
Berita mengenai Jeanno seketika menjadi isu hangat dikalangan publik. Satu persatu fakta mengenai kehidupan misterius pria tunggal Thomas itu terungkap. Dimulai dari kisah cintanya yang alot dengan mendiang Nayara, hingga kawin lari yang membuatnya tidak diakui oleh keluarganya sendiri. Rumor yang beredar mengatakan Jeanno memiliki satu anak, walau tak tersirat seorang putri atau putra. Kerahasiaan identitas Aera yang masih terjamin sudah jelas karena adanya campur tangan Thomas dan Jose Sebastian guna melindungi anak yang tidak berdosa itu dari sentuhan publik.
Sementara Judith, wajahnya memang tidak terpampang secara jelas di media. Namanyapun disensor menjadi AJ (Anantha Judith). Namun entah darimana masa lalu Judith sebagai pekerja malam dan salinan perjanjian kerja sebagai ibu pengganti lolos, membuat nama Jeanno semakin menjadi bahan cibiran masyarakat umum. Tentang bagaimana kemunafikan dan kelicikan yang tersembunyi dalam wajah tampan dan karismatik.
Jeanno sudah kembali ke Indonesia tiga jam yang lalu, dan tanpa perlu membuang waktu dirinya langsung merencanakan konferensi pers bersama Mark dan timnya untuk memberikan klarifikasi.
“Jadi kau mau mengaku?”
Jeanno melayangkan pandang kearah Mark. “Tidak ada pilihan lain, bukan? Aku yang memulai semuanya. Seharusnya aku sudah mengantisipasi hal seperti ini pasti akan terjadi”
“Sekedar informasi… nilai saham kita turun cukup jauh” Mark menyodorkan tablet kearah sepupunya yang berisi grafik penurunan yang cukup signifikan sejak isu Jeanno mencuat. “Jika kau mengadakan konferensi pers, kau harus siap grafik itu akan turun lagi dikemudian hari”
Sang tuan muda memejamkan matanya sejenak. “Aku sudah kehilangan segalanya. Sekarang sudah saatnya aku menerima karmaku”
“Kau sudah banyak menderita, Jean. Berhenti bicara seolah-olah hukumanmu tidak ada habisnya”
Jeanno mengulas senyum sendu. “Judith.. apa dia baik-baik saja? aku gagal menjaganya lagi, Mark. Dia pasti sangat membenciku”
Mark membuang nafas kasar. “Baik telponku maupun telpon Hannah sama-sama tidak digubris. Aku sudah menyuruh orangku untuk mengawasinya, sejauh ini dia terlihat baik-baik saja. Tokonya masih buka seperti biasa”
“Jeanno, maafkan aku yang tidak bisa membantumu banyak mengenai menjaga Judith”
Jeanno melihat adanya gurat penyesalan dalam airmuka sepupunya. Lantas ia ulurkan tangan, menepuk pundaknya ringan. “Kau berjasa banyak dalam hidupku, Mark. Janganlah kau meminta maaf untuk satu kesalahan yang seharusnya bisa kucegah”
“Sejujurnya.. aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Aku tidak peduli jika seluruh dunia membenciku, asal jangan putriku dan Judith. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada dua perempuanku itu”
Hening. Mark memutuskan untuk tetap berada disana, karena ia merasa Jeanno butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Terakhir kali Mark melihat Jeanno seberantakan ini adalah ketika Nayara baru meninggal. Dan tak pernah ia sangka akan datang lagi hari dimana ia melihat pemandangan yang sama.
**
“Bagaimana, sayang? menurutmu bagus yang mana?”
Beberapa lembar brosur wedding organizer yang Owen jabarkan sejak setengah jam yang lalu nampak tidak menarik perhatian Judith. Tunangannya memang duduk dihadapannya, diam mendengarkannya bicara, namun fokusnya entah kemana. Sudah sejak kemarin Owen menyadari Judith lebih pendiam dan suka melamun. Menurut Alyapun atasannya seringkali membuat kesalahan dalam bekerja. Yang jelas ada penyebab yang melatarbelakangi kekasihnya berperilaku demikian.
“Aleta?”
Pundak gadis itu sedikit tersentak ketika Owen menyentuh jemarinya lembut. “Ya? ada apa?”
__ADS_1
“Kau. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Judith menarik jemarinya ketika Owen berinisiatif hendak menggenggam. “Aku baik-baik saja. Hanya lelah, mungkin kurang tidur”
“Bukankah semalam kau mengakhiri telpon kita untuk tidur lebih awal?”
