Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Mimpi buruk


__ADS_3

Nafas yang memburu membuat Farah dan Ali semakin kawatir


"ii--ibu, Nathan..."


"atur nafas dulu nak" Farah mengusap punggung anaknya.


merasa mulai sedikit tenang , Alayya melanjutkan ucapannya. " ayah ibu, Al mau ketemu nathan "


"iya nak besok kita temui Nathan "


"nggak Bu, Al mau malam ini juga"


"sayang ini sudah tengah malam, nak"


"enggak ibu, Alayya harus ketemu Nathan malam ini juga" Ali dan Farah saling pandang, Alayya sudah bangun dari kasurnya, ia pasang dengan tergesa jaket denim yang tersampir di kursi depan, Alayya memasang kerudung instan.


"Al, tunggu ayah antar"


....


selama di perjalanan, Alayya terus bergerak gelisah, Perasaannya tidak nyaman,mimpi indah itu bagaikan mimpi buruk untuknya, Nathan pergi untuk selamanya, Alayya tidak bisa kehilangan nathan


"ayah cepat sedikit "


"iya nak, iya" Raisa juga ikut, gadis kecil itu masih terlelap di pangkuan sang nenek


sesampainya mereka di kediaman Nathan, Alayya bergegas turun berkali-kali ia pencet bell di Depan gerbang, Alayya juga berteriak memanggil-manggil Nathan, tapi nihil rumah itu seperti tidak ada penghuninya.


"kayanya nggak ada siapapun nak"


Alayya merogoh sakunya, ia ambil benda pipih di sana, Alayya mencari-cari nomor Nathan, ia lupa sejak perceraiannya di urus, Alayya sudah menghapus semua nomor Nathan di ponselnya.


Alayya beralih mencari nomor ana, ia letakkan ponsel itu di telinga, menunggu di angkat


"assalamualaikum, Kenapa nak"


"ma, kalian di mana, Alayya ada di depan rumah" Alayya langsung saja menyambar tanpa menjawab salam dari ana


"mama sama papa lagi di rumah sakit, nak. Nathan masuk rumah sakit"


"rumah sakit? dimana mah, Alayya kesana sekarang"


sungguh Alayya panik mendengar sang suami masuk rumah sakit.


"di..."


tiitt!!


Alayya memutus panggilan nya setelah ana menyebutkan nama rumah sakit tempat nathan di rawat.


"kenapa nak?" kedua orang tuanya jadi ikut panik


"Kita kerumah sakit yah, rumah sakit..."


"cepat yah"


"iya nak, iya"


.....

__ADS_1


sesampainya di rumah sakit, Alayya langsung mencari kamar rawat Nathan, ke-dua orangtuanya tertinggal di belakang, mereka tidak bisa berlari seperti sang Anak.


ia bergegas masuk setelah menemukan kamar yang ia cari


"Nathan" lirih Alayya melihat Nathan yang terbaring lemah, di kursi tunggu ada ana dan Anton, Anton mengajak ana untuk keluar, ia berikan waktu Alayya dan Nathan berdua. Nathan membuka matanya, pria itu tidak tidur.


"Nathan.."


"Al--alya" ucap Nathan terbata-bata


langsung saja Alayya menunduk dan memeluk erat nathan, ia tumpahkan semua tangisannya di dada sang Suami, meskipun kesulitan, nathan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Alayya


"kamu ko jahat banget sih Nat"


"maaf"


"setelah seminggu kamu mau pergi ninggalin aku untuk selamanya, kamu tega ninggalin aku sama Raisa, kamu tega Nat"


"aku nggak akan pernah tinggalin kalian"


"maafin aku Nat, maafin karena keegoisan aku, kamu jadi kaya gini, maaf"


"bukan salah kamu, Al, bukan... kamu nggak pantas meminta maaf, aku yang harus di salahkan di sini, bukan kamu, Al "


Alayya melepaskan pelukannya, tangan Nathan terulur menghapus air mata di pipi Alayya.


"jangan menangis lagi, aku nggak Suka liat wanita ku menangis seperti ini " Alayya menggenggam tangan nathan, ia ciuman berkali-kali tangan besar nathan.


"aku nggak mau pisah sama kamu, Nat, aku ingin selalu ada di samping kamu, selamanya "


"makasih sayang, makasih " dengan sisa tenaga, Nathan duduk dan memeluk Alayya, mereka melupakan tangisan di dalam pelukan, dari depan pintu ke-dua orang tuanya Juga ikut terharu melihat momen mereka berdua. Nathan belum tau apa alasan kehadiran Alayya yang tiba-tiba, yang ia tau sekarang, perceraian mereka akan di batalkan.


