
Dering telpon tak pernah terdengar semengerikan ini bagi Judith. Menunggu Owen mengangkat telpon membuatnya gugup setengah mati, padahal sebelumnya percakapan mereka ditelpon layaknya obrolan orang lain yang ringan topiknya.
Kali ini berbeda. Judith ingin bicara dengan Owen, empat mata. Mengenai masa depan hubungan mereka. Judith memang belum memutuskan tawaran Jeanno, tapi mempertahankan hubungannya dengan Owen yang jelas-jelas bukan pria yang dicintai, menurutnya juga salah.
“Halo? Maaf, aku baru selesai. Ada apa, sayang?”
Judith menggigit bibir. Nafasnya tercekat terlebih ketika mendengar nada riang dari lawan bicaranya diseberang. “Hey.. tidak apa-apa. Maaf aku semalam tidur lebih awal, jadi tidak bisa menerima telponmu”
“Apa kau sakit?”
“Tidak, aku baik-baik saja. Owen, kapan kau pulang?”
“Hari ini terakhir. Keretaku berangkat nanti sore, kemungkinan sampai sehabis makan malam. Kau mau menjemputku, kan?”
Judith mengangguk, sedetik kemudian sadar bahwa Owen tak akan melihatnya. “Ya, aku akan menunggu di stasiun”
“Good. Aku sangat merindukanmu, Aleta. Besok kita harus pergi bersama, okay?”
“Ya, Owen”
“Baiklah, kalau begitu aku lanjutkan lagi acaranya, ya? sampai jumpa nanti, sayang. Aku mencintaimu”
Sambungan terputus, akan tetapi genggaman tangan pada ponselnya tak kunjung terlepas. Kepulangan Owen yang kurang dari dua puluh empat jam lagi membuat pundaknya semakin memberat. Mereka akan bertemu, itu artinya Judith akan mengatakan keputusan akhirnya mengenai hubungan mereka. Akan bertambah lagi satu orang yang ia kecewakan. Judith tau ini terdengar sangat tidak tahu terimakasih, tapi Judith berharap ia akan tetap menjalin pertemanan dengan Owen.
“Maafkan aku, Owen”
**
Pada ruangan sempit bercat putih yang sudah lusuh, dua pria yang duduk berhadapan tengah saling melempar pandang dengan ekspresi serius. Satu dari mereka mengenakan pakaian khas tahanan, yang tengah bersandar dengan tangan terlipat didepan dada. Sementara pria lainnya mengenakan setelan jas berwarna abu, dengan kumis baplangnya yang menambah kesan serius pada wajahnya. Pria itu meraih sebuah map dari dalam tasnya, menyerahkan kepada sang lawan bicara di kursi seberang.
“Kau yakin dia dalang dari semuanya?”
Si kumis baplang, menunjuk dengan dagu kearah map yang isinya tengah dibaca oleh si tahanan. “Disana tertulis semua. Dia dalang dibalik semuanya, yang dilancarkan melalui tuan Thomas Alexander”
“Brengsek”
Pemuda tahanan itu membanting map yang diberikan sang pengacara. Wajahnya nampak merah menahan emosi, giginya bergemerutuk, tangannya mengepal siap melayangkan tinju pada seseorang yang tengah berada dalam bayangannya, seseorang yang menjadi sumber dari segala masalah yang menimpanya satu tahun belakangan ini.
“Kau tidak bisa melawan Thomas Alexander, Arman. Kau tahu sendiri bagaimana berkuasanya dia. Yang ada kau akan kalah bahkan sebelum menyentuh ujung kukunya”
Tidak ada yang lucu dari ucapan si pengacara yang membuat Arman tertawa. Diliriknya sinis kearah pria paruh baya yang merupakan pengacara keluarganya. “Aku tidak berniat menyentuh tuan Thomas. Aku tahu dimana batasku”
“Targetku hanya satu, Jeanno Alexander”
“Hanya demi melindungi pelacurnya. Dia menghancurkanku, menghancurkan pernikahanku, menghancurkan keluargaku. Kau tau kan, ayahku sangat menyukai Jeanno?”
Si kumis baplang mengangguk samar.
“Berapa lama lagi sampai hari kebebasanku datang?”
“Arman..”
“Berapa hari?”
“Dua bulan lagi”
__ADS_1
“Arman, apapun yang kau rencakan, aku harap kau hentikan sekarang juga”
Arman menarik ujung bibirnya keatas, membentuk seringai yang membuat kuduk meremang. “Paman, aku sudah kehilangan semuanya. Kehidupan dipenjara tidak begitu buruk. Jadi kurasa.. aku tidak masalah jika harus menghabiskan waktuku lagi disini”
“…. Setelah aku membunuh Jeanno Alexander”
**
Owen memberikan senyum lebarnya ketika melihat Judith benar-benar menunggunya di stasiun. Pria itu bahkan setengah berlari untuk menghambur memeluk kekasihnya. Tak peduli tatapan orang lain, dirinya rindu setengah mati pada gadis cantik itu.
“Astaga.. aku sangat merindukanmu. Kau tau?”
Judith terkekeh, menepuk pundak Owen yang tengah memeluknya erat. “Tau. Kau kan mengatakannya setiap hari”
“Satu minggu terasa lambat sekali. Rasanya aku ingin kabur, pulang lebih cepat dan menemuimu”
Judith tidak menjawab. Owen juga tidak mendesaknya untuk merespon. Pria itu lebih memilih untuk mendekapnya erat dan menyembunyikan wajahnya dipundak Judith. Yang menurutnya menjadi tempat ternyaman untuk saat ini. Tanpa tahu bahwa pundak yang menjadi sandarannya tengah menyimpan beban berat yang siap dilemparkan padanya dalam hitungan jam.
