
“Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Nayara”
“Kau sudah sepantasnya kembali ke asalmu dulu, sebagai seorang pelacur”*
Judith terbangun. Menyadari ia masih berada di kamarnya di apartemen lama yang pernah ia bagi bersama Hannah dan Renatta. Perempuan itu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, menatapi sekelilingnya yang hampa. Usai pertemuannya dengan Jeanno terakhir, Judith selalu dihampiri mimpi buruk yang sama. Dimana kalimat menusuk Jeanno bergaungan berulang kali, ditambah seringainya yang terkesan dingin dan jahat.
Jangan ditanya berapa lama Judith menangis, karena faktanya ia sudah beberapa kali jatuh tidur karena kelelahan mengabiskan isak. Jika tidak dalam keadaan hamil, sudah pasti ia lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri. Tapi sekali lagi, Judith harus berjuang. Demi si kecil yang tengah tumbuh dalam tubuhnya.
Perempuan itu menyingkap selimut, membawa langkahnya lambat kearah cermin meja rias. Pantulan disana adalah perempuan yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, tulang pipi yang menonjol, lingkaran hitam dibawah mata serta sembab akibat menangis. Jangan lupakan bibir pucat nan keringnya.
Sosok itu mengingatkan Judith pada Aleta Maharani Johan. Aleta belia yang harus menyaksikan ketidakharmonisan kedua orangtuanya. Aleta yang menangis setiap malam memohon supaya kedua orangtuanya berhenti bertengkar. Aleta yang tidak makan karena keegoisan orangtuanya yang tidak memberinya uang saku. Aleta yang tidak tidur karena teriakan dan pecahan barang yang dilontarkan ayah dan ibunya satu sama lain.
Hingga pada usia 20, Aleta pada akhirnya memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sudah ia nantikan selama bertahun-tahun.
Yaitu mengganti identitasnya. Mengubur sosok Aleta yang lemah dan trauma. Mengubahnya menjadi Ananta Judith yang ceria, tegar dan mandiri. Sejak itu, Aleta Maharani Johan dianggapnya telah mati.
Judith melangkah maju semakin dekat dengan cermin. Sosok lain yang dihadapannya sekarang, adalah Aleta yang didandani oleh Jeanno seperti Nayara. Dimanakah Judith? Dimanakah pribadinya yang sesungguhnya?
“Mulai hari ini. Jangan pernah kau pijakkan kaki ke rumah. Jangan pernah kau temui Aera lagi. Menjauhlah dari keluargaku selamanya”
Pipi yang sudah mengering oleh jejak airmata, kembali basah oleh si empunya ketika mengingat tiga hari lagi adalah perayaan hari ibu di sekolah Aera. Pagelaran akbar yang menjadi alasan Judith dikontrak selama enam bulan, supaya bisa menemani Aera di acara hari ibu. Ironis ketika semuanya justru berantakan menjelang acara itu.
Judith tidak tahu menahu perihal identitasnya yang terbongkar. Juga mengapa Mark menyembunyikan sebagian fakta tentangnya dari Jeanno. Apa Mark berupaya melindunginya? Judith yakin perbuatan Mark akan berdampak pada pria itu karena Jeanno terlihat sangat marah ketika sepupu yang ia percaya ternyata menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
Ingatkan Judith untuk meminta maaf pada Mark nanti. Nanti setelah suasana hatinya membaik. Karena saat ini ia tidak bisa mengatakan apapun, tidak ketika mental dan hatinya tengah berserakan tak beraturan. Ia butuh waktu, untuk memunguti dan menyusunnya kembali seperti semula. Walau Judith yakin pasti akan memakan waktu yang lama.
Sebegitu rendahkah ia dibanding Nayara? Apa perempuan malam tidak berhak bermimpi untuk memiliki akhir yang bahagia? Judith mengusap airmatanya, kemudian mengusap perutnya yang masih samar. Kelak anaknya lahir, apa ia akan tetap berbangga hati memiliki ibu yang pernah tercebur kedalam dunia malam? Seperti yang ia alami dulu sebagai Aleta. Apakah anaknya nanti akan menjadi bullyan orang-orang karena pekerjaan ibunya? Apakah anaknya akan hidup dengan tenang?
Pemikiran negatif itu tumbuh, semakin banyak yang awalnya hanya satu, berkembang tak terkendali. Semuanya berputar mengitari kepala Judith seperti palu yang menghujam berkali-kali. Perempuan itu meringis, kepalanya berdenyut hebat. Membuatnya ambruk dalam posisi duduk karena kakinya tak kuasa menopang berat tubuhnya.