"aku jauh lebih sayang sama kamu"


"makasih sudah menerima aku kembali, makasih sudah memberi aku kesempatan lagi, makasih atas semua cinta yang kamu beri, aku mencintai kamu, Alayya"


"aku--aku mimpi kamu pergi selamanya, aku nggak mau kamu pergi,aku nggak mau "


....


di hari ketiga, nathan akhirnya di ijinkan untuk pulang, Alayya juga sudah mencabut gugatan perceraiannya, nyatanya memberi maaf pada nathan jauh lebih baik dari pada tetap kekeh pada pendirian ingin berpisah.


"Alayya Sibuk merapikan baju nathan a


ke dalam tas, mereka akan pulang sebentar lagi, Natan di minta menunggu sebentar, menunggu dokter untuk memastikan kondisinya.


"sayang, sudah dong" sejak tadi nathan meminta Alayya menemaninya tidur.


"jangan rewel Nat, aku harus beresin ini sebelum kita pulang"


"sayaaang..." Alayya mengabaikan, ia tetap sibuk dengan aktivitasnya, tidak ada seorangpun di sana, hanya ada mereka berdua, Alayya yang duduk dengan posisi membelakangi Nathan, sampai tersentak karena tiba-tiba Pria itu menggendongnya, Alayya kaget sekaligus takut, Nathan baru aja sembuh... tapi pria itu sudah bertingkah lagi


"Nathan, kamu apa-apaan sih, turunin aku" nathan meletakan tubuh Alayya di atas tempat tidurnya, setelah itu ia ikut juga naik ke atas ranjang.


" mundur dikit sayang, di belakang kamu masih luas, aku bisa terjengkang Kalo posisinya kaya gini" Alayya memutar matanya jengah, ia turuti apa kata Nathan, nathan merebahkan dirinya, setelahnya ia tarik tangan Alayya untuk Tidur juga di samping nya, nathan langsung memeluk Alayya begitu erat.


"ya Allah hamba begitu menyayanginya, jangan pisahkan kami selain kematian"ucap Nathan dalam hati.


"Nat"

__ADS_1


"Hem, kenapa sayang ku?"


"malam itu aku mimpi in kamu sama anak kita"


"aku lihat kamu mau di bawa pergi sama dia, aku nangis-nangis minta kamu untuk balik, tapi kamu tetap mau pergi, aku nggak tau apa itu mimpi buruk atau mimpi indah, tempatnya begitu indah, kaya taman bunga, tapi taman di situ beda Nat, ada air yang mengalir juga, banyak bunga-bunganya juga, kamu tau anak kita namanya, Naiyla "


"naiyla?"


"Hem, em. kayanya nama gabungan dari nama kita deh, Nathan dan Alayya"


"Seperti apa wajahnya?"


"cantik, cantik banget Nat"


"cantik seperti ibunya " ucap Nathan menggoda


"iss, aku serius tau" kesal Alayya


"aku juga serius sayang, kamu kan cantik, cantik banget malahan"


"gombal " Alayya tanpa sengaja memukul lengan Nathan, pria ia meringis


"aduh sayang, sakit"


"ma--maf Nat, aku nggak sengaja " memang Nathan SE jahil itu, padahal pukulan Alayya tidak berasa apa-apa, itu hanya akal-akalan Nathan agar di perhatikan.


"aku bahagia banget Nat"


"aku bahagia bisa meluk kamu kaya gini lagi" lanjut Alayya, Wanita itu mendongak menatap Nathan


"aku jauh lebih bahagia, aku nggak tau... mungkin Jika perpisahan kita terjadi, aku bakalan ma--" Alayya menutup mulut Nathan, ia menggeleng


"jangan pernah lanjutkan kalimat itu, aku nggak suka" Nathan tersenyum dan mengangguk, Nathan turunkan tangan Alayya dari mulutnya


ia bubuhkan satu kecupan di bibir ranum sang istri.


"jangan pernah meminta cerai lagi, jangan pernah meminta aku menandatangani surat perceraian lagi".


"nggak akan pernah" ucap Nathan dan Alayya bersamaan.


Nathan kembali menyatukan bibir mereka, cukup lama, dan Alayya membalas permainan bibir Nathan, sampai mereka tidak sadar lagi, di mana mereka berada, Nathan yang tadi berada di samping sudah berpindah ke atas tubuh sang istri.


"Kalian sudah siap"


"oh tuhan" Farah dan Ana langsung berbalik badan dan kembali keluar, Alayya mendorong tubuh Nathan dari atas tubuhnya.


"kita nggak liat apa-apaan kan ana"


"ii--iya far"


"kamu sih Nat"


"kamu juga, ko aku sih"


"kamu lah, ngapain naik-naik kaya gitu " kesal Alayya sekaligus malu


"terbawa suasana sayang "


Alayya turun dari ranjang dengan kesal

__ADS_1


"sayang, kita lanjutin di rumah yah" goda Nathan Tanpaa dosa sedikitpun.


__ADS_2