Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 114. Truth or Dare


__ADS_3

Tiga minggu.




Jika sebelumnya Jeanno masih memberinya kabar walau dalam bentuk pesan singkat, maka sudah empat hari terakhir ini pesannya tak kunjung dibalas. Dibacapun tidak. Hal itu tentu saja menambah kegundahan dihati Nayara. Bagaimana jika Jeanno tidak baik-baik saja? ingin rasanya ia menelpon, tapi takut jika telponnya justru mengganggu Jeanno.*



Mark sudah tak lagi menemuinya seintens dua minggu lalu. Terakhir pria itu memberi kabar bahwa ia akan melakukan perjalanan bisnis ke pulau lain dan itu mungkin akan memakan waktu lima sampai tujuh hari. Kemudian meminta Nayara untuk menjaga diri selagi dirinya tidak ada.*



Ironis, seharusnya yang menjaganya adalah Jeanno, bukan malah Mark. Benak Nayara kala itu. Tiga minggu berlalu dengan berat tanpa sosok prianya. Nayara rindu, sungguh rindu sampai pada titik dimana itu menyakiti hatinya. Ia ingin bicara dengan Jeanno, ia ingin berada di rengkuhannya, ia ingin menjadi kekasih yang memberikan dukungan akan apapun yang dilakukan Jeanno. Tapi sosok itu justru menghilang seperti tak ingin membagi bebannya pada Nayara.*



Siang itu Nayara yang tengah menunggu bus di halte, beberapa kali melirik jam di pergelangan tangannya. Menghembuskan nafas frustasi karena bus yang ia tunggu tak kunjung datang, sementara rintik hujan mulai turun lumayan deras. Hari ini jatah liburnya, ia ingin cepat kembali ke asrama untuk beristirahat.


Sembari menunggu sesekali ia melihat ponsel, berharap setidaknya ada satu pesan yang Jeanno balas. Tapi benda pipih itu tak bergetar, menandakan tak ada notifikasi apapun. Hal yang membuat Nayara menghela kecewa. Dimasukkannya kembali ponselnya kedalam totebag dan memutuskan untuk melihat area sekitar halte.*



Di seberang halte terdapat restoran klasik mewah yang tak pernah Nayara sambangi. Tentu saja, untuk apa pula dirinya menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk mencicipi satu jenis hidangan, sementara makanan yang lebih murah dan enak masih banyak. Dalam hati gadis itu bersyukur dirinya masih diberi kesempatan untuk makan teratur sekalipun bukan hidangan mahal.*



Sebuah mobil sedan hitam mengkilap terhenti tepat di pintu restoran itu. Nayara bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang supir yang berpenampilan sangat rapi keluar sembari membawa payung hitam, seperti akan menjemput tuannya. Dan benar saja, dari pintu restoran keluar seorang pria bersetelan rapi yang nampak berwibawa berjalan beriringan dengan sang supir. Payungnya lebih condong kearah pria tersebut, membuat pundak sang supir basah diterpa derasnya hujan.*



Tunggu, Nayara mengerjapkan matanya, berusaha meyakinkan bahwa pria yang ia lihat adalah benar sosok yang selama ini ia cari. Semakin dekat jaraknya dengan mobil, semakin memperjelas pula figur pria itu.*


__ADS_1


Jeanno, benar dia adalah Jeanno Alexander. Jeanno yang sudah tiga minggu tak ditemuinya, kini terlihat dewasa dengan pakaian formal dan rambutnya yang dicat hitam. Nayara tersenyum, hampir menangis ketika pada akhirnya bisa bertemu dengan Jeanno dalam ketidaksengajaan.*



“Jeanno!”*



Nayara berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan supaya seruannya sampai di telinga Jeanno. Beruntung hujan yang semula turun dengan menggila, mulai berkurang derasnya. Hanya tersisa rintikan yang tak seberapa.*



“Jeanno!”*



Pria itu menoleh merasa namanya dipanggil. Dan ketika pandangannya bertemu dengan sang pemanggil yang berada di seberang jalan, tubuhnya menegang. Sementara Nayara, yang menyadari kekasihnya mendengar panggilannya, lantas tersenyum lebar. Ia melambaikan tangan sebelum merogoh payung kecil di totebagnya, bermaksud menyebrang untuk menemui sang kekasih. Meluapkan rindu yang menohok hatinya walau hanya sebentar.*