Judith berteriak. Teriakan yang menggema di unitnya sendiri. Teriakan menyakitkan dan penuh luka. Kemudian teriakan berubah menjadi lolongan pilu yang menyesakkan. Judith memukul dadanya beberapa kali, berharap teriakan dan isak itu mampu meloloskan sakit yang tertanam dalam di jantungnya. Namun harapan hanyalah harapan, karena pada kenyataannya, ia telah hancur.
**
Seperti belum usai penderitaan yang diterima, esok harinya kejutan kembali diterima Judith. Ketika bel unitnya berbunyi. Bukan Jeanno yang ada disana, melainkan seorang pria yang entah siapa Judith tidak mengenalnya. Dibelakang pria itu terdapat beberapa koper besar yang bisa dipastikan adalah barang-barang Judith yang tertinggal di rumah Jeanno. Kemudian pria asing itu menyerahkan map, tanpa mengatakan apapun sebelum pergi tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Judith letakkan map tersebut di meja tamu untuk sementara, karena dirinya harus mengambil koper-koper itu supaya tidak menghalangi lorong apartemen.
Butuh lima belas menit bagi Judith untuk memindahkan koper ke ruangtengah. Entahlah, peristiwa tak terduga belakangan ini turut menguras energinya hingga mendorong koper saja membuatnya ngos-ngosan. Teringat akan map yang belum tahu apa isinya, Judith mendudukkan diri di ruang tamu. Meraih lembaran itu dengan hati tak karuan.
Dan benar saja, map tersebut adalah surat gugatan. Yang berisi bahwa Jeanno menuntut Judith atas tuduhan penipuan dan mangkir dari perjanjian. Dengan permintaan ganti rugi dari pihak Jeanno untuk Judith sejumlah….
Mata kelinci itu terbelalak sempurna melihat deretan angka disana.
Tiga miliar rupiah.
**
Nora nyaris terjungkal dari kursinya ketika elevator itu terbuka dan menampilkan Mark Sebastian dengan wajah lelahnya. Setahu Nora, mantan manajer keuangan itu baru pulang sekitar empat hari lagi. Lalu untuk apa Mark disini?
“T-tuan Mark? Bukankah tuan harusnya masih berbulan madu?”
Mark tidak langsung menjawab pertanyaan Nora, melainkan sedikit melongok kearah ruangan Jeanno untuk memastikan apakah pria yang ia cari ada di dalam atau tidak.
“Ya, aku seharusnya masih berada di Venice untuk berbulan madu dengan istriku yang cantik. Namun bosmu yang menyebalkan itu justru membuat keputusan sendiri yang merusak acaraku”
“Maafkan saya, tuan. Tapi jika tuan kemari untuk bertemu dengan tuan Jeanno, maka dengan berat hati saya akan mencegah tuan. Karena beliau berpesan untuk tidak diganggu”
Tanpa menunggu persetujuan Nora, Mark melangkah memasuki ruangan Jeanno juga tanpa mengetuk pintu.
**
Jeanno mengalihkan fokusnya pada layar komputer ketika pintu ruangannya terbuka lebar dan menampakkan kakak sepupunya. Dibanding Nora, Jeanno sama sekali tidak terkejut. Ia hanya memandang Mark sejenak, sebelum mengembalikan atensinya kepada layar komputer.
“Aku menelponmu ratusan kali. Kau tuli atau gagap teknologi? Sampai mengabaikan telpon dan pesanku”
Tak ada jawaban. Satu-satunya latar suara yang menggema disana adalah ketikan keyboard oleh jemari Jeanno.
“Jeanno Alexander”
Seakan hidupnya hanya bergantung pada laporan yang sedang ia kerjakan, Jeanno tak mengindahkan panggilan Mark.
“Sejak kapan kau menjadi kekanakan seperti ini? Aku tidak masalah jika kau ingin mengganti posisiku, tapi setidaknya aku diberitahu. Sesulit itukah menelponku?”
Tarian jemari itu berhenti. Tanpa melihat Mark, Jeanno menimpali. “Aku tidak ada kepentingan untuk bertemu dengan supervisor lapangan sepertimu. Jika kau terbang jauh-jauh dari Venice hanya untuk meluapkan amarahmu mengenai jabatan, aku tidak ada waktu untuk itu”
“Supervisor lapangan?” Mark terkekeh. Sebelumnya ia hanya tahu jabatannya digantikan, tidak tahu posisi yang baru. Dipikirnya ia akan memegang divisi lain dengan tingkatan yang sama, yaitu manager. Tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan turun jabatan.
__ADS_1
“Kau serius?”
“Apa aku terlihat sedang mengerjaimu? Terlalu niat bagiku untuk membuat prank sampai mengadakan rapat direksi”
Mark bersumpah ia ingin sekali lari dan memberi bogem untuk adik sepupunya, namun ia tahan karena tak mau membuat kerusuhan di kantor. “Aku butuh alasan”
“Sederhana. Aku hanya tidak suka pengkhianat”
“Pengkhianat? Apa yang kau bicarakan, Jeanno?”
Atensi Jeanno beralih kearah Mark. Memandang kakak sepupu yang ia percayai sepenuh hati, dengan tatapan dingin. “Untuk apa kau menutupi latar belakang keluarga Judith? Termasuk nama lahirnya? Apa yang kau rencakan, Mark? Mengapa kau melindungi gadis yang sudah menghancurkan hidup Nayara?”
Mark diam sesaat. Seakan mencoba menyusun kata demi kata yang dimaksud Jeanno. Hingga mendapat kesimpulan apa yang adik sepupunya sampaikan. “Kupikir kau akan tetap mempekerjakannya sebagai ‘pengganti’ Nayara, katamu ‘apapun resikonya’, hm?”
“Judith bukan orang yang sudah menghancurkan hidup Nayara, Jean. Orang tuamulah yang sudah menghancurkan hidup istrimu. Demi Tuhan, Judith bahkan tidak tahu kalian ada sebelum pertemuan ini! Bagaimana bisa kau menyalahkan perempuan itu atas garis hidup yang tidak ia minta?”
Rahang Jeanno mengeras. Ia bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Mark. “Jika dia tidak ada, orang-orang papaku tidak akan sampai salah menyelidiki latar belakang keluarga Nayara!”
“Itu karena mereka bodoh! Judith, maupun kedua orangtuanya tidak salah. Tidak berhutang apapun padamu atas jungkir balik kehidupanmu dengan Nayara. Dan sekarang kau menyalahkanku? Kau membalasku dengan membuangku ke jabatan yang lebih rendah? Wow…”
Kaki Mark maju selangkah hingga jaraknya dengan Jeanno menipis. Ditunjuknya pundak sang lawan keras. “Sudah kuperingatkan sejak awal, jangan main-main dengan perjanjian ini. Sekarang lihat? Tidak berakhir dengan baik, kan? Itu karena otakmu masih terisi dengan Nayara, Nayara dan Nayara. Dia sudah tidur dengan tenang, Jeanno. Berpikirlah secara rasional bahwa Nayara sekarang hanyalah kenangan yang seharusnya kau hormati, bukan kau ungkit terus dengan dalih pembelaan sehingga kau menyakiti Judith”
“Oh, Judith. Apa yang kau lakukan padanya ketika kau mengetahui fakta ini?”
Mark memicingkan mata, memandang Jeanno dengan tatapan menghakimi. “Jangan bilang kau menyakitinya. Aku bersumpah jika kau sampai berbuat diluar batas, maka aku akan—“
“Apa? Apa yang bisa kau lakukan untuk mencegahku melakukan hal yang mampu kulakukan?”
Pria Sebastian itu mundur, detik berikutnya tersenyum heran sembari menggelengkan kepala. “Kau semakin terlihat seperti ayahmu. Pria yang kau benci setengah mati, tapi ternyata kau berubah menjadi dirinya. Kau… munafik”
Tubuh Mark terhuyung kebelakang usai bogem mentah dari Jeanno yang mengarah padanya tiba-tiba. “Kau membela Judith sampai menghinaku seperti ini? Apa pelacur itu sudah memberimu pelayanan gratis dibelakang Hannah? yah, tidak heran jika kau melindunginya. Dia memang hebat di ranjang”
“Bajingan!”
Selanjutnya gantian tubuh Jeanno yang mundur menabrak sisi meja kerjanya. Mark meninjunya jauh lebih keras dibanding bogeman Jeanno tadi.
“Aku menyesal sudah membantumu selama ini. Karena ternyata orang yang kuperjuangkan berubah menjadi pria brengsek yang tidak menghargai perempuan. Urus dirimu sendiri mulai saat ini. Aku keluar”
Mark membawa kakinya pergi usai memberikan gebrakan pintu yang membuat Nora berjingkat kaget.
**
__ADS_1