“Maukah kau berbagi denganku, sayang?”
Judith memutus kontak matanya dengan Owen. Jujur merasa bersalah karena memikirkan pria lain disaat sedang bersama calon suaminya. Tapi mau bagaimana lagi, sungguh Judith kehilangan fokus akibat apa yang terjadi pada Jeanno. Semalaman ia tidak tidur, memikirkan pria itu, dan juga Aera. Sekaligus berdoa supaya segalanya berakhir baik.
“Aleta?”
Judith menggeleng pelan. “Maaf, Owen. Untuk kali ini aku belum siap menceritakannya padamu”
“Apa persiapan pernikahan kita mengganggumu?”
“Bukan begitu..” Judith mengusap wajahnya perlahan, bingung bagaimana cara merangkai kata. Owen bersikeras mempercepat pernikahan mereka kurang lebih enam bulan dari sekarang. Walau Judith sebetulnya keberatan, karena ia tak ingin terburu-buru.
“Lalu?”
Baru ingin menjawab, ponselnya berkedip. Menampilkan nama Hannah sebagai caller ID. Nama yang panggilannya sempat ia acuhkan sejak kemarin. Takut jika prasangka buruknya menjadi nyata, Judith meneguhkan hati untuk menjawab panggilan Hannah kali ini.
Tanpa menunggu jawaban Owen, Judith melangkah menjauh kedepan restoran. Menggeser tombol hijau diiringi degupan kencang. “H-halo?”
“Ya Tuhan, Judith! Akhirnya kau mengangkat telponku. Kau kemana saja? aku sangat khawatir padamu. Panggilan Mark juga tidak kau gubris. Apa karena kau sudah punya tunangan lalu kau berpikir untuk memutus komunikasi denganku?”
“Hannah, tunggu. Jangan marah-marah dulu. Aku bisa jelaskan”
Hannah mendengus. “Jika aku tidak memiliki Hazel, aku pasti akan menyusulmu kesana. Aku takut terjadi sesuatu padamu”
“Maaf membuatmu cemas. Aku hanya… takut. Aku takut jika kau atau kak Mark membawa berita buruk mengenai.. kau tau siapa”
“Ya, aku tau” Hannah meremat ponselnya. “Judith, Jeanno sedang hancur sekarang. Empati publik benar-benar 0. Dia berencana mengakui semuanya dihadapan pers, untuk jadwalnya aku tidak tahu. Tapi kurasa secepatnya”
*
__ADS_1
“Benarkah?”
“Jika dia mengakui semua rumor yang dikatakan media, maka itu bisa menjadi akhir bagi Jeanno. Mark bilang, Jeanno terlihat berantakan. Tapi dia sama sekali tidak mencemaskan dirinya”
*
“……..”
“Dia hanya mencemaskan Aera, dan… kau, Judith”
“……..”
“Dia tidak ingin kau terluka. Itulah mengapa dia berusaha keras menggunakan koneksinya supaya wajah dan identitasmu tidak terbongkar. Dia bisa melakukan itu untuk melindungi dirinya sendiri, tapi dia memilih untuk melindungimu, sayang”
Pernyataan Hannah yang bertubi-tubi membuat Judith tak lagi sanggup menahan genangan airmatanya untuk tidak luruh membasahi pipi. Kakinya terasa lemas, tak mampu menopang tubuhnya berdiri.
Jeanno melindunginya, bahkan disaat kritis seperti ini? Ia lebih memilih untuk ‘mati’ sendiri ketimbang mengajak Judith mati bersama.
Terdengar grasak-grusuk dari seberang, sepertinya seseorang datang dan mengajak Hannah bicara. Entah apa yang kawannya bicarakan, Judith tidak begitu mendengarkan. Dirinya masih sedikit terguncang akan fakta mengenai Jeanno barusan.
“Judith, ini Mark”
Suara berat itu menyapa indera pendengarannya. Sontak tubuhnya kembali menegang, terlebih intonasi bicara Mark yang terdengar serius. “Ya?”
“Jeanno akan mengadakan konferensi pers besok sore. Aku tidak akan memaksakanmu untuk datang. Tapi jika kau berkenan, kehadiranmu akan sangat berarti untuk Jeanno”
“Setidaknya dia tau kalau dirinya tidak sendiri”*
__ADS_1
**