“Owen, ayo pulang. Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu”
Setidaknya, Judith ingin ada kenangan indah sebelum mereka resmi mengakhiri hubungan.
**
“Bagaimana proyek yang sedang kau handle, Jean? Kau belum melaporkannya kepada papa sejak dua hari yang lalu”
Jeanno memijat tulang hidungnya. Untunglah papanya menelpon biasa, bukan panggilan video. Sudah pasti Thomas akan menghakiminya jika melihat penampilannya yang terlihat berantakan sekarang.
“Lancar. Berjalan dengan baik. Untuk detailnya akan kukirimkan melalui email. Maaf aku terlambat mengabari papa”
Validasi yang sudah kenyang didengar oleh Jeanno itu tak membawa reaksi apapun pada airmuka si tampan. Pria itu justru menghela nafas, pikirannya masih terfokus kepada Judith dan percakapan mereka kemarin.
“Jeanno”
“Ya? Maaf pa, aku kurang tidur jadi tidak fokus”
“Mama bilang Aera beberapa kali melakukan video call dengan menyebut ‘mama’. Apa tidak ada yang mau kau jelaskan pada kami?”
Hening. Jeanno menahan nafasnya, ia sungguh tak menyangka pertanyaan demikian akan dilontarkan melalui telpon ketika mereka sedang membahas pekerjaan.
“Jeanno?”
“Akan kujelaskan nanti ketika kembali, papa”
“Papa tunggu”
“Papa, berjanjilah satu hal padaku”
“Apa?”
“Ketika aku sudah menyelesaikan ceritaku, apapun respon papa dan mama, kumohon… jangan ganggu perempuan ini”
*
__ADS_1
Tak ada jawaban dari sang ayah. Tanpa tahu bahwa diseberang sana Thomas tengah berpaku, mendengar adanya keputusasaan yang tersirat pada ucapan putranya. Seumur hidup, Thomas tidak pernah mendengar putranya meminta sesuatu dengan nada memohon seperti itu.
**
“Kita mau kemana, Owen?”
Hari itu Judith sudah diminta Owen untuk bersiap pergi. Tanpa diberitahu tujuan mereka. Oh, Judith juga belum sempat membicarakan mengenai hubungan mereka semalam, karena Owen terlihat kelelahan dan Judith tentu tidak tega mengusiknya dengan memberikan kabar buruk. Jadilah acara mereka hari ini Judith tetapkan sebagai momen yang tepat untuk jujur.
“Tempat spesial. Kau pasti suka”
Judith tersenyum. “Jangan sampai aku salah kostum, ya?”
“Tidak, kok. Kau terlihat tetap cantik dengan pakaianmu sekarang”
Mempercayakan tokonya untuk dijaga oleh Alya, sekali lagi Judith meminta ijin untuk tidak masuk. Ia butuh waktu berpikir, karena hari ini adalah hari terakhir Jeanno berada disatu kota dengannya.
“Aleta? Kau melamunkan apa?” yang ditanya tersentak ketika tangan Owen hinggap di punggung tangannya. Wajahnya terangkat, menyadari laju mobil terhenti akibat lampu merah.
“T-tidak apa-apa”
“Kau sakit?”
“Tidak, Owen. Aku baik-baik saja”
Sembari menunggu lampu merah, jemari yang masih berada distir kemudi diketukannya asal. “Aleta, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya?”
“Semalam ketika aku makan malam di apartemenmu, aku mencium aroma parfum yang begitu maskulin. Seperti parfum pria. Aromanya familiar, aku seperti pernah mencium bau itu sebelumnya”
“Oh itu..” Judith tidak nampak terkejut, entah mengapa dirinya tak merasa seperti perempuan yang tertangkap basah selingkuh. “Tuan Jeanno memang sempat mampir untuk makan bersama. Parfum yang kau cium mungkin parfumnya”
“Ah begitu..” Owen menoleh, memandang Judith ragu. “Kau.. seberapa dekat kau dengannya?”
“Kami dekat, karena dia suami dari mendiang saudariku dan ayah dari keponakanku satu-satunya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya saja.. kau tau, dia begitu menawan. Aku saja yang pria sulit melepas pandangan darinya karena dia begitu tampan dan berkarisma. Apalagi perempuan. Kau tentu setuju dengan pendapatku, kan?”
Dahi Judith mengerut, tak mengerti maksud dari kalimat Owen. “Apa poin dari ucapanmu, Owen? Kau menganggapku tertarik padanya hanya karena Jeanno tampan?”
Owen mengusap wajahnya kasar. Lampu merah didepannnya tak kunjung berganti warna. Membuat perdebatan antara dirinya dengan Judith harus berlanjut.
“Maaf, aku tidak bermaksud memiliki pemikiran negatif padamu. Hanya saja, aku takut. Aku baru saja memilikimu beberapa bulan, wajar jika ada ketakutan ketika posisiku jauh dan kau berada satu ruangan dengan pria yang jauh diatasku”
Judith membuang muka, memilih memandang mobil lain diluar jendela. Tak sepenuhnya menyalahkan Owen, karena Judith mengerti apa yang ditakutkan. Karena pada kenyataannya memang ketakutan Owen terbukti benar adanya. Judith tetaplah sebagai perempuan yang masih terpikat pada karisma Jeanno Alexander.
“Aleta? Kau marah padaku?”
“Tidak. Wajar jika kau cemburu. Aku mengerti”
Owen menyudahi percakapan mereka ketika lampu berubah hijau. Sepanjang jalan mereka tetap bercakap normal, dengan topik yang lebih ringan. Walau dalam hati masih mengganjal, sebab Judith tidak repot-repot meyakinkan Owen bahwa memang tak ada apa-apa antara dirinya dengan Jeanno.
**
__ADS_1