
Jeanno nampak terkejut ketika ia melihat siapa yang sedari tadi menunggu. Begitu ia membuka pintu, Mark menyambutnya dengan sebuah pelukan khas saudara. Yang tidak direspon Jeanno akibat keterkejutannya melihat sosok lain yang tengah memandangnya sendu. Mark menepuk punggungnya beberapa kali sembari mengucap cacian mengapa adik sepupunya itu tak memberitahunya mengenai pensiun dini. Yang masih sama belum ditanggapi Jeanno.
Sadar jika atensi pria itu bukan untuknya, Mark melepas pelukan. Mendapati Jeanno yang masih berdiri kaku memandang Judith, seakan benaknya tengah bergelut mengenai apakah Judith nyata atau hanya halusinasi saja.
“Dia disini. Dia datang untukmu, Jean”
Mark menepuk pundak Jeanno sekali lagi sebelum mengisyaratkan Nora dan beberapa orang untuk keluar. Guna memberikan sedikit ruang bagi dua anak manusia.
Usai pintu ditutup, tak kunjung ada pergerakan baik dari Jeanno maupun Judith. Keduanya masih membeku. Jeanno yang masih berperan dalam benaknya, dan Judith yang ragu untuk mendekat. Takut jika respon yang ia dapat tidak begitu baik.
“Tuan…”
“Apakah.. tuan baik-baik saja?”
Suara itu, seakan mengundang Jeanno untuk berhenti melamun dan berjalan mendekat. Menghampiri sekaligus membuktikan apakah sosok Judith nyata atau semu. Diseberang, Judith mengulurkan tangannya. Menunggu Jeanno menyambutnya. Ia tersenyum, namun dalam senyumnya terselip airmata yang mengalir.
“Tuan telah melakukan yang terbaik. Tuan sudah dan akan menjadi ayah yang baik untuk Aera. Jangan pikirkan kata-kata wartawan.. mereka tidak tahu tuan”
Pandangan Jeanno beralih kepada tangan yang terulur, menunggu sambutan. Dengan gemetar ia mengangkat miliknya, sedikit ragu karena takut ia akan menghadapi kekecewaan besar jika Judith yang berdiri didepannya hanyalah ilusi.
Ketika ujung jemarinya menyentuh ujung jemari Judith, seketika kekuatan kakinya mengendur. Membuat Jeanno jatuh berlutut dihadapan wanitanya. “Kau… sungguhan? Kau sungguh disini?”
Mendengar getaran dalam suara sang pria, refleks Judith turut berlutut, dibawanya kepala Jeanno untuk ia dekap. Pundak pria itu nampak bergetar. Judith tahu Jeanno menangis dalam pelukannya, entah tangisan untuk siapa. Tapi sedikit banyak hal itu membuatnya lega, karena setidaknya pria itu sudah tak perlu lagi berpura-pura kuat dihadapan publik. Judith lega Jeanno melepaskan emosinya.
“Ya, aku disini. Aku disini untukmu.. menangislah sepuasnya, Jeanno. Aku disini…”
**
“Dia baik-baik saja. Setelah sampai tuan langsung kusuruh tidur karena dia tidak mau makan”
“Apa kau membutuhkanku?”
Judith menoleh kearah ranjang, dimana sosok Jeanno yang tengah terlelap damai disana. “Untuk saat ini, belum, kak. Kau bisa fokus kepada urusanmu sekarang. Tuan biar aku yang menjaganya”
Mark membuang nafas, sejak berita pensiun dini yang mendadak, keadaan perusahaan memang menjadi semakin chaos. Membuatnya harus standby untuk mengadakan rapat direksi mengenai peralihan jabatan. Hal itu tentu menghalanginya untuk pergi menemui Jeanno. Beruntung ada Judith, setidaknya ia memiliki seseorang yang ia percaya untuk menjaga Jeanno selagi dirinya tidak ada.
“Baiklah. Jika urusanku sudah selesai, aku akan kesana secepatnya. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan menelpon. Mengerti?”
*
__ADS_1
“Mengerti, Kak”
Usai menutup telpon, Judith melangkah mendekati ranjang. Membetulkan letak kepala Jeanno yang sedikit miring, sekaligus menaikkan selimutnya. Walau masih terlihat berkarisma dan tampan seperti biasa, ia bisa melihat kantung mata hitam yang membalut samar. Pria itu juga sedikit tirus dari yang terakhir Judith temui.
“Kau pasti mengalami hari yang berat akhir-akhir ini. Maaf harus menjalaninya sendiri. Maafkan aku..”
Judith menunduk, memberikan kecupan singkat pada kening Jeanno, sebelum melangkah keluar untuk memberikan waktu istirahat bagi Jeanno.
**
“Maaf Owen, aku ada urusan mendadak jadi lupa memberitahumu”
“Kau pergi semalam, kan? Ini sudah sore menjelang petang, sayang. Dan kau baru bisa dihubungi? Apa urusanmu sebegitu pentingnya?”
Judith mengecilkan kompor, membiarkan supnya ayam ginsengnya matang selagi ia memilih duduk dikursi makan untuk bercakap dengan tunangannya melalui telpon.
