah selesai mainnya? mau balik ke hotel?". tanya mas bram.
"iyaa pa". alisya menganggukkan kepalanya.
setelah puas bermain di pantai, kami kembali ke hotel untuk membersihkan diri. hari pertama liburan sudah membuat ku sangat bahagia.
karena kelelahan alisya tertidur pulas, sehingga aku tidak tega untuk membangunkannya.
"alisya tidur mas, gimana dong? kita kan mau makan malam". aku duduk di samping alisya sambil mengelus kepalanya.
"ya sudah biarkan saja sayang, biarkan dia istirahat. kita makan malam berdua saja". jawab mas bram.
"baiklah mas". aku segera mengambil tasku dan pergi untuk makan malam.
kami berdua menikmati makan malam sambil memandangi pantai yang di sinari oleh lampu-lampu malam.
"kita seperti bulan madu lagi kan sayang". ucap mas bram.
"iya mas, saat berdua seperti ini membuatku deg-degan dan kita seperti pengantin baru". aku tertawa kecil.
mas bram menggenggam tanganku sambil tersenyum manis kearahku. senyuman yang membuat jantung ku berdetak cepat dan tersipu malu.
"permisi pak, ini desertnya". seorang pelayan mengantarkan sebuah tempat makan yang tertutup rapat.
"loh, kok cuma satu sayang. kamu gak makan desertnya?". mas bram terlihat kebingungan.
"gak mas, itu khusus buat kamu. bukalah mas".
mas bram dengan rasa penasarannya membuka perlahan-lahan tutup makanan itu, wajahnya terlihat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"selamat mas, kamu akan menjadi seorang ayah". mas bram membaca sebuah tulisan di balik tutup itu.
"sayang, ini beneran?". mas bram masih tidak percaya dengan apa yang ia baca.
mas bram lanjut membuka sebuah kotak kecil yang berisi testpack yang menunjukkan garis dua, bahwa aku positif hamil.
"sayang". mas bram tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"iya mas". aku menganggukkan kepalaku menandakan bahwa semua itu benar.
mas bram langsung memelukku dengan erat, air matanya terjatuh membasahi pipinya.
"aku sangat bahagia sayang. I'm happy, really love you". mas bram berkali-kali mengecup keningku.
"ini hadiah untuk kamu mas, aku harap kita bisa sama-sama menjaganya". aku mengelus perutku.
"pasti sayang, aku akan menjaga bayi kita. aku tidak akan membiarkannya pergi meninggalkan kita lagi".
kami terhanyut oleh suasana bahagia,inilah kejutan yang aku persiapkan untuk mas bram. sebuah hadiah besar yang akan mewarnai kehidupan kami di masa depan.
perjalanan selama 6 tahun mengarungi kehidupan rumah tangga, yang penuh dengan cobaan dan pertengkaran. membuat rasa cinta kami semakin besar.
betapa beruntungnya aku mendapatkan seorang suami yang hebat dan bertanggung jawab, suami yang selalu menyayangiku sepenuh hatinya.
"terima kasih suami ku, berkat Cinta dan kasihmu kita bisa terus berjalan di jalan yang berbunga dan Indah. teruslah bersamaku sampai rambut kita memutih dan menua. aku berharap kita terus bersama sampai ajal kita tiba. genggam erat tanganku dan aku akan terus mengikuti setiap langkahmu kemanapun kamu pergi. Love you.. Love you.. Love you so much suami ku".
aku meninggalkan sebuah catatan kecil untuk mas bram sebagai ungkapkan rasa cintaku padanya.
** End **
__ADS_1