Butuh waktu beberapa menit bagi Nayara untuk menyadari apa yang baru saja terjadi. Jeanno mengacuhkannya? Ia yakin pria itu melihat Nayara. Sepengetahuannya juga Jeanno memiliki penglihatan yang bagus. Pandangannya tidak buram karena minus atau masalah mata lainnya. Lantas.. mengapa pria itu bersikap seolah tidak mengenalnya?*



Tak ingin bergumul dengan pikiran negatif, Nayara meraih ponselnya. Berharap ada pesan dari Jeanno yang menjelaskan ketidakpeduliannya tadi. Nayara sudah bertekad akan memaklumi semua penjelasan Jeanno. Tapi tetap saja, benda pipih itu tak memiliki pemberitahuan pesan. Memupuskan pemikiran positif yang semula timbul. Apakah Jeanno sudah tidak menginginkannya? Dimana Jeanno yang selalu ada untuknya? Dimana Jeanno yang memuja Nayara? Gadis itu meremat ponselnya, membiarkan airmata yang selama ini ia tahan mengalir begitu deras.*



Pada akhirnya Nayara menyadari, absennya Jeanno pasti karena sesuatu yang tidak beres. Berkurangnya intensitas mereka dalam berkomunikasi, juga Jeanno yang mulai tidak pernah membalas pesannya lagi. Membawa satu kesimpulan bahwa hubungannya dengan Jeanno sedang tidak baik-baik saja.*



***

__ADS_1



Restoran yang dipesan Mark berada di hotel Montana, satu-satunya hotel bintang 7 di negeri ini. Kemewahan yang ditawarkanpun tidak main-main. Restoran sekaligus bar yang terletak di lantai paling atas, sedikit banyak mengingatkan Hannah dan Judith akan Victoire. Tempat yang pernah menjadi saksi bagaimana kerasnya mereka berjuang hidup. Bersyukur tempat itu sudah ditutup. Disusul dengan Hannah dan Judith yang membakar pakaian ‘kerja’ mereka dulu yang masih disimpan di apartemen lama.


“Bersulang, untuk kita semua”


Mark mengangkat gelas champaignenya, diikuti yang lain.


“Kau selalu punya selera bagus jika menyangkut memilih tempat” Jeanno memuji, diikuti anggukan Judith dan Hannah. Yang dipuji hanya terkekeh bangga. “Itu karena seleraku lebih bagus darimu”


“Waw, aku memujimu, tapi kau justru merendahkanku” dengan nada dibuat kecewa, Jeanno beralih ke Hannah. “Lihat, Hannah. Begini kelakuan calon suamimu”


Hannah memandang Mark, mengulurkan tangannya yang disambut oleh Mark. “Aku tau. Apa aku mundur saja ya jadi istrinya?”


Judith yang sedari tadi diam, ikut menimpali. “Menurutku mundur saja, sebelum kau menyesal”


“Eii, kalian jangan menjadi kompor. Aku susah payah mendapatkan Hannah, dan tinggal selangkah lagi untuk menjadikannya nyonya Sebastian” Mark memajukan kepalanya, mencuri kecupan di bibir Hannah.


“Okay, okay, jika kau ingin melanjutkan, silakan memesan kamar” Jeanno memandang jengah ketika Mark memilih mengubah kecupannya menjadi pagutan dihadapan sepupunya dan Judith. Mendengar celetukan itu, calon pengantin tertawa kecil. Omong-omong, meja mereka adalah private table. Jadi tidak perlu khawatir segala aktifitas mereka dilihat orang lain.


“Aku sengaja ingin membuatmu iri\~”


“Ckck, kalian sudah sama-sama dewasa tapi tetap bertengkar seperti anak kecil” Judith menegakkan duduknya. “Bagaimana jika kita bermain game?”


“Game apa?”


Yang ditanya mengangkat bahu. “Apa saja yang seru”


“Truth or dare saja”


“Baik. Tapi aku tidak bertanggungjawab jika pertanyaan atau tantangan yang diberikan akan berpengaruh pada hubungan satu sama lain”


Mark turut menegakkan duduknya. “Kalau begitu buatlah perjanjian. Untuk tidak melakukan dare yang mempermalukan dan mencelakai kita”


“Deal”

__ADS_1


**


__ADS_2