“Maaf. Aku lupa membawa charger, jadi sesampainya disini ponselku mati. Keadaan sedang kacau, Owen. Aku sama sekali tidak memikirkan ponsel”
“Kau terlihat baik-baik saja kemarin, kemudian hari ini aku mendapati tokomu tutup dan apartemenmu kosong. Dengan ponsel yang tidak bisa dihubungi, kau tidak tahu betapa paniknya aku disini? Aku ingin mencari tahu, tapi aku bahkan tidak mengenal siapapun keluarga atau kerabatmu”
*
“Kita bahas besok, ya?”
Owen mendengus kasar. “Tidak. Aku ingin kita selesaikan saat ini juga”
“Aku lelah Owen. Sangat lelah. Aku janji akan menceritakan semuanya ketika pulang nanti”
“Aleta, dengar. Kita sudah bertunangan dan akan menikah dalam beberapa bulan kedepan. Sampai saat ini aku bahkan tidak mengenal siapapun dari kehidupanmu. Kau bilang tidak memiliki keluarga lagi, tapi kenyataannya kau pergi tengah malam berdalih urusan mendadak. ‘Urusan’ yang kau katakan ini menyangkut siapa, Aleta? Seberapa pentingnya orang yang terlihat dalam urusan ini sampai kau terlihat luar biasa panik?”
*
__ADS_1
Judith menggigit bibir bawahnya. Telinganya terasa panas, ia ingin berteriak atau mematikan sambungan telpon secara sepihak. Namun kembali lagi, itu tak akan menyelesaikan masalah. Justru akan membuat segalanya semakin kacau ketika ia pulang nanti.
“Owen, kau percaya padaku, kan?”
“Aku percaya, tapi…”
“Jika kau percaya padaku, maka tunggulah aku. Aku akan pulang secepatnya usai urusan disini selesai. Ketika hari itu tiba, aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu”
Owen terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengalah. Sedikit tak tega mendengar suara Judith yang mulai goyah. Sepertinya tunangannya tidak berbohong ketika mengatakan dirinya lelah bukan main. “Baiklah, aku akan menagih janjimu”
“Terimakasih, Owen. Aku sangat menghargainya..”
“Ya, sampai bertemu lagi. Aku mencintaimu”
“Aku juga mencintaimu”
**
“Aku juga mencintaimu”
Langkah kakinya terhenti. Kepercayaan diri yang baru kembali seketika runtuh ketika kalimat itu terdengar dan menamparnya kembali pada realita. Kenyataan bahwa Judith kemari hanya sebagai teman, bukan sebagai seseorang yang memang ditakdirkan untuknya.
Jeanno bersyukur ia turun dari kamarnya tanpa slipper, karena dengan begitu langkah kakinya tidak terdengar oleh Judith yang duduk membelakanginya. Dengan langkah yang sama, ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Tak ingin mengganggu Judith yang sedang bercakap dengan tunangannya.
Hatinya kesakitan. Usai angannya diangkat tadi siang, kini dengan mudahnya dihempaskan kejurang terdalam. Jeanno sadar sepertinya ia masih belum cukup memiliki hati yang besar untuk merelakan Judith sepenuhnya. Mendengar wanita itu berkata ia mencintai pria lain, rasanya jauh lebih menyakitkan dibanding hinaan dan cemooh publik padanya.
Membuka pintu kamarnya yang tak terderit, Jeanno membaringkan raga seperti posisi semula. Berjaga jika Judith masuk ia akan berpura-pura masih tertidur. Seperti tak pernah mendengar apapun dari lisan Judith.
Benar saja, tak berselang lama pintu terbuka. Disaat bersamaan Jeanno memejamkan matanya. Terdengar sapuan lembut pada surainya. “Tuan, ayo makan malam”
Masih tak bergeming, Jeanno tetap melanjutkan aktingnya terlelap. Ia masih belum siap jika harus bertemu pandang dengan Judith usai mendengar pengakuan cintanya pada pria lain.
“Lelah sekali ya? sampai tidur sepulas ini” jemari halus itu menelusuri wajah Jeanno. Mengusap dahinya yang secara refleks membuat alis Jeanno berkerut.
“Sudah berapa hari tuan tidak tidur cukup, hm? Tuan terlihat kurus. Dan itu menyakitiku. Setelah ini, hiduplah dengan tenang. Tuan mengajarkanku untuk mengejar bahagiaku, sekarang aku mau tuan melakukan hal yang sama. Kerjarlah bahagia tuan”
Judith menunduk, memberikan kecupan di dahi Jeanno. Kecupan yang ia daratkan beberapa kali sampai kerutan pada alis tegas itu menghilang. Judith berpikir untuk kembali ke dapur, membiarkan Jeanno puas dalam lelapnya.
Setidaknya begitulah awalnya, sebelum sebuah tangan meraih jemarinya. Mengurungkan langkahnya pergi. Ia menoleh, netra yang bertemu dengan milik sang tuan muda yang penuh kesenduan.
“Tuan…”
__ADS_1
“Bagaimana bisa aku mengejar bahagiaku, sementara bahagiaku ada padamu